La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 42



"Mama!" pekik Elea begitu turun dari mobil yang dikemudikan Alex.


Mereka tiba di rumah Ellard hanya selisih beberapa menit saja dari Luna.


"Sayang...." Luna berjalan cepat menghampiri putri kecilnya itu. Wanita itu memeluk erat dan menciumi Elea.


"Mama baru pulang?" Luna mengangguk. "Mama bekerja terlalu keras, wajah Mama pucat. Apa Mama tidak beristirahat?" tanya Elea khawatir.


"Mama istirahat, Sayang." Mata luna mengembun mendengar kekhawatiran dan perhatian dari putri kecilnya itu. "Mama hanya belum mandi, jadi terlihat kusut." Luna memaksa diri tersenyum di depan Elea.


"Hemm ... Benarkah?" Luna kembali mengangguk. "Kalau begitu, ayo sekarang Mama mandi. Setelah itu El akan pijat Mama supaya lelah Mama hilang," cicit Elea yang membuat Luna semakin berkaca.


"Sayang, Daddy juga kangen dengan El." Adam yang sedari tadi diam memperhatikan, akhirnya ikut mendekat.


Namun Elea terlanjur asing. Gadis kecil itu canggung untuk memeluk sang ayah yang akhir- akhir ini tidak ia jumpai sosoknya.


Apalagi kesibukan Adam yang luar biasa. Bahkan di hari Minggu tanpa penjelasan apapun pada Elea, membuat gadis kecil itu kecewa.


Selama ini, setiap kali akhir pekan dan liburan hanya ada Luna. Dan sang mama lah yang selalu menjelaskan ini itu jika sang ayah sedang sibuk dan tidak bisa bermain dengannya.


"Ayo Sayang, peluk Daddy. Apa El tidak kangen dengan Daddy?" ucap Adam yang sudah membuka kedua tangannya menyambut Elea.


Namun Elea bergeming. Luna yang menyadarinya menepuk kecil bahu Elea. "Sayang, Daddy ingin memelukmu."


Elea berjalan mendekati Adam. Kemudian memeluk lelaki yang ia panggil Daddy itu. Hatinya sedikit mencair melihat sang ayah yang mengembangkan senyumnya dan siap menyambut pelukannya itu.


"Ayo kita masuk," ajak Luna pada keduanya.


Adam menggendong putri kecilnya dan menggandeng tangan Luna memasuki rumah Ellard.


"Dimana papa, Bi" tanya Luna pada bibi Ofelia yang sedang menyiapkan makan siang.


"Ada di ruang kerjanya, Nyonya. Bersama Tuan Aglen."


Luna yang sudah setengah jalan langsung berhenti. "Kakak?"


Bibi Ofelia mengangguk. "Beliau baru tiba pagi tadi nyonya," tambah wanita paruh baya itu.


Luna mengurungkan niatnya untuk menemui Ellard. Jika papanya itu berbicara empat mata dengan sang kakak, sudah pasti bukan hal biasa yang mereka bahas. Dan Luna tidak ingin mengganggu.


"Kita tunggu disini saja. Mungkin Kakak sedang melaporkan perkembangan perusahaan yang ada di Amerika pada Papa," jelasnya pada Adam. Lelaki itu hanya mengangguk mengiyakan.


"El ganti baju dahulu dengan Mama ya," ajak Luna pada gadis kecilnya itu.


Keduanya memasuki kamar, meninggalkan Adam seorang diri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Stefan sudah sampai di basement apartemnenya. Lelaki itu berkali-kali nampak memijat pelipisnya.


Beberapa hari ini, demi menolong Luna, Stefan sampai merelakan jam istirahatnya. Karena selain membantu Ellard di perusahaan barunya, setiap hari ia juga menerima laporan dari perusahaannya di Bergamo Italia. Dan tentu banyak yang harus ia selesaikan meski menggunakan media online.


Saat hendak turun dari mobil, mata Stefan menangkap sesuatu.


Tas luna.


Benda itu tertinggal di mobilnya. Sefan memang menyimpannya saat Luna ditahan di kantor polisi.


Lelaki itu urung untuk turun dan malah meletakkan kembali bokongnya. Tangannya meraih tas warna silver yang ukurannya tidak seberapa itu dan beberapa kali memutarnya.


Lama memperhatikan membuat Stefan penasaran. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka resletingnya. Di dalam sana ada ponsel dan sebuah dompet hitam milik Luna.


Bibirnya tertarik keatas melihat sesuatu yang terselip disana. Dua buah foto yang berjajar, nampak seperti foto lama dan baru namun sama-sama foto seorang bayi.


Ya, itu adalah foto Luna dan Elea. Mereka sangat mirip waktu kecil. Cantik dan menggemaskan. Saat Stefan mengeluarkannya, tanpa sengaja ia membaca tulisan di belakangnya.


Disana tertulis tanggal lahir keduanya. Luna dan Elea. Dua perempuan terpenting dalam hidupnya. Dimana keduanya lahir di bulan yang sama.


"Aku mencintai kalian. Anakku dan ibu dari anakku." Stefan mengembalikan foto itu pada tempatnya setelah mengecup singkat foto keduanya. Kemudian lelaki itu mengambil ponselnya.


"And, lakukan sesuai rencana awal kita," ucapnya pada seseorang di seberang yang dihubunginya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kalian sudah datang? Kenapa tidak memanggil Papa tadi?" Ellard keluar bersama Aglen.


"Baru saja, Pa. Luna masih membantu El mengganti pakaiannya," jawab Adam. Lelaki ini sama sekali tidak tahu jika kedua orang di depannya itu tengah bersandiwara seakan tidak tahu apapun tentangnya.


Setelah itu Ellard pergi menyusul ke kamar Elea.


"Iya, Ag. Ada sedikit masalah di Turki." Adam menjawab sambil menyesap kopi yang ia minta pada bibi Ofelia tadi.


"Sudah selesai?"


"Hem...." Adam menghentikan gerkannya. Namun bibirnya masih menempel pada bibir cangkir. Menantu keluarga Efrain ini sedang memikirkan jawaban yang tepat dan tidak menimbulkan kecurigaan.


"Hanya tinggal sedikit. Aku memaksa pulang begitu tahu kabar tentang Luna. Setelah ini aku akan kembali mengurusnya." Adam tersenyum kaku.


"Masalh apa? Papa tahu?"


Gluk!


Adam tercekat. Bagaimana ia menjelaskan pada kakak iparnya ini. Lelaki di depannya ini tidak pernah berhenti bertanya jika belum puas.


"Hanya masalah kecil. Aku ingin mandiri jadi kucoba mengatasinya sendiri. Aku tidak mungkin terus tergantung pada Luna dan Papa bukan?" Senyum baik-baik saja terulas dibibir Adam. Kemudian lelaki itu menutupunya dengan kembali mengangkat cangkir dan menempelkan pada bibirnya.


"Oh ... Aku hanya ingin mengingatkan satu hal. Luangkan waktumu untuk Elea. Dia nampak kecewa dengan kesibukanmu yang tanpa jeda itu. Bahkan di hari libur kau tidak pernah bisa menemaninya bermain." Aglen mengalihkan pembicaraan, menghindari kecurigaan dari suami adiknya itu.


"Iya, Ag. Maafkan aku. Aku terlalu sibuk mengembangkan pabrik hingga melupakannya. Elea memang tidak pernah bermain denganku." Adam nampak menyesal dengan dirinya sendiri.


Ia hanya memiliki waktu di pagi hari untuk menyapa gadis kecilnya itu. Pulang kantor, terkadang makan malam bersama dirumah namun lebih sering ia pulang malam dan Elea sudah tidur.


"Baiklah, sampaikan pada Papa aku tidak ikut makan siang. Ada urusan yang harus kulakukan sebelum kembali ke Amerika," pamit Aglen.


"Iya. Akan kusampaikan pada mereka."


Adam menatap lega kepergian Aglen. Hampir saja ia mati kutu akan pertanyaan kakak iparnya itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"And, kau sudah tahu siapa orangnya?" tanya Stefan yang kembali menghubungi pengacara Luna sekaligus teman lamanya itu.


"Belum Stef, anak buahku masih terus mengawasi nona kaya itu. Namun ia hanya shoping kesana kemari dan menemui teman-teman sosialitanya. Aku yakin kita tidak ada hubungan dengan teman-teman Nona itu."


"Baiklah, aku ingin istirahat. Aku lelah sekali. Tapi jika ada kabar terbaru, tetap beritahu aku," pesan Stefan.


"Baiklah, Stef."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kemana orang ini!" Aglen berkali-kali menekan bel di apartemen Stefan. Namun sepi.


Gegas Aglen mengeluarkan ponselnya. Menghubungi nomor sepupunya yang sudah janjian bertemu itu.


"Hemm...."


"Bangun Stefan! Siang bolong begini kamu tidur?" teriak Aglen yang geram karena ia sudah berdiri hampir setengah jam diluar.


"Sebentar...."


"Apanya yang sebentar?" teriak Aglen mendengar jawaban Stefan yang tidak nyambung sama sekali.


Pintu apartemen terbuka dan nampaklah wajah Stefan yang awut-awutan.


"Ya ampun Stefan! Menyedihkan sekali wajahmu!"


"Sudah jangan banyak bicara. Masuk atau kututup kembali dan kau bisa pulang," balas Stefan yang berusaha menahan matanya agar tetap terbuka.


"Ehh...." Aglen menahan pintu apartemen Stefan yang hampir menutup. "Dasar gila! Jelas aku ingin masuk," umpat Aglen yang tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatai sepupunya itu.


"Aku mendengarnya!"


"Biar saja! Apa kau lupa punya janji denganku?" tanya Aglen begitu mereka sudah sampai di ruang tamu.


"Ahh... maaf Ag. Aku benar-benar lupa. Aku lelah sekali beberapa hari ini tidak tidur," ucap Stefan yang menyandarkan punggungnya di sofa.


"Karena Luna?" tebak Aglen.


"Hemm...." Stefan menyilangkan kedua tangannya diatas dada.


"Kau serius, membantunya?" Aglen masih tidak yakin dengan perubahan Stefan. Karena ia tahu sepupunya itu seperti dirinya yang belum bisa berubah. Dan Aglen hanya menyayangia Elea.


"Tentu saja, Ag. Aku mencintainya_"


"Apa?"


💗 Terima kasih semua...love u