La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 95



Pagi itu, suara ponsel di atas nakas milik Luna terus saja berbunyi. Sang empunya hanya gelisah di atas ranjang.


Wanita itu menahan nyeri akibat perkelahiannya dini hari tadi.


Nampak di layar hitam itu kontak sang ayah yang memanggil.


"Sayang," panggil Christina yang masuk ke dalam kamar dengan tiba-tiba, mengagetkan wanita itu.


"Bagaimana keadaanmu? Dokter mengatakan ada penyusup semalam hendak mencelakaimu?"


Christina datang sendirian. Ia sengaja melakukannya karena tidak ingin Elea ikut dan melihat keadaan sang ibu. Yang katanya mendapatkan luka jahitan pada lengannya.


"Sudah tidak apa-apa, Bi." Luna melerai sang bibi yang memeluknya dengan khawatir.


"Itu ponselmu terus berbunyi, kenapa tidak diangkat?" Christina mengintip benda persegi yang dibiarkan begitu saja diatas nakas.


"Ellard?"


Christina menatap Luna, dan seketika ia tahu kenapa sang keponakan membiarkannya terus meraung.


"Aku ... Aku masih belum sehat benar, Bi. Aku takut papa khawatir. Apalagi kejadian tadi menambah luka baru ditubuhku." Luna beralasan.


Menurut Christina, hal itu masuk akal. Ada beberapa lebam di wajah dan dahi Luna yang tentu saja tidak bisa ditutupi jika ia melakukan panggilan video dengan ayahnya itu.


"Tapi kau tetap harus memberitahunya, Sayang." Christina membantu Luna untuk bersandar. "Apa kau sudah menghubungi pengacaramu? Ini tidak bisa dibiarkan. Atau biar pamanmu saja yang mengurusnya?"


Christina menawarkan bantuan pada sang keponakan.


"Aku sudah meminta hasil visum dan rekaman CCTV dari pihak rumah sakit, Bi. Tadi aku juga sudah menghubungi Andrew, biar dia yang mengurusnya."


"Baiklah. Bibi sangat takut, Sayang. Lebih baik kamu dirawat di rumah saja. Biar dokter yang datang ke rumah daripada disini penuh dengan resiko."


"Aku juga akan mempertimbangkan itu, Bi. Demi keselamatanku." Ternyata dimanapun ia berada, ada saja orang yang berniat jahat padanya. Kali ini entah siapa lagi. Luna sama sekali tidak bisa menebaknya.


"Selamat pagi, Nyonya. Bagaimana kabar anda?"


Dokter yang bertanggung jawab atas Luna menyapa keduanya. Ia datang membawa sebuah berkas didalam amplop putih di tangannya.


"Sudah tidak pusing, Dok. Kalau ini, ya rasanya masih sangat sakit."


Luna memperlihatkan lengannya yang tertutup kasa putih.


"Untung saja lukanya tidak dalam. Saya mewakili rumah sakit memohon maaf atas kejadian ini. Saya akan membantu semaksimal mungkin, segala hal yang diperlukan untuk barang bukti, Nyonya." Dokter itu menyerahkan sebuah amplop besar pada Luna.


"Ini?"


"Hasil visum anda beserta rekaman CCTV dini hari tadi. Lengkap dari awal orang itu datang. Kebetulan suster yang memergoki orang itu ikut ke ruang keamanan tadi. Dan berita baiknya, kita mendapatkan nomor polisi mobil yang dikendarai penjahat itu, Nyonya."


Dokter itu nampak antusias membantu Luna.


"Benarkah? Siang nanti pengacara saya baru tiba, Dok. Dan saya memintanya langsung membuat laporan ke kantor polisi."


Untung saja Luna cepat bergerak dengan menghubungi Andrew. Dan dokter juga tidak membuang waktu menyiapkan segala bukti. Semua bergerak cepat, dan Luna ingat pukulannya sempat mengenai penjahat itu. Juga cengkeraman tangannya. Jika cepat tertangkap, lebam akibat apa yang diperbuatnya pasti membekas.


"Dok, apa keponakan saya boleh menjalani perawatan di rumah saja? Jujur, saya merasa tidak aman setelah ini."


Christina tiba-tiba membuka pembicaraan untuk membawa pulang paksa Luna.


"Sebenarnya lebih baik disini, Nyonya. Tapi saya melihat kondisi nyonya Luna sudah sangat membaik. Dan jika memang beliau merasa lebih nyaman dan aman di rumah, tentu disanalah tempat terbaik untuknya. Namun, jangan lupa tetap terapi dan kontrol rutin."


"Sama-sama, Nyonya." Dokter pamit pergi melanjutkan pekerjaannya.


"Bi...."


"Hemm...."


Christina menoleh setelah meletakkan sarapan yang sengaja ia bawa dari rumah.


"Apa Stefan baik-baik saja?" tanya Luna sambil menatap sang bibi.


Mereka berdua terpaku beberapa saat. Sungguh, saat ini Christina tidak tahu harus menjawab apa. Bendungan air matanya hampir pecah mengingat anak lelakinya itu. Mata Christina berkaca-kaca.


"Emm ... Maksudku... Dia pasti sibuk sekali ya, Bi?" Luna merasa ada yang aneh dengan sang bibi. Hingga wanita itu merasa tidak enak dan akhirnya mengambil sarapan yang dibawa bibinya.


"Aku lapar sekali." Meski lengannya masih nyeri, Luna memaksa mengulurkannya untuk mengambil makanan itu.


"Biar Bibi suapi. Lenganmu masih sakit." Christina merebut sendok dan kotak berisi makanan dari tangan Luna, kemudian menyuapi keponakannya itu tanpa menatapnya.


Dan suasana pun mendadak canggung, tanpa Luna tahu apa penyebabnya.


\=\=\=\=≠≠\=\=\=\=\=\=\=\=


"Sir ... Maafkan saya."


Pagi itu, Evelyn sengaja datang pagi-pagi. Karena yang dia tahu, Aglen selalu datang lebih pagi darinya. Hal itu karena Aglen harus bertanggung jawab pada 3 perusahaan milik keluarganya itu.


Begitu Aglen melewatinya, kemudian masuk ke ruangan Luna, Evelyn mengikuti dibelakangnya. Hingga Aglen duduk, tidak keluar sepatah katapun dari bibir lelaki itu.


Gadis itu meletakkan kopi dan bekal makan yang sengaja ia buat untuk Aglen diatas meja.


Lelaki berkuncir itu tidak perduli, bahkan keberadaan Evelyn disana bagaikan makhluk tak kasat mata.


Dan Evelyn, gadis itu salah tingkah. Ia ingin pergi dari hadapan Aglen, tapi ia sungkan karena dirinya bersalah. Sementara menunggu membuatnya bosan. Apalagi ia berdiri dengan sepatu heel 5 cm hingga kakinya terasa pegal.


Setengah jam berlalu. Evelyn masih disana. Aglen semakin tenang memeriksa beberapa berkas tanpa memperdulikan keberadaan sekretaris Luna itu.


"Aduh...."


Evelyn tiba-tiba limbung dan jatuh. Kakinya terkilir karena itu. Gadis itu meringis kesakitan sambil memijat kakinya yang sakit. Mungkin kakinya lelah karena terus berdiri sejak tadi.


Aglen yang mendengarnya hanya melirik tanpa aksi. Lelaki berkuncir itu ingin tahu apa yang terjadi, tapi ia terlalu gengsi melakukannya karena masih kesal dengan gadis cantik yang tengah meminta maaf padanya itu.


Evelyn mengeraskan suaranya. Berharap Aglen segera mendekat dan menghampirinya. Bertanya padanya apa yang terjadi. Namun itu semua hanya ada dipikiran Evelyn saja. Karena beberapa menit berlalu, Aglen masih duduk tenang di kursinya.


Gadis itu mencoba berdiri, namun nyeri luar biasa terasa menjalar cepat seperti aliran listrik di kakinya. Membuatnya kembali limbung dan hampir terjatuh.


Namun tiba-tiba lengan kekar nan kuat menopangnya. Evelyn kaget, ia menatap Aglen yang tiba-tiba ada didekatnya.


Bahkan Evelyn tidak mendengar kapan lelaki itu melangkah dan mendekat padanya. Perasaan, ia tadi masih melihat Aglen berada di belakang mejanya.


"Terima kasih, Sir," ucap Evelyn dengan wajah tertunduk. Ia sama sekali tidak melepaskan tangannya yang mencengkeram lengan Aglen.


"Lain kali hati-hati! Aku tidak menyuruhmu untuk terus berada disana, kenapa kau melakukannya!?"


Suara Aglen terdengar ketus, namun Evelyn malah lega mendengarnya.


"Saya...."