La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 119



"Masalahnya bukan itu, Sir. Saya alergi dengan kecoa, dan jika hari itu sahabat saya tidak cepat memanggil dokter. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya."


"Apa? Alergi? Aneh sekali," sarkas Aglen yang tidak percaya dengan ucapan Evelyn, tapi lelaki itu tidak berpindah dan masih saja mengungkung gadis yang menjadi sekretaris adiknya itu.


"Iya Sir, saya alergi kecoa. Awalnya hanya gatal-gatal tapi jika tidak segera ditangani saya bisa sesak napas dan membahayakan nyawa saya." Evelyn menjelaskan tentang sakitnya pada Aglen dengan menunduk.


Berada sedekat itu dengan lelaki yang akhir-akhir ini membuat hatinya bergetar saat mengingatnya, merupakan musibah bagi Evelyn.


Ya, semua itu karena jantungnya tidak baik-baik saja. Bahkan Evelyn tidak berani menatap wajah Aglen yang sedekat ini dengan wajahnya. Ua hanya mampu menatap lelaki itu ketika berjauhan.


Sementara itu Aglen terdiam mendengar penuturan Evelyn. Dia hanya berniat mengerjai gadis itu tanpa ia tahu jika apa yang dilakukannya membahayakan nyawa Evelyn.


Namun Aglen masih terlalu gengsi untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf.


Kegugupan Evelyn berada sedemikian dekat dengan Aglen terbaca oleh lelaki itu. Entah mengapa Aglen pun menjadi berkeringat dan sedikit merasa sesak, padahal AC tetap menyala dalam ruang tertutup itu meski disana tidak ada siapapun tadi.


"Aku...."


"Saya...."


Kata itu meluncur hampir bersamaan dari bibir mereka, namun kemudian malah berhenti seperti sedang kehabisan kata-kata.


"Sir, maaf saya...." Evelyn hampir pergi saat tangan Aglen mencekal tangan gadis itu dan menariknya hingga Evelyn berakhir di pelukan Aglen.


Entah apa yang ada di pikiran Evelyn saat ini, gadis itu tidak memberontak dan hanya menurut saja.


Napas keduanya terdengar memburu. Wajah mereka berdua sangat dekat hingga masing-masing bisa merasakan deru napas yang berhembus.


Perlahan, Aglen memangkas jarak keduanya. Evelyn pun tak ingin berpaling, saat mereka semakin dekat.


"Kakak! Ups!" pekik Luna yang dengan sekuat tenaga mendorong pintu ruang meeting. Kedua tangan wanita itu sontak menutup mulut dan matanya. Layaknya anak dibawah umur yang telah menyaksikan pemandangan yang tidak pantas untuk dilihat.


Bersamaan dengan itu dekapan Aglen lepas pada Evelyn hingga gadis itu hampir jatuh.


"Eve!" teriak Aglen tanpa sadar dan menarik tangan Evelyn hingga gadis itu berdiri tegak. Kemudian Aglen buru-buru melepaskan pegangan tangannya.


"Ini kantor ya."


Luna menggeram namun pelan. Ia memperjelas dimana mereka saat ini agar sang kakak menyadari posisinya.


"Kita bertiga juga bukan anak kecil Luna," sahut Aglen menutupi salah tingkahnya. "Ayo kembali bekerja!"


Aglen keluar lebih dulu meninggalkan Luna dan Evelyn yang tertunduk dan mematung.


"Maaf, Bu. Saya yang salah. Saya yang membuat masalah," ucap Evelyn menyalahkan dirinya. Padahal sudah jelas itu salah mereka berdua.


"Kembali bekerja, Eve! Hati-hati dengan kakakku," pesan Luna karena ia tahu siapa Evelyn. Gadis polos yang belum memiliki pengalaman bergaul dan bekerja. Perusahaan Luna adalah tempat pertama yang menerimanya bekerja.


Luna memutar kursi rodanya sendirian dan menolak bantuan dari Evelyn.


Persendian Evelyn terasa lepas. Hari ini ia membuat kesalahan fatal, dengan tidak berani menolak Aglen.


Tapi....


Jangankan untuk menolak, melawan saja sepertinya tidak sanggup Evelyn lakukan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kakak menyukai sekretarisku?" tanya Luna yang menyusul di belakang Aglen.


Keduanya masuk diruangan yang sama. Ruangan CEO yang sebenarnya milik Luna, namun karena Aglen juga berkantor disana, maka mereka berbagi ruangan saat ini.


"Tidak ada pertanyaan lainnya? Apa kau sudah siap menerima sidang putusan untuk suamimu?" jawab Aglen mengalihkan pembicaraan.


"Kakak ... Kita sedang membicarakan tentang Kakak bukan aku." Luna meluruskan topik ke awal.


"Tidak ada yang perlu dibahas tentang aku. Sana kamu jalan-jalan saja," usir Aglen dengan ketus pada adiknya.


Lelaki itu bahkan berdiri hanya untuk memutar kursi roda Luna hingga mengarah ke pintu.


"Kakak jahat sekali. Aku akan mengadu pada Papa saja," ancam Luna setelah Aglen duduk kembali ke kursinya.


"Luna! Ishhh...." Aglen terpaksa berdiri kembali dan menghampiri sang adik.


"Tidak ada apapun antara aku dan Evelyn. Jadi jangan berekspektasi terlalu jauh."


"Ada juga tidak apa-apa, Kak. Padahal aku senang jika Kakak bahagia. Tak perduli siapa dia, yang penting Kakak merasa nyaman. Sekalipun dia hanya sekretarisku. Evelyn gadis yang baik," ucap Luna sambil melirik meledek sang kakak.


"Jangan promosi!"


"Aku tahu Kakak hampir menciumnya tadi. Tidak mungkin perasaan itu muncul tiba-tiba."


"Luna!"


Wanita itu mendorong sang kakak untuk melepaskan diri dan dengan segera membawa kursi rodanya menuju pintu.


"Hati kakak berhak mendapat kesempatan. Jangan terlu keras pada dirimu sendiri, Kak!" teriak Luna sebelum keluar dari ruangannya sendiri.


"Siapa yang terlalu keras? Aku biasa saja," ucap Aglen pada dirinya sendiri.


Lelaki itu kembali duduk sepeninggal Luna keluar.


"Memangnya Evelyn mau denganku? Usiaku hampir 40 sedangkan dia masih cantik, ups!" Aglen menelan salivanya sendiri.


Cantik?


Ya, Evelyn memang cantik, dan dalam hati Aglen selalu mengakui itu.


"Gadis itu juga tidak menolak saat aku hendak_" Hati Aglen menghangat saat mengingat ia yang hampir mencium Evelyn.


"Isshhh... apa-apaan aku ini. Kerja.. kerja!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Semoga tenang disana, Nak. Sesakit apapun caramu pergi, kamu sudah bahagia sekarang. Damailah disisiNya." Sebastian membelai lembut nisan Kylie.


Lelaki tua itu bersimpuh dengan tangis yang pilu. Di belakangnya berdiri anak angkatnya yang menepuk-nepuk pelan punggungnya.


"Papa harus sabar. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Papa sudah berusaha semaksimal mungkin, Papa ayah yang baik. Kylie pasti bangga dan tahu jika Papa sangat menyayanginya, meski ia tidak pernah menyadarinya selama ini."


Anak angkat Aebastian yang merupakan perawatnya di sebuah yayasan untuk orang tua yang tidak memiliki keluarga itu menguatkannya.


"Ya ... Aku sangat menyayangi keluargaku. Termasuk anak-anakku. Namun sungguh, aku tidak pernah terpikir semua akan berakhir seperti ini." Tangisnya kembali pecah. Keluarganya benar-benar hancur.


Sebastian bangkrut, sang istri meninggal karena komplikasi. Sementara Adam di penjara, ternyata Kylie rupanya masuk dalam daftar pencarian orang.


Ia terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba internasional yang berakhir tragis dengan tewas terbunuh.


Dan yang lebih menyakitkan. Menurut hasil visum dari kepolisian, Kylie mendapat kekerasan dan pelecehan sebelum dilempar ke laut.


Jadi sebenarnya dia masih hidup saat itu, namun kondisinya yang sudah sekarat dan dibuang membuatnya meregang nyawa.


Sebastian telah selesai dengan dirinya. Ia memaafkan Kylie dan menyerahkan semua kasus ini ke tangan kepolisian. Ia juga memaafkan Adam meski tidak ingin menemuinya. Ia hanya ingin melanjutkan kehidupannya sendiri dengan menyimpan kenangan lama mereka saat masih bersama.


"Ayo kita pulang, Pa. Mendung sudah menggelayut pasti sebentar lagi turun hujan. Aku tidak ingin Papa kedinginan dan sakit. Besok atau kapanpun Papa ingin kesini, aku akan selalu siap mengantar."


Pemuda yang berprofesi perawat itu membantu Sebastian berdiri dan membimbingnya meninggalkan tanah kuburan yang masih bahkan masih basah.


"Apakah kau selalu baik seperti ini pada orang lain, Nak?" tanya Sebastian yang hanya menurut mengikuti langkah anak angkatnya itu.


"Papa adalah papaku bukan orang lain," jawab singkat perawat itu membuat hati Sebastian bergetar.


Rahasia Tuhan selalu tidak pernah kita sangka. Saat ini Sebastian benar-benar merasa dianggap sebagai seorang ayah.


"Apa kau juga akan mengantarku ke makam istriku jika aku memintanya? Sedangkan lokasinya cukup jauh dan memakan waktu serta tenaga." Sebastian berhenti dan menatap pemuda yang masih menggamit lengannya itu.


"Jangankan kesana, kemanapun Papa ingin pergi aku akan menemani. Asalkan Papa sabar karena aku juga bekerja," ucap pemuda itu dengan senyum bahagianya.


Sungguh, ia dulu adalah pemuda yang tidak memiliki tujuan hidup karena tidak memiliki keluarga. Kemudian merasa terpuruk karena pada akhirnya hanya menjadi perawat lansia merasa kehidupannya sempurna sekarang. Meski dulu ia dinilai tidak cakap sebagai perawat dirumah sakit bergengsi di negara ini.


Ia kini menyadari takdirnya.


Dia memang harus berjalan disini, membimbing lelaki tua yang ia panggil Papa. Yang setiap saat membutuhkannya.


😍😍