La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 117



Dengan lancar tuduhan demi tuduhan dibacakan kembali pada sidang kedua ini.


Sidang berjalan tertutup sesuai permintaan Ellard karena ia tidak ingin diserbu media seperti pada sidang yang pertama.


Adam hanya menunduk. Entah menyesal atau mendengarkan saja, tidak ada yang bisa membaca wajah lelaki berambut pirang itu.


Tiba saatnya Luna masuk. Ia dipanggil sebagai saksi untuk penculikan dirinya dan Elea.


Adam seketika mengangkat wajahnya. Menatap pilu wajah cantik yang pernah membersamai dirinya mengarungi hidup berumah tangga selama kurang lebih lima tahun itu.


Luna nampak tenang. Dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh Aglen, wanita itu memasuki ruang sidang tanpa seulas senyum sedikitpun.


Meski status mereka masih suami istri, namun semua orang sudah bisa menduga jika kecil kemungkinan Luna akan bertahan dalam pernikahan ini.


Jelas terlihat gurat kecewa yang dibalut wajah baik-baik saja dari Luna. Wanita itu nampak tegar, dengan segala apa yang menimpanya. Membayangkan sakitnya melebihi diselingkuhi.


Ini lebih kejam.


Adam sempat akan berdiri, ketika Luna sampai di kursi panasnya. Namun Eric, pengacaranya menahan lelaki itu.


Entah mengapa rasa rindu itu membuncah setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Setelah sekian lama Adam tidak perduli dengan apa yang terjadi pada wanita itu.


Dengan lancar Luna menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan padanya. Juga saat ia diminta bercerita akan aksi penculikan yang menimpanya juga sang anak, Elea.


Wanita itu berbicara sesuai versinya. Hingga ia juga akhirnya bercerita jika Angeline yang sudah berada dalam penjara sempat meminta bertemu hanya untuk membongkar kejahatan sang suami.


Dengan mata berkaca, Luna juga menceritakan tentang dia yang sudah mengetahui kecurangan yang dilakukan sang suami pada perusahaannya.


Luna ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.


Ketika kesaksian Luna selesai, Aglen segera berdiri. Ia kembali menghampiri adiknya itu untuk dibawa ke barisan orang yang duduk menyaksikan sidang.


Selama di dalam ruangan itu, Luna sama sekali tidak menatap Adam. Ia hanya diam dan sesekali terlihat berbincang dengan sang ayah.


Akhirnya keseluruhan proses sidang hari itu selesai, dan sidang selanjutnya diagendakan untuk sidang terakhir. Sebuah putusan yang akan menentukan berapa lama Adam akan tinggal di dalam penjara.


Tanpa memperdulikan sekitarnya, Adam berlari mengejar Luna dan keluarganya yang sudah keluar lebih dulu.


"Luna tunggu!"


Adam berlari dan ikut dengan orang yang berdesak-desakan akan keluar ruang sidang. Beberapa petugas nampak mengejarnya.


"Sir, anda tidak boleh keluar!" teriak salah satu petugas yang mengejar. Bahkan Eric pun ikut mengejar kliennya yang tiba-tiba kabur mencari sang istri di luar.


"Luna! Luna! Izinkan aku bicara," mohon Adam yang mencoba menghentikan Luna.


Wanita itu mendengarnya, namun ia mencekal lengan sang kakak untuk berjalan lebih cepat mendorong kursi rodanya menuju mobil.


"Cepat, Kak! Aku tidak ingin bertemu dengannya." Suara Luna terdengar bergetar.


Sekuat apa ia mencoba tegar, kenyataan bahwa Adam terlibat dalam penculikan dirinya dan Elea membuat hati Luna sakit.


Aglen tidak menjawab, namun ia mengikuti keinginan sang adik untuk segera menuju mobil. Sementara Ellard malah melambatkan langkahnya dan terkesan menunggu Adam mendekat.


"Pa, tolong izinkan aku berbicara sebentar saja dengan Luna."


Adam yang sudah sampai dibelakang Ellard memanggil lelaki paruh baya itu sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.


"Sir! Diam di tempat! Anda akan mendapat sanksi dengan perbuatan anda ini," teriak petugas dibelakang Adam yang bersiap dengan senjatanya.


Ellard menoleh. Menatap malas wajah Adam yang terlihat berbeda. Ya, lelaki berambut pirang itu nampak kusut dan tidak terurus.


"Luna trauma. Sebaiknya kau tidak menemuinya. Apa yang kau lakukan padanya dan Elea sangat jahat, Adam. Biarkan ia menyembuhkan dirinya. Dan jangan mengganggunnya!" ucap Ellard pelan dengan tekanan hingga seperti mengancam.


"Apa yang terjadi, Pa? Mengapa Luna duduk di kursi roda?"


Rasa ingin tahu yang besar dari Adam mengusiknya untuk bertanya.


"Anggap saja apa yang terjadi pada Luna adalah serangkaian akibat dari apa yang kau lakukan," jawab Ellard. Lelaki paruh baya itu kemudian mendekati Adam dan berbisik. "Dendam temanmu itu masih terus berlanjut."


Lelaki itu menangis menyesali segalanya.


"Ayo Sir! Bus nya sudah menunggu." Dua orang petugas datang menangkap Adam dan memborgolnya. Kemudian kedua petugas itu membantunya berdiri.


"Sampaikan maafku padanya, Pa," ucap Adam sebelum di gandeng pergi oleh petugas yang menangkapnya.


Napas Ellard terdengar berat. Lelaki paruh baya itu kembali memutar tubuhnya dan pergi.


Ellard memasuki mobil yang telah menunggunya. Luna nampak terdiam di sudut jok saat sang ayah masuk.


Wanita itu menatap kosong ketika bus tahanan yang membawa Adam melintas.


"Apa yang dikataknnya, Pa?" tanya Luna pada sang ayah. Karena ia sempat melihat jika sang ayah nampak berbincang sebentar dengan Adam.


"Ia meminta Papa menyampaikan permohonan maafnya padamu."


"Maaf?"


Luna tidak habis pikir dengan suaminya itu. Bukankah saat ini maaf sudah tidak ada gunanya?


Bahkan Oauline masih terus menyerangnya meski sekarang ia sendirian tanpa Adam. Dendam wanita itu terlalu besar.


"Aku ingin kembali ke Amerika, Pa?" ucap Luna tiba-tiba hingga membuat sang ayah menoleh dan menatapnya.


"Kembali? Maksudmu?"


"Jika Papa menyetujuinya, aku ingin kembali ke Amerika saja. Disini tidak lebih baik dari negara kelahiranku itu." Air mata Luna jatuh.


"Apa kau benar-benar sudah memikirkannya?" Aglen yang berada di depan tiba-tiba menyahut.


"Entahlah, Kak. Saat ini aku merasa lebih yaman di Amerika." Luna menghapus bulir bening yang meninggalkan jejak di pipinya.


Luna tentu tidak lupa, atassebab apa dulu ia memilih keluar dari tanah kelahirannya itu. Ia tidak menyangka, di Kanada pun peristiwa yang yang tidak kalah pahit ternyata juga menimpanya.


"Selesaikan dahulu apa yang ada disini, Sayang. Dan cobalah berpikir kembali. Kau berkembang disini sampai bisa memiliki perusahaan sendiri. Jika kau kembali ke Amerika, kau akan mulai dari nol lagi untuk memilikinya," nasihat Ellard pada anak perempuannya itu.


"Aku tak masalah dengan itu, Pa. Sekalipun aku harus bekerja di perusahaan Kakak aku akan menjalaninya. Yang penting aku bisa pergi dari negara ini." Luna terdengar teguh pendirian untuk keinginannya ini.


"Kita tunggu sampai sidang putusan untuk Adam. Setelah itu, Papa akan mengikuti apapun yang kau inginkan."


"Kau masih butuh banyak istirahat untuk pemulihanmu. Aku tidak mau menerima karyawan yang menyusahkan sepertimu. Kau harus bisa mandiri!" ketus Aglen yang duduk di depan.


"Aglen! Ishh ... bujang tua yang satu ini memang tidak bisa bicara halus pada perempuan. Oadahal ini dengan adikmu sendiri tapi kau begitu."


"Aku hanya bertindak sebagai owner yang sedang menyeleksi karyawan baru yang akan bekerja di perusahaanku, Pa. Aku tidak salah, kan?" jawab Aglen tidak mau kalah.


"Kalau begitu aku ikut bekerja dengan paman Will saja. Kakak terlalu cerewet sebagai atasan," sungut Luna yang tidak terima perlakuan tidak adil dari sang kakak.


"Apalagi Paman, dia lebih keras dibanding Papa. Dia orang paling disiplin yang aku kenal dan sangat gila kerja. Kalau memiliki karyawan sepertimu dia pasti tidak akan sabar. Bisa-bisa kau dibentaknya tiap hari."


Aglen menakut-nakuti sang adik yang hendak berpaling dari perusahaannya.


"Kakak!"


Luna memukul lengan Aglen hingga lelaki itu mengaduh kesakitan namun malah ditertawakan oleh sang ayah.


Momen haru bercerita tentang masa lalu Luna dan Adam menjadi buyar karena Aglen.


"Kalau begitu aku ke Italia saja. Aku akan melamar pekerjaan di perusahaan Stefan. Pasti Mirko mau menerimaku, daripada di perusahan Kakak."


"Apa!?"


Gluk!


🥰🥰🥰🥰🥰