La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 66



"El, besok kita bahas lagi soal beladiri. Sekarang El tidur lagi, ya. Ini masih sangat pagi, Sayang," ucap Luna pada putri kecilnya itu. Sedari tadi ia melirik jam dinding di kamar Elea yang masih menunjuk di angka 4 pagi.


Elea mengangguk. Gadis kecil itu kembali memeluk Luna dan segera memejamkan matanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Pagi yang cerah. namun sepertinya tidak untuk keluarga Efrain. Masing- masing dari anggota keluarga itu sedang bersiap untuk pulang ke Amerika.


Menjelang pagi tadi, Aglen menghubungi. Semua persiapan sudah matang, paling lambat malam ini mereka bisa pulang menggunakan jet pribadi yang juga akan membawa jenazah Stefan.


Luna pun sudah bersiap. Ia berbagi koper dengan Elea. Karena ia tidak bisa berlama-lama disana.


Selepas membersihkan diri, Luna turun ke lantai bawah. Ia sendiri karena Elea masih tidur dan Luna enggan membangunkannya. Hari ini tidak ada jadwal belajar untuk gadis kecil itu, alias libur.


Luna berpapasan dengan Aglen. Mereka berdua sama-sama menuju meja makan. Tatapan aneh Aglen pagi ini membuat Luna tidak nyaman.


"Ayo kita sarapan dulu," ajak Ellard yang rupanya sudah ada disana menunggu kedua anaknya itu.


Mereka duduk terpisah. Aglen ada disebelah kiri Ellard, sedangkan Luna di sebelah kanan lelaki paruh baya itu. Dan mereka makan dalam keheningan, hanya suara alat makan yang berdenting teratur.


"Hem ... Bagaimana persiapan kita Ag?" Ellard membuka pembicaraan.


"Seratus persen, Pa. Aku sudah meminta temanku untuk mengawasi perusahaan Papa. Keduanya," jawab Aglen tenang. Lelaki itu masih nampak meneruskan sarapan paginya.


"Perusahaan Luna juga, Ag. Siapa yang akan menjaganya saat kita semua berada di Amerika?" Ellard mengingatkan anak lelakinya itu.


"Masih ada anak buah Stefan disana, Pa. Tapi sebenarnya ... Luna tidak bisa ikut pulang."


Luna tercekat. Tenggorokannya mendadak kering hingga ia menggelontorkan minumannya sampai tersisa separuhnya.


Berikutnya, kedua tangan yang mencengkeram gelas itu kian rapat. Wanita itu hanya diam tanpa berani bertanya.


Semalaman, ia sudah gelisah menebak-nebak. Mungkinkah alasannya adalah hal sama seperti yang ada dalam pikirannya?


"Kenapa tidak bisa!? Kita semua harus pulang dan mengantarkan Stefan ke peristirahatannya yang terakhir. Karena hanya dengan begitu bentuk terima kasih kita untuknya."


Ellard murka. Mengapa Aglen baru mengatakannya saat hari keberangkatan mereka.


"Apa Papa lupa? Status Luna masih tersangka. Bahkan aku sudah bicara dengan pengacaranya. Dan dengan jaminan sekalipun, dia tidak akan diizinkan keluar dari negara ini."


Apa yang Aglen sampaikan, benar-benar sebuah pukulan berat untuk Ellard, apalagi Luna. Ellard sampai lupa jika putrinya terlibat masalah dengan putri Ronald Peterson itu.


Namun Luna sudah mempersiapkan diri. Meski kecewa, wanita itu masih bisa menenangkan dirinya.


"Aku ... Disini saja tidak apa-apa. Yang terpenting jenazah Stefan harus segera dimakamkan. Jika semua masalah ini sudah selesai, aku akan kesana sendiri, Pa," janji Luna pada Ellard.


Wanita itu menatap sang ayah, tatapan lemah namun berusaha kuat.


"Elea?"


"Biarkan El ikut. Meski ia belum paham benar, ia pasti akan mengerti nantinya. Aku tidak bisa terus berbohong padanya. Dengan mengatakan jika Stefan...." Luna menunduk. Ia tidak sanggup meneruakannya.


Tangan wanita itu dengan cepat menghapus bulir bening yang mendadak memenuhi sudut matanya.


Ellard limbung. Ia juga sangat menyayangi Stefan layaknya anaknya sendiri. Apalagi sejak kecil, Stefan memang lebih dekat dengan Ellard daripada sang ayah.


Lelaki paruh baya itu sedari tadi memperhatikan Luna. Ia bangkit dan mendekatkan diri, kemudian mengulurkan tangannya mengusap punggung rapuh yang bergetar karena menahan tangis itu.


Bahkan hari ini, Luna belum sama sekali membahas tentang sepupunya itu dengan sang ayah. Namun ia sudah bisa menebaknya dari ucapan sang kakak, pengacaranya juga sang ayah. Bahwa mereka tidak ingin menyampaikan kabar duka ini. Semua seperti menghindar untuk membahasnya.


"Tinggalkan beberapa anak buahmu dengan Luna, Ag. Kita tidak bisa mempercayai siapapun selain orang kita," titah Ellard yang kemudian beranjak meninggalkan meja makan, dengan diikuti Aglen dibelakangnya.


Ellard bukan tidak mengerti perasaan Luna. Namun lelaki itu memberi ruang pada anak perempuannya itu untuk menenangkan diri.


"Kamu curang, Stefan. Kamu memaksaku memaafkanmu." Luna menempelkan dahinya ke meja dan tak lagi menahan isakannya.


Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Bahkan Stefan membantunya dalam hal apapun selama ini. Dan tanpa sadar wanita itu nyaman dengannya, meski beberapa kali mereka sering adu mulut karena kebencian Luna akan masa lalu mereka.


Stefan telah menyelamatkan Elea, dan juga hidupnya. Namun lelaki itu malah menjadi korban dari kekacauan ini.


Kejadian masa lalu sama sekali tidak bisa dilupakan oleh Luna. Rasa sakit dan benci pada lelaki itu bahkan masih ada hingga kini. Tapi pada akhirnya ia malah berhutang nyawa pada Stefan dan tidak tahu bagaimana cara membalasnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Apa ini!?" teriak seorang lelaki berbadan tambun yang tengah berada di kantornya.


Lelaki itu melemparkan sebuah berkas pada anak gadisnya yang masuk ke ruangan beberapa menit yang lalu.


"Papa! Apa_"


Bibirnya membeku melihat angka-angka yang tercetak jelas disana. Dan beberapa catatan yangbmenjelaskan kemana angka-angka itu bermuara.


Meski sekilas dan jarak pandangnya dengan tulisan itu cukup jauh, namun ia akhirnya mengerti.


"Apa ini harus kututupi lagi?" tanya Ronald Peterson dengan wajah garangnya.


Lelaki pemilik perusahaan perhiasan yang terkenal di Kanada itu tersenyum sinis pada anak gadisnya.


Entah ini yang keberapa kali. Bahkan Ronald sampai bosan dengan semua ini.


"Pa...."


"Apa!? Kau putri seorang pengusaha sukses dan terhormat Ann! Tapi kau bodoh! Papa memberimu pendidikan tinggi dan akses pribadi yang istimewa yang tidak bisa didapatkan oleh anak-anak pengusaha lainnya. Namun kau mengecewakan. Kenapa kau tidak mencontoh adikmu?"


"Dia bukan saudaraku!" teriak Angeline marah. Dia tidak pernah mengakui jika anak dari istri kedua sang ayah adalah adiknya. Karena bagi Angeline, mereka berdua adalah perebut kebahagiaannya.


"Diam! Dengan atau tanpa pengakuanmu mereka tetap seorang Peterson. Dan keputusan Papa mutlak. Jika kau tidak layak sebagi pewaris utama keluarga kita, maka dia yang akan menggantikannya."


Angeline tersenyum getir menanggapinya. Sesuatu yang ia takutkan akhirnya terlontar dari bibir sang ayah.


Ronald adalah orang yang lurus pada awalnya. Ia begitu setia pada sang istri dan menyayangi keluarganya. Namun kehidupan sosial yang dijalani sang istri, serta ketidakpedulian sang istri padanya, membuat orang ketiga memasuki kehidupan rumah tangga mereka.


"Tidak, Pa! Akulah pewarisnya. Aku anak pertama dan dari istri sah Papa. Maka akulah yang berhak," teriak Angeline membela haknya.


Gadis itu merasa, apa yang menjadi haknya kian terancam.


Padahal selama ini, ia sengaja membuat keributan untuk mencari perhatian sang ayah. Namun ternyata sama saja. Tidak ada hasil berarti yang didapatnya. Karena sang ayah lebih perduli dengan nama baiknya sendiri.


"Papa yang menentukan berhak atau tidaknya kalian. Dan jangan sebut lagi mereka orang lain. Karena mereka juga sah di mata hukum,sama sepertimu. Lihatlah! Semua kekacauan yang kau buat ini, telah membuktikan siapa dirimu di depan Papa."


Lagi dan lagi. Pembelaan demi pembelaan keluar dari bibir Ronald dengan lancarnya. Untuk dua orang yang Angeline anggap sebagai perusak hidupnya dan sang mama.


Angeline menggeram pelan. Anak dari selingkuhan sang ayah yang sudah dinikahi tanpa izin sang mama itu selalu dibandingkan dengan dirinya.


"Papa sudah tidak adil! Papa memanjakan kami dengan harta, tapi hati Papa hanya Papa berikan pada mereka!"


"Apa bedanya Papa denganmu? Papa pulang kalian tidak ada yang di rumah. Papa sakit kalian pun acuh. Hanya mereka yang perduli. Hanya mereka yang dengan setia merawat Papa hingga sembuh. Kau bahkan tidak pernah menanyakan keadaan Papa. Apa kau masih ingat jika kau punya Papa?" keluh Ronald pada anak gadisnya.


Angeline terdiam. Ucapan sang ayah memang benar adanya. Ia terlalu sibuk memikirkan kebahagiaannya dan menuntut haknya mendapat kasih sayang sang ayah. Tapi ia melupakan jika ada take and give dalam setiap hubungan.


Tidak bisa dalam setiap hubungan apapun kita hanya menuntut disayangi, diperhatikan, dan dilayani. Tanpa kita berinisiatif melakukannya lebih dulu.


Hukum sebab-akibat berlaku dalam hal apapun. Dan Angeline tidak pernah perduli dengan itu.


Gadis itu menunduk dalam. Mengetahui kesalahannya sangat fatal baik untuk dirinya, keluarganya juga nama baik yang selama ini harus ia jaga.


"Kemarin-kemarin, kau hanya membuat masalah dengan cecunguk-cecunguk yang tidak ada harganya bagi Papa. Hanya tinggal menyuruh orang atau memberikan sejumlah uang sudah bisa membungkam mulut mereka." Ronald membelakangi anak gadisnya itu.


Dia tidak ingin lepas kendali dan malah menyakiti putrinya itu. Meskipun Angeline sudah mempermalukannya berkali-kali.


Dengan memangku tangan dibelakang, wajah Ronald nampak penuh dengan beban yang menggantung.


"Apa kau tidak pernah tahu siapa keluarga Efrain?"


Menurut Angeline, pertanyaan sang ayah sangat lucu. Bagaimana mungkin ia tidak tahu, karena bahkan sang ayah sempat menjodohkannya dengan Stefan putra William Efrain itu.


"Apa Papa bercanda denganku?" Angeline bertanya balik. Gadis itu merasa tidak ada yang salah dengan dirinya soal keluarga Efr;ain.


Ronald menghela napas berat. Lelaki itu menyayangkan perbuatan sang anak yang sama sekali tidak mengenal siapa lawan yang ia sentil itu.


"Mungkin. Buka ponselmu dan cari berita tentang Efrain. Papamu ini memang sesekali bermain di dunia hitam Ann, tapi Papa menghormati orang yang menghargai Papa. Siapapun itu! Apalagi orang-orang besar sekelas efrain," ucap Ronald yang masih enggan bertatap muka dengan sang anak.


Angeline mengeluarkan ponselnya. Meski malas, tetapi gadis itu menurut. Karena ia tidak ingin sang ayah lebih murka lagi padanya.


Jemari lentik terawat itu dengan cepat menggeser beberapa berita yang muncul tentang keluarga yang akan membuatnya menjadi menantu itu.


Mata Angeline membola. Rupanya sepak terjang Thomas dan anak-anaknya meninggalkan jejak digital yang panjang. Potret kepahlawanan serta beberapa kengerian jika berani membuat masalah dengan mereka. Apalagi yang gadis itu tahu merupakan ayah dari wanita yang ia usik hidupnya.


"I-ini... Apa semua ini benar, Pa?"


💜💜💜💜yuk ahh.... semangat-semangat