
"Stefan? Itu seperti suara Stefan. Tapi mana mungkin?"
Dada Luna terasa sesak. Ingin rasanya ia melihat sepupunya itu lagi. Namun apa benar itu adalah Stefan? Suara itu milik stefan. Tapi kenapa ia menutupi wajahnya? Dan kenapa harus menyamar.
"Nyonya."
Panggil penjaga keamanan dirumah William. Lelaki berseragam itu telah membuka gerbang sejak mendengar suara mobil berhenti tadi. Namun rupanya Luna tidak menyadari.
Wanita itu mematung cukup lama dengan tatapan yang tak lepas dari kepergian taxi yang mengantarnya.
"Iya, Pak."
Luna melangkah memasuki halaman diikuti oleh penjaga keamanan itu.
"Apa Nyonya Christina keluar?" tanya Luna yang melihat mobil sang bibi tidak ada di garasi.
"Iya, Nyonya baru saja keluar. Beliau ada pertemuan dengan komunitasnya, Nyonya."
"Elea, guru lesnya sudah datang?" tanya Luna lagi.
"Sudah Nyonya, beberapa menit yang lalu,"
"Baiklah, terima kasih. Sampai disini saja. Kembalilah ke kedepan," titah Luna.
"Baik, Nyonya."
Sepeninggal penjaga keamanan itu, Luna meneruskan langkahnya menuju kamar pribadinya.
Wanita itu melemparkan tasnya ke ranjang, kemudian melepas sepatunya begitu saja.
Dengan bertelanjang kaki, ia membawa dirinya menuju ke balkon. Mencari udara segar meski hari sudah gelap.
Rasa sesak masih memenuhi dadanya, meski beberapa kali Luna sudah mencoba bernapas panjang.
Dari tempatnya berpijak nampak kerlip lampu temaram di makam Stefan. Pikiran Luna berkecamuk.
Di dunia ini, mungkinkah ada cerita seperti di dalam film. Orang yang sudah dinyatakan meninggal ternyata masih sehat bugar di tempat lain. Atau seperti kata sang kakak, Luna terlalu larut dan berharap hal yang mustahil terjadi.
Tapi jika memang Stefan masih hidup, mengapa lelaki itu tidak kembali pada keluarganya.
Luna menghembuskan napas kasar berkali-kali. Ia memang tidak pernah melihat secara langsung atau menemui sosok mirip Stefan. Ia hanya seperti diingatkan oleh keberadaan lelaki itu. Semuanya masih serba kabur.
Hawa dingin malam yang semakin gelap, menusuk di kulit putih lembut itu. Luna sempat melepas blazernya sebelum ia keluar dari kamarnya tadi. Dan sekarang, ia malah kedinginan hingga harus memeluk tubuhnya sendiri.
Wanita itu memutuskan kembali ke kamarnya. Langkah kakinya terhenti ketika melewati nakas yang berdiri di dekat ranjangnya. Luna mengingat sesuatu, ia menyimpan suatu barang disana.
Entah mengapa, langkah kaki itu seperti diseret menuju kesana. Luna membuka perlahan pintu kecil yang berada paling atas. Dan benar saja, sebuah kotak perhiasan dengan bahan bludru sudah menyambutnya.
Tanpa ragu, jemari Luna membuka dan mengeluarkan isinya. Kemudian ia mengenakannya sambil tersenyum.
Ya, kalung dengan liontin huruf L dan E adalah peninggalan dari Stefan. Menjadi barang kenang-kenangan setelah kepergian dan ungkapan cinta lelaki itu padanya.
Bahkan aku mulai mencintaimu saat kau tidak ada lagi disisiku. Apa tadi hanya perasaanku saja, Stef. Ini seperti hukuman untukku, mencintaimu yang menorehkan masa lalu kelam dalam hidupku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari berganti bulan.
Setiap hari ada saja hal yang selalu membuat Luna mengingat keberadaan Stefan.
Entah itu tingkah absurd Elea yang sampai detik ini lebih menyukai makan es krim ataupun gelato di makam Stefan atau berbagai kejadian kecil dari orang-orang baru yang begitu perhatian selayaknya lelaki itu hadir untuk menjaga Luna.
Dan selama itu pula, Bhara tetap saja gigih mendekati meski status Luna masih menjadi istri adam.
Meski Bhara belum pernah mengungkap perasaannya pada Luna, namun semua orang yang ada disekitar Luna saja menyadari rasa yang dimiliki lelaki keturunan Indonesia itu.
Enam bulan sudah berlalu setelah kejadian besar itu. Kata Andrew, kondisi Adam sangat memprihatinkan.
Lelaki berambut pirang itu menginginkan bertemu Luna. Sementara Luna selalu menolak dengan alasan tidak ingin membenci dan mempunyai dendam pada Adam meski rasa sakit itu masih ada hingga kini.
Terkadang, seseorang yang kamu sakiti memilih untuk menyembuhkan diri dengan caranya, meski itu terdengar sangat kejam untukmu.
Ya, Luna memilih untuk tidak lagi berinteraksi dengan Adam dalam hal apapun. Itulah mengapa sedari awal, ia meminta tolong Andrew untuk mengurus kebutuhan Adam. Selain menghindari murka sang ayah tentunya. Karena Ellard tidak pernah setuju, jika Luna masih perduli dengan Adam. Setelah semua yang dilakukan lelaki itu.
Namun kembali lagi, ini bukan soal perduli. Tapi tanggung jawab seseorang yang masih berstatus istri.
Selama beberapa minggu kemarin. Pada sidang- sidang sebelumnya, baik pihak Luna ataupun Adam tidak ada yang hadir. Luna diwakili oleh pengacaranya. Sedang Adam memutuskan tidak hadir.
Berbulan-bulan lamanya, Adam tidak berbicara dengan siapapun didalam sana. Ia hanya diam dan setiap Andrew datang yang adam ucapkan hanyalah nama sang istri.
Andrew paham. Keinginan Adam hanya satu yaitu bertemu Luna. Namun Andrew tidak dapat mengabulkannya karena memang Luna menolaknya.
Dan saat Luna mengajukan perceraian, Adam juga dengan mudah menandatangi berkasnya. Lelaki itu sudah sangat berubah. Mungkin penjara mengikis kepercayaan dirinya, hingga ia seperti sekarang ini.
Adam menyebut Luna kembali. Andrew hanya berjanji membujuk Luna selepas status Luna resmi berpisah dari Adam. Tapi bukan menjanjikan untuk bertemu nantinya, karena itu adalah hak Luna jika wanita itu tetap kokoh pada pendiriannya.
"Luna, Adam sangat ingin bertemu denganmu."
Saat ini mereka baru saja menyelesaikan sidang untuk putusan terakhir. Dan hari ini pula status resmi janda untuk Luna.
Andrew berbicara lirih karena disana ada Ellard dan juga Bhara. Meski jarak mereka cukup jauh.
"Aku tidak bisa, And," jawab Luna tergagap. Wanita itu baru saja merasa lega telah lepas dari Adam. Dan malah Andrew meminta hal. yang tidak ingin dilakukannya.
"Luna, kasihan dia. Aku tahu setelah ini mungkin kamu tidak akan kembali lagi ke negara ini. Dia memohon padaku selama berbulan-bulan, setiap aku menemuinya. Dan tahukah, dia tidak pernah berbicara dengan orang lain selain aku. Itupun ia hanya selalu menyebut namamu tanpa mengatakan apa-apa lagi." Andrew yang terkesan tidak ingin mencapuri urusan klien nya sampai memohon pada Luna.
"Bagaimana jika ketika aku bertemu dengannya, aku ingin membunuhnya?" tanya Luna yang sudah berkaca-kaca.
Ingatan pahit atas apa yang Adam lakukan melintas kembali. Lelaki itu hanya otak utama tidak secara langsung menyakiti fisik, kata-kata ataupun perbuatan buruk lainnya.
Tapi justru itulah yang membuat Luna kecewa. Adam membuat Luna kehilangan percaya diri di hadapan orang lain selain keluarganya. Luna yang berpikir masih ada lelaki baik yang menerima dirinya apa adanya, rupanya hanya sebuah kamuflase belaka.
Selama ini Luna hanya berusaha baik-baik saja. Karena ia merasa sudah sangat merepotkan sang ayah juga kakak laki-lakinya.
"Lakukan saja. Aku yakin dia tidak akan melawanmu," ucap Andrew . "Aku akan menemanimu jika kau mau."
Andrew menawarkan dirinya. Karena tentu Luna tidak akan mengajak anggota keluarganya yang sudah pasti menolak.
"Sebentar And."
Luna nampak memikirkan ucapan Andrew. Ia memang tidak ingin kembali ke Kanada lagi setelah ini. Lalu, apa salahnya jika ia ingin melangkah dengan ringan di masa depan tanpa beban.
Mungkin setelah ini, ia benar-benar memutuskan akan menghapus Adam dari memorinya. Biarlah waktu saja yang menyimpannya.
Luna nampak beberapa kali menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
"Aku hanya tiga hari di Kanada. Hari ini tidak mungkin. Hari ketiga aku kembali ke Amerika. Berarti aku hanya memiliki kesempatan besok," ucap Luna memberitahu jadwalnya.
"Bagaimana kau membuat alasan?" tanya Andrew yang mengetahui jika Ellard menjaga dengan ketat putrinya selama berada di Kanada.
"Bhara juga terus mengikutiku. Aku bingung mencari alasan untuk Papa." Luna nampak berpikir mencari cara.
"Evelyn! Gadis itu satu-satunya yang bisa menolongku. Besok kau harus bangun pagi-pagi benar. Dan tunggu instruksi dariku," titah Luna yang dibalas anggukan oleh Andrew.
"Kalian membicarkan apa? Serius sekali." Tiba-tiba Ellard datang bergabung. Untung saja pembahasan tentang Adam telah selesai.
"Aku meminta pendapat pada Andrew tentang proyek baruku yang rencanya akan aku bangun di Italia, Pa," ucap Luna berbohong.
"Proyek apa?" tanya Ellard penasaran. Anak perempuannya itu sama sekali tidak mengatakan apa-apa padanya.
"Emm... itu paman_"
"Nanti jika sudah matang papa kuberi bocoran. Sekarang masih rahasia."
Andrew bernapas lega, untung saja Luna langsung menyela untuk menjawab.
"Kita pulang sekarang, sudah selesai bukan?" tanya Ellard pada Andrew.
"Sudah, Sir. Silahkan."
"Pa, kita ke perusahaan sebentar ya," pinta Luna pada sang ayah.
"Untuk apa?"
"Aku rindu dengan mereka. Sebentar saja."
💙💙💙❤🩹💙