
Kertas berserakan di meja kerja Luna. Wanita itu sedari tadi memeriksa beberapa berkas perjanjian dengan Angeline, pemilik kalung berlian berharga jutaan dolar itu.
Otaknya buntu. Malam ini ia ditemani kopi yang tinggal cangkirnya dan pena yang tidak lepas dari tangannya.
Entah sudah yang keberapa kali wanita itu memutari meja. Dan tak ditemuinya kejanggalan apapun. Lebih aneh lagi, semua pintu dan pengamanan di ruangan khusus tempat benda- benda berharga itu disimpan, sama sekali tidak rusak.
"Perjanjiannya sama saja dengan yang lain, tidak ada yang mencurigakan di CCTV kemarin dan hari ini. Oh Tuhan ... Ada apa ini?" Luna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Namun rasanya seperti ingin menggaruknya saja karena siapa tahu muncul solusi untuk masalah yang menimpanya ini.
Luna melepas kaca matanya, kemudian kembali mengumpulkan berkas-berkas yang tercecer untuk di rapikan kembali.
"Sayang?" Adam memasuki ruang kerja Luna dan mengernyit melihat sang istri bersilang tangan didada dengan wajah yang kusut.
"Maaf aku tidak tahu kau sudah pulang, Sayang." Wanita itu segera menurunkan tangannya, menghampiri sang suami dan memeluknya.
"Tidak apa-apa. Jika memang ada pekerjaan yang masih harus diselesaikan teruskan saja. Tapi jangan terlalu malam, ya. Kau juga harus memikirkan kesehatanmu," nasihat Adam pada istrinya.
"Tunggulah sebentar, aku akan segera turun," ucap Luna mengingat tugasnya harus menemani Adam makan malam.
"Biar aku makan sendiri saja. Kamu sudah makan?"
"Hemm...." Luna mengangguk.
"Kalau begitu kamu disini saja, tidak usah turun. Selesaikan ini, dan istirahatlah." Adam mengecup pipi Luna dan wanita itu membalasnya dengan mengusap punggung sang suami.
"Sayang, hampir saja lupa. El ingin tidur denganku malam ini?"
"Baiklah. It's okay! Jangan terlalu malam tidurnya,ya, " jawab Adam tanpa berbalik.
"Ok!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Paman, apa yang akan kita kerjakan ini adalah proyek untuk perusahaan baru yang masih dalam tahap pembangunan itu?"
"Dua-duanya. Perusahaan baru juga perusahaan lama yang dikelola Adam," jawab Ellard yang saat ini tengah duduk bersama Stefan di ruangan pribadinya yang menghadap danau.
"Aku jadi tidak enak dengan Luna maupun Adam. Mereka lebih berhak mengerjakan ini semua Paman. Luna pintar, dan Adam pun juga tidak kalah dari istrinya," Stefan bergetar menyebutnya.
"Aku lebih tahu apa yang kulakukan, anak muda. Sekali lagi kau boleh hebat saat ini, tapi mata seorang Ellard Efrain tidak pernah salah. Kau boleh tanya ayahmu, bagaimana aku."
Stefan hanya mengangguk-angguk tanda ia menerima apa yang Ellard ucapkan. Lelaki itu memang hebat di masa lalu ataupun sekarang.
"Aku membuatnya untuk Luna dan Elea." Ellard berucap lirih sambil menenggak minuman berwarna coklat yang dibawanya.
"Pamam minum juga?"
"Hanya sesekali saat musim dingin. Luna begitu cerewet saat tahu aku minum. Putriku itu selalu mengkhawatirkan kesehatanku." Ellard menerawang.
Dari awal bertemu hingga saat ini, memiliki Luna adalah hal yang ia syukuri setelah kehilangan istrinya maupun Hannah.
"k-au tahu lelaki tua sepertiku tidak tahan dingin, Stef. Kau akan mengalaminya nanti jika memasuki usia sepertiku," lirik Ellard pada keponakannya itu.
"Paman memang harus lebih memperhatikan kesehatan. Paman ini sama saja dengan papa. Suka mencuri kesempatan untuk minum." Stefan berdecak mengingat sang ayah yang sama kerasnya seperti Ellard.
"Jadi, perusahaan itu akan diatasnamakan Luna dan El?" tanya stefan memastikan.
"Untuk saat ini tidak. Paman pinjam namamu."
"Jangan aku, Paman. Aglen saja. Atau kenapa tidak langsung nama mereka berdua saja." Stefan menolak mentah-mentah permintaan sang paman.
Lelaki itu baru saja mulai memperbaiki segalanya, meski dengan sikap penolakan Luna yang membuatnya berpikir mustahil. Jika ditambah dengan masalah ini, sudah pasti semuanya akan semakin runyam. Kebencian Luna padanya akan berkali lipat.
"Paman tidak sedang minta tolong atau minta pendapatmu. Ini harus! Karena kau satu-satunya yang Paman pikir bisa menyimpan rahasia ini dari semua orang, serta mengelolanya dengan benar."
Harga mati!
"Paman kumohon. Biar aku yang bicara dengan Aglen...."
Ellard melangkah sambil melambaikan tangannya. Lelaki paruh baya itu pergi tanpa mendengarkan penolakan Stefan.
Sial!
Luna ... aku akan melakukan apapun kecuali menyakitimu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Klek!
"El masih terjaga?" Kepala Luna masuk sebagian setelah ia membuka pintu kamar Elea.
Gadis kecil itu mengangguk namun tak bisa dibohongi, matanya menyipit karena mengantuk.
"El menunggu Mama," ucap gadis kecil itu memberi alasan.
"Ah, ya ampun. Maafkan Mama ya, Sayang." Luna segera masuk setelah ia berganti piyama lebih dahulu tadi di kamarnya.
"El ingin dibacakan cerita?" tawar Luna yang sudah membawa buku kumpulan cerita rakyat anak-anak ditangannya.
Wanita itu merangsek dalam selimut yang sama dengan putri kecilnya.
"El sudah mengantuk, Ma. Peluk El saja," ucap gadis kecil yang sudh lebih dulu memeluk sang ibu begitu Luna berada di sampingnya.
"Maafkan Mama ya, Sayang. Lain kali Mama janji akan berusaha lebih cepat." Luna mencium kening Elea dan mengusapnya dengan lembut.
Namun Elea sudah tidak menyahut, gadis kecil itu tidur dengan cepat.
Malam ini ia tidur bersama putri kecilnya. Elea kecil yang sebagian besar paras cantiknya menurun dari wajah tampan sang ayah biologis, Stefan.
Luna mendengkus, bahkan sekian lama dan sekian tahun berada di Kanada, ia sama sekali tidak bisa melupakan kejadian itu. Apalagi setiap hari ia disuguhi wajah sang anak yang selalu mengingatkannya dengan sepupunya itu.
Lelaki jahat, sangat! Luna memegang dadanya yang bergetar hebat hanya dengan mengingatnya.
\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Italia
"Betah sekali kau disana, Stef?" William menyindir anaknya yang bahkan baru saja tiba di mansion mewahnya di Milan.
"Papa? Kapan datang?" Stefan menarik kopernya yang kemudian dihampiri oleh pelayannya untuk diambil alih.
"Sayang...." Christina sang mama tiba-tiba muncul dari belakang William. "Sudah jangan dengarkan Papamu. Ayo ikut mama," Christina menarik lengan Stefan untuk mengikutinya.
"Mama! Papa mau bicara dengan Stefan dahulu," teriak William mempercepat langkahnya yang tersalip oleh sang istri.
"No! Mama dulu! Ayo cepat, Stef, taring ayahmu sudah mau keluar," bisik Christina.
Rupanya Christina ingin menyelamatkan Stefan dari sang ayah.
"Sudah, kamu istirahat saja disini," ucap Christina yang membawa Stefan ke kamar tamu.
"Kenapa disini, Ma? Aku ingin ke kamarku." Stefan menolak, karena kamar tamu ini tentu berbeda dengan kamarnya yang penuh fasilitas.
"Istirahat dulu disini. Kalau kamu kembali ke kamarmu, bisa dipastikan kamu tidak akan istirahat 2x24 jam dan mungkin lebih. Papamu sedang murka."
Christina langsung pergi setelah mengucapkannya.
Klek!
"Ya ampun, apa-apaan ini? Mama mengunci pintunya?" teriak Stefan dari dalam.
"Kumpulkan tenagamu untuk menghadapi Papamu! "
Hanya jawaban itu yang ia terima. Entah apalagi yang membuat William murka dengan anak lelakinya itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Pagi Mama, Daddy," ucap Elea yang sudah mengenakan seragamnya. Gadis kecil itu baru saja turun untuk menyantap sarapan paginya.
"Pagi Sayang," sambut Luna.
"Pagi juga Sayang, nyenyak tidurnya?" tanya Adam pada putri kecilnya.
Elea mengangguk. "Mama bolehkah hari ini El kerumah kakek?"
"Tentu saja, Sayang. Apa kakek akan menjemputmu siang nanti?" tanya Luna menghentikan suapan ke dalam mulutnya.
"Iya. Begitu kata Bibi Ofelia tadi, Ma," jawab elea seperti yang dikatakan bibi Ofelia.
"Baiklah. Nanti Mama yang jemput kesana, ya"
"Yes!! " pekikan lirih El membuat Luna bahagia melihatnya.
Setelah itu, Elea pamit berangkat lebih dahulu. Gadis kecil itu diantar bibi Ofelia dan Alex.
"Sayang, apa kau mau lembur lagi di rumah? Sebaiknya Elea pulang tepat waktu ke rumah." Adam menoleh dan nampak tidak setuju dengan Luna.
"Sepertinya iya. Biarkan saja Daddy. Kakek Ellard mungkin kangen dengan El."
"Tapi tidak juga sampai malam. Kemarin Aglen dan sekarang Papamu. Bukankah hampir setiap hari mereka bertemu? Kita bisa kesana akhir pekan nanti." Adam memberikan alasan atas penolakannya.
"Akhir pekan? Bukankah kita ada acara reuni dengan teman kuliahmu nanti di luar kota?" Luna mengingatkan jadwal akhir pekan Adam yang selalu sibuk.
"Hampir saja aku lupa, Sayang."
Lelaki itu benar-benar libur hanya di hari Minggu. Itupun sudah dipenuhi kegiatannya sendiri mulai dari berenang, tenis dan istirahat.
"Maksudku akhir pekan yang lain, Sayang." Adam masih juga mengelak.
"Kau sibuk sekali, Sayang. Kasihan El." Luna mengerjap memohon dengan tatapan matanya.
"Baiklah. Tapi aku tidak suka karena itu terlalu sering," keluh Adam.
Luna terdiam. Apakah salah seorang kakek bertemu cucunya? Suaminya itu tidak biasanya bersikap seperti ini.
"Sayang, bagaimana jika kau mencari asisten. Yang akan membantu pekerjaanmu," usul Luna pada sang suami. Ia mengingat kata-kata Emma siang tadi.
"Boleh?"
"Tentu saja. Bukankah dengan begitu kita bisa terbantu. Kau fokus dengan pekerjaanmu. Dan akupun bisa fokus dengan pekerjaanku. Tapi harus yang memenuhi kriteria." Wanita cantik itu mengajukan syarat.
Ucapan Luna yang terakhir membuat Adam ragu. Dari awal mendengar kata asisten, mata Adam berbinar karena ia berpikir akan memasukkan Kylie saja sebagai kandidat. Namun jika sudah menyangkut kriteria, Luna sangat selektif akan hal itu. Bisa jadi jabatan ini akan lepas ke orang lain.
"Fresh graduated?"
"Boleh, asal benar-benar mau belajar, cerdas dan tahan banting!"
Gluk!
Sebenarnya itu persyaratan biasa dan mutlak, yang memang harus dimiliki oleh seorang asisten.
Adam tersenyum kecut. Kriteria itu tidak satupun ada pada Kylie. Gadis manja itu bahkan untuk lulus saja kesulitan. Adam harus menggelontorkan banyak dana karena kylie sangat minim dalam segala hal tentang pendidikan.
"Oke. Nanti aku sampaikan ke bagian kepegawaian. Kamu terima beres saja, Sayang."
Luna mengangguk lega. Hilang satu beban beratnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Wahhh ... Ini bagus sekali. Segerakan saja. Berarti kita akan memiliki gedung untuk customer VVIP setelah ini," pekik Luna bahagia.
Usaha ini tergolong kecil namun ternyata banyak yang membutuhkan jasa semacam ini. Apalagi dengan pengamanan sistem canggih yang ia terapkan membuat kepercayaan pelanggan semakin terjaga.
Arsitek dan design interior yang mengerjakan gedung barunya mengadakan pertemuan lagi hari ini.
"Terima kasih atas kepercayaan ibu selama ini. Saya akan segera menyelesaikannya."
Keduanya pamit setelah mengakhiri pertemuan penting mereka.
"Em ... Masuk ke ruanganku sekarang!" titahnya pada sang sekretaris melalui interkom.
"Segera, Bu."
Emma melenggang masuk setelah kedua tamu Luna keluar dari ruangannya.
"Temani aku ke lokasi kejadian. Mereka memberi waktu kita berapa lama? "
"Kemarin wakil Nona Angelin mengatakan satu bulan. Namun pagi tadi mereka meralatnya menjadi 2 minggu, Bu."
"Dua minggu dan sudah berjalan tiga hari." Luna memegang pelipisnya yang mendadak berdenyut tegang.
"Apa tidak sebaiknya kita lapor polisi saja, Bu." usul Emma yang sudah kehabisan solusi.
"Tidak Em! Nama baik perusahaan kita dipertaruhkan. Kita pasti akan menemukannya. Jangan lupa hubungi aku jika ada tamu. Aku akan memeriksanya sebentar."
"Baik, Bu."
Luna keluar bersama Emma, namun mereka menuju tempat tujuannya masing-masing.
Hedung elite dengan pengamanan penuh itu berada tidak jauh dari kantor Luna. Bangunanya memang dibuat seperti itu, jadi ada jembatan di atas yang menyambungkan keduanya.
Namun di gedung tempat Luna berkantor tidak hanya ditempati oleh dirinya, ada beberapa ceo dari perusahaan lain juga berkantor disana.
Luna berjalan sendiri melewati jembatan yang panjangnya kira-kira hanya 500 meter sebelah kanan gedung kantornya.
Ia masuk setelah melewati beberapa pemeriksaan. Ya, disana baik customer ataupun karyawan harus melewati proses pemeriksaan ketat.
Itulah yang membuat Luna berpikir jika kejadian tempo hari tidak akan mungkin terjadi. Namun kembali lagi itu adalah buatan manusia.
💗💗💗💗💗💓💓💓💓