
Beberapa jam sebelumnya di rumah sakit.
Sebastian kaget melihat beberapa tenaga medis berlarian menuju kamar sang istri. Namun otaknya masih berpikir positif hingga ia hanya diam mengamati orang-orang itu panik.
Lelaki tua itu hanya tidak ingin mengganggu.
Beberapa menit kemudian, dokter yang bertanggung jawab akan perawatan Lilyana keluar. Lelaki itu nampak melepas jas putihnya dan meletakkan di lengannya.
Ia menghampiri Sebastian, kemudian mengusap beberapa kali punggung rapuh lelaki tua itu. Dan ditambah dengan pegangan yang kuat pada lengannya.
"Maafkan kami. Nyonya Lilyana telah pergi, Tuan."
Deg.
Sebastian mengerjap, tatapannya hampa. Otaknya sudah bisa menangkap ucapan sang dokter, namun tentu tidak dengan hatinya.
"Li-ly-ya-na ... Tidak, Dokter!" teriak Sebastian. Lelaki tua itu berlari dengan melepas paksa tangan sang dokter .
Bahkan Sebastian hampir saja menabrak seorang perawat yang menyusul keluar dari kamar sang istri.
"Jangan lepas alatnya! Jangan ada yang menyentuhnya! Istriku akan bertahan, dia belum pergi! Dia akan kembali...." Lelaki tua itu sempoyongan menuju ranjang sang istri.
Lilyana terbujur di tempat itu dengan beberapa alat yang sudah di lepas. Hanya tersisa selang oksigen yang melingkar di lehernya. Belum sempat di pindahkan dari sana karena kedatangan Sebastian.
Lelaki tua itu memasang kembali alat bantu pernapasan yang sudah berada di leher Lilyana.
"Bangunlah Lily! Kau hanya bercanda kan? Kau bahkan belum menghabiskan semua uangku. Kenapa kau pergi begitu saja!"
Suara Sebastian parau dan pilu. Ternyata rasanya lebih sakit ditinggalkan daripada menjadi miskin akibat borosnya gaya hidup istrinya itu.
Lelaki tua itu menunduk dalam, dan ia tidak mampu berkata-kata lagi. Ia jatuh bersimpuh di samping ranjang sang istri.
"Hubungi penjaminnya, dan bantu Tuan Sebastian untuk duduk disana," titah dokter yang ternyata mengikuti Sebastian masuk tadi karena khawatir.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Luna dan Elea tiba di Amerika satu jam kemudian. Mereka dijemput seseorang bernama Mirko yang merupakan asisten Stefan untuk perusahaannya di Italia.
Lelaki dengan rambut klimis itu tidak banyak bicara. Dia hanya menjawab saat Luna bertanya. Untung saja perjalanan dari bandara ke rumah sang paman tidak memakan waktu lama.
Seorang wanita bermata teduh sudah nampak berdiri di depan pintu utama rumah besar itu, saat mobil yang membawa Luna melewati pintu gerbang utama.
Wanita itu turun setelah pintu di bukakan oleh Mirko, yang bergerak secepat kilat dari keluar pintu depan menuju pintu dibelakangnya. Padahal berseberangan.
"Ayo, Sayang."
Luna memanggil Elea, saat gadis kecil itu masih sangat mengantuk. Hingga Elea berusaha membuka matanya meskipun berat. Namun tak ayal matanya menutup lagi dan ia tertidur.
"Biarkan saja, Lun. Dia pasti sangat lelah."
Christina yang sebenarnya sangat rindu dengan Elea harus sedikit bersabar. Entah mengapa melihat Elea membuatnya tenang.
"Maafkan Elea, Bi."
Luna tersenyum simpul, meminta maaf untuk gadis kecil yang berada dalam gendongannya kini.
Senyum teduh Christina tidak pernah berubah. Hanya saja, wajahnya yang terlihat sembab akibat kurang tidur serta banyak pikiran membuat wajah yang dulu bersinar itu menjadi temaram.
"Bibi sehat, kan?"
Luna melangkah maju menuju Christina dengan terseok, akibat Elea yang ada dalam gendongannya. Wanita itu mengulurkan tangan dan malah dipeluk oleh Christina.
Beberapa lama keduanya berada dalam keheningan. Hanya pelukan rindu dan kehilangan yang semakin erat hingga akhirnya suara isakan Christina pecah.
"Bibi...." Luna berkaca. Ia bisa merasakan jika sampai detik ini, sang bibi belum bisa menerima kepergian anak lelaki satu-satunya itu.
Melerai dengan paksa pelukannya pada sang keponakan, Christina kemudian menggandeng lengan Luna.
"Ayo, kita masuk dulu."
Luna hanya menurut. Mendadak rasa bersalah membayanginya. Mengingat untuknyalah Stefan berkorban.
"Baringkan putrimu di kamar. Bibi sudah menyiapkanya." Christina mengantar sang keponakan hingga mendekati kamar yang sudah ia tunjuk. "Bibi tunggu di depan, ya."
Luna segera menghampiri sang bibi setelah membaringkan Elea di kamar.
Wanita cantik yang wajahnya di duplikat oleh Stefan itu tengah duduk di ruang santai yang terbuka.
"Kemarilah."
Christina melambaikan tangan saat matanya tanpa sengaja melihat Luna yang berdiri mematung menatapnya.
"Bi...."
Dengan lembut, Christina menarik tubuh Luna untuk duduk di dekatnya.
Napas berat Christina terdengar hingga di telinga Luna. Wanita paruh baya itu seperti sedang menenangkan dirinya sendiri.
Senyum Christina merekah. "Berapa usia Elea, Sayang?"
Luna yang mendengarnya terkejut. Mungkinkah sang bibi menyadari sesuatu.
"Emm ... En-am tahun, Bi." Luna tergagap menjawabnya. Dan ia secepat mungkin mengatur hatinya untuk tenang, meski tidak bisa.
Luna mendadak takut.
"Bolehkah Bibi menganggapnya cucu Bibi juga?" Mata Christina mengembun. Jelas terlihat jika wanita yang mungkin seumuran Mama Keiko itu menaruh harapan yang besar pada sang pewaris yang telah tiada.
Stefan menikah dan memiliki keluarga. Namun tidak satupun yang tercapai.
"Tentu saja, Bibi." Luna segera menggenggam erat jemari Christina. Ia lega, rupanya sang bibi hanya menginginkan Elea sebagai cucu. Dan belum mengetahui, misteri siapa Elea sesungguhnya.
"Dia cantik sepertimu. Dan entah mengapa, Bibi melihat ... mata Stefan ada disana."
Gluk.
Luna menelan salivanya cepat. Napasnya memburu karena kaget. Rupanya, kejutan ini belum berakhir.
"Kau tidak apa-apa?" Christina melihat kegugupan dalam wajah Luna meski keponakannya itu menggelengkan kepala.
"Maafkan, Bibi. Tentu saja wajah kalian semua hampir sama. Kau, Aglen, Stefan, dan juga Elea. Itu semua karena kalian mewarisi darah Efrain."
Luna sudah sempat olahraga jantung tadi. Dan sekarang ia dibuat lega kembali oleh penjelasan sang bibi.
"Stefan dimakamkan di belakang rumah ini. Berbaliklah," titah Christina yang mengajak Luna berdiri kemudian memutar tubuh keponakannya itu.
Christina menunjuk bagian belakang rumah besar keluarga William.
"Disana."
Jemari Christina menunjuk sebuah rumah-rumahan kecil yang nampak asri. Belum lagi sekarang musim semi. Berbagai bunga mekar disekeliling bangunan yang nampak teduh itu.
"Istirahatlah dulu. Kunjungilah dia jika lelahmu sudah menghilang. Pamanmu masih di kantor." Chistina melirik arloji yang melingkar di tangannya.
"Kau tahu dia gila kerja seperti Stefan bukan? Maafkan dia, ya." Christina tersenyum masam ketika mengucapkannya.
Beberapa kali William memaksanya ke psikiater, untuk mengurangi semua kesedihannya. Belajar melepaskan tanpa melupakan. Namun wanita paruh baya yang cantik itu belum sanggup. Dan memilih bertahan dalam kenangan.
Suatu hal yang malah membawa pertengkaran pada rumah tangga mereka.
"Tidak apa-apa. Bibi juga harus istirahat. Aku tidak mau Bibi sakit. Hanya Bibi yang kumiliki dan sudah kuanggap sebagai mamaku sendiri."
Christina tersenyum kembali. Demi apa ucapan Luna membawa hatinya terasa sejuk. Ia memang telah kehilangan semangat hidupnya sejak Stefan pergi. Apalagi tidak ada yang tersisa dari anak lelakinya itu, terkecuali kenangan.
Diam-diam, Christina menyesali akan keinginan suaminya tentang perjodohan itu. Jika saja mereka tidak memaksa, pasti pertengkaran ini tidak akan muncul. Dan mungkin saja Stefan sudah menikah serta memiliki keturunan.
Seandainya...
😍🧡🧡🧡🧡