La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 51



Stefan yang turun dari mobil, langsung berlari menuju UGD.


Menggendong Elea yang benar -benar sudah lemas. Bahkan lelaki itu tidak memperdulikan dirinya sendiri yang juga terluka dan butuh pertolongan.


Brakk!!


Suara hentakan keras dari pintu UGD yang dibuka paksa oleh Stefan menarik perhatian orang sekitar.


Mereka sampai menoleh dan terperangah.


Brukk!


Lelaki itu limbung dan terjatuh. Ia lelah dan juga merasakan sakit yang teramat pada bahunya. Banyak sekali darah yang keluar dari luka bekas tembakan itu, hingga cairan pekat dan merah juga mengotori pakaian Elea yang di peluknya.


Namun begitu, tak sekalipun Stefan melepaskan tubuh Elea. Ia masih mendekap erat tubuh mungil itu dalam pelukannya.


"Tuan, Anda baik-baik saja?" Seorang perawat menawarkan diri membantu. Lelaki berpakaian biru laut itu dengan sigap menangkap tubuh Elea dan membawanya ke bed. Sedangkan yang lain memapah Stefan ke bed di sebelahnya.


"Aku tidak apa-apa. Selamatkan putriku lebih dahulu. Dia dehidrasi berat," ucap Stefan memberitahu.


"Tenanglah, Tuan. Anda juga terluka. Kami akan segera menolong kalian berdua." Dokter itu lalu memanggil bantuan untuk menangani kedua pasiennya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Boom!


Suara ledakan disebuah pemukiman terdengar cukup keras. Rumah yang digunakan untuk menyembunyikan Elea itu rata dengan tanah. Debu nampak tebal mengepul membuat sesak.


"Aku serahkan padamu, Lex. Bersihkan semuanya tanpa sisa. Dan hilangkan jejak apapun yang ada disana," titah Ellard yang tengah menatap runtuhnya bangunan yang tadi berdiri kokoh didepannya.


Ellard sedang bersandar pada mobilnya kini. Ia memilih menjalankan rencana E, yaitu rencana yang tercetus tiba-tiba sesuai kondisi yang dihadapi. Dan mereka tentu harus siap menerima konsekuensinya. Bisa menang, bisa juga kalah.


Ellard sudah sangat geram, karena tidak ada satupun dari para penjahat itu yang mau mengaku, siapa otak dari semua ini. Bahkan dengan ancaman kematian sekalipun mereka tetap bungkam. Anggota geng Lu Xi memang terkenal setia.


Itulah mengapa Ellard memilih menghabisi mereka semua. Berharap sang penyewa jasa sekaligus otak dari penculikan ini akan terpancing dan menampakkan diri.


"Tuan, Nona Elea sudah sampai di rumah sakit," lapor Alex yang mendapatkan kabar dari perawat rumah sakit yang dimintai tolong oleh Stefan.


"Syukurlah. Setelah kondisi mereka stabil, bawa Dokter beserta beberapa perawat untuk merawat mereka berdua dirumah. Aku tidak ingin kecolongan lagi."


"Siap, Tuan!"


Setelahnya, Alex nampak menghampiri sekelompok orang yang datang dengan membawa beberapa alat berat.


"Aku mau semuanya bersih dalam satu jam!" titah Alex.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Sial! Dimana Kylie! Kenapa semuanya belum siap?"


Adam berteiak- teriak di dalam ruangannya. Semua bawahannya terkena marah lelaki itu.


Hari ini ada sebuah meeting penting dimana Adam sendiri yang akan presentasi. Seperti biasa, proyek- proyek kerjasama yang besar memang lelaki itu langsung turun tangan.


Adam ingin memberi kesempatan pada Kylie, juga ingin melihat kinerja sang adik yang sudah satu bulan menjadi asisten pribadinya itu. Untuk itu ia memutuskan menunjuk gadis itu sebagai penanggungjawab.


Namun apa yang ia dapati hari ini? Hingga pukul 8 pagi, Kylie tidak nampak batang hidungnya. Waktu dimana gadis itu sudah sangat terlambat sebagai asisten sang kakak juga telah lewat dari jam masuk kantor.


Dan yang lebih membuat Adam kesal, bahkan nomor ponsel. Kylie tidak bisa dihubungi.


Padahal Adam sengaja berangkat pagi demi adiknya itu. Barangkali Kylie membutuhkan bantuan karena ini pertama kali baginya. Hati seorang kakak, meskipun hampir setiap hari Kylie kena marah oleh Adam, namun lelaki itu tetap bertanggung jawab membimbing adiknya itu.


"Nina! Ambil alih semuanya! Waktu kita tinggal satu jam lagi. Aku tidak mau semuanya gagal! Ajak siapapun agar semuanya selesai tepat waktu!" titah Adam pada sekretarisnya.


"Baik, Pak."


Gadis muda yang masih energik itu segera berlari memberitahu beberapa orang yang akan ia mintai bantuan untuk menyiapkan keperluan meeting dengan segera.


Adam berdiri menumpu pada mejanya. Akhir-akhir ini semuanya begitu semrawut. Mulai dari perusahaan, bisnis pribadi serta keluarga kecilnya. Ia bingung harus memprioritaskan yang mana. Sedangkan saat ini, semua membutuhkannya.


Brakk!


Lelaki itu memukul meja didepannya. Melampiaskan kekesalannya pada benda mati berbentuk oval yang pasti tidak bisa membalas perbuatannya itu.


"Kau sungguh keterlaluan!" kesalnya dalam hati.


Adam membuka ponselnya. Kemudian menghubungi sang ibu untuk menanyakan keberadaan Kylie.


"Mana Kylie, Mam?"


Begitu tersambung, tanpa basa-basi Adam langsung menanyakan keberadaan sang adik.


"Dia sudah berangkat dari tadi pagi, Sayang. Memang kamu ada dimana?"


"Tentu saja di kantor. Sampai saat ini Kylie belum sampai disini, Mam. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Berangkat kemana dia?"


Adam meradang. Apalagi mendapati kenyataan jika Kylie sama sekali tidak memberi kabar.


"Kenapa kau menunggunya? Kata Kylie, dia mendapat tugas ke luar negeri. Apa kau lupa jika ada tugas itu untuknya?"


Lilyana mulai berkeringat. Sepertinya ada yang salah disini. Karena tidak mungkin antara kedua anaknya itu hilang komunikasi. Salah satu diantara mereka pasti ada yang berbohong. Dan ia tidak yakin itu Adam.


Masih segar dalam ingatannya. Saat pagi tadi, Kylie yang selalu bangun terlambat namun malah sudah rapi di pukul 5 pagi. Lilyana hanya menduga jika sang anak sebegitu semangatnya karena ini pertama kalinya gadis itu pergi keluar negeri untuk urusan pekerjaan. Bukan untuk liburan atau sekedar berbelanja.


Namun rupanya Lilyana terkecoh.


Sebelum berangkat, Kylie sempat mengatakan jika dia akan melakukan perjalanan ke luar negeri karena tugas dari kantor. Dan gadis itu memperkuatnya dengan membawa nama sang kakak.


Bodohnya, Lilyana percaya. Bahkan ia lupa untuk bertanya kemana tujuan anak gadisnya itu pergi.


"Mana mungkin, Mam! Tidak ada perjalanan dinas keluar negeri di perusahaan ini. Sial! Dia pasti sengaja kabur. Mama bantu Adam, ya. Terus hubungi Kylie sampai bisa."


"Ponselnya tidak aktif, Dam. Mama sudah mencobanya berulang kali. Tenanglah, adikmu hanya membawa koper kecil, Sayang. Mungkin memang ada perjalanan dinas yang tidak kamu ketahui."


Lilyana mencoba menenangkan Adam. Padahal yang sebenarnya ia tidak begitu memperhatikan, entah koper besar atau kecil yang Kylie bawa. Tapi Lilyana yakin jika anak gadisnya itu membawa yang kecil. Dan Kylie akan segera kembali.


Hati Lilyana gundah. Napasnya kembang kempis mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia takut hipertensi yang dideritanya kambuh jika ia terlalu tegang.


"Mama periksa kamarnya sekarang! Periksa barang-barangnya. Dan secepatnya hubungi aku," pinta Adam. Lelaki itu langsung memutuskan panggilannya seusai mengucapkannya.


"Kei ... Jangan membuat masalah kali ini." Lilyana bergumam lirih.


Setelah meletakkan ponselnya, wanita paruh baya itu buru-buru menuju kamar Kylie untuk melaksanakan permintaan Adam.


Klek!


Lilyana membuka pintu dengan tergesa. Namun mendadak langkahnya melemah, seiring ekor matanya yang menangkap pemandangan kosong di depan meja rias.


"Tidak Kylie!" pekiknya tertahan.


Dengan cepat tangan Lilyana membuka kotak kecil yang tersembunyi dibelakang cermin. Tempat biasanya Kylie menyimpan segal pernak-pernik alat make up-nya.


Kosong!


Napas Lilyana seakan berhenti. Otaknya mendadak kosong. Namun wanita paruh baya itu masih berpikir hal-hal yang baik.


Tentu saja kotak kecil itu kosong. Perempuan selalu tidak mau ketinggalan alat make up-nya bukan, jika bepergian. Hatinya merasa sedikit lega.


Kosong lagi!


Lilyana terdiam. Kali ini, pikiran buruk sudah menelusup dalam otaknya. Namun masih ada satu tempat lagi, yaitu lemari pakaian.


Lilyana menekan prasangka buruknya meski wanita paruh baya itu diliputi rasa takut saat ini.


Ia berjalan sangat pelan, menghampiri lemari pakaian berwarna putih yang tidak jauh darinya. Lilyana bahkan menutup matanya saat sampai di depan pintu. Dengan gerak lambat dan menguatkan diri, wanita paruh baya itu membuka pintunya.


Brukk!


Lilyana terjatuh dalam keadaan duduk. Bulir bening dari dalam kelopak matanya jatuh perlahan. Wanita itu memijat pelipisnya, menahan pening yang tiba-tiba menyerang.


Didalam sana, hanya tersisa beberapa potong pakaian yang sebelumnya memang tidak pernah disentuh lagi oleh Kylie. Dan juga koper kecil berwarna pink, yang biasa ia bawa saat liburan.


Lilyana emas. Entah apa yang harus ia katakan pada anak lelakinya itu. Ia tentu sudah tidak bisa membelanya lagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kondisi Stefan maupun Elea membaik. Untung saja Stefan menemukan gadis kecil itu tepat waktu. Dan dokter juga menanginya dengan baik.


Luka Stefan cukup dalam, ia menjalani operasi darurat untuk mengambil peluru yang bersarang di bahunya. Stefan juga masih beruntung, peluru itu tidak mengenai tulangnya.


Ellard tidak mau menunggu lama. Ia membawa mereka berdua untuk pulang dan merawatnya di rumah yang ia jadikan markasnya itu. Rumah rahasia dimana tidak ada seorangpun tahu bahwa pemiliknya adalah Ellard Efrain.


Elea sudah stabil, namun Ellard masih menyewa satu orang perawat untuk mengawasi cucunya itu hingga benar-benar membaik.


Saat ini, gadis kecil itu sedang beristirahat di kamarnya. Dokter memberikan sedikit obat penenang agar ia bisa beristirahat dan memulihkan tenaganya.


Sedangkan untuk Stefan. Ellard menyewa seorang dokter dan perawat yang akan merawat lukanya sampai sembuh.


Stefan berada di ruang tamu sekarang, duduk bersama sang paman membahas tentang otak dibalik semua kejahatan pada mereka akhir-akhir ini.


"Jangan hubungi Luna jika kau mau memberitahu bahwa El sudah aman. Biarkan saja dia tidak tahu," pinta Ellard.


"Tapi Paman, kasihan Luna. Aku tidak tega melihatnya."


"Ini demi keamanan El. Bagaimana kabar Luna hari ini? Aku sama sekali tidak sempat memghubunginya," sesal Ellard.


Lelaki berambut putih itu sampai harus menjauh beberapa saat untuk menyelamatkan cucunya.


"Aku juga belum tahu Paman. Saat aku menghubungi rumah, bibi Ofelia yang menjawab. Ia mengatakan jika Luna hanya turun sebentar, kemudian kembali ke kamarnya. Sedangkan Adam, pagi-pagi benar sudah berangkat ke kantor."


"Nina mengatakan ada meeting penting pagi ini. Adam sendiri yang akan presentasi. Lalu bagaimana perusahaan Luna?"


Ellard terlihat khawatir, karena di perusahaan itu banyak sekali musuh yang menyamar.


"Aku sudah menyuruh seseorang untuk mengawasi semua aktifitas disana. Paman tenang saja. Apa Paman sudah menemukan siapa yang menculik Elea?"


Ellard menyesap kopinya. Lelaki paruh baya itu nampak berpikir dan sesekali membuang tatapannya jauh.


"Aku menemukan beberapa nama, namun belum bisa memastikannya."


Saat mereka sedang serius, ponsel Ellard berbunyi.


Lelaki paruh baya itu gegas mengambil benda canggih itu dari sakunya. Membaca nama kontak pemanggil, kemudian menyodorkan pada Stefan.


Tertera nama Christina disana. Ibu Stefan.


"Jika Mama menanyakan aku, katakan aku baik-baik saja, Paman," ucap Stefan yang tiba-tiba beranjak pergi.


"Kau tak ingin bicara dengannya?"


Stefan hanya menggeleng. Keponakannya itu tetap pergi tanpa berucap apa-apa lagi.


Beberapa menit kemudian, Ellard yang sudah selesai berbicara dengan adik iparnya menyusul Stefan di taman.


Keponakannya itu nampak melamun dengan tatapan yang tak terjelaskan.


"Kau kenapa, Stef?" Ellard menepuk bahu Stefan yang tidak sakit. Membuat sang empunya terjingkat karena kaget.


"Tidak ada, Paman. Aku ... Hanya memikirkan Elea."


Senyum Stefan nampak terpaksa.


"Dia sudah baik-baik saja bukan? Apa ada sesuatu yang tidak kutahu?" tanya Ellard menelisik.


Ia merasa jika Stefan menghindar dari ibunya. Padahal yang ia tahu hubungan ibu dan anak itu selalu hangat, apapun masalah yang menimpa mereka.


"Tidak ada, Paman. Kami baik-baik saja," kilah Stefan yang mencoba mengelak dari tatapan mata Ellard.


"Christina mengatakan_"


"Soal aku dan Papa, Paman." Stefan menjawab cepat kemudian menunduk.


Lelaki tampan keturunan Efrain itu selalu tidak bisa menyembunyikan perselisihannya dengan sang ayah dari pamannya. Karena mereka saudara, dan Ellard memang selalu lebih sabar daripada William.


"Padahal aku tidak menanyakan tentang itu. Ada apa dengan kalian?"


Ellard tersenyum tipis. Stefan masuk jebakan. Christina hanya membahas sedikit mengenai suami dan anak lelakinya itu. Berikutnya Ellard sudah bisa menduga apa yang terjadi.


"Paman hanya mengujiku?" Stefan berdecak. Ia masuk perangkap pamannya.


"Ibumu tidak mengatakan apapun. Ia hanya menanyakan keadaanmu. Dan seperti yang kau suruh, aku mengatakan kalau kau baik-baik saja. Tapi sepertinya ia tahu telah terjadi sesuatu denganmu. Ikatan kalian sangat kuat. Ibu dan anak. Pahami itu."


"Aku dicoret dari pewaris Efrain, Paman," ucap Stefan lirih. Lelaki tampan itu banyak membuang tatapannya ke lain arah, menekan rasa getir didadanya. Ternyata sang ayah lebih sayang pada harta daripada dirinya.


"Apa? Papamu sudah gila? Kau pewaris satu-satunya, Stef. Dia tidak memiliki yang lain."


Ellard tidak menyangka jika sang kakak sampai melakukan hal itu.


"Tidak apa-apa, Paman. Aku akan hidup mandiri dan menggunakan hasil kerja kerasku untuk menghidupi keluargaku kelak. Tanpa berharap sepeserpun warisan dari Efrain."


Stefan yakin ia bisa mandiri. Sekarang saja ia sudah memiliki dua perusahaan besar di Italia. Hasil keringatnya sendiri.


Yang Stefan sesalkan adalah sang ayah, yang bahkan membuang dirinya hanya demi gengsi karena perjodohan yang tidak terealisasi.


"Soal apa?"


"Biasa, Paman. Papa menginginkanku menikah dengan pilihannya. Dan aku menolaknya."


"William itu masih kolot jika soal perempuan. Aku juga tidak habis pikir dengannya. Siapa gadis yang dijodohkan denganmu, Stef?"


Stefan terdiam. Dia ragu mengatakan pada sang paman.


"Angel. Putri keluarga Peterson."


"Angeline Peterson!?" tanya Ellard dengan suara yang ditekan.


Stefan mengangguk. Ia melihat sang paman tiba-tiba bangkit dari duduknya dan nampak kesal.


"Apa yang ada dipikiran William. sebenarnya?"


❤❤❤❤


sudah diedit ya... maapkan saya yang asal kirim semalam🙏