La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 21



"Sayang, boleh Papa pinjam Adam, sebentar?" pinta Ellard pada Luna.


"Memang Papa mau kemana?"


"Papa akan mengajak Adam ke lapangan. Sesekali kita perlu cek perkembangan pembangunan gedung kita yang baru."


"Oh, ok. Luna tunggu disini saja kalau begitu," ucap Luna yang kini ada di ruangan sang ayah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ehem...."


Demi apa Stefan mati kutu dan gugup karena kaget melihat Luna ada di dalam sana.


Wanita itu mendongak. Hatinya juga gugup saat didapatinya pemilik mata elang itu terpaku padanya. Hingga akhirnya Luna melarikan tatapannya pada tempat lain.


"Paman Ellard ada?" tanya Stefan pada Luna. Tentu ia hanya berbasa basi karena tidak tahu harus bicara apa. Sekretaris sang paman hanya mempersilahkan lelaki itu masuk tadi.


"Papa masih keluar. Jika tidak ada urusan penting, nanti saja kembali lagi." Luna menjawab tanpa melihat sosok Stefan. Ia memilih untuk memeriksa beberapa berkas yang diberikan sekretaris sang ayah kepadanya.


"Tapi paman Ellard menyuruhku kemari hari ini. Dan kata sekretarisnya, aku boleh menunggu di dalam." Stefan tidak berbohong. Memang begitulah yang diucapkan sekretaris Ellard padanya.


"Pembohong!" umpat Luna lirih.


"Apa?" Samar Stefan mendengar umpatan Luna. Namun ia sendiri tidak yakin apa itu untuknya.


"Kalau kau memaksa disini, lebih baik aku keluar!" Luna segera membereskan beberapa berkas yang ada di depannya.


"Tidak, Lun. Biar aku saja yang menunggu diluar." Stefan dengan gestur kaku menatap pintu keluar.


"Tidak perlu! Bukankah kau tamu ayahku? Dan sudah jelas ini bukan ruanganku." Luna memaksa. Ia sudah hendak melangkah saat tangan Stefan meraih lengannya.


"Lun...."


Wanita itu menghempaskan tangan kekar yang memegang lengannya. "Jangan berani menyentuhku!"


"Maaf. Maafkan aku." Stefan menunduk, perlahan ia melepaskan tangannya yang reflek memegang lengan Luna saat wanita itu hendak pergi. "Biar aku saja yang menunggu di luar. duduklah kembali."


Gestur kaku Stefan sangat terlihat. Lelaki itu segera memutar tubuhnya dan keluar dari ruangan Ellard.


Penolakan Luna sungguh menyakitkan, apalagi sekarang perasaan Stefan pada sepupunya itu bukan lagi sebuah perasaan biasa. Namun kembali lagi lelaki itu memakluminya, karena dimasa lalu yang ia lakukan sungguhlah jahat.


Langkah gontai Stefan keluar dari ruangan Ellard mencuri perhatian Nina, sekretaris Ellard.


"Sir ? Mr. Ellard meminta Anda...."


Stefan hanya mengangguk dan mengulaskan senyum tipisnya, memberi jawaban atas pertanyaan Nina. Kemudian lelaki itu duduk di ruang tunggu dengan raut wajah pasrah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Apa ini benar gedung kita, Pa?" Adam berdecak takjub. Dari kerangkanya saja sudah terbayang jika gedung ini akan lebih besar dari gedung perusahaan yang ia kelola sekarang.


Awalnya, Ellard memang membangunnya tanpa sepengetahuan siapapun. Rencananya ini akan menjadi hadiah ulang tahun Luna nanti.


"Hemm ... Ini kejutan untuk Luna. Kuharap kau bisa merahasiakannya. Selama ini yang dia tahu, aku membangun cabang dari perusahaan kita. Tapi ini sama sekali bukan," ucap Ellard yang menatap bangga pada usahanya sendiri.


"Jadi ini?"


"Perusahaan baru. Yang sementara akan dikelola oleh keponakanku, Stefan," jelas Ellard.


Stefan? Bahkan sang ayah mertua baru saja menceritakan jika Luna memiliki sepupu bernama Stefan, anak dari kakak Ellard yang ternyata pebisnis handal dan tidak mungkin Adam tidak mengenalnya. Ia pikir mereka hanya kebetulan memiliki nama belakang keluarga yang sama.


Karena saat menikahi Luna dulu, tidak ada keluarga yang hadir selain Ellard dan bibi Ofelia, yang ternyata hanyalah pelayanan kepercayaan keluarga Luna.


Baru Adam menyadari sekarang, jika Luna memang benar-benar orang kaya. Meskipun itu tidak nampak pada gaya hidupnya selama ini.


"Bukankah Stefan CEO dua perusahaan besar di Italia, Pa?"


"Ya. Dia tidak akan menolak, jika aku yang memintanya," ucap Ellard yakin.


Pembangunan gedung ini sudah 50 persen. Dan itu berarti tidak lama lagi perusahaan ini akan diresmikan.


"Apa tidak sebaiknya kita sendiri yang mengelolanya, Pa? Maksudku juga ada Kak Aglen. Atau barangkali jika Papa sudi memberi kesempatan Kylie untuk ikut mengembangkan perusahaan ini dibawah bimbinganku tentunya," usul Adam. Kylie adalah adik satu-satunya dari lelaki itu.


Ellard melirik sang menantu. Tentu tidak secara langsung, hanya melewati ekor matanya. Kemudian lelaki yang rambutnya sudah di penuhi uban itu tersenyum sumbang.


"Kau tahu reputasi Stefan, bukan? Aku yakin dia lebih dari mampu, apalagi permintaan khusus dari pamannya." Entah apa yang dirasakan Ellard saat ini.


Rupanya, rencana dia hari ini membawa Adam ke tempat ini adalah keputusan yang salah. Padahal awalnya ia berpikir karena lelaki itu adalah orang terdekat Luna selama ini.


Ia merasakan sesuatu.


"Ah ... iya, Papa selalu terbaik sebagai pengambil keputusan selama ini." Adam berusaha mencairkan suasana. Karena mendadak obrolan mereka menjadi sangat canggung.


"Ayo kita kembali, sebelum Luna curiga. Aku juga ada janji," ucap Ellard menimpali.


\=\=\=\=≠\=\=≠\=


"Hei... Kenapa tidak langsung masuk? Kau seperti tamu saja!" Ellard baru saja tiba saat dilihatnya Stefan tengah duduk sendiri di ruang tunggu yang berdekatan dengan ruangannya.


Stefan memdongak kemudian berdiri menghampiri sang paman. Lelaki itu membalas sapaan ellard dengan menjabat dan memeluknya.


"Apa Nina tidak membukakan pintu ruanganku untukmu?" tanya Ellard heran, karena seingatnya ia sudah meninggalkan pesan pada sekretarisnya itu sebelum pergi.


"Aku yang ingin menunggu Paman diluar. Bukan salahnya," jawab Stefan melirik Nina yang tidak sadar jika atasannya telah tiba.


"Ahh ... ini menantuku, Stef. Suami Luna," ucap Ellard sedikit menepi, memberi tempat Adam yang berada dibelakangnya untuk maju dan berkenalan dengan Stefan.


"Ohhh...." Stefan mengangguk, kemudian membalas Adam yang mengulurkan tangannya.


"Adam, Sir. Adam Walton. Senang bertemu Anda. Saya tidak menyangka kita menjadi keluarga." Adam sedikit berbasa basi, tentu ia sadar sekarang bahwa ia benar-benar bangga menjadi bagian dari keluarga Efrain. Apalagi memiliki sepupu seperti Stefan.


"Ayo masuk. Kita bicara di dalam saja," ajak Ellard merangkul keponakannya dan membawanya masuk ke ruangannya.


"Sayang, ayo ku antar ke kantormu," ajak Adam begitu pintu terbuka dan ia melihat sosok sang istri.


Tanpa menjawab Luna langsung berdiri, merapikan berkas di depannya dan mengambil tasnya.


"Aku masih ada perlu dengan istrimu. Biarkan dia disini dahulu," tahan Ellard.


"Baiklah, Pa. Kalau begitu aku ke ruanganku saja. Nanti jika Luna sudah selesai, aku akan mengantarnya." Adam hanya menatap sang istri sesaat kemudian mengulas senyum pada Stefan dan keluar dari ruangan itu.


"Aku tahu kalian tidak dekat. Tapi aku ingin kalian bekerjasama dalam proyek ini," ucap Ellard membuka obrolan.


Beberapa menit disana, keduanya malah terdiam. Ellard sebagai orang tua dari mereka sampai heran. Dulu Luna bersikap biasa saja pada Stefan, hanya menjawab jika ditanya lebih dulu. Namun hari ini, Ellard merasa Stefan bagai orang asing bagi Luna. Bahkan putrinya itu terlihat acuh pada sepupunya.


"Proyek? Bukankah Papa seharusnya berbicara dengan Adam," sahut Luna. Karena ia hanya dibelakang layar, membantu jika diperlukan.


Semua hal yang berhubungan dengan perusahaan sudah ia serahkan pada sang ayah dan suaminya itu.


"Sayang, Papa hanya ingin proyek ini dipegang oleh keluarga kita, bukan orang lain."


"Tapi Adam sudah menjadi suamiku, Pa. Itu berarti dia menjadi bagian keluarga kita sekarang. Selama ini bukankah ia sudah mengelola perusahaan ini dengan baik. Papa juga mengakuinya, bukan?"


Sungguh, Luna kaget dengan ucapan sang ayah. Jadi selama ini Ellard menganggap Adam hanya orang lain.


"Sayang, maksud Papa dengan keluarga adalah dimana darah Efrain mengalir padanya." Ellard memperjelas maksudnya. "Dalam proyek kita kali ini, Papa hanya ingin kalian yang masih muda yang memegangnya. Kamu, Stefan dan juga Aglen."


"Apa Papa tidak mempercayai Adam?"


"Untuk proyek- proyek kita yang lain, iya. Tapi untuk bisnis keluarga kita kali ini, dengan berat hati Papa mengatakan tidak, Sayang," tegas Ellard. Nampak sekali sang ayah tidak bisa didebat oleh Luna.


"Tapi melihat perkembangan perusahaan Paman disini, sepertinya Adam pantas kita beri kesempatan." Tiba-tiba stefan mengutarakan pendapatnya ditengah perdebatan halus antara ayah dan anak itu.


"Kau memang hebat saat ini, Stef. Namun pengalamnamu tentu dibawah kami para orang tua. Dan selama ini prediksi Paman tidak pernah salah."


"Tapi, Pa. Adam baik selama ini, papa juga mengetahuinya." Luna sudah mulai terpancing emosi.


Wanita memang lebih meninggikan perasaan daripada logika. Dan luna membawa masa lalunya yang diterima sang suami dengan lapang dada sebagai alasannya kali ini. Lagipula selama lima tahun pernikahan mereka, Adam juga nampak lurus-lurus saja.


"Sayang, bisnis dan pribadi itu berbeda. Perusahaan ini adalah murni milikmu, jadi ingin kau percayakan kepada siapa saja itu adalah hakmu. Namun proyek baru kita kali ini adalah milik Papa. Bukankah papa berhak memilih siapa saja yang ikut terlibat di dalamnya?"


Luna tercekat. Baru kali ini sang ayah sangat berbeda pandangan dengan dirinya. Selama ini Ellard selalu mengiyakan apa yang Luna mau, apa yang luna ungkapkan. Dan luna memang juga pribadi yang bertanggung jawab, karena ia sama sekali tidak menyalahgunakan kepercayaan sang ayah.


"Paman, benar kata Luna. Aku juga belum mengenal Adam. Mungkin ini bisa dijadikan ajang untuk menjajal kemampuannya juga."


"No, Stef! Itu bukan diriku dan aku tidak akan pernah melakukannya."


"Kalau begitu aku mundur, Pa. Kalian saja para lelaki yang mengerjakannya." Luna sudah kehabisan cara bertahan. Ia memilih tidak ikut campur daripada terjadi masalah dengan hubungannya bersama Adam.


"Jika Luna mundur, aku juga mundur Paman. Kali ini saja dengarkan apa mau putrimu." Stefan mencoba membantu Luna dengan keputusannya. Dia sungkan untuk meneruskannya, jika pihak yang sebenarnya berkepentingan saja cuci tangan.


"Tidak usah berlagak baik didepanku. Karena itu tidak akan merubah apapun!" Luna berucap keras pada Stefan, meski wanita itu tidak sampai berteriak.


"Aku ke kantorku, Pa. Jangan terlambat makan siang," pamit Luna tanpa menatap lagi sepupunya.


Ellard terkejut, apalagi Stefan. Tatapan Luna saat ini mengingatkan lelaki itu pada peristiwa saat ia datang ke rumah sang paman untuk meminta maaf dan menahan Luna berangkat ke Kanada.


Garang dan membunuh.


"Apa kalian berdua ada masalah?" tanya Ellard tiba-tiba.


Tentu saja pertanyaan itu membuat gugup Stefan.


"Tidak, Paman. Tidak ada. Mungkin Luna hanya kesal denganku soal Adam."


"Tapi Luna tidak pernah sekasar itu selama ini. Mengapa denganmu berbeda?"


Karena keponakanmu ini bersalah pada putri tercintamu itu paman. aku telah menghancurkan kehidupannya.


"Luna hanya emosi, Paman. Sebaiknya kita kembali membicarakan pekerjaan ini lain kali. Mungkin saat semuanya kembali mereda."


"Baiklah. Berapa lama kau disini?"


"Lusa aku kembali ke Italia. Aku free Paman. Jika tidak ada hal penting yang sangat membutuhkan kehadiranku di sana, aku bebas kemana saja. Termasuk jika Paman membutuhkanku disini," jawab Stefan menenangkan.


"Wahh ... menggiurkan. Apa kau tidak ingin jalan-jalan disini? Tapi sayang Aglen kembali ke Amerika siang ini."


"Emm...sepertinya aku istirahat saja. Oh ... iya, apakah boleh nanti aku menggantikan Paman menjemput El," pinta stefan dengan tatapan memohon.


Stefan tahu jika hampir setiap hari pamannya itulah yang menjemput Elea di sekolah. Aglen menceritakannya kemarin.


"Sebenarnya...." Ellard nampak ragu. "Tapi langsung bawa ke rumah Paman. Luna sedang emosi, Paman khawatir ia semakin marah melihat kau yang menjemput anaknya," pesan Ellard pada keponakannya.


"Iya, Paman. Aku janji. Terima kasih, Paman." Stefan pamit sambil berlari. Ia sangat bahagia akan bertemu lagi dengan gadis kecil yang mirip dirinya itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Sayang antarkan aku ke kantor," Luna masuk tiba- tiba kedalam ruangan sang suami.


"Oke sayang," ucap Adam segera berdiri. "Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?" Adam mendadak cemas melihat mata Luna memerah.


"Tidak apa-apa. Mataku hanya kena debu tadi." Luna mengelak, kemudian wanita itu menggandeng sang suami keluar untuk mengantarkannya.


Sepanjang lorong, mereka bercanda dan saling melempar senyum. Sangat nampak kebahagiaan keduanya saat ini.


Luna dan Adam melintas saat Stefan keluar dari ruangan Ellard.


"Anda juga hendak pulang?" sapa Adam pada lelaki itu. Sedangkan Luna yang berada disebelahnya hanya diam tidak bereaksi.


"Iya." Stefan mengerjap dengan senyum yang dipaksakan. Ia menjawab sapaan Adam namun matanya tertuju pada kedua tangan suami istri yang bertaut itu.


"Mari, kita bersama saja kalau begitu." Adam berucap santun.


"Silahkan." Stefan mengangguk kaku. Dan setelahnya ia mengikuti dibelakang pasangan suami istri itu.


Hati Stefan kepanasan saat ini. Luna begitu mesra dengan Adam, hingga ia merasa seperti sosok tidak kasat mata disana.


Tiba di depan lift, Luna tidak juga melepas gandengan tangannya dengan sang suami. Malang sekali Stefan, tidak ada seorang pun di dalam lift yang hendak meluncur turun selain mereka bertiga. Semakin lengkaplah memori di kepalanya dipaksa merekam kejadian yang tidak ia inginkan itu.


Adam nampak beberapa kali menghalau tangan sang istri dan berganti ia yang merangkul wanita itu. Namun entah apa yang terjadi dengan Luna saat ini, wanita itu bergelayut manja pada dirinya sejak awal masuk kotak hitam canggih pengangkut manusia itu.


Tidak salah memang. Karena status mereka adalah suami istri. Namun adam merasa luna sangat berlebihan hari ini.


"Sayang, ada sepupumu," bisik Adam pada akhirnya, karena terus terang ia mulai risih, dengan tingkah sang istri.


"Biarkan saja. Salah sendiri berada disini," ketus Luna yang membuat sang suami kaget. Wajah Luna juga nampak tidak ramah sama sekali. Membuat Adam salah tingkah di depan Stefan. Lelaki berambut pirang rapi itu tidak ingin di cap tidak profesional, meskipun mereka adalah keluarga.


❤❤❤amici mio, Terima kasih dukungannya ya🙏