La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 111



"Sir, saya tidak menemukannya dimanapun." Laporan keempat anak buahnya membuat Leo berpikir cepat.


"Berpencarlah seperti yang aku katakan tadi! Bawa kursi roda Nyonya padaku," titah Leo pada anak buahnya.


Leo mencari jalan untuk minggir dari kerumunan itu. Ia menunggu anak buahnya yang akan menyerahkan kursi roda padanya.


"Aaaaaaaaaaaaa! Huuuuuuuuu!"


Suara riuh orang-orang itu terdengar bersamaan dengan ruangan yang tiba-tiba gelap.


Meski siang hari, namun gedung pertemuan yang memang didesain tertutup akan tetap gelap meskipun siang hari jika lampu yang terang benderang itu dimatikan. Jadi kita tidak akan bisa membedakan antara siang dan malam jika kita tidak memiliki penunjuk waktu.


Leo yang sudah berada di pinggir dekat dengan dinding terdiam menunggu anak buahnya datang.


Orang-orang itu saling berbisik dan bertanya. Kira-kira kejutan apa yang akan diberikan panitia dengan aksi gelap-gelapan seperti ini. Sebagian besar dari mereka penasaran.


Lampu sorot tiba-tiba menyala. Seperti sebuah pertunjukan yang spektakuler. Mereka menunggu dengan tidak sabar untuk melihat penampilan apa yang akan dipertunjukkan.


Tidak berapa lama, terdengar suara seseorang menghitung.


Dan tepat pada hitungan ketiga, sesuatu jatuh dari atas panggung yang lumayan tinggi. Kemudian mendadak ada sekelebat bayangan hitam yang bergerak cepat dan menangkapnya.


Semua orang tidak bisa berhenti bersuara dan meneriakkan keterkejutannya.


Bagaimana tidak, karena yang terjatuh rupanya adalah sebuah karung hitam yang terlihat bergerak-gerak.


Entah apa yang ada didalamnya. Namun bayangan hitam yang ternyata manusia itu kini yang menggendongnya.


Semua orang didalam sana kembali riuh dan berbicara sendiri. Tanpa menunggu lama, orang yang berpakaian hitam-hitam itu segera membuka karung itu setelah menurunkannya di atas panggung.


Suara semakin gaduh karena ternyata didalamnya ada Luna yang mulutnya dibekap dengan mata yang juga ditutup.


"Luna!"


"Perbuatan siapa ini?"


"Poor Luna!"


"Ini kejahatan!"


Suara orang-orang dengan beragam komentar memenuhi ruangan itu.


Luna terlihat ketakutan dan menangis meski tidak histeris. Ia tergugu dan memeluk dirinya sendiri.


Orang yang berpakaian serba hitam itu terlihat membuka penutup kain yang digunakan untuk membungkam mulut serta mata Luna. Kemudian seseorang yang misterius itu nampak menyeka air mata Luna, dan setelahnya pergi begitu saja.


"Nyonya!" pekik Leo yang berada di belakang. Ia panik dan berusaha menembus orang-orang yang berdiri laksana pagar betis menyuarakan keingintahuannya itu.


"Semua! Kita harus mencapai panggung lebih cepat!" titah Leo pada anak buahnya.


Kejadian itu begitu cepat. Saat Leo sudah mencapai tengah-tengah kerumunan orang-orang itu, tiba-tiba Leo melihat seorang lelaki yang berlari lebih cepat darinya menembus kerumunan yang sama.


Lelaki itu datang dengan pakaian resmi. Jas yang tidak dikenakannya berada dalam genggamannya. Lalu lelaki itu menggendong Luna setelah sebelumnya memberikan jasnya untuk menutupi tubuh Luna yang menggigil. Kemudian membawanya pergi menjauh dari panggung.


Semua orang menatap laki-laki yang bagaikan pahlawan penyelamat itu.


Tidak bisa dipungkiri, mata mereka menatap takjub. Karena sosoknya persis seperti sosok berpakaian hitam yang sebelumnya menangkap Luna tadi.


"Tuan, Tuan!" panggil Leo pada lelaki itu saat jarak mereka dekat.


"Itu Nyonya kami. Kaki beliau sakit," ucap Leo menambahi.


Leo menunjuk tempat dimana ia melihat anak buahnya yang membawa kursi roda Luna dan lelaki itu mengangguk serta membawa Luna kesana.


"Nyonya Luna maafkan saya," ucap Leo setelah ia berhasil sampai lebih dulu dan seketika mendorong kursi roda mendekati lelaki yang menggendong Luna.


"Terima kasih, Bhara," ucap Luna pada lelaki yang menggendongnya.


"Kita ke rumah sakit," ajak lelaki yang dipanggil Bhara oleh Luna itu.


"Tidak perlu. Aku pulang saja," tolak Luna dan mengangguk pada Leo.


"Tidak Luna! Kamu harus ke rumah sakit. Kita harus segera melakukan visum untuk bukti. Siapa yang melakukan ini!?"


Bhara terlihat marah dan menentang keinginan Luna yang ingin segera pulang. Mata lelaki itu menangkap kekerasan fisik pada lengan Luna tadi.


"Luna ... Apa yang terjadi?" Selly baru datang karena ia yang bertubuh langsing itu kesulitan menembus ratusan teman-temannya yang juga ingin tahu keadaan Luna.


Wanita itu datang bersama Pauline yang sama sekali tidak berkomentar ataupun iba.


Selly langsung memeluk Luna yang kini sudah duduk di kursi rodanya. "Bukankah kau tadi bersama sopirmu itu? Aku kira kau pulang saat tidak melihatmu tadi," ungkap Selly yang ikut menangis melihat kondisi Luna.


"Aku tidak apa-apa. Terima kasih, Sel," ucap Luna membalas perhatian teman SMA nya itu.


"Siapa yang menjadi panitia? Kalian harus bertanggung jawab pada peristiwa ini? Tidak mungkin kalian tidak tahu!" ucap Bhara menatap marah pada semua teman-temannya.


Mereka semua seketika terdiam dan saling melihat. Orang-orang yang sepertinya bekerja dalam kepanitian terlihat ketar-ketir mendengar ucapan Bhara yang juga teman mereka itu.


"Kami tidak tahu apa-apa Bhara."


"Kami hanya panitia saja, kami tidak mengetahui apapun."


Sebagian orang berusaha membela dirinya sendiri.


"Bawa Luna ke rumah sakit sekarang!" titahnya pada Leo. Dan lelaki itu segera mendorong kursi roda Luna keluar ruangan setelah mengangguk dan berterima kasih pada Bhara.


"Lakukan rapat tertutup semua anggota kepanitiaan. Siapa yang akan bertanggung jawab pada kejadian yang menimpa Luna ini. Jika kalian terbukti terlibat, aku yang akan melawan kalian. Jika tidak, kalian harus bisa menjelaskan padaku kenapa ini bisa terjadi! Sel, aku percaya padamu," ucap Bhara yang kemudian keluar menyusul Luna.


Bhara meninggalkan sebuah kartu nama di tangan Selly. Rupanya sahabat lamanya itu selain seorang pengusaha juga berprofesi pengacara.


\=\=\=\=\=≠\=\=\=


"Kakak?"


Luna kaget melihat Aglen berdiri menyambutnya di sebuah lorong kelas, setelah ia keluar dari ruangan kelam itu.


"Le, cari bukti apapun yang masih tertinggal disini. Panggil anak buahmu yang lain untuk mendapatkannya! Waktu kalian tidak banyak. Biar aku yang membawa Luna ke rumah sakit," titah Aglen pada Leo.


"Tuan?" Leo menegakkan tubuhnya untuk mengungkap kebingungannya. Karena rupanya Aglen sudah mengetahui apa yang sudah menimpa adiknya.


"Kita pulang saja, Kak," ajak Luna.


"Tidak bisa! Ini bukan main-main Luna. Sebagian dari sahabatmu itu terlibat. Kita harus mendapatkan buktinya dengan cara apapun. Aku bersumpah akan menghancurkan mereka dan bisnisnya, untuk siapapun yang terlibat!" geram Aglen. Lelaki itu tidak mengindahkan permintaan adiknya.


"Elea?"


"Dia baik-baik saja. Jangan khawatir."


Aglen segera mendorong kursi roda Luna keluar dari gedung menuju tempat parkir. Lelaki itu tahu Luna masih trauma meski Luna masih terlihat baik-baik saja.


Sampai di tempat parkir, Aglen menggendong adiknya kedalam mobilnya.


"Kak boleh aku ikut," pinta seseorang dari belakang Aglen.


"Bhara?"


💚💚💚💚💚💚