La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 60



"Ada orang lain!"


Tangan Ellard menahan lengan Alex hingga lelaki itu kaget dan akhirnya mengikuti arah pandang sang majikan. Ellard serta merta mengedikkan dagunya pada sebuah speedboat yang hanya nampak bagian depannya sedikit. Sangat kecil hingga Alex tak menyadarinya. Lelaki paruh baya yang menjadi majikannya itu memang jeli.


"Kenapa kau tidak memeriksanya dahulu. Bagaimana jika mereka mengetahui kedatangan kita?"


Ellard berdiri di bagian depan kapalnya. Menatap tajam pada speedboat yang bergerak-gerak karena terkena ombak.


"Kemungkinan bukan musuh, Tuan. Karena kami sudah menyisir di sepanjang pantai. Dan tempat kita bersandar merupakan tempat yang tidak pernah dilewati oleh orang-orang," jelas Alex.


Ellard mengenakan penutup wajahnya, dan diikuti oleh yang lain. Mereka turun dari kapal satu persatu dan masing-masing orang lengkap dengan senjata mereka. Kali ini, Ellard membawa 10 anak buahnya. Hanya yang inti, dan mereka benar-benar terpilih dan terlatih.


Ellard memimpin operasi ini sendiri. Ia berada dibelakang Alex yang bertugas sebagai pengintai, yang harus berada paling depan. Dengan mengangkat senjata, mereka berjalan merunduk dalam senyap. Untung saja di sekitar pantai, rumput tumbuh setinggi orang dewasa. Sehingga tanpa perlu menggunakan kamuflase pergerakan mereka tersamarkan.


Ellard dan Alex berpencar. Masing-masing dari mereka memimpin 5 anak buah dan mengepung bangunan yang sudah ditunjuk oleh Alex tadi.


\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dor!


Dor!


"Luna!" pekik Stefan ketika menyadari suara tembakan terdengar dari tempat Luna bersembunyi.


Stefan segera mengenakan tasnya dan menarik senjata miliknya. Lelaki itu berlari menuju persembunyian Luna sambil menembak asal untuk melindungi dirinya.


"Luna! Luna!" teriak Stefan khawatir.


Dor!


Dor!


"Aaaaaaaa!"


Stefan mendengar teriakan Luna. Membuat lelaki itu semakin panik. Akhirnya, ia bersembunyi dibalik meja. Masih separuh perjalanan lagi menuju tempat wanita itu.


Stefan kehilangan konsentrasi karena mencemaskan Luna, sehingga ia menerima tembakan bertubi-tubi. Untung saja ada meja yang ia jadikan tameng, sehingga ia masih bisa menghindar sambil sesekali membalas mereka.


"Aku datang! Lawan mereka, Luna!"


Stefan menyemangati Luna. Lelaki itu terpaksa mengeluarkan peledaknya.


Bom dengan daya ledak yang tidak terlalu besar, yang sengaja ia persiapkan untuk sedikit membuatnya mengatur napas dan emosi serta langkah perlawanannya. Ia butuh lebih cepat menyelamatkan Luna.


Boom!


Suara bom yang ia lemparkan ke arah musuh terdengar. Ledakannya menggetarkan bangunan meski tidak meruntuhkannya. Asap yang membumbung, digunakan Stefan untuk kabur menuju persembunyian Luna.


"Stefan...." Luna sepucat kapas saat Stefan menemukannya. Bahkan suara wanita itu bergetar hebat dengan bulir bening yang terus mengalir dari mata merahnya.


Luna gemetaran, tangannya yang memegang pistol terlihat lemas. Sepertinya Luna baru saja mempraktekan ilmu menembaknya pada seseorang. Dan Stefan yang khawatir dengannya, tanpa berpikir apapun langsung memeluk wanita itu.


"Tenanglah. Kau aman sekarang. Tidak apa-apa. Kau hebat." Luna mengangguk menerima sanjungan. Padahal hatinya masih berdebar karena itu pertama kali baginya.


"Dia pantas menerimanya karena perbuatannya pada kita."


"Aku takut, Stefan. Kupikir kau tak kembali. Dan mereka tiba-tiba menyerang saat menemukanku. Aku... Aku...."


"Sudah...." Stefan membelai lembut puncak kepala Luna. lelaki itu bahkan mengecupnya sebentar. "Aku sudah disini dan kau tak perlu takut lagi."


Dor!


Musuh kembali menyerang. Stefan meminta Luna tetap membawa pistol yang tadi diberikannya. Sekedar berjaga karena musuh terus mengejar.


"Ayo ikut aku! Disini sudah tidak aman!" Stefan menarik tangan Luna. Ia berlari sambil menembak, melindungi dirinya dan Luna.


"Itu mereka, cepat! Mereka tidak boleh lolos. Kita habisi saja!" teriak salah satu dari para penjahat itu.


Rupanya, Angeline sudah tidak nampak ada bersama mereka. Orang-orang itu tidak lebih dari anak buah sewaan, mereka hanya menjalankan apapun perintah orang-orang yang membayar mereka.


Dug!


Dug!


Suara derap kaki Stefan dan Luna menggema. Memancing para anak buah musuh untuk menyerang mereka.


"Itu mereka! "


"Stefan! Jangan terlalu cepat!" Meski berlari cukup kencang, tenyata langkah kaki Luna tidak bisa menyamai langkah lebar Stefan.


"Mereka mengejar, kita harus bergegas!" Stefan tidak perduli. Orang-orang itu terus mengejar dan menembaki.


Tang!


Tang!


Bahkan mereka berdua baru saja hendak naik ke tangga, tapi suara tembakan yang beruntun memberondong lebih dulu hingga banyak mengenai besi tangga dan terpental.


Dalam satu langkah lelaki itu, bisa menjangkau tiga tangga. Hingga tanpa aba-aba Stefan yang khawatir Luna tertinggal, diangkatnya tubuh wanita itu begitu berbelok dan hendak naik. Kemudian Stefan berlari menaiki tangga.


Luna hanya terdiam, ia tidak berani protes ataupun menolak. Kadaan sudah sangat genting, dan mereka harus menyelamatkan diri. Reflek ia memeluk Stefan erat karena takut terjatuh.


"Sial! Aku kira diatas banyak ruangan!" ucap Stefan yang kaget jika diatas hanya ada dua kamar yang keduanya dalam keadaan tertutup.


Lelaki itu menendang pintu salah satu kamar tanpa menurunkan tubuh Luna lebih dahulu.


Untung saja dalam dua kali tendang, pintu itu terbuka.


"Cepat masuk dulu." Stefan memberi kode pada Luna melalui tatapan matanya.


Dibawah, suara tembakan terdengar sahut menyahut silih berganti. Entah apa yang terjadi dibawah. Namun yang jelas, orang-orang itu belum menyerang ke atas.


"Mana bisa."


"Kenapa tidak bisa? Bukankah kau bisa berjalan sendiri kesana?" Stefan yang kesal dengan pertanyaan Luna yang ketus malah terbawa emosi.


"Turunkan aku dulu!" Luna memalingkan wajahnya.


Ia sedang menahan senyum karena tingkah konyol Stefan yang tidak menyadari jika kedua tangan lelaki itu masih menahan tubuh Luna didalam gendongannya.


"Hah? Bodoh sekali!" gumam Stefan memaki dirinya sendiri. Gegas lelaki itu menurunkan Luna, kemudian mengawasinya hingga masuk ke dalam.


"Jangan keluar, apapun yang terjadi!" pesan Stefan sebelum menutup pintu.


"Tidak bisa! Aku juga harus membantu." Luna menahan pintu yang hampir tertutup.


"Biarkan aku saja. Jika mereka berhasil melewatiku, bersiaplah! Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri," ucap Stefan tanpa menunggu jawaban Luna.


Lelaki itu menutup pintunya dari luar dan menguncinya dengan besi panjang yang ia letakkan secara horisontal.


Bug!


Bug!


Terdengar suara keras menghantam pintu. Sepertinya Luna marah karena ia dikunci dari luar.


Stefan menahan napasnya. Pikirannya terpaku sejenak pada wajah wanita yang selalu mengganggu tidurnya beberapa tahun ini.


Jika aku tidak selamat, setidaknya Elea masih memilikimu, Luna.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Maju!" titah Ellard melalui earphone nya.


Ellard yang menyerbu dari depan langsung menembaki beberapa penjaga yang ada disana. Hingga mereka terkapar karena kalah jumlah.


Lelaki paruh baya itu membiarkan anak buahnya untuk masuk lebih dulu. Sementara sang anak buah masuk, Ellard menghubungi Alex yang hendak masuk lewat jalur belakang.


"Di dalam ada banyak sekali, tapi aku tidak melihat Stefan ataupun Luna. Sepertinya telah terjadi baku tembak sebelumnya. Kita habisi saja orang-orang ini sambil mencari mereka berdua," titah Ellard pada Alex.


"Baik, Tuan."


Alex masuk melalui jalur belakang, mereka menyerang dengan cepat. Ya, benar kata sang majikan. Jika anak buah geng Lu Xi sangat banyak disini. Mereka seperti tumpah ruah dan semuanya memegang senjata, sehingga Alex hampir kewalahan meski ia membawa anak buahnya yang terpilih.


Dor!


Dor!


Terus terjadi baku tembak yang hebat di dalam. Alex mencoba menemukan Ellard untuk bergabung. Untung saja tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka bisa bersatu dan melawan bersamaan.


"Mereka ada diatas! Cepat kejar!"


Kemudian ada 4-5 orang yang naik lantai atas. Meski samar, Ellard mendengar teriakan orang-orang itu. Siapa yang dimaksud dengan mereka? Jangan-jangan...


"Lex! Ikuti mereka yang naik keatas," titah Ellard.


Namun tembakan yang bertubi-tubi menghadang Alex hingga mau tidak mau alex harus melawan mereka lebih dahulu.


Sementara itu dilantai atas,


Stefan menghindari tembakan beberapa orang yang tiba-tiba saja muncul dari tangga dan memberondongnya dengan peluru.


Untung saja ada tameng sebuah lemari es yang tingginya setengah dari tubuhnya sehingga ia membungkuk dan menyembunyikan tubuh dibaliknya. Sesekali ia membalas tembakan orang-orang itu.


Pertempuran yang sengit dan tidak seimbang, karena Stefan seorang diri dengan tameng yang sama sekali tidak melindungi.


Luna yang berada di dalam ruangan mendengar baku tembak di luar. Perasaanya buruk, ia tidak tenang. Bagaimanapun Stefan melindunginya sejak awal.


Wanita itu merasa sesak hanya dengan menebak-nebak kondisi Stefan saat ini. Lelaki itu sendiri, dan menguncinya di dalam ruangan ini.


"Stefan! Buka pintunya!" Luna menggunakan kakinya untuk mendobrak pintu kayu yang ada di depannya itu.


Begitu sulit namun wanita itu tidak menyerah. Saat ia merasa lelah karena ternyata susah sekali merusaknya, matanya menangkap ada sebuah kapal tergeletak di sudut kamar.


Bagai mendapat lotre. Senyum Luna mengembang dengan mata yang berkaca, dan ia segera mengambilnya.


Tanpa membuang waktu, Luna mengayunkannya dengan penuh tenaga. Wanita itu hanya menggunakan perasaannya dalam merusak pintu didepannya.


"Aarghhhhh...."


"Stefan?"


❤❤❤❤