
"Papa?"
Andrew mengangguk. "Beliau juga sedang sakit, Nyonya."
"Kalian ini seperti sejoli saja," ucap Christina sengit.
"Bibi, kami berikatan batin." Luna tersenyum kecil melihat bibinya yang iri. "Seperti Bibi dan Stefan."
Wajah Christina mendadak mendung, dan Luna menyadari itu. Namun ia selalu tidak mendapat jawaban atas reaksi awal yang ditunjukkan oleh sang bibi.
"Ya, Sayang. Itu benar." Christina menampakkan senyumnya yang dipaksa. Matanya berkaca, kemudian wanita paruh baya itu pamit keluar dengan alasan menemui dokter.
"And, duduklah. Kau berdiri sedari tadi." Luna berusaha mencairkan suasana yang mendadak beku. Karena Andrew ikut terdiam saat ini.
"Aku disini saja. Bolehkah?" Andrew mengatakan boleh untuk meminta izin memanggil dirinya aku dan bukan lagi saya.
"Tentu saja. Dan jangan panggil lagi aku Nyonya. Panggil nama saja." Luna meminta hal yang sama pada pengacaranya.
"Tidak untuk itu. Aku akan tetap memanggilmu Nyonya." Andrew tidak bisa memnaggil Luna hanya dengan namanya. Karena ia membatasi dirinya dengan itu. Dia tetap profesional dengan pekerjaannya.
"Kau curang!" ucap Luna kesal.
Andrew tertawa. Bahu lelaki itu sampai bergetar karenanya. "Aku harus menghormati klien ku, Nyonya Luna. Mengganti kata saya menjadi aku, itu kulakukan karena aku sudah menganggapmu sebagai sahabat. sama seperti aku dan Stefan."
Pengacara muda seusia Stefan itu mengungkapkan alasannya.
"Ya. Kau memintanya dari terakhir kita bertemu. Tapi rasanya canggung kembali untuk menggunakannya ketika kita lama tidak bertemu," ucap Luna. "Kau tahu Stefan dimana? Apa kalian tidak janjian bertemu di kota ini?"
"Stefan...."
Andrew terkejut, namun ia bisa menguasai dirinya. Untung saja sebelum masuk, Christina telah menggambarkan sedikit kondisi Luna saat ini.
"Kami tidak janjian. Mungkin ia ada urusan penting di Italia." Andrew mengusap belakang kepalanya. Lelaki itu hanya asal menjawab, karena ia tidak tahu harus beralasan apa.
"Bagaimana kondisimu saat ini?"
"Bukankah kau sudah menanyakannya tadi?" dahi Luna berkerut mendengarnya.
"Maksudku, apa kau siap akan menjalani sidang kembali jika pelakunya tertangkap? Sementara kau masih dalam tahap pemulihan."
Andrew pandai memainkan kata-katanya. Untung saja tepat sasaran.
"Tentu saja aku siap. Buatlah laporan secepatnya, And. Siapa tahu Paman William juga mendapatkan kabar baik," harap Luna pada sang paman. Karena hal itu akan mempermudah mengadili orang yang berniat mencelakainya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Saya ... Saya hanya ingin meminta maaf." Evelyn menunduk meski ekor matanya mengikuti gerak Aglen yang kembali ke kursinya.
"Ehem ... Minta maaf? Untuk apa?" tanya Aglen tegas.
Tatapan mata lelaki itu menghujam ke dalam manik mata Evelyn yang tanpa sengaja terarah padanya.
"Kemarin, saya ... saya tidak tahu jika itu bukan kopi, Sir. Sungguh, saya baru mengetahuinya saat seorang office boy mengatakannya."
"Jadi, kemarin sebelum jam pulang kamu sudah tahu jika kamu memberikan kopi yang salah?"
Evelyn mengangguk.
"Tapi saya takut untuk mengatakannya pada anda, Sir." Evelyn nampak pucat. Gadis itu menipiskan bibirnya, menyesali apa yang diperbuatnya kemarin meski tanpa sengaja.
Sepertinya, Evelyn benar-benar berada dalam masalah kali ini.
"Padahal kamu bisa menghentikannya, kemarin. Dan aku tidak akan lelah bolak-balik ke kamar mandi akibat kopimu itu!" bentak Aglen yang membuat Evelyn makin ciut nyali.
"Maaf," cicit Evelyn yang sangat merasa bersalah namun tidak tahu bagaimana membuat sang bos bisa memaafkannya.
"Untuk apa makanan ini!?" tunjuknya pada bekal yang dibawa Evelyn dari rumah beserta kopi yang sejak tadi ada di atas mejanya.
"Untuk anda, Sir."
"Kamu berharap saya maafkan hanya dengan memberi saya seperti ini!?" tanya Aglen keras dan penuh penekanan.
"Maaf, Sir."
Evelyn yang menunduk sudah hampir menangis. Ia benar-benar merasa berada di bawah tekanan.
"Panggil office boy yang kamu bicarakan itu. Juga office girl yang katamu dari Indonesia!" titah Aglen.
"Baik, Sir."
Evelyn segera keluar dari ruangan Aglen. Ia tidak perduli kakinya yang sakit akibat berdiri lama tadi. Saat ini yang ada di otaknya hanya menemukan office boy yang dimaksud dan membawanya ke hadapan Aglen.
Sementara itu didalam ruangan, Aglen yang menunggu Evelyn kembali menjadi tertarik dengan apa yang gadis itu sengaja buat untuknya.
Bekal dalam kotak makanan itu ia buka, kemudian ia ambil sedikit lauk yang ada diatasnya untuk dicicipi.
Alis Aglen terangkat ketika lidahnya merasakan jika makanan yang diberikan Evelyn enak. Akhirnya ia mencobanya satu sendok, dan membersihkan kembali sendoknya hingga kembali terlihat bersih seperti sebelumnya.
Sedangkan untuk kopinya, Aglen tidak perlu mencicipinya. Karena label yang tertera pada gelasnya saja, sudah mengidentifikasi jika kopi itu merupakan kopi racikan yang sudah tidak diragukan lagi cita rasanya.
Tok... tok...
Pintu terbuka dan masuklah ketiga orang yang memang sudah dinantinya.
Ketiganya berdiri sejajar seperti seorang tahanan di hadapan Aglen.
"Kamu yang mengatakan jika apa yang dia ambil bukan kopi?"
"Iya, Tuan," jawab lelaki yang berseragam office boy itu.
"Lalu kamu?" tunjuk Aglen pada wanita seusianya yang berada di tengah.
"Saya Jumini, Tuan. Pemilik jamu yang diambil Nona Evelyn," jawab wanita yang juga berseragam sama dengan lelaki di sampingnya itu.
"Aku tidak mengambilnya, Jum. Itu sudah ada disana." Evelyn menolak dituduh mengambil.
"Apa namanya mengambil milik orang tanpa seizin pemiliknya? Apalagi mengira itu kopi padahal entah minuman apa itu. Rasanya sangat pahit dan langsung membuatku tidak berhenti ke toilet."
Ups!
Aglen keceplosan. Sebelumnya, ia hanya mengaku sakit perut pada Evelyn guna menjaga harga dirinya. Tapi akhirnya ia malah mengatakan yang sebenarnya.
"Jadi anda sampai diare, Sir?" Evelyn kaget. Wajahnya terlihat cemas. Entah ia mencemaskan Aglen atau mencemaskan nasibnya sendiri.
Ia tidak menyangka jika sang bos sampai menderita karena ulahnya. Ia pikir hanya sakit perut biasa.
"Mungkin karena anda belum terbiasa meminumnya, Sir. Kalau saya yang meminum, saya memang bolak-balik ke toilet. Tapi bagi saya itu biasa. Itu jamu diet, Sir, " ucap jumini memberitahu.
Jamu itu memang sengaja dikirim dari Indonesia oleh saudara dari jumini.
"Pantas saja! Apa kau benar-benar seorang gadis, Eve? Sampai tidak bisa membedakan kopi dan serbuk jamu itu?" kesal Aglen.
Sementara Evelyn hanya menunduk dan menjatuhkan pandangannya ke lantai.
"Kau masih memilikinya bukan?" tanya Aglen pada Jumini.
"Masih banyak, Sir. Saya selalu membawa beberapa didalam tas setiap hari," jawab Jumini.
"Kau ingin aku memaafkanmu, bukan?" Aglen menatap tajam Evelyn.
"Tentu saja, Sir," Evelyn berbinar mendengar pertanyaan Aglen yang ia anggap angin segar untuknya.
"Jumini buatkan minuman dari serbuk pahitmu itu dan bawa kemari!" titah Aglen.
Wanita seusianya itu langsung pamit pergi dan beberapa saat kemudian kembali dengan membawa segelas minuman.
"Letakkan disitu saja. Eve! Minumlah!"
"Apa, Sir?"
___________________