La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 55



"Kita mau kemana, Dam?"


Lilyana berjalan pelan dan kesulitan mengikuti Adam. Badannya yang melebar, menyusahkannya untuk berjalan cepat apalagi mengimbangi langkah kaki lebar sang anak. Jelas itu diluar jangkauannya. Hingga akhirnya Lilyana tertinggal di belakang.


Istri Sebastian itu sedang arisan bersama teman-teman sosialitanya, saat Adam menghubungi dan menanyakan keberadaannya. Lalu tiba-tiba, anak lelakinya itu datang menjemput dan memaksanya pulang.


"Mencari anak manja Mama," sahut Adam sekenanya.


Ia tidak memiliki banyak waktu untuk menjelaskan pada wanita yang melahirkannya itu tentang rencananya. Karena ia khawatir Kylie akan terbang kembali ke tempat lain begitu rencana Adam terendus. Adiknya itu tengah dekat dengan seseorang yang memiliki pengaruh besar di negara ini.


"Tapi kemana? Mama masih ada urusan disini. tidak bisa ditinggalkan begitu saja," tolak Lilyana meski wanita paruh baya itu mengekor Adam sejak tadi.


"Apa urusan disini lebih penting daripada urusan kami, anak-anak Mama?"


Adam tiba-tiba berbalik, dan lelaki yang sudah lelah seharian karena padatnya jadwal di kantor itu menatap tajam wajah sang ibu yang mendadak pucat dan kebingungan.


"Jika memang pamer harta dan omong kosong sana-sini lebih berharga dari kami, Mama boleh kembali keatas."


Lelaki itu menekan disetiap ucapannya. Bukan mengancam, karena terus terang Adam sudah lelah dengan berbagai masalah kehidupan di keluarganya.


"Bukan begitu, Sayang. Mama hanya merasa tidak enak dengan mereka, karena Mama meninggalkannya begitu saja. Ini pertemuan rutin yang kami lakukan dan tidak pernah ada yang absen." Lilyana tetap membela dirinya.


Entah apa yang dipikirkan wanita paruh baya itu. Perusahaan Sebastian terancam bangkrut. Kylie membuat masalah di perusahaan Luna hingga berimbas pada Adam. Dan Adam sendiri tengah mengkhawatirkan bisnis pribadinya yang mungkin sebentar lagi akan tumbang. Sedangkan sang ibu masih bisa ikut arisan para sosialita yang tentu saja menggunakan uang dengan nominal yang tidak sedikit.


Bahkan Lilyana mengesampingkan peristiwa kemarin, dimana ia menangis seharian karena Kylie. Wajah dan mata sembab wanita itu bahkan masih terlihat meski tertutup oleh tebalnya riasan yang menempel sempurna.


"Aku tegaskan! Mama boleh kembali jika merasa sayang melewatkannya. Tapi Mama tidak lagi bisa ikut campur akan tindakan yang kulakukan, jika aku sampai bertemu Kylie nanti," ancam Adam.


"Sayang, bukan begitu maksud Mama. Atau, ajaklah Luna saja, sekalian liburan. Istrimu pasti akan senang," bujuk Lilyana.


Padahal sebenarnya ia takut jika mendapati hal yang tak baik tentang Kylie. Ia belum siap.


"Mana mungkin aku mengajaknya, Ma. Elea hilang dan sampai sekarang belum ditemukan. Ditambah lagi apa yang dilakukan Kylie di perusahaan sangat fatal. Tahukah Mama, ia kabur membawa dana perusahaan yang tidak sedikit jumlahnya?"


Adam terlihat beberapa kali memukul kap mobilnya. Sungguh apa yangg dilakukan Kylie membuat bebannya semakin berat. Jika bukan karena gadis itu adalah adiknya, ia pasti akan melaporkannya ke polisi.


"Apa? Kenapa kau tak mengatakannya pada Mama? Lalu bagaimana keadaan Luna? Ia pasti sedih."


Lilyana kaget setengah mati mendengar kabar yang disampaikan anak lelakinya.


"Apa Mama selama ini perduli? Mama hanya menyukai uang bulanan dan fasilitas yang diberikan oleh mereka. Bahkan Mama tidak pernah menanyakan kabar mereka."


Lilyana menelan pahit salivanya. Sebenarnya ia memang tidak begitu perduli dengan Luna ataupun keluarganya.


Karena baginya, apa yang dilakukan Adam dengan menikahi Luna adalah sebuah keberuntungan karena Adam tampan dan dipilih oleh ellard. Terlebih Adam menerima segala kekurangan Luna, karena wanita itu dalam keadaan hamil saat menikah dengan putranya itu.


Kecuali Sebastian yang dari awal menentang pernikahan ini, karena suaminya itu kasihan pada Luna.


"Mama...."


Lilyana tertunduk. Kehabisan kata-kata untuk membela diri.


"Sekarang terserah Mama. Aku tidak akan memaksa. Karena jika Mama memutuskan tidak ikut campur masalah Kylie, maka aku akan menyelesaikannya dengan caraku. Dan jangan pernah bertanya atau memohon untuk anak manja Mama itu lagi!"


Adam membuka pintu mobilnya dengan kasar kemudian masuk dan kembali menutupnya dengan cepat. Sedangkan Lilyana yang mendapat ancaman seperti itu akhirnya goyah dan dengan lesu mengikuti Adam masuk ke dalam mobil.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Luna mengerjap pelan, saat merasakan nyeri di belakang kepalanya. Ia terpejam cukup lama untuk menyadarkan dirinya sendiri. Hingga aroma pesing kotoran tikus menusuk hidungnya.


Mata bulat itu mendadak terbuka lebar. Melirik kekiri dan kekanan, tidak ada seorang pun disana kecuali dirinya. Luna masih mencoba mengingat dan mencari tahu keberadaannya.


Wanita itu limbung, dan akhirnya terjatuh kembali saat ia mencoba untuk duduk. Nyeri di belakang kepala mengganggunya, juga tangan dan kakinya yang terikat.


Luna mengesah, meniup kasar napasnya saat ia menyadari tengah berada dimana. Ya, ia mengingatnya. Saat ini, ia tengah disekap dan dimasukkan kedalam sebuah gudang tua oleh orang yang berjanji mempertemukan dirinya dengan Elea.


Namun sudah dipastikan jika ia dipermainkan, karena semenjak kemarin ia hanya berada disini tanpa kejelasan.


Saat ini bahkan Luna dibiarkan sendiri di tempat ini. Dengan hanya penerangan seadanya yang sangat minim bahkan cenderung gelap yang membuat matanya sakit jika harus lama terbuka.


Sedangkan ia sendiri terbaring di atas lantai yang kotor dengan kain-kain usang yang berserakan. Dan didekatnya banyak sekali kotoran tikus yang masih basah. Pesing dan membuat perut mual.


Susah payah wanita itu mencoba duduk. Dan setelah berhasil ia beringsut mencari tempat yang sedikit bersih.


"Hei... kalian... Apa ada orang diluar!?" teriaknya. Karena dari awal ia bangun, sama sekali tidak ada aktifitas ataupun suara diluar. Hanya suara binatang malam yang sesekali terdengar.


Hening.


"Hei... kalian dimana!? Ugh...." teriak Luna hingga ia terbatuk. Tenggorokannya begitu kering karena tidak ada setetespun cairan yang masuk kesana.


Tetap hening.


Luna pun akhirnya diam. Bukannya menyerah, tapi ia harus menghemat tenaganya karena entah sampai kapan ia berada disana.


Sementara itu diluar. Dua orang yang bertugas menjaga Luna tengah menyeringai dan melirik bangunan tua yang beberapa meter ada di belakangnya.


"Benar kan apa yang kukatakan tadi, lebih baik kita menjauh daripada menjaganya. Karena dia tidak akan bosan teriak- teriak dan menanyakan anaknya. Dia pasti akan diam sendiri saat lelah." Salah satu dari mereka bicara.


"Tidak bisa. Ini belum waktunya."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=


"Untuk Tuan Stefan."


Bibi Jen membawa sebuah amplop coklat yang disodorkan nya pada lelaki yang tengah duduk di ruang tamu sendirian.


"Darimana ini, Bi?" Dahi Stefan berkerut. Alamat rumah ini tidak ada yang tahu. Bagaimana mungkin ada surat dialamatkan untuknya disini.


"Aku yang menyuruhnya." Ellard yang baru saja tiba menjawab.


"Surat itu dialamatkan di perusahaan kita yang baru. Dan aku menyuruh orang di sana untuk mengantarkannya kemari. Siapa pengirimnya?"


"Tidak ada, Paman. Hanya namaku sebagai tertuju." Stefan menggeleng. Berkali-kali ia balik amplop coklat itu, memang tidak ada nama pengirimnya.


Rasa penasaran, membawa lelaki itu membukanya. Dan ketika segel amplop disobek oleh Stefan, setumpuk foto meluncur jatuh ke lantai dari dalam kertas berwarna coklat itu.


"Siapa ini?" Stefan kemudian mengambilnya. Dan hanya sepersekian detik menatap foto itu membuatnya sadar siapa yang berada disana, hingga matanya terbelalak.


"Sial! Berani- beraninya mereka!" Stefan meremas foto-foto itu kemudian tanpa sengaja melihat ada tulisan dibelakang foto yang paling depan.


"Siapa, Stef?"


Kau! Benih dari semua masalah ini. Dan sekarang kau juga yang harus mengakhirinya. Jika wanita ini memang sangat berharga untukmu, kau harus datang sendiri tanpa siapapun. INGAT!! Tanpa mengajak siapapun. Atau dia yang akan menerima akibatnya!!


"Stefan!!" ulang Ellard yang sedang duduk tidak jauh dari lelaki itu.


"Heh... Ini Paman." Stefan meremas kembali satu foto yang bertulis ancaman padanya itu kemudian memasukkannya dalam saku celananya. Sedangkan lembaran yang lain ia tunjukkan pada Ellard.


"Brengsek! Mereka memperlakukan anakku seperti ini!" umpat Ellard begitu mengetahui jika yang ada didalam foto itu adalah anak perempuannya.


Ellard menggeser jemarinya, memindahkan setiap lembar foto kebelakang yang lainnya. Hingga ia menemukan sebuah tulisan dengan spidol hitam pada salah satu foto Luna.


Temukan ponsel asing di mobil Luna, itu satu-satunya yang akan menghubungkanmu denganku.


"Apa ini, Stef?"


"Sepertinya mereka lebih dulu berhubungan dengan Luna sebelum menyekapnya, Paman. Dan mereka hanya menginginkan aku saja sebagai penyelamat Luna."


Ellard menoleh menatap heran pada keponakannya. "Kenapa harus kamu?"


Stefan mengerjap bingung. Dengan terpaksa ia mengeluarkan selembar kertas foto yang sudah tak berbentuk dari dalam sakunya. Dan menyodorkannya pada lelaki paruh baya itu.


Ellard semakin bingung. "Kenapa Luna dan Elea yang menjadi sasaran jika ini semua berhubungan denganmu, Stef?"


"Mungkin ... Mungkin karena kalianlah keluarga. yang aku miliki disini." Lelaki tampan itu gugup, kemudian menelan salivanya yang tertahan.


Stefan tidak bisa mengungkapkan segalanya sekarang. Karena itu akan menimbulkan masalah baru dengan sang paman dan akan memperlama dirinya menyelamatkan Luna.


"Ikuti saja tulisan itu, Paman. Biarkan aku yang pergi. Lagipula Paman sudah menyerahkan keselamatan Luna padaku. Dan aku telah lalai. Biarkan aku bertanggung jawab kali ini."


"Apa kau gila? Kita tidak pernah bergerak dalam keadaan buta Stefan! Kita hanya tahu mereka geng Lu Xi. Siapa yang membantu atau bersama mereka kita tidak tahu. Kita butuh waktu untuk merencanakan dan mencari tahu tentang mereka."


Lelaki paruh baya itu tentu murka. Melepaskan Stefan sendiri sama seperti tengah mengantarkan nyawa. Meski sehebat apapun Stefan namun kekuatan musuh yang sama sekali tidak mereka ketahui membuatnya khawatir.


"Aku akan menyiapkan diriku Paman, tenanglah." Stefan menepuk pelan lengan Ellard yang berdiri di sebelahnya.


"Tidak! Kita akan hadapi bersama Stefan. Nanti malam kita mengatur strategi. Jangan melakukan apapun tanpa sepengetahuanku!" ancam Ellard keras.


"Baiklah."


Stefan menurut meski dadanya bergemuruh dan amarahnya meluap. Ia sudah hampir meledak tadi melihat orang-orang itu memperlakukan Luna dengan buruk.


Wanita itu hanya tidur beralaskan kain-kain kotor di lantai dengan tangan dan kaki terikat. Belum lagi pemandangan dibelakangnya yang lebih memilukan, kardus-karsus besar yang rusak serta seekor tikus yang ikut terambil gambarnya.


"Aku keluar sebentar, Paman," pamit Stefan tiba-tiba.


"Mau kemana kau? Jangan gegabah!?"


Ellard mencekal pergelangan tangan Stefan dengan erat.


"Aku akan mengambil beberapa barang penting di apartemenku. Aku janji hanya sebentar, Paman."


Akhirnya Ellard melepaskannya. "Pasang GPS!"


Stefan mengangguk sebelum menghilang dibalik dinding menuju mobilnya.


"Kau tahu yang harus kau lakukan!" titahnya begitu Alex mendekat.


Bodyguard Ellard itu mengangguk kemudian pamit.


💓 jangan lupa like, komen dan votenya 👍