La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 136



"Paman!"


William terbahak melihat reaksi Aglen yang menurutnya berlebihan. Keponakannya yang ia ejek sebagai bujang tua itu iri dengan kedekatan sang ayah dan adiknya.


"Dulu kau tidak ada saingan, sekarang rasakan!" ejek William yang menyenggol bahu Aglen.


"Aku tidak iri, Paman. Tapi Papa memang pilih kasih. Setelah ada Luna, aku menjadi seperti Alex. Kesana kemari selalu diminta untuk menjaga putri kesayangannya itu," kesal Aglen. Sungguh ia terlihat seperti anak SMA yang iri pada adiknya.


"Ya ampun, Kakak. Kami semua menyayangimu."


Mereka semua akhirnya tertawa menyaksikan kekonyolan mereka sendiri.


"Kau baik-baik saja, sa_?"


Bhara datang tiba-tiba. Lelaki itu terlihat berlari mulai turun dari mobil hingga masuk ke rumah besar itu.


Saat dihubungi oleh Aglen, Bhara sudah sampai ditempat Luna dan sang sopir disekap tadi. Seperti yang terjadi, penyekapan di tempat itu hanya dilakukan demi mengulur waktu.


Dan ketika dia sampai di rumah sakit, Luna dan yang lainnya sudah pulang. Jadi mereka berselisih jalan.


Bhara mendekat dengan gestur khawatir yang membuat otak semua yang ada disana berpikir ke satu titik.


Bhara memiliki perasaan pada Luna.


Ya, Bhara hampir memeluk teman wanitanya itu. Namun penolakan Luna dengan mendekat pada sang ayah membuat Bhara seketika menyadari kesalahannya.


"Maaf."


Lelaki tampan keturunan Indonesia itu menahan malu akan perbuatannya.


"Apa kalian baik-baik saja?" ulangnya dengan mengganti kata kamu menjadi kalian. Karena faktanya, memang yang menjadi korban bukan hanya Luna tapi juga sopir William. Sedangkan yang parah malah sopir dari William.


"Sopir paman terluka. Mereka menembak kakinya. Terima kasih sudah banyak membantu. bagaimana sidang tadi?"


"Masih pembacaan dakwaan. Esok kita mulai lagi dengan pembelaan dari mereka," jawab Bhara yang mengerti apa maksud Luna langsung membahas masalah ini.


Ya, wanita itu menyelamatkan Bhara dari kecurigaan keluarganya akan perasaan Bhara pada Luna yang belum pada tempatnya.


"Duduklah, Bhar. Kita makan siang bersama. Jarang -jarang kita berkumpul disini," ajak Christina yang mempersilahkan semuanya untuk memasuki ruang makan.


"Sayang, panggil putrimu. Ia berada di halaman belakang tadi," titah Christina pad Luna.


"Iya, Bi."


Mereka semua yang duduk di meja makan saling berbicara tentang jalannya sidang pagi tadi.


"Kita jebloskan saja semua yang ikut membantu Pauline termasuk Edward. Ini sudah keterlaluan." Ellard membuka pembahasan tentang lawan.


"Ya siapkan saja semuanya, Bhar. Kau juga sampaikan pada Andrew tentang ini," ucap Ellard.


"Bukti kita sangat kuat, ada bukti visum juga dan beberapa perjalanan Pauline ke luar negeri selama masa penahanan. Itu sudah lebih dari cukup untuk menjerat gadis itu bersama ayahnya." Wiliam menambahi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Luna mendengar suara Elea berdendang. Suara merdu dan lirih itu terdengar riang. Dan yang mengejutkan, Elea tidak sedang duduk di taman.


Ia memang berada di halaman belakang rumah William. Namun tepatnya, suara nyanyian Elea terdengar dari dalam kompleks makam Stefan. Itu berarti Elea ada di dalam sana.


Sedang apalagi dia disana?


Luna menggeleng pelan. Elea selalu melakukan sesuatu yang unik. Ia mengerti jika Stefan telah tiada. Entahlah, jawaban-jawaban Elea ketika diberi pengertian oleh Luna selalu mengindikasikan seperti itu. Namun entah mengapa gairah bermainnya dengan Stefan tetap ada meski kondisinya sudah berbeda sekarang.


Semakin dekat semakin terdengar lagu apa yang Elea nyanyikan. Hanya lagu anak-anak yang sering ia dengar namun dengan lirik yang sama sekali tidak pernah didengar Luna sebelumnya.


Seperti anak kecil lainnya, Elea sering mengganti lirik lagu yang disukainya sendiri.


Inti dari lirik yang Elea nyanyikan. Bahwa gadis kecil itu bercerita tentang kerinduannya pada seorang ayah yang ia panggil pahlawan. Ayah yang bisa mengajaknya bermain setiap hari, mengantarnya ke sekolah juga yang akan selalu menemaninya saat akhir pekan.


Luna tercekat, langkah kakinya berhenti saat kakinya sudah menginkak di ujung pintu masuk makam Stefan.


Ia baru menyadari jika luka yang ditorehkan Adam bukan hanya tentang penculikan kemarin. Tapi juga apa yang dilakukan Adam bertahun-tahun tanpa lelaki itu sadari.


Dengan tidak pernah mengantar Elea ke sekolah, tidak pernah menemaninya main dan selalu beralasan ada pekerjaan diluar saat akhir pekan. Semua hal itu semakin memperkuat jika sebenarnya, Adam tidak mengakui bahwa Elea adalah anaknya. Meski secara biologis Adam memang bukan ayahnya.


"Paman, kata Mama kami akan tinggal disini. Itu membuatku senang karena aku tidak akan jauh dengan Paman. Jika rindu paman, aku dengan mudah datang kesini," ucap Elea dengan gaya berceritanya yang khas.


Gadis kecil itu menepuk-nepuk gundukan tanah di depannya. Bahkan Elea juga membawa air dalam sebuah gayung yang digunakan untuk membasahi gundukan tanah dan mencuci nisan Stefan. Hal yang selalu dilakukan Christina saat ia berkunjung kesini.


"El ... Sayang."


"Mama!"


Antara kaget dan senang, Elea pun menoleh kemudian berdiri. Ia menghampiri Luna yang masih mematung di pintu masuk.


"Sedang apa, sayang?" tanya Luna lembut.


"El hanya bernyanyi agar paman tidak bosan sendirian disana, Ma," jawab Elea polos. Jarinya menunjuk pada gundukan tanah di makam Stefan. "Kalau kita bernyanyi, apa paman di surga akan mendengarnya, Ma?"


"Em ... Mungkin saja. Mama juga tidak tahu." Luna bingung harus menjawab apa. "Tapi yang jelas, setiap doa kita akan sampai pada paman Stefan, sayang."


"Benarkah, Ma?"


Luna mengangguk dan melihat senyum cerah Elea yang tiba-tiba melebar.


"Waktunya makan siang. Elea sudah ditunggu kakek dan yang lain." beritahu Luna agar putri kecilnya itu bergegas.


"Baiklah."


Elea menggandeng tangan Luna keluar dari kompleks makam Stefan.


"Kalau El berdoa ingin bertemu paman lagi, apa paman akan diizinkan bertemu dengan El, Ma?"


Luna termangu dan berhenti sejenak. Pertanyaan Elea selalu membuatnya berpikir berkali-kali sebelum menjawabnya.


"Bukan seperti itu maksudnya, sayang?" Wanita itu berdehem mencari jawaban yang tepat hingga tidak membuat Elea penasaran dan memburu jawaban untuk memuaskannya lagi.


"Jadi, jika Elea berdoa hal-hal yang baik untuk paman, maka akan tersampaikan seperti itu. Tapi bukan doa ingin bertemu paman, sayang." Luna memperjelas ucapannya, berharap putri kecilnya mengerti arah dari apa yang ia ucapkan.


Karena itu hal yang mustahil, El.


"Tapi dari kemarin, El selalu berdoa meminta paman Stefan menemui El lagi, Ma. Kata Mama El boleh berdoa apa saja untuk paman Stefan. El hanya ingin itu, Ma," ucap Elea yang semakin lama semakin terdengar lirih dan kecewa.


Luna menatap wajah kecil cantik milik Stefan itu, kemudian menarik tubuh putri kecilnya dalam pelukan.


"Semoga Tuhan mengabulkan doa El, ya," ucap Luna menyemangati, meski itu sesuatu yang tidak mungkin.


"Sudah ... Ayo makan dulu. Nanti oma Christina akan teriak-teriak lagi jika Elea keasyikan bermain sampai ketinggalan makan siang."


💜💜💜💜💜