La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 102



"Jadi aku yang menyebabkan Stefan meninggal, Paman?"


"Tidak Luna. Itu bagian dari jalan takdir. Setiap laki-laki dalam keluarga Efrain wajib menjaga wanitanya juga saudaranya yang lain."


William kemudian berdiri dan menepuk singkat bahu keponakannya itu. "Istirahatlah, kau membutuhkannya saat ini. Paman akan melihat Bibimu dulu."


Lelaki paruh baya itu memutuskan keluar, sebelum ia sendiri jatuh terlarut kembali dalam kesedihan.


"Paman."


William berhenti dan menoleh menatap Luna.


"Terimakasih telah membesarkan Stefan dengan baik," ucap Luna tulus.


William hanya tersenyum kecil kemudian mengangguk dan meneruskan langkahnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ag, susul adikmu ke Amerika. Ia memang keras kepala. Tidak mungkin ini suatu kecelakaan biasa."


Ellard yang sudah sembuh dari sakitnya segera kembali ke perusahaan membantu Aglen yang pontang panting mengurus 3 perusahaan sekaligus.


Itupun perusahaan yang dipimpin oleh Adam terancam gulung tikar karena banyaknya kerugian yang mereka derita tanpa terkendali akibat ulah Adam.


"Luna sudah dewasa, Pa. Berkali-kali dia mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri. papa saja yang terlalu khawatir."


"Aku seorang ayah, Ag. Tidak kamu ataupun adikmu, aku pasti khawatir."


Ellard berjalan mondar-mandir mengkhawatirkan kondisi Luna. Apalagi ia baru mendapat kabar jika Luna baru saja sadar akibat jatuh di makam Stefan.


"Apa benar Luna amnesia dan tidak ingat kejadian saat Stefan mengorbankan diri untuk kalian?"


Aglen sudah mendengarnya dari sang paman. Namun ia ingin memastikannya dengan mendengar dari mulut sang ayah yang sudah menghubungi Luna secara langsung.


"Aku juga heran mengapa peristiwa itu yang menghilang dari ingatan Luna. Mengapa bukan kejadian yang lain, aku rasa banyak kejadian yang lebih membuatnya trauma seperti penculikan Elea."


Kedua orang beda usia itu saling menatap.


"Apa mereka sedekat itu, Ag?"


"Mana aku tahu, Pa. Bukanya Papa yang menemani Luna selama lebih lima tahun disini. Harusnya Papa yang lebih tahu tentang mereka." Aglen membuang wajahnya tidak perduli.


"Aku tidak tahu urusan anak muda. Tapi memang mereka dekat sejak Luna terlibat masalah, dan memang aku yang menyuruh Stefan menjaga Luna. Karena hanya Stefan keluarga kita disini."


Dalam hati Ellard masih bingung akan kejadian ini. Bahkan Luna sama sekali tidak menanyakan Adam yang sedang menjalani proses pemeriksaan akan kasus penculikan Elea disini.


"Papa hubungi saja anak perempuan Papa itu. Tanyakan kondisinya saat ini. Atau mungkin ada yang bisa kita lakukan untuk membantunya disana," ucap Aglen yang terlihat tidak berminat membahas tentang kedekatan keduanya.


"Kamu ini tidak juga berubah! Sedikitlah berempati agar para wanita menempel padamu. Kamu hampir empat puluh tahun, Ag. Dan Papa semakin tua."


Ellard memberi wejangan pada anak lelakinya itu. Ia ingin mengatakan jika waktunya untuk menemani anak-anaknya semakin berkurang di dunia ini.


"Aku tidak perlu itu untuk menggaet mereka, Pa. Aku memiliki lebih dari itu."


"Buktikan saja ucapanmu! Papa tidak mau tahu, kau harus tetap kesana melihat adikmu. Panggilkan Evelyn! Aku ingin memeriksa beberapa berkas," titah Ellard yang mengambil kursi yang selama ini di duduki oleh Aglen.


"Dia sakit."


"Sakit? Apa sudah ada yang menjenguknya? Sakit apa?"


Ellard terdengar begitu perhatian, membuat Aglen kesal.


"Papa seperti kekasihnya saja! Apa dengan yang lainnya juga begitu?"


Ellard berdecak kesal. "Semua yang bekerja disini Papa perhatikan. Mulai dari cleaning service sampai jajaran Direksi. Jika Papa tidak bisa menjenguknya, Papa akan mengirim orang sebagai wakil. Kemana saja kau selama ini? Jangan- jangan, cara kerjamu di Amerika seperti itu?" tebak Ellard sambil menatap tajam Aglen.


"Tentu saja tidak. Ada sekretaris ku yang mewakilinya, Pa. Maksudku tidak perlu sampai seperti itu," kilah Aglen membela diri.


"Papa saja. Aku ada keperluan di kantor polisi. Hari ini aku menjalani pemeriksaan sebagai saksi atas kejahatan Adam . Temanku memberikan semua rekaman bukti bobroknya Adam padaku. Ia tidak mau dilibatkan."


Aglen beralasan agar sang ayah tidak menyuruhnya menjenguk Evelyn di rumah sakit. Meskipun sebenarnya ia memang benar-benar menjalani pemeriksaan.


"Kau bisa sekalian berangkat. Hanya mampir sebentar di rumah sakit!"


"Iya ... Iya...."


Aglen mengalah pada akhirnya. Sang ayah akan mengomel panjang kali lebar jika ia tidak segera mengiyakan. Sedangkan perkara nanti bisa mampir atau tidak itu urusan belakangan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bi ... Dimana Elea?" tanya Luna pada pelayan yang mengambil bekas piring diatas nakas. Ia tidak lagi bertanya tentang Stefan karena pelayan-pelayan disana sepertinya memang menghindar.


"Nona Elea istirahat di kamarnya Nyonya," jawab pelayan itu santun. Ia tidak lagi menampakkan wajahnya, dan terus menunduk.


Luna masih bingung dengan dirinya. Ia sama sekali tidak bisa mengingat peristiwa itu. Hanya beberapa kepingan kejadian yang terserak, itupun membuat dirinya sakit kepala hebat jika sampai kilasan-kilasan itu melintas di otaknya.


Tadi, William sang paman sudah menceritakan apa yang diketahuinya. Dan berarti masih ada dua orang yang menjadi saksi kejadian itu. Sang ayah dan pengawalnya, Alex. Karena menurut sang paman, dua orang itu ada di tempat kejadian bersama Luna.


Itu berarti dia harus kembali secepat mungkin ke Kanada. Tapi bagaimana mungkin, ia harus belajar mandiri lebih dahulu sehingga tidak merepotkan orang lain ketika kembali kesana.


Wanita itu bangkit, merayap dengan berpegangan di tepi ranjang. Ia menggunakan sebelah kakinya sebagai tumpuan untuk mencapai kursi roda yang tidak jauh darinya.


"Akhirnya...." gumamnya lirih. Rupanya ia harus butuh ekstra perjuangan hanya untuk memindahkan tubuhnya. Belum lagi rasa lelah karena belum terbiasa.


Luna ingin kembali ke makam Stefan. Mungkin saja ia mendapatkan sesuatu disana.


Ia segera menekan sebuah tombol pada kursi rodanya agar berjalan menuju lift.


Ya, untung saja di rumah Stefan yang besar ini menggunakan lift untuk naik ke setiap lantainya. Hingga ia tidak harus menyusahkan orang lain dengan kondisinya saat ini.


Ting!


Pintu lift terbuka dan ia sudah berada di lantai bawah kini.


"Mau kemana, Luna?"


William rupanya ada di belakang Luna tanpa wanita itu sadari. Padahal, kamar sang paman berada di lantai yang sama dengannya.


"Aku mau ke makam Stefan, Paman. Siapa tahu aku mengingat sesuatu," jawab Luna setelah menghentikan kursi rodanya.


"Jangan dipaksakan, Luna. Kau masih butuh banyak istirahat. Kembalilah ke kamarmu," titah William yang sebenarnya khawatir akan kesehatan sang keponakan.


Ia mendapat mandat dari sang istri untuk melarang Luna kesana sementara waktu. Karena mengingat kejadian tadi yang membuat wanita paruh baya itu sampai gemetar akibat khawatir.


Rasanya, Christina seperti ikut merasakan kesakitan Luna. Dan Christina tidak ingin lagi kehilangan anggota keluarganya yang lain.


"Tapi paman, aku baik-baik saja." Luna berusaha meyakinkan William. Namun sepertinya percuma.


"Paman bilang, kembali ke kamarmu!"


William segera pergi setelah mengucapkan itu. Luna tidak berani membantah. Karena William menyuruh Leo untuk membantu mendorong kursi roda Luna ke kamarnya meskipun Luna menolaknya.


"Sampai disini saja, Le."


Luna mencengkeram pergelangan tangan Leo. Meminta pengawal William itu melepaskan tangannya yang berada di belakang.


"Maaf, Nyonya. Saya hanya menjalankan perintah. Saya harus memastikan Nyonya sampai di kamar dengan selamat."


Leo hanya beralasan. Kemudian lelaki itu mengantarkan Luna sampai ke kamarnya. Bahkan Leo juga yang menutup pintu kamar Luna.


🥰love u