La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 108



"Itu dia, akhirnya datang juga," tunjuk Selly pada seseorang.


Deg!


Kepala Luna mendongak seiring matanya yang memicing. Tidak bisa dipungkiri berbagai macam rasa muncul tiba-tiba disana.


Benci, kecewa dan banyak rasa lainnya yang bergejolak didada.


Napas Luna memburu, dadanya kembang kempis menekan amarah. Disertai dengan mimik benci yang mencoba wanita itu tahan.


Hingga tanpa disadari, Luna menyatukan dua giginya dan menekannya erat.


"Tenang, Nyonya, kita harus bisa menguasai diri," bisik Leo yang ada dibelakang Luna. Lelaki itu sedikit membungkuk untuk mencapai pundak Luna.


Dan seperti tokoh-tokoh antagonis di dalam film. Kedatangan Pauline disana bersatu dengan aura percaya dirinya yang tinggi. Ia mengumbar senyum dan kata-kata ramahnya pada setiap orang yang lalu lalang di depannya.


Wanita seribu wajah itu mampu menyembunyikan hati jahatnya dengan apik.


"Para sahabatku sudah berkumpul disini rupanya."


Sapaan manis bagi yang tidak tahu sosok Pauline sebenarnya pasti menganggap wanita itu adalah seseorang yang baik. Termasuk Selly yang menyambutnya dengan kagum.


"Wanita karir yang sibuk akhirnya datang juga. Apa kau cuti dari pemotretan dan perusahaanmu hanya untuk menghadiri reuni ini?" tanya Selly yang mengagumi Pauline dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Selly yang selalu insecure dengan dirinya sendiri, terlihat bahagia sekali hari ini.


"Tentu saja. Apa yang tidak ku berikan untuk reunian yang diadakan oleh sahabatku sendiri. Bukankah aku berjanji untuk datang."


Senyum Pauline mengembang mengiringi lirikan matanya yang terkesan mengejek pada Luna.


"Ya. Semua ini terwujud berkat kau, Pau. Meskipun kita hanya disekolah, tapi fasilitas yang kau berikan sungguh luar biasa," ucap Selly berterima kasih.


Pantas saja, Leo mengatakan pada Luna jika Pauline ikut andil dalam reuni ini. Rupanya semua properti dan fasilitas merupakan sumbangan dari wanita itu.


"Oh, hai Luna!"


Pauline menyapa dan semakin mendekat pada Luna. Wajah yang dibuat seramah mungkin itu tetap tidak bisa menutupi kebusukan Pauline di depan Luna. "Kenapa dengan kakimu?"


"Hai." Luna menjawab singkat serta melambaikan tangannya agar wanita itu tidak terlalu dekat dengannya. "Ini hanya kecelakaan kecil. Kau tahu aku pasti bisa melewatinya, bukan?" sahut Luna dengan percaya diri.


"Tapi sepertinya itu terlihat akan lama. Patah, kan?" Bahasa tubuh Pauline begitu buruk. Ia sangat terlihat mengejek Luna dengan senyum seringainya meskipun tutur kata dibuat sehalus mungkin.


"Hanya patah. Aku pernah mengalami yang lebih berat dari ini. Dan seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja, bukan?" sahut Luna.


Mungkin Pauline tidak tahu jika kejahatannya malam itu sudah diketahui Luna. Wanita itu masih bersikap sombong saja.


"Mungkin kecelakaanmu memang hanya kecil. Berarti kau termasuk beruntung Luna. Jika orang lain mungkin sudah mati!"


Pauline menggunakan kata orang lain karena wanita jahat itu tahu Efrain termasuk keluarga yang cukup berada di Amerika.


"Kasar sekali kau menyebutnya mati, Pau!"


Senyum tipis Luna tersungging meski hatinya sakit. "Terkadang memang kau tak seberuntung orang lain dalam suatu hal. Bukankah itu sudah jalan takdir yang harus diterima."


"Aku tidak percaya jalan takdir. Aku hanya percaya bahwa apa yang kuinginkan harus aku perjuangkan hingga aku dapatkan!"


Pauline yang memancing tapi dirinyalah yang terpancing.


Luna masih santai dalam bertutur kata meskipun ia membalas setiap ucapan Pauline. tidak seperti wanita jahat itu yang akhirnya tersulut oleh permainanya sendiri. Wajahnya sudah merah padam menahan emosi karena Luna selalu menyahut ejekannya.


"Dan suatu saat aku pasti menang. Kita lihat saja." Wanita tinggi bak model itu menyilangkan tangannya diatas dada dengan lirikan maut yang ia berikan pada Luna.


"Kalian ini bicara apa? Mengapa makin kesini aku tidak paham apa yang kalian bahas?" Selly yang sedari tadi mendengarkan akhirnya gerah. Ia sungguh tidak mengerti arah pembicaraan kedua sahabatnya itu.


"Tidak ada, Sel. Kami hanya bercanda," sahut Luna untuk menenangkan sahabatnya itu.


Meski ia tidak bisa menenangkan dirinya sendiri.


"Pau, kasihan Luna. Ia kecelakaan disini, padahal sedianya ia ingin berlibur di Amerika."


Selly menengahi pembicaraan yang mulai memanas.


"Pauline...."


"Tidak ada! Ayo kita kesana. Kita sapa yang lainnya. Biarkan saja Luna disini, ia pasti capek jika harus kesana kemari," liriknya pada Leo yang hanya datar saja menanggapi segala ucapan Pauline.


"Aku tinggal sebentar, Lun. Nanti aku akan kembali," Selly melambaikan tangannya meski sudah lumayan jauh. Ia mengikuti langkah kaki Pauline yang menarik tangannya.


Padahal Luna bisa saja kesana kemari sendiri dengan kursi roda otomatisnya itu. Tapi sengaja tidakia lakukan, karena itu merupakan sebagian dari rencana.


\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=≠\=\=\=\=\=


"Siapa ini?"


Aglen berdecak kesal dan terus menolak beberapa kali nomor telpon baru yang menghubunginya.


Sepertinya, baik penelepon ataupun Aglen adalah lawan yang seimbang karena mereka sama-sama bertahan dengan keputusannya.


Aglen paling tidak suka jika dihubungi nomor asing. Sepenting apapun itu. Jadi orang-orang yang mengenalnya pasti mengirimkan pesan lebih dahulu sebelum menghubungi, sekalipun itu urusan pekerjaan.


Pewaris Efrain yang satu ini memang sesuka hatinya sendiri.


Aglen baru saja sampai di rumah sang paman.


"Bibi ada di dalam?" tanya lelaki berkuncir itu pada pelayan yang menyambutnya.


"Ada Tuan, silahkan."


Pelayan itu membantu Aglen membawa kopernya kedalam rumah.


"Paman!" teriak Elea tidak percaya. Karena baik kakek atau pamannya itu tidak memberi kabar lebih dahulu jika akan menyusul. "Mana kakek?"


"Paman hanya sendirian, El. Paman kangen sekali denganmu," ucap Aglen yang membuka tangannya dan Elea langsung menghambur memeluknya.


"Padahal Bibi sudah katakan tidak usah kesini tidak apa-apa. Aku tahu disana kalian pasti sibuk. Aku bisa merawat Luna dan Elea."


Christina yang muncul dari belakang Elea ikut memeluk lelaki tampan seumuran Stefan itu.


"Bibi harus sabar, akan ada banyak pelangi sehabis turun hujan," ucap Aglen ketika mendengar isakan lirih Christina yang memberikan pelukan erat padanya.


Aglen tahu bibinya itu pasti merindukan Stefan.


"Apa kau bercanda? Tidak selalu ada pelangi selepas hujan reda. Caramu menghibur tidak lucu sama sekali."


Christina menampakkan wajahnya yang sembab, namun juga menahan tawa akibat perbuatan keponakannya itu.


"Boleh berharap, Bi. Siapa tahu ada keajaiban."


Senyum miring Aglen membuat Christina tahu jika keponakannya itu hanya bercanda.


"Isshhh ... Bicaramu ngawur ke mana-mana. Bagaimana kabar papamu? Kudengar ia juga sakit saat mendengar kabar itu."


"Papa sudah baikan. Sepertinya mereka memang terkoneksi secara batin."


Aglen menggendong Elea dan membawanya duduk. "Dimana Luna?"


"Dia ada acara reuni di sekolahnya. Tenang saja, ada Leo yang menjaganya."


"SMA?"


Christina mengangguk. "Apa tidak terlalu bahaya membiarkannya di luar, Bi. Mengingat ada yang mencoba menyakitinya dan dia juga belum pulih."


"Semua sudah dibawah kendali pamanmu, jangan khawatir. William sudah mengetahui siapa dalang dari orang-orang yang ingin menyakiti Luna" cerita Christina menanggapi.


"Tetap saja, aku tidak tenang, Bi. Jika terjadi sesuatu kembali dengan Luna, Papa pasti akan mengamuk padaku."


Aglen menurunkan Elea dan mengajak sang bibi untuk duduk disebelahnya.


"Apa kau lupa siapa pamanmu hem....? Hubungi saja Leo, supaya kau tahu perkembangannya. Ia yang menemani luna disana.


💚💚💚💚💚💚