
"Bagaimana, Kak? Aku bisa bekerja di perusahaanmu?" tanya Kylie, padahal gadis itu baru saja tiba di restoran tempat kedua bersaudara itu janjian.
"Duduk dulu. Kamu tidak sopan!"
"Kakak, aku ini adikmu, sopan itu hanya untuk orang yang lebih tua," elak Kylie.
"Aku lebih tua darimu!"
"Tapi kau hanya kakakku. Kalau aku terlalu sopan kita tidak akan sedekat ini." Kylie membuang napasnya kasar. Selalu saja ada alasan yang dibuatnya.
"Dasar banyak alasan!" Adam melirik tajam adik perempuannya yang selalu manja akibat didikan sang ibu yang berlebihan.
"Masukkan lamaranmu! Aku tunggu sampai besok!"
"Hah? Kakak pemilik perusahaan bukan? Kenapa aku tidak langsung masuk kerja saja," kesal. Kylie. Betapa ribet harus membuat lamaran pekerjaan, karena gadis itu tidak pernah melakukan itu sebelumnya.
"Tidak bisa Kei, kau harus ikuti prosedur resmi perusahaan. Apalagi jabatan yang ditawarkan adalah asisten direktur. Bukan sembarangan. Harus punya pengalaman kerja." Adam menyuap makanan kedalam mulutnya.
Sedangkan Kylie malah enggan menyentuh makanan yang sudah dipesan sang kakak.
"Aku tidak punya pengalaman. Aku belum kerja dimanapun, Kak."
"Oh, Tuhan! Jadi Mama tidak menyampaikan pesanku? Kau seharusnya bekerja dikantor papa sedari awal. Jadi kau tidak buta sama sekali tentang dunia bisnis." Adam memijat pelipisnya, semua anggota keluarga di rumahnya selalu membuatnya sakit kepala.
"Disuruh pun aku tidak akan mau Kak. Perusahaan papa itu hampir gulung tikar dan kau menyuruhku bekerja disana? Aku malu dengan teman-temanku," ucap Kylie yang selalu bangga dengan jabatan Adam sebagai Direktur.
"Kei ... kau perlu belajar, bukan lagi main-main! Kalau dulu aku bisa membayar dengan uang untuk ijazahmu. Tapi kau tidak bisa membeli dengan apapun sebuah pengalaman, apalagi untuk bekerja di perusahaan milik Luna yang masuk lima besar perusahaan dengan kredibilitas terbaik di Kanada."
"Lalu apa gunanya kau sebagai Kakakku kalau tidak bisa membantuku? Guna saudara seperti itu bukan?" ucapan Kylie membuat Adam naik darah. Lelaki itu merapatkan giginya hingga bersuara.
Kylie memang berbeda dengan sang kakak. Sang ibu hanya mengajarinya berdandan dan memanjakannya dengan segala fasilitas. Dan mereka tidak pernah kekurangan semenjak Adam menikah dengan Luna.
"Terserah padamu! Tidak ada lamaran, tidak ada pekerjaan," ucap Adam mengambil tissu dan mengelap bibirnya. "Habiskan makanannya, sudah aku bayar semua."
Adam pergi setelah membayar bon-nya. Lelaki itu semakin pusing dengan tingkah adiknya.
\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=
"Bagaimana sayang? Sudah ada pelamar?"
Adam baru saja tiba di kantor Luna. Tadi sedianya ia ingin membawa sang istri makan siang bertiga dengan sang adik. Sekalian membicarakan tentang pekerjaan ini tapi rupanya Luna menolak karena ada meeting mendadak dan wanita itu meminta untuk dibawakan makanan saja.
Untung saja istrinya itu menolak. Adam sebagai kakak Kylie saja merasa malu dan insecure dengan sang adik yang susah diatur. Apalagi kalau tadi ada Luna, sudah pasti ia akan malu sekali.
"Ada beberapa tapi belum ada yang memenuhi kriteria. Nanti kalau ada 2 atau 3 orang yang sedikit memenuhi kriteria, aku beritahu dirimu." Adam membawakan makanan untuk istrinya itu.
"Makanlah. Kau sering melewatkan makan siang, Sayang." Adam mengambil satu sendok makanan dari dalam kotak makanan yang ia bawa dan menyuapkan pada Luna.
"Hemm ... Enak sekali."
"Karena ini spesial untuk istriku tersayang," bisik Adam yang membuat senyum Luna mengembang.
"Habiskan, ya. Jam istirahat telah usai." Adam melirik arlojinya. "Aku harus kembali ke kantor sekarang, Nyonya Luna," guraunya pada sang istri.
"Okay, Mr. Adam. Akan kupotong gajimu jika kau terlalu lama mengambil jam istirahat," balas Luna hingga membuat keduanya tersenyum.
Jabatan setinggi apapun yang dimiliki Adam saat ini, memang tidak bisa dipungkiri bahwa dia tetap dibawah Luna. Karena Luna adalah pemilik satu-satunya perusahaan itu.
Adam memutar meja dan menghampiri sang istri di kursinya. Lelaki itu mengecup dahi Luna dan berpamitan.
"Hati-hati, Sayang."
"Hemm...." Adam melambaikan tangannya sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mama pasti pulang malam lagi." Elea baru saja tiba dan duduk di sebelah Ellard yang sedang membaca buku di taman.
Gadis kecil itu menatap nanar sang kakek. "Padahal Mama tadi mengatakan akan pulang cepat. Tapi ternyata tidak."
"Mungkin Mama masih banyak pekerjaan penting di kantor. El mau main dengan kakek?"
Gadis kecil itu menggeleng. Matanya yang berkaca tentu menarik perhatian Ellard. Biasanya Elea tidak sesedih ini saat sang ibu pulang terlambat. Ini bahkan belum waktunya jam pulang kantor dan Elea sudah rewel.
"Tuan, ada Tuan Stefan di depan." Seorang pelayan datang memberitahu.
"Suruh kesini saja! Ah ... tidak jadi, biar aku saja yang kesana," ucap Ellard meralat.
"Baik, Tuan."
Ellard menghampiri cucu kesayangannya itu, kemudian menggemdongnya untuk menemui Stefan.
"Paman Tampan!" panggil Elea. Tiba-tiba gadis itu melorot turun begitu melihat Stefan. Kemudian berlari menghampiri Stefan dan memeluknya.
"Apa kabar, Sayang?" Stefan berbisik lirih. Dalam hatinya sangat bahagia, Elea terlihat menyayanginya meski gadis kecil itu belum tahu apapun tentang dirinya. "El kenapa? Jangan menangis."
Stefan menghapus air mata Elea. Kemudian menggendongnya dan mengikuti langkah kaki Ellard yang mengajaknya ke ruang keluarga.
"Luna berjanji mengajaknya jalan-jalan. Tapi ia belum datang sampai sekarang," cerita Ellard. Ellea memang kelihatan kecewa.
"Mau jalan-jalan sama Paman, Sayang?" Stefan yang meletakkan Elea di pangkuannya menawarkan diri.
"Sungguh?"
Stefan mengangguk dan gadis kecil itu pun langsung ceria kembali. Mata bulatnya berbinar dengan gigi kelincinya yang terlihat.
"Boleh, Kek?" lirik Elea pada Ellard.
"Tentu saja. Asal tidak pulang terlambat," ucap Ellard memberi syarat. "Ada perlu apa kau kesini Stef?"
"Sebenarnya aku ingin membicarakan tentang perusahaan baru, Paman. Tapi sepertinya, yang ini lebih penting," ucap Stefan melirik dengan sayang Elea yang ada disebelahnya.
"Ya. Dia segalanya untukku Stef, sama seperti ibunya. Temani dia dulu. Biasanya Aglen yang sering kesini, akhir-akhir ini banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Kasihan El seperti terabaikan. Ia jarang mau bermain denganku karena kasihan jika aku kelelahan." Ellard menatap sedih sang cucu. Bahkan ia yang sebenarnya sudah diharuskan pensiun oleh Luna, malah masih aktif di kantor.
Rupanya Ellard belum tenang untuk menghabiskan masa tuanya di rumah. Menurutnya, masih banyak hal yang ia harus lakukan untuk Luna dan Elea. Untuk masa depan mereka.
"Tidak akan, Paman. Aku akan selalu ada waktu untuknya," ucap Stefan membuat tenang Ellard. Meski lelaki paruh baya itu tidak bisa mengartikan maksud sebenarnya Stefan. "Ayo, Sayang! kita berangkat."
"Let's go! " teriak Elea dengan semangat. "Kakek, El berangkat!"
Ellard hanya tersenyum sembari melambaikan tangannya pada sang cucu dan Stefan.
\=\=\=≠≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Iya ... Iya tidak apa-apa. Salam untuk mama karena aku tidak sempat memgunjunginya," jawab Luna pada Adam yang menghubunginya. Suaminya itu meminta izin untuk menginap di rumah ibunya.
Setelah menerima telepon dari Adam, Luna kembali berkutat dengan pekerjaannya. Ia tidak sendiri, Emma pun ikut lembur kali ini.
"Berikan aku jadwal jaga malam gedung penyimpanan untuk sebulan ini, Em."
"Tidak bisa sekarang, Bu. Semua data ada di bagian kepegawaian. Bagaimana jika besok? Saya akan memintanya mengirim langsung pada ibu," ucap Emma.
"Baiklah, besok temani aku melihat ke lapangan. Aku belum kesana sama sekali. Pulanglah, sekarang sudah malam," titah Luna pada sekretarisnya itu.
"Bu Luna juga belum pulang. Kita pulang bersama saja, Bu," tolak Emma halus.
"Tidak, kasihan ibumu Em. Pulanglah lebih dulu. Sebentar lagi aku menyusul."
Tarikan napas Emma terdengar berat. Ia seperti tidak rela meninggalkan Luna di kantor sendirian. Emma tidak ingin kejadian dulu berulang. Luna jatuh sakit karena kelelahan.
"Aku janji Em, pulanglah. Terima kasih mengkhawatirkanku." Luna mengulangi ucapannya. Wanita itu mendorong Emma untuk keluar dari ruangannya.
🍓ikuti terus ya.... Terima kasih.