
"Letakkan disitu saja. Eve! Minumlah!"
"Apa, Sir?"
Evelyn kesusahan menelan salivanya. Apa ia tidak salah dengar? Aglen menyuruhnya meminum jamu itu sebagai permintaan maaf.
Ini bukan minta maaf, ini sebuah aksi balas dendam.
Aglen mengulang perintahnya hanya dengan mengedikkan dagunya.
"Tidak adakah cara yang lain, Sir?" Evelyn mendadak pucat. Ia belum pernah sama sekali minum yang namanya jamu, minuman tradisional dari Indonesia itu.
Namun mencium baunya saja saat masih di kemasannya, membuat gadis itu bisa membayangkan betapa pahitnya serbuk itu jika sampai di mulutnya.
Bodohnya, Evelyn tidak menyadari saat mencampurnya dengan kopi yang tersisa sedikit di toplesnya.
"Bukankah ini impas? Aku meminumnya dan kau juga harus merasakannya!" Aglen berdiri kemudian berjalan mendekati sekretaris baru Luna itu.
Tepat di depan Evelyn Aglen berhenti. "Benarkan?" tanya Aglen yang berjarak hanya beberapa inchi dari wajah cantik yang sekarang sudah sepucat kapas itu.
Evelyn terintimidasi. Dengan dada bergemuruh hebat, mau tidak mau gadis itu mengambil gelas berisi minuman yang harus diminumnya.
Aglen sama sekali tidak mengalihkan tatapan matanya. Membuat Evelyn salah tingkah karena merasa selalu diawasi pergerakannya. Gadis itu dibuat tidak berkutik.
"Emm ... Sedikit kan, Sir?" Belum juga menempelkan gelas ke bibir ranumnya, gadis itu kembali bertanya dan membuat Aglen semakin kesal.
"Habiskan!"
"Emm?" Salivanya tertahan ditenggorokan. "Hab-biskan?" jawab Evelyn lemas dengan tatapan mengiba pada sang Bos, meskipun ia tidak sanggup menolak.
Dan tatapan Aglen yang tidak berubah membuat gadis itu mengerti. Jika apa yang dikatakan Aglen saat ini, sudah tidak bisa ditawar lagi.
Gadis itu segera mendekatkan bibirnya ke tepi gelas. Baru juga mencicipinya sedikit, Evelyn sudah meringis.
"Huek ... Hughhh." Evelyn kabur ke toilet yang ada di ruangan Aglen. Jangankan perut, mulutnya saja sudah menolaknya.
"Hari ini, kau bebas menggunakan toiletku, Eve!" teriak Aglen dari luar.
Hari ini ketidakberuntungan berpihak pada Evelyn. Meskipun gadis itu telah memuntahkan cairan pahit yang sudah masuk ke mulutnya, rupanya ada sedikit yang sudah masuk kedalam perutnya. Hingga setelah muntah, berganti perutnya yang protes.
Tiba-tiba si perut melilit dan meminta Evelyn tetap berada di dalam sana untuk berapa lama.
Balas dendam yang hebat!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sore itu juga Luna kembali ke rumah sang paman, dengan ditemani Christina dibelakangnya. Mereka hanya berdua saja. William sibuk di kantor, sedangkan Elea tidak diperbolehkan ke rumah sakit oleh Christina karena alasan kesehatan.
Padahal wanita paruh baya itu hanya menjaga kemungkinan sang cucu keceplosan tentang Stefan di depan Luna
Meski begitu, Christina sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menceritakan yang sebenarnya. Sepotong kisah yang hilang itu, ketika keadaan Luna membaik.
"Kau sudah menghubungi papamu, Sayang?" tanya Christina ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang.
"Sudah, Bi." Luna nampak menyandarkan tubuhnya di jok tengah. Ia menjawab sambil terpejam dan memijat pelan pelipisnya.
"Pusing lagi?" Christina ikut memijat bahu Luna karena khawatir.
"Tidak apa-apa, Bi. Hanya pusing sedikit. Seperti ada memori yang melintas di kepalaku. Namun aku tidak bisa mengingatnya dengan utuh. Semakin keras aku mencoba, kepalaku semakin pusing," jawab Luna yang masih terpejam.
"Jangan dipaksa. Bibi akan membantumu nanti," ucap Christina menenangkan sang keponakan.
"Aku sudah menghubungi Papa tadi. Ia memarahiku karena tidak memberitahunya jika aku kecelakaan. Bibi jangan bercerita apapun tentang aku yang sempat koma. Nanti Papa bertambah murka padaku." Wanita itu membuka mata dan menoleh, menatap sang bibi yang ia paksa berjanji.
"Terlalu banyak yang kau tanggung sendiri Luna. Kami keluargamu, kau bisa bercerita apapun pada kami."
Christina meyakinkan sang keponakan jika semua anggota keluarga Efrain saling menyayangi. Dan tentunya saling membantu.
Tatapan Luna mengiba, namun sang bibi tidak terlalu menanggapinya.
"Hanya ... Ada beberapa. Tapi entahlah bagimu itu penting atau tidak. Nanti saja, Sayang. Sekarang istirahatlah, begitu sampai di rumah Bibi bangunkan."
Christina menenangkan keingintahuan Luna yang menggebu. Bagaimanapun inginnya wanita paruh baya itu menceritakan segalanya, ia harus tetap menahannya. Apalagi jika Luna mengeluh pusing saat mengingat. Hal itu lebih membuatnya khawatir daripada hal lainnya.
Mendengar ucapan sang bibi, Luna kembali mengatur posisinya. Ia kembali memejamkan matanya dan akhirnya tertidur.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tarr.
Sebastian yang sedang menikmati kopi di sebuah rumah khusus orang-orang lanjut usia yang tidak memiliki keluarga, tiba-tiba menjatuhkan cangkirnya.
Bibirnya bergetar dengan jantung yang seakan berhenti mendadak.
Dunianya seakan gelap kembali untuk kedua kalinya setelah kematian sang istri, Lilyana.
Berita pagi ini sungguh mengejutkan.
"SEORANG GADIS DITEMUKAN DI TEPI PELABUHAN DALAM KEADAAN TIDAK BERNYAWA."
Begitu headline tulisan yang ada di ujung layar televisi di depannya.
Berita kemudian yang meluncur dari bibir sang pembaca berita adalah, ditemukannya seorang gadis tanpa identitas yang sudah tidak bernyawa. Tepatnya di bibir pantai dekat dengan pelabuhan dalam keadaan telanjang dan tubuh penuh luka.
Diduga ia adalah korban perdagangan gelap. Dan ciri-ciri yang disebutkan sama persis seperti anak gadisnya, Kylie.
Entah mengapa perasaan Sebastian begitu cepat memburuk hanya dengan melihatnya. Padahal identitas gadis itu belum ditemukan namun hatinya sudah meluruh dan meyakini itu adalah Kylie.
"Sir, anda baik-baik saja?"
Seorang perawat wanita datang terburu-buru begitu mendengar suara cangkir yang jatuh.
Namun begitu ia melihat Sebastian baik-baik saja, ia bernapas lega.
Tanpa bertanya lebih jauh, ia hanya membimbing Sebastian untuk duduk di kursinya. Kemudian ia membersihkan bekas pecahan cangkir yang masih berserakan dibawah sana.
"Bisakah kau membantuku?" tanya Sebastian setelah perawat itu hampir selesai membersihkan lantai.
"Ada yang ingin Anda lakukan, Sir?" Perawat wanita itu kemudian duduk di sebelah Sebastian dan menggenggam jemari lelaki tua itu untuk menenangkan.
Perawat itu selalu melakukannya pada orang-orang yang tinggal disini. Karena selain bisa menenangkan, hal itu membuat mereka merasa diperhatikan dan disayangi. Terlepas ada atau tidaknya keluarga yang mereka miliki. Yang mungkin saja tidak pernah menengok mereka di tempat ini.
"Apa ada yang menghubungiku atau mungkin mencariku?" tanya Sebastian memastikan.
Beberapa hari yang lalu, ia mengirimkan alamat tempat tinggalnya yang sekarang ini pada putra satu-satunya yang ia miliki. Ia berharap jika Kylie datang menjenguk Adam, alamat ini akan diberikan putranya itu pada adiknya.
"Belum ada, Sir. Mungkin mereka masih sibuk. Ditunggu saja ya."
Perawat itu menepuk singkat punggung tangan Sebastian, karena hendak pergi melakukan pekerjaan yang lain.
Namun lelaki tua itu menahannya.
"Apa kau sudah dengar berita itu?" tunjuknya pada layar televisi yang sengaja ia setel mode berhenti.
"Belum, Sir. Sepertinya berita itu baru keluar hari ini." Perawat wanita itu menatap dan membaca headline beritanya. "Berita sekarang mengerikan. Lebih baik Anda melihat yang lainnya saja."
"Aku ingin kau mencari tahu identitas korbannya. Kau mau membantuku, bukan? Aku mau cepat, bukan menunggu kerja mereka," pinta Sebastian dengan tatapan memohon.
"Berarti kita harus menyewa detektif, Sir. Itu bukan ranah saya. Dan saya tidak mengetahui apapun tentang selidik- menyelidiki. Lagipula saya full day di sini," ucap Perawat itu mengungkap alasannya.
"Baiklah carikan untukku!"
🥰