La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 35



H-1


Semalam, Luna ketiduran di ruang kerjanya. Dia bahkan pulang larut malam, dan mendapati Elea sudah berada di kamarnya.


Kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Semua masalah seakan menumpuk jadi satu dan menyerangnya. Belum lagi tidak ada kabar sedikitpun dari Adam. Bukankah seharusnya tetap bisa mendapat sinyal di Istanbul? Karena seingatnya kantor kecil tempat orang-orangnya berlindung disana tidak terletak di daerah terpencil.


Namun sampai dini hari, ponsel Adam tetap tidak aktif. Lelaki itu bagai hilang di telan bumi.


Luna bangun saat jarum jam menunjuk di angka 4. Bahkan dia baru beberapa jam yang lalu memejamkan matanya. Rasanya seperti melayang. Terjaga tapi tidak bisa membuka mata.


"Selamat pagi, Nyonya Luna."


"Bibi...." pekik Luna memegang dadanya. "Mengagetkanku saja."


Wanita paruh baya itu tersenyum. Senyum teduh yang menemani Luna beberapa tahun ini di Kanada.


Bibi Ofelia yang selalu setia dengan cardigannya itu bahkan sudah rapi dan mengenakan kacamatanya.


"Bibi atau aku yang kepagian?" tanya Luna menatap bibi Ofelia dari atas hingga bawah.


"Nyonya yang kepagian. Saya tahu semalam Nyonya pulang sudah larut. Dan saya juga tahu Nyonya tidak kembali ke kamar. d


Duduklah, saya seduhkan teh Chamomile, agar Nyonya sedikit rileks," bibi Ofelia menggamit lengan Luna dan membawanya ke dapur. Kemudian mempersilahkan majikannya itu duduk disana.


"Bibi tahu saja. Papa kesini jam berapa bi?"


"Sekitar jam 8. Beliau mengatakan Nyonya tidak menghubunginya, jadi beliau berinisiatif mengantarkan Nona El," ucap bibi ofelia.


Wanita paruh baya itu dengan cekatan memasukkan beberapa kuntum bunga Chamomile kedalam cangkir berwarna keemasan, kemudian menyeduhnya dengan air panas.


"Silahkan, Nyonya."


"Terima kasih, Bi," ucap Luna. Wanita itu langsung menghidunya dalam."Selalu wangi dan menenangkan,"


"Nikmati dengan pelan. Terkadang solusi itu tidak akan datang karena ia terus dicari, namun ia muncul disaat kita benar-benar siap menghadapi segalanya." Bibi Ofelia menepuk ringan bahu Luna.


Kemudian begitu saja meninggalkan Luna.


Setiap pagi, Bibi Ofelia hanya bertugas mengawasi beberapa tukang masak yang bertugas membuat sarapan untuk keluarga Luna. Itu berlaku untuk makan siang dan juga makan malam. Sesederhana itu tugasnya.


Namun tentu tidak sesederhana kelihatannya. Beliau bertanggung jawab juga atas semua pekerjaan pelayan di rumah Luna. Ya, semuanya.


"Bibi ... Tidak lelah?" tanya Luna tiba-tiba. Mendadak Luna ingin menjadi seperti bibi Ofelia. Pekerjaannya tidaklah berat,. san juga tidak banyak tekanan. Hanya butuh kepercayaan penuh dari sang majikan. Namun justru itu yang sulit didapatkan, butuh bertahun-tahun lamanya.


Wanita berkacamata itu menoleh. Kemudian seperti biasa, ia mengembangkan senyum khasnya yang teduh.


"Sangat ... Terkadang Bibi berpikir, apa yang Bibi cari diumur yang sudah lanjut seperti ini. Uang? Bibi sudah lebih dari cukup memilikinya. Apalagi Bibi sebatang kara, orang tua Bibi keduanya sudah tidak ada. Lalu untuk siapa uang yang Bibi kumpulkan?"


"Dulu Bibi berpikir seperti itu." Bibi Ofelia mengambil kursi dan duduk di dekat Luna. "Untuk apa mengumpulkan uang banyak, Bibi seharusnya sudah istirahat dan menikmati hasil kerja keras Bibi. Begitu bukan Nyonya?"


"Hemm ... Memang itu yang seharusnya dilakukan Bibi," ucap Luna membenarkan pemikiran kepala pelayan di rumahnya itu.


"Bekerja adalah suatu hal yang sangat Bibi syukuri dalam hidup Bibi, Nyonya. Ini passion Saya, Nyonya. Meski kelihatannya sepele, namun terdapat tanggung jawab besar didalamnya. Dan Bibi memilih tetap bekerja daripada diam beristirahat. Karena dengan bekerja, Bibi dapat menikmati hidup ini. Apalagi Bibi bisa menghasilkan uang yang tidak sedikit. Bibi memberikannya untuk mereka yang tidak beruntung." Bibi Ofelia berbisik di akhir kalimatnya.


"Siapa mereka, Bi?"


"Setelah semua ini selesai, aku ingin ikut Bibi kesana," pinta Luna.


"Dengan senang hati, Nyonya. Semoga hari Anda menyenangkan dan semua pekerjaan Nyonya lancar. Kalaupun ada masalah, akan datang penolong yang tidak disangka-sangka," ucap bibi Ofelia tulus.


Wanita itu menggenggam kedua tangan Luna kemudian menciumnya. Manis sekali. Bibi Ofelia selalu lebih dari seorang pelayan untuk Luna dan juga untuk semua keluarga Efrain. Wanita paruh baya itu selalu total menjalankan pekerjaannya.


"Amin ... Hatiku lega sekali. Bibi membuatku sangat nyaman." Luna memeluk wanita paruh baya itu. Dia mendesah pelan, melepaskan semua beban di pundaknya.


"Nyonya tidak boleh menyerah dalam keadaan apapun. Saya sudah sejauh ini menemani, dan saya akan terus menemani." Nasihat demi nasihat, bibi Ofelia ucapkan pada Luna.


"Bibi...." Luna menyeka airmatanya yang mengalir. "Aku sayang denganmu."


"Bibi juga sayang pada anak gadis kesayangan Tuan Ellard ini," canda bibi Ofelia yang membuat Luna menarik sudut bibirnya.


"Apa masakan Bibi sudah ada yang siap? Tiba-tiba aku lapar." Luna memegang perutnya kemudian duduk tegak di kursinya.


"Sepagi ini? Biasanya Nyonya tidak bisa sarapan pagi, hanya juice." bibi Ofelia terheran mendengar permintaan Luna.


"Entahlah, Bi. Aku ingin sekali makan," keluh Luna lagi.


"Baiklah, Bibi siapkan. Tapi harus dihabiskan, ya. Dan janji berangkat ke kantor dengan semangat," pinta bibi Ofelia.


"Iya... Bi...."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Tuan, mengapa semua alat komunikasi harus dimatikan? Bagaimana jika Bu Luna menghubungi," tanya seorang anak buah Luna ynag bertugas di Istanbul.


"Aku tidak ingin ada kebocoran informasi ke kanada. Sebisa mungkin kita harus selesaikan permasalahan ini disini, jangan sampai melebar ke mana-mana," jawab Adam.


"Tapi ini menyangkut kantor pusat, Tuan. Produksi disana, mana mungkin kita bisa mengulangnya disini sedangkan disini kita hanya finishing saja," tolak anak buah Luna.


"Kita akan lakukan apapun! Meskipun harus membeli produk lain dan kita labeli," ucap Adam memberi solusi.


"Tidak bisa seperti itu, Tuan. Kita dipercaya dunia karena kualitas. Lalu apa kata mereka jika kita membeli asal dan kita labeli." Salah satu anak buah itu mengingatkan.


"Diam kamu! Aku bosmu disini. Lakukan apa yang kuperintahkan, atau kau ku pecat!" bentak Adam pada orang -orang itu.


Mereka semua kaget. Selama mereka ikut Luna ataupun Ellard, tidak sekalipun anak dan ayah itu bersikap arogan terhadap bawahan. Mereka berdua sangat menghargai orang-orang yang bekerja bersama mereka.


"Sebentar lagi, truk- truk pengangkut barang yang kita butuhkan datang. Kalian lakukan seperti yang sudah ku jelasakan. Dan satu hal lagi, jangan banyak tanya. Cukup kerjakan saja! " titah Adam.


Orang-orang itu pergi tanpa menjawab. Hati mereka menentang apa yang akan mereka lakukan.


Tang!


Adam menendang keras tempat sampah di depannya! Bahkan dalam keadaan pelik seperti ini, orang-orang itu masih menghormati sang istri dibanding dirinya.


"Hargailah orang lain, maka dirimu akan dihargai."


đŸ’—Terima kasih untuk like, komendan vote nya.