La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 112



"Kak boleh aku ikut," pinta seseorang dari belakang Aglen.


"Bhara?"


"Iya, Kak. Aku Bhara, sahabat Luna," ucap Bhara dengan senyum tampannya. Lelaki itu sempat melirik Luna seraya melempar tersenyum.


Aglen pun juga melirik Luna untuk meminta izin. Dia tentu tidak akan memasukkan lelaki itu jika tanpa izin adiknya meski status Bhara adalah sahabatnya.


Luna mengangguk pelan. Bhara terlihat bersemangat dan hendak masuk saat tangan Aglen menghalanginya.


"Duduk di sebelahku saja. Aku bukan sopir kalian," sindir Aglen dengan mimik serius.


"Oh, iya Kak. Maaf."


Bhara mengusap pelan rambutnya. Dengan wajah yang meringis malu, ia melangkah menuju kursi depan sebelah Aglen.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=


"Bagaimana, kau bisa mengusahakannya?"


Sebastian terlihat penuh harap saat melihat perawat yang sehari-hari dengannya itu datang.


"Tanah di dekat makam istri anda sangat mahal, Tuan. Dan ... Maaf, sudah ada yang membelinya," ucap perawat itu pelan.


Dengan uang Sebastian yang tersisa, ia memang tidak bisa membantu apapun untuk lelaki tua yang masuk secara sukarela ke panti jompo tempat ia bekerja itu.


Makam yang ditempati istri Sebastian itu memang komplek pemakaman mewah. Karena semua urusan rumah sakit dan pemakaman diurus oleh Alex dibawah perintah Ellard.


Napas Sebastian terdengar berat. Ia kecewa dengan dirinya sendiri yang bahkan tidak bisa membeli tanah makam yang layak untuk anak gadisnya.


"Lalu, dimana kau mendapatkannya?" tanya Sebastian.


"Di tanah pemakaman umum dekat sini, Tuan. Saya pikir, mungkin suatu hari nanti Tuan ingin setiap hari mengunjunginya karena dekat," jawab perawat itu melegakan.


Bagaimanapun lelaki yang merawatnya setiap hari itu sudah melakukan yang terbaik yang ia bisa. Jika orang lain, mungkin tidak akan perduli.


"Terima kasih anak muda. Aku tidak tahu bagaimana membalas segala yang kau lakukan ini." Mata Sebastian berkaca, antara bahagia dan terharu.


"Tidak ada, Sir. Tetaplah sehat dan bahagia menjalani masa pensiun. Apa anda hanya memiliki satu putri?"


Sebastian terlihat gamang. Ia cukup lama terdiam dengan helaan napas berat yang berulang.


"Ya, jadi sekarang aku tidak memiliki siapapun lagi, Nak. Hanya kau yang merawatku disini, atau mungkin kau bersedia menjadi anak angkatku?" tanya Sebastian tiba-tiba.


"Benarkah, Sir? Aku memimpikan memiliki seorang ayah yang sabar seperti anda," ucap perawat itu berbinar.


Sebastian kembali terharu. Sekian lama ia tidak pernah mendapatkan senyuman hangat seorang anak. Dulu di rumah, ia bagaikan seseorang yang tidak dianggap. Baikl oleh Kylie ataupun Adam.


Dan hari ini senyum seseorang yang merawatnya itu membuatnya lebih bersemangat untuk hidup.


"Mulai sekarang kau boleh memanggilku Papa dan seterusnya."


Sebastian membuka lengannya. Dan lelaki di depannya itu langsung memeluknya.


"Terima kasih, Papa. Besok pagi kita menghadiri pemakaman putri Papa bersama."


Sebastian tersenyum. Di tengah kehilangannya yang hampir semua anggota keluarganya, masih ada hikmah yang dalam untuknya.


Dan Tuhan, masih sangat-sangat bermurah hati padanya. Dia tidak meninggalkan Sebastian sendirian.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kakak kesini tanpa memberi kabar padaku. Bagaimana perusahaan kita?"


"Tenang saja, semua terkendali. Kau hanya harus memulihkan kondisimu dan cepat kembali ke Kanada."


Luna menjalani pemeriksaan demi pemeriksaan ditemani oleh Aglen. Sedangkan Bhara, lelaki itu menunggu di luar.


"Apa ada sesuatu yang terjadi disana, Kak?"


"Kau tahu keterlibatan Adam pada penculikan kalian, bukan?"


Deg!


Luna tertegun mendengar nama suaminya itu. Lama sekali ia tidak mengingatnya.


Sedianya, ia liburan di Amerika hanya untuk menenangkan diri dan mengunjungi makam Stefan. Itu yang diceritakan sangat ayah. Namun ternyata di negara ini, kecelakaan justru menimpanya.


Sesakit itukah perasaannya? Mungkin, karena saat itu Luna begitu kecewa ketika mengetahui jika Adam rupanya ikut andil dibalik penculikan Elea dan dirinya.


Air mata Luna menetes, mimik wajahnya terlihat sangat kecewa.


"Ada apa lagi dengannya?" tanya Luna singkat. Mendadak rasa sayangnya lenyap mengingat semua yang terjadi akhir-akhir ini.


"Bhara menunggu di luar." Aglen mengalihkan pembahasan. Entah apa maksud kakaknya itu.


Atau ia hanya berniat memberitahu, karena dokter sudah keluar dari kamar inap Luna lima menit yang lalu.


"Biarkan saja, Kak. Aku masih ingin berbicara denganmu." Luna menarik lengan Aglen yang hendak keluar memanggil sahabat dari masa SMA Luna itu.


"Baiklah."


Aglen menarik kursi dibelakangnya. Kemudian lelaki itu mengambil tempat di sebelah Luna.


"Kau pasti sudah mengetahuinya sejak lama, bukan?" Aglen membuka pembahasan.


"Ya, aku hanya tidak ingin Papa murka, Kak. Aku takut Papa berbuat sesuatu yang fatal." Luna mengusap air matanya. Hatinya sakit mengingatnya.


"Sayangnya Papa sudah mengetahuinya. Dan Papa menjebloskan Adam ke dalam penjara."


"Apa? Kapan itu, Kak? Mengapa Papa terdengar biasa saja saat menghubungiku kemarin? Kakak juga tidak memberitahuku."


Luna mendongak menuntut jawab Aglen yang bahkan sangat santai menanggapinya.


"Sudah lama. Dan aku menambah tuduhannya atas penggelapan yang Adam lakukan di perusahaan kita. Kemarin sidang pertamanya. Sidang berikutnya kau dan aku yang menjadi saksi," ucap Aglen memberi informasi.


"Aku harus bersaksi? Apa yang akan aku katakan, Kak? Aku melupakan semua rentetan kejadian saat aku diculik, dan juga meninggalnya Stefan."


Wajah Luna terlihat sedih. Ia tidak bisa menutupinya sekarang.


"Setidaknya kau bersaksi melawannya, untuk Elea dan juga perusahaan."


Napas Luna terdengar berat. Bersamaan dengan itu jemari besar milik sang kakak menelusup kedalam jemarinya.


"Aku tahu kau kuat. Efrain tidak selemah itu Luna." Senyum tipis Aglen mengulas, menguatkan sang adik yang sempat dimusuhinya itu.


"Kakak...." Luna menghambur ke pelukan Aglen. Lagi, sungguh ternyata memiliki saudara adalah anugerah terindah untuknya.


Luna tidak perduli apa yang terjadi di masa lalu. Karena hari ini dan di masa depan ia harus sekuat baja untuk orang-orang yang ia sayang.


"Kau Efrain, kan? Adikku akan kuat sepertiku meski kau wanita," ucap Aglen memberi semangat.


"Ya. Aku Efrain, Kak. Aku kuat seperti Papa dan Kakak. Aku pasti bisa melewatinya." Meski tangisnya menjadi-jadi, namun rasanya lega. Semua keluarga mendukungnya.


"Lekaslah sehat. Perkuat mentalmu. Kau harus ke Kanada lebih dahulu. Jadwal persidangan Adam semakin dekat dan waktu terus bergulir. Jika sudah selesai disana, kita akan teruskan dengan menyelesaikan masalahmu disini," ucap Aglen menepuk-nepuk punggung adiknya.


Luna melepaskan pelukanya.


"Kak, apa yang terjadi dengan Stefan?" tanya Luna tiba-tiba sembari menghapus air matanya.


"Hah? Mak-sudmu? Bukankah paman sudah menceritakannya padamu?" Aglen kaget mendengar pertanyaan Luna.


"Aku belum percaya, karena aku sama sekali tidak bisa mengingatnya. Benarkah ia sudah meninggal?"


"Hem ... Tujuanmu ke Amerika adalah liburan dan mengunjungi makam Stefan, bukan? Apa kau juga tidak bisa mengingatnya?" Aglen sampai melotot karena heran.


Luna menggeleng. Membuat napas berat Aglen kembali terdengar.


"Apa saja yang kau ingat saat peristiwa itu?"


"Tidak ada, Kak. Bahkan peristiwa saat aku di culik pun aku tidak ingat." Luna menunduk. "Hal apa yang menyatakan stefan meninggal? Kudengar ada ledakan, apakah jenazahnya masih ... utuh?"


"Stefan meledakkan gedung yang digunakan untuk menyekapmu itu bersama anak buah musuh yang jumlahnya sangat banyak. Apa kau ingat Stefan sempat mengantarmu keluar sebelum masuk kembali kesana?"


Luna kembali menggeleng.


"Banyak sekali jenazah ditemukan disana, namun tidak bisa dikenali. Identifikasi terakhir menggunakan tes DNA," jelas Aglen.


"Tapi aku merasa dia Stefan," ungkap Luna.


"Dimana?"


😘😘😘😘