La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 57



"Sudah lama?"


"Lumayan, Paman. Aku ke kamar Elea tadi karena melihat Paman tidak ada," sahut Stefan yang sudah ada di ruang kerja Ellard. Dimana janji mereka berdua juga Alex sore ini bertemu. Dan malah sekarang hari sudah merangkak gelap. Namun Alex belum nampak disana.


"Kita tunggu Alex sebentar. Dia masih menemui beberapa informannya."


"Informan untuk mencari Luna?" Ellard mengangguk.


"Paman bisa menemukannya hari ini?" Stefan yang tidak sabar langsung berdiri untuk meyakinkan dirinya, bahwa apa yang ia dengar tidak salah.


"Semoga saja. Paling lambat besok, mereka harus bekerja keras untuk dapat cepat mengetahuinya," ucap Ellard.


Lelaki itu berbicara sambil mengawasi benda canggih berbentuk persegi di depannya. Sesekali Ellard terlihat menggeleng dengan senyum sinis menghiasi bibirnya.


"Bagaimana? Kau menemukan ponselnya?" tanya Ellard segera menutup macbook nya.


"Tidak ada, Paman. Hanya tas dan ponsel Luna. Dan ponsel yang mereka maksud, tidak kutemukan dimanapun."


Stefan membuang tatapannya ke lain arah. Ia berbohong, dan tentu tidak sanggup menatap mata sang paman. Lelaki itu berusaha menyelesaikan permasalahan ini sendiri.


"Lalu bagaimana mereka akan menghubungimu jika ponsel itu tidak ada?"


"Entahlah, Paman. Mungkin mereka akan mengirimkannya lagi," sahut Stefan asal. Sebisa mungkin lelaki itu menghindar dari pembahasan tentang ponsel.


"Adam ke luar negeri."


Ellard tiba-tiba membuka pembicaraan tentang menantunya itu.


"Apa?" Stefan mengerjap, mengingat beberapa pesan lelaki itu di ponsel Luna yang sempat terbaca sekilas tadi.


Bahkan Luna sama sekali tidak menjawab panggilan ataupun membalas pesan yang lelaki itu kirimkan. Bukankah seharusnya ia khawatir. Atau paling tidak menyuruh orang untuk melihat Luna. Namun sepertinya itu tidak Adam lakukan, hingga ia tidak tahu jika Luna menghilang.


"Ya, dia keluar negeri bersama ibunya, untuk mencari adiknya," terang Ellard. Lelaki paruh baya itu mengetuk meja dengan jemarinya berulang-ulang.


"Ada masalah dalam keluarga mereka, Paman?" tanya Stefan ingin tahu.


"Sekretarisnya mengatakan jika adik Adam yang dipercaya sebagai asisten pribadinya tiba-tiba kabur dan tanpa kabar. Apalagi gadis itu baru saja dipercaya untuk memegangnya."


Ellard nampak santai menyampaikannya. Padahal Stefan pun sudah memprediksi,


"Lalu bagaimana tanggung jawabnya ? Bukankah Paman komisaris disana?"


Ellard berdehem sebelum menjawab. Lelaki paruh baya itu nampak mengatur emosinya.


"Ia tidak melaporkan apapun padaku, sebagai ayah dari istrinya sekaligus pemilik meskipun secara sah perusahaan itu sudah menjadi milik Luna. Bahkan dengan perjalanannya ke luar negeri yang mendadak itu, aku juga tidak diberitahu. Kita lihat saja nanti, aku akan membuat perhitungan disaat yang sama sekali tidak pernah disangkanya."


Napas Ellard memburu. Sang Paman terlihat menyimpan kekecewaan yang sangat dalam pada menantunya itu.


"Apa Paman sudah memiliki banyak bukti tentangnya?"


"Ya. Aglen yang menyimpannya. Aku akan membongkar semuanya bersamaan dengan siapa yang mengusik keluarga kita akhir-akhir ini. Aku sudah sangat kesal dengan mereka. Aku tidak pernah menyenggol siapapun dalam membesarkan perusahaanku di Kanada, Stef. Tapi mereka mengusikku."


Ellard mengepalkan tangannya. Kemudian memukul meja kerjanya beberapa kali. Lelaki yang masih nampak gagah di usianya yang tidak lagi muda itu geram dengan orang-orang yang sengaja mencari perkara dengannya.


"Bagaimana perusahaan Luna yang bermasalah?"


"Tenang, Paman. Semuanya lancar. Polisi belum mengungkap penyelidikan mereka. Sepertinya sengaja diulur, entah menunggu apa. Namun kondisi perusahaan terkendali."


Stefan memang menjamin dirinya akan membantu apapun sebisanya. Selain menyangkut persaudaraan dan sang paman yang lebih dekat dengannya sejak kecil, tentu karena dua orang perempuan yang sangat berarti dalam hidupnya itu.


"Maaf, Tuan. Saya terlambat." Alex memasuki ruang kerja Ellard dengan napas masih memburu. Sepertinya bodyguard Ellard itu berlari untuk sampai disini.


Sang majikan hanya mengangguk, dan tidak berkomentar apapun. Karena untungnya ia masih bisa membahas hal lainnya dengan Stefan sambil menunggu anak buahnya itu. Jika tidak, pati lelaki paruh baya itu akan murka.


Setelah mengatur napasnya, Alex mendekat.


"Tuan, dari beberapa informan yang kita sewa, mereka menyebut sebuah tempat yang dijadikan markas dan tempat penyekapan Nyonya Luna."


Setelahnya Alex berjalan lebih mendekat lagi ke samping sang majikan, kemudian terlihat membisikkan sesuatu di telinga Ellard.


"Bukankah tempat itu di pulau Victoria?"


Dahi Ellard berkerut mendengarnya. Tempat itu lumayan jauh lokasinya.


"Ya, Tuan. Dan memang benar geng Lu Xi bekerja untuk seseorang berpengaruh di Kanada. Namun informan kita belum menemukan siapa orang itu," ucap Alex membenarkan.


Bahkan hal-hal yang biasanya mudah untuk diketahui Alex kali ini menemui jalan buntu. Otak dari semua ini bersembunyi dengan baik.


"Lalu bagaimana rencana kita, Paman?" tanya Stefan yang sejak tadi mendengarkan. Lelaki itu merekam setiap ucapan Alex dalam memorinya.


"Disana banyak sekali tanah gersang. Jadi hanya ada beberapa rumah, dan seingatku hampir semua bangunannya lumayan jauh dari pantai. Apa mereka menemukan titik tepatnya, Lex?"


Ellard membuka macbook nya, menampilkan peta pulau Victoria secara detail.


"Disini, Tuan. Sedikit lebih jauh dari pantai." Alex mencocokkan info yang didapatnya dengan peta milik sang majikan.


Ellard memetakan jarak antara pantai yang akan dijadikan tempat turun oleh mereka sampai dengan bangunan yang digunakan markas oleh orang-orang itu.


"O iya Paman, berarti besok kita berangkat sore hari?" tanya Stefan memastikan.


"Ya, lebih baik kita berangkat saat masih terang dan sampai menjelang gelap. Malam akan membantu kita mengecoh mereka. Aku sudah tidak sabar untuk berolah raga lagi. Padahal aku sudah ingin hidup tenang dimasa-masa pensiunku. Tapi hal-hal seperti tak bisa kuhindari."


Ellars menekuk jemarinya hingga berbunyi gemeretuk. Lelaki paruh baya itu terlihat masih sangat kuat untuk beraksi seperti saat masa lalunya bersama William.


"Baiklah, besok kita siap jam 4 sore disini," ucap Ellard memberi perintah.


"Besok aku izin pergi sebentar ke apartemen ku, Paman. Aku sudah menyiapkan senjataku tapi aku lupa membawanya tadi. Dan malam ini, bolehkah aku menginap disini lagi, di kamar Elea?" pinta Stefan.


"Tentu saja, Stef. Memang lebih baik kau temani dan ajak main Elea. Biar aku yang mengurusi lainnya. Salah satu dari kita tetap harus memberinya perhatian. Aku tidak ingin cucuku kesepian disini," ucap Ellard.


Lelaki paruh baya itu pergi bersama Alex setelah Stefan lebih dulu pamit dan menuju kamar putri kecilnya.


\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=


"Apa yang akan kau lakukan dengannya?" tanya Angeline pada seorang wanita yang menutup wajahnya sepanjang ia berada di tempat persembunyian mereka saat ini.


Kedua wanita itu tengah mengawasi Luna dari luar. Melalui kaca tembus pandang yang hanya searah.


"Entahlah. Apa kau tak ingin melakukan sesuatu dengannya setelah ia menghinamu di kantor polisi?" Wanita yang dimaksud malah melempar kembali pertanyaan itu pada Angeline.


"Tentu saja. Tapi aku takut akan merusak reputasi Papaku. Aku sudah menyembunyikan ini semua darinya. Karena biasanya ia mengetahui semua kenakalanku."


Angeline ragu akan apa yang sudah diperbuatnya kali ini. Padahal ia sudah berjalan jauh dan dengan berani melakukan berbagai hal buruk pada Luna dan keluarga Efrain.


Nona kaya raya itu sudah tidak bisa kembali? Karena keterlibatannya sudah mencapai 80%, dan wanita yang bersamanya ini tentu tidak akan membiarkan Angeline lepas tangan begitu saja.


"Apa seumur hidup kau akan bergantung pada ayahmu? Dan bersembunyi dibalik nama besarnya? Angeline, kau seorang pewaris tunggal Peterson. Kau anak sah satu-satunya yang ayahmu miliki." Wanita itu mendekat, mencoba mempengaruhi Angeline.


"Meski sah aku bukan satu-satunya, Kak. Ada Nathan dan Daniel dari istri kedua ayahku, meski ibuku dan keluarga besar kita tidak pernah mengakuinya."


Angeline menunduk. Mengusap air mata yang meluncur tanpa permisi di kedua pipinya. Hatinya perih mengingat pengkhianatan sang ayah pada ibunya. Itulah mengapa Ronald Peterson banyak membela putrinya meski tahu apa yang dilakukan Angeline salah.


"Mereka tidak sah secara hukum. Mereka berdua lahir dari perselingkuhan ayahmu. Dan seharusnya mereka tidak mendapatkan harta keluarga."


"Aku tak sekuat itu, Kak. Papa tetaplah orang yang tidak pernah mendengarkan orang lain, keras termasuk aku."


Napas Angeline terengah. Selama ini julukan trouble maker yang disandangnya bukanlah hal yang tidak ia perdulikan. Gadis itu sengaja membuat keributan disana sini untuk mencari perhatian sang ayah. Namun malah berujung selalu diselesaikan dibawah tangan oleh lelaki yang dulunya sangat ia hormati itu.


"Kalau begitu, lakukan apa yang kamu sukai. Bukankah menyenangkan menyakiti wanita itu. Dialah yang membuat Stefan menolakmu. Padahal kau lebih segalanya dari anak haram keluarga Efrain itu." Bisikan lembut namun tajam itu menyentak Angeline.


"Anak haram?" Angeline menoleh, menatap wanita yang ia panggil Kak itu mencari kebenaran.


"Ayah Luna dan ibunya tidak pernah menikah. Memang darah Efrain mengalir ditubuhnya, tapi bukankah itu tidak sah, sama seperti adik-adikmu itu,"


ucap wanita itu menekan.


Ia akan menyerang Angeline dengan mempengaruhinya. Supaya gadis kaya raya itu tetap menjadi kaki tangannya dalam menyakiti Luna.


\=\=\=\=\=\=\=\=


"Paman, kenapa lama sekali?" rengek Elea yang lamat- lamat mendengar pintu kamarnya dibuka oleh seseorang.


"Iya, maafkan Paman ya, Sayang. Ini Paman sudah datang."


Stefan menghampiri gadis kecil itu. Kemudian mengambil duduk di sebelahnya. Jemari Stefan membentuk sisir dan membelai lembut surai hitam Elea.


"Ayo kita main lagi, Paman! Tapi El mengantuk sekali."


Elea tengah berada di alam bawah sadarnya. Sesekali gadis kecil itu mengerjap mencoba membuka matanya yang terasa berat.


"Tidur saja, biar Paman temani," ucap Stefan menenangkan.


"Nanti kalau El tidur, Paman pasti pergi meninggalkan El," rengek Elea manja.


"Tidak. Paman akan menemani, El. Sampai gadis kecil Paman yang cantik ini tidur dan sampai bangun lagi esok hari."


Senyum tipis Stefan terlihat. Ia sangat bahagia dengan Elea seharian ini.


"Janji?"


Elea melipat jemarinya dan menyodorkan didepan Stefan. Lelaki itu memgecupnya pelan.


"Iya, Sayang. Apa kau_"


Berikutnya terdengar suara dengkuran halus Elea yang membuat Stefan tidak melanjutkan ucapannya.


Rupanya Elea tanpa sadar telah tertidur.


💪terimakasih masih setia❤❤