La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 125



Adam menoleh kesana kemari, mencari seseorang yang mengunjunginya.


Petugas sipir mengatakan jika yang mengunjunginya adalah Andrew Hedger, yang memperkenalkan diri kepada petugas sipir sebagai pengacara Luna.


Sepanjang perjalanan menuju tempat yang dimaksud untuk menerima kunjungan, hati Adam berdebar tidak karuan. Ia takut menerima kabar yang menurutnya sangat-sangat buruk, yaitu perceraian.


Setelah sidang putusan kemarin dan Luna meninggalkan lelaki itu begitu saja, Adam baru menyadari jika sekarang ia tidak memiliki siapapun kecuali Luna. Hari itu, sekalipun ia memohon, Luna tetap berjalan melewatinya.


Semuanya sudah terjadi dan tidak semudah itu diperbaiki. Kejahatan terasa lebih menyakitkan jika itu dilakukan oleh orang terdekat kita, yang terkadang kita percaya untuk berlindung pada mereka.


Seorang lelaki nampak melambaikan tangannya saat tatapan Adam tertuju padanya. Berusaha lebih meyakinkan diri jika yang dimaksud oleh lelaki itu adalah dirinya, Adam menggerakkan jari telunjuk ke dadanya, dan lelaki itu mengangguk.


Dengan langkah gontai Adam menghampiri lelaki itu. Tatapannya sendu melihat lelaki tampan dan rapi dengan segala apa yang melekat ditubuh itu. Tentu saja mengingatkan Adam akan dirinya yang dulu.


Namun sekarang, bahkan sepeserpun uang ia tidak punya. Secuil kebahagiaan tidak lagi dapat ia miliki. Ia manusia termiskin di dunia, baik harta dan juga keluarga.


"Silahkan, Tuan," sapa Andrew.


Bahkan pengacara Luna itu rela berdiri untuk menghormati kedatangan Adam. Hal yang menurut Adam tidak perlu dilakukan karena ia sudah bukan siapa-siapa lagi.


"Perkenalkan saya Andrew, pengacara Nyonya Luna." Andrew mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Adam. Namun lelaki berambut pirang itu seperti enggan membalasnya.


Bukan karena Adam marah atau benci. Tapi lebih karena seribu pikiran buruk berkumpul dan menyerangnya saat ini.


Adam takut Luna meminta cerai dari dirinya, meski itu sangat mungkin. Karena pasti kekecewaan yang Luna rasakan sangat dalam. Hingga menyakiti hati wanita itu.


"Iya."


Akhirnya Adam menjawab singkat dan membalas uluran tangan Andrew.


"Saya_"


"Anda membawa kabar buruk untuk saya?" Mata lelaki berambut pirang itu mendadak berkaca.


Dengan tatapan sedih yang membuat Andrew terdengar menghembuskan napas berat.


"Tenang dulu, Sir. Saya diutus Nyonya Luna untuk mencukupi kebutuhan harian anda selama menjalani hukuman."


Bagai disiram ribuan bongkahan es. Hati Adam rasanya dingin dan membeku mendengarnya. Ia tidak tahu harus bahagia atau sedih.


Bahkan disaat keadaannya seperti ini, Luna masih memikirkan dirinya. Meski istrinya itu tidak datang mengunjunginya. Karena jujur, Adam rindu melihatnya meski pertemuan mereka terakhir kali baru saja beberapa hari berlalu.


"Apa yang anda katakan itu benar-benar permintaannya?" tanya Adam pada akhirnya.


"Tentu saja, Sir."


Adam menyunggungkan bibirnya. Dirinya sedikit membaik mendengar kenyataan itu.


"Apa ... Istriku, baik-baik saja?"


Andrew terdiam sesaat. Apa yang dipikirkan Adam hingga masih berani memanggil Luna dengan sebutan istriku.


Istri dan anak yang dengan sadar Adam celakai. Tidakkah Adam memikirkan hancurnya hati Luna akan perbuatannya itu?


"Nyonya Luna baik-baik saja, Sir. Beliau saat ini ada di Amerika. Dan mungkin akan tinggal di sana untuk beberapa lama," jelas Andrew yang sengaja memberikan informasi untuk memancing reaksi Adam.


"Amerika? Kenapa harus kesana? Bukankah seharusnya ia tetap disini?" Dada Adam naik turun mendengarnya. Ternyata Luna memilih pergi, dan perkataan Andrew membuat Adam berpikir jika Luna tidak akan kembali lagi ke negara ini.


Andrew hanya terdiam. Karena jawaban itu ada pada diri Adam sendiri.


"Saya sudah selesai menyampaikan maksud dan tugas saya, Sir. Permisi."


"Jelaskan padaku! Apa ia akan selamanya disana? Bukankah ia seharusnya tetap disini?" Adam menggeram, emosinya bergejolak karena perginya Luna berarti adalah akhir dari kisah mereka.


Meski belum resmi, namun kesempatan bagi Adam memperbaiki diri sepertinya sudah tidak ada.


"Sir, trauma dan keterpurukan yang menimpa seseorang tidak bisa kita ketahui, tidak akan terbaca. Banyak orang terlihat baik-baik saja, namun tidak dengan mentalnya. Dan anda pasti tahu sedalam apa trauma nyonya Luna akibat perbuatan anda. Jika anda begitu mencintainya, seharusnya semua ini tidak pernah terjadi. Dan jika sampai sekarang anda tetap mencintainya, sebaiknya anda melepaskannya. Karena itu yang terbaik untuk nyonya Luna saat ini," jawab Andrew panjang lebar.


"Saya permisi dahulu. Berikutnya setiap hari akan ada yang mengantar makanan dan jika anda membutukan sesuatu, titipkan pesan pada kurir pengantar makanan itu. Selamat siang," pamit Andrew yang sebelum pergi sempat menepuk pelan bahu Adam. Namun Adam hanya diam saja.


"Aku tidak membutuhkan semua itu Luna. Aku butuh dirimu. Maafkan aku." Adam terlihat menatap nanar kepergian Andrew.


Semakin lama, Andrew semakin jauh hingga hilang dari pandangan, membawa penyesalan Adam kedasar paling dalam dari nuraninya.


Semuanya pergi, dan tidak akan kembali.


\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=


"El mau gelato rasa apa? Pesan sendiri sesuka hati El, ya. Untuk Mama dan Paman juga El saja yang pesan, " ucap Bhara yang mengantarkan Elea hingga ke depan kasir dan memberikan kartu miliknya pada gadis kecil itu.


Luna sedang ke toilet diantar oleh pelayan William yang sengaja wanita itu ajak untuk membantunya. Sedangkan Bhara akhirnya mencari tempat duduk untuk mereka bertiga.


Namun begitu Bhara pergi, Elea hanya diam menatap jajaran gambar gelato dan snack yang terpampang di depannya.


"Andai ada Paman, pasti lebih asyik," ucap gadis kecil itu lirih. Tangannya merogoh tas kecil yang selalu ia bawa, dan disana ada benda pipih kotak serupa dengan apa yang diberikan Bhara.


"Padahal aku ingin Paman kembali, bukan benda ini. Tapi kenapa sebelum pergi, Paman malah meninggalkan ini untukku. Benda ini tidak bisa mengembalikan Paman padaku."


Elea menunduk, tangisnya pecah meski hanya terdengar idaman. Dan airmatanya membasahi benda pipih nyang diberikan Stefan padanya.


"Selamat sore, Adik main pesan apa?" sapa ramah pelayan kedai gelato pada Elea.


"Em ... gelato lima macam rasa, terserah apa saja," jawab Elea yang bingung. Ia tidak tahu harus memesan rasa apa.


Tadi di rumah ia begitu tertarik pergi ke kedai gelato hingga merengek pada sang ibu. Tapi ketika sampai disini, gadis kecil itu malah mengingat Stefan.


"Mau tambah snack?"


"Potato stick dua," sahut Elea lagi.


Setelah pelayan menunjukkan jumlah yang harus ia bayar, Elea memberikan kartu ditangannya.


Namun yang ia berikan bukanlah kartu yang diberikan Bhara, melainkan kartu miliknua pemberian Stefan.


"Meja yang mana Adik? Kami bantu membawanya," tawar seorang pelayan yang sudah berdiri disebelah Elea.


"Sebelah sana, Kak. Itu yang ada Paman memakai topi putih," tunjuk Elea pada Bhara yang sedang duduk dan memainkan ponselnya.


Pelayan itu dengan cepat membawa nampan, bahkan ia membawa semua pesanan Elea sehingga gadis kecil itu hanya mengikuti pelayan dari belakang.


Elea terpisah di belakang karena memang pelayan harus bekerja cepat untuk mengantarkan pesanan.


Tiba-tiba saat mata Elea tanpa sengaja menatap jendela luar. Ia melihat seseorang yang sangat ia kenali.


Mata Elea berbinar, kedua sudut bibirnya terangkat. Dan tanpa sadar ia berjalan hendak keluar kedai menghampiri orang itu.


Namun begitu mata mereka bertumbuk, sosok yang Elea kenal itu dengan cepat menarik topinya kemudian pergi begitu saja.


"Paman!"


💕💕💕