La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 139



"Menangislah jika itu membuatmu tenang. Aku akan ada disini menjagamu," ucap Bhara.


Bhara tidak tahu mengapa Luna menangis sepilu itu. Lelaki itu menebak jika sesuatu yang terjadi saat Luna berada di alam bawah sadarnya lah penyebabnya.


"Apa kau ingin minum? Perutmu belum terisi apapun dari tadi. Atau kau ingin makan sesuatu?"


Luna terlihat pucat. Tangisnya sudah mereda namun wanita itu diam tanpa mengucap sepatah katapun. Luna hanya menggeleng menolak semua tawaran Bhara.


"Apa aku perlu menghubungi keluargamu? Ayahmu mungkin atau...."


"Tidak, Bhar. Tidak usah. Aku baik-baik saja." Luna memperbaiki letak rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya.


Dan Bhara dengan sigap membantu menyelipkan beberapa helai rambut itu di belakang telinga.


"Jika kau ingin bercerita tentang apapun itu, aku siap mendengarkan. Aku begitu khawatir dengan keadaanmu."


Luna yang yang sudah kembali berbaring namun membuang tatapannya ke tempat lain, akhirnya menoleh.


"Aku tidak apa-apa, Bhar. Jangan khawatir."


"Baiklah ... Kata dokter jika kamu sudah merasa kuat, kamu diizinkan pulang. Sementara istirahatlah dahulu, aku akan menemanimu," ucap Bhara yang terlihat begitu sayang dengan wanita dihadapannya itu.


Luna merasakan tatapan Bhara yang berbeda pada dirinya. Seperti tatapan Stefan, namun ayah biologis dari Elea itu lebih lembut. Sangat lembut.


Bahkan sekarang Luna bisa mengingat semua tentang Stefan. Semua yang dilakukan lelaki itu untuknya. Juga tentang ungkapan Stefan sebelum berlari dan terjadi ledakan itu.


Dan yang lebih menyedihkan mereka adalah saudara. Apalagi sekarang Luna tinggal di rumah tempat Stefan dibesarkan. Dimana disetiap sudut ruangan ada foto Stefan entah dari umur berapa, semuanya ada. Belum lagi beberapa medali Stefan yang dipasang juga di sebuah lemari antik milik sang paman.


Napas Luna terdengar berat. Seberat sesuatu yang mendadak seperti menindih hatinya. Rasanya ia masih merasakan kehadiran Stefan disekitarnya.


"Kita pulang sekarang saja, Bhar." Luna hampir menggeser tubuhnya untuk turun saat Bhara melarangnya.


"Istirahatlah dulu, Luna. Tenang saja. Jika kau ingin mereka semua tidak tahu, kita bisa mencari alasanya nanti," bujuk Bhara agar Luna tetap bertahan dan istirahat sejenak.


"Baiklah, hanya sebentar saja."


Luna memperbaiki kembali letak selimutnya. Mencoba memejamkan mata untuk sekejap menenangkan diri.


\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=


"Apa yang kau lihat?"


"Saham Osbert di pasar turun drastis. Pasti ini imbas dari kekalahan mereka kemarin," ucap William yang berada di depan macbook nya.


"Hebat juga Edward. Perusahaan itu miliknya?" tanya Ellard yang membungkuk di belakang sang kakak.


"Ya, aku dengar putrinya juga memiliki perusahaan di Kanada. Apa kau tidak tahu?" William menoleh.


"Luna pernah bercerita tentang itu. Tapi aku tidak begitu perduli. Hanya perusahaan kecil yang tidak memiliki nama. Kenapa tidak kita hancurkan saja sekalian," ucap Ellard menyeringai.


"Hei itu ideku Ell, kau jangan membuatku semangat," sahut William sarkas. Lelaki paruh baya itu mengamini ajakan sang adik.


"Baiklah, pelan-pelan saja. Edward benar-benar tidak mengenal kita dengan baik, Kak."


"Jangan bercerita apapun pada Luna. Ia pasti akan melarang rencana kita," tambah Ellard mengingatkan.


Anggukan William menyatakan setuju dengan rencana adiknya.


Edward akan hancur, sehancur-hancurnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Jangan lupa untuk tidak cerita apapun dirumah, Bhar. Aku tidak ingin mereka khawatir."


Luna yang masih terlihat pucat memegang lengan Bhara untuk mengingatkan lelaki itu akan janjinya tadi.


"Aku sudah berjanji, Luna. Aku akan menepatinya. Tapi kau masih terlihat pucat."


Ingin sekali Bhara membelai surai hitam Luna yang sedikit basah karena keringat itu. Demi memberikan perhatian pada wanita yang ia cintai itu, namun ia tidak berani.


Bhara mengulurkan tissu dari atas dashboard mobilnya. "Kau masih terlihat pucat."


"Oh, ya?" Luna sontak membuka jendela mobilnya setelah menerima tissu dari Bhara. Kemudian wanita itu melihat wajahnya sendiri dari spion itu.


Tidak kehabisan akal, Luna mengeluarkan bedak kemudian menyapu tipis wajahnya dengan benda itu, tidak lupa lipstick peach agar nampak segar.


"Selesai! Ayo kita turun."


"Masuklah," ajakan Luna yang tidak mungkin ditolak Bhara. Lelaki itu justru senang berada disana, di dekat Luna.


"Mama ... Kenapa El tidak diajak? Mama pasti jalan-jalan dengan paman Bhara," tebak Elea yang sayangnya salah. Gadis kecil itu melirik Bhara dan memberikan kode-kode tertentu.


"Mama hanya makan siang saja, sayang. Kapan-kapan kita berdua jalan-jalan ya," bujuk Luna menghibur Elea.


"Ya, kapan-kapan kita jalan-jalan bertiga. Akan Paman antar kemapun Elea mau," tambah Bhara sambil mengulas senyum kecilnya pada Elea.


"Jangan dibiasakan Bhar. Kamu harus bekerja, sedangkan aku hanya pengangguran. Biar aku saja yang mengajaknya. Mana boleh sering meninggalkan pekerjaan hanya untuk sesuatu yang tidak perlu," elak Luna yang merasa tidak enak selalu merepotkan Bhara.


Apalagi Luna sudah membaca kode-kode cinta dari Bhara. Ja takut dianggap memberi harapan pada lelaki itu.


"Hanya sesekali tidak apa-apa. Lagipula aku pemilik perusahaannya. Aku bebas cuti mendadak kapan saja. Iya kan anak cantik,"


Bhara membungkuk, mencari dukungan Elea yang terus mengangguk dan tersenyum menanggapi semua ucapan Bhara. Mereka seperti sudah janjian.


"Tidak boleh begitu. Itu namanya tidak profesional Bhara." Ucapan Luna meninggi karena kesal dengan kegigihan Bhara.


"Tidak setiap hari bukan aku cuti, jangan khawatir," bela Bhata pada dirinya sendiri.


"Emm, aku juga menagih janjimu untuk mengajakku liburan. Kapanpun, aku siap berangkat," tambah Bhara mengingatkan janji


Luna padanya.


"Aku belum aktif lagi, Bhar. Baru minggu depan aku mulai bekerja di kantor paman Will. Biarkan aku menabung dulu," jawab Luna yang memikirkan biaya liburan yang pastinya tidak sedikit.


Bhara hanya tersenyum menangapinya. Mana mungkin lelaki itu akan membiarkan Luna mengeluarkan uang untuk biaya liburan mereka nanti.


Bhara akan menanggung semuanya.


\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Luna memintamu datang ke Amerika."


Aglen memanggil Evelyn ke ruangannya. Ya, ruang kerja Luna menjadi milik Aglen kini setelah sang adik memutuskan untuk kembali ke Amerika.


"Benarkah, Sir? Saya rindu membantu pekerjaan beliau," ungkap Evelyn berkaca-kaca.


Meski Evelyn tergolong karyawan baru yang hanya beberapa bulan saja merasakan kepemimpinan Luna. Namun gadis itu memang mengagumi Luna.


"Apa maksudmu?" Aglen mendongak dan menatap tajam gadis yang sekarang menjadi sekretarisnya itu.


"Maksud saya, dalam rangka apa saya diminta untuk datang ke Amerika oleh bu Luna, Sir?" jawab Evelyn.


"Bukan itu! Kau bilang rindu membantu pekerjaan Luna. Apa kau ingin kupecat!" Aglen berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya diatas dada.


Gluk!


Tenggorokan Evelyn terasa kering seketika. Ada apa dengan atasan barunya yang hobi marah-marah itu.


"Tentu saja tidak, Sir. Saya masih ingin bekerja di sini dengan anda. Maksud saya, bu Luna sangat baik, tidak seperti para pimpinan kebanyakan."


Evelyn sangat lancar mengemukakan pendapatnya. Namun tanpa gadis itu sadari, bahwa poin penting dari apa yang membuat Aglen kesal adalah kata-kata itu.


"Maksudmu aku bukan pemimpin yang baik? Hingga kau hanya nyaman bekerja dengan Luna?"


Aglen menyandarkan tubuhnya melengkung ke depan dengan kedua tangannya sebagai tumpuan.


Ia kesal bukan main dengan gadis itu. Tapi tidak bisa mengungkapkannya secara bebas karena egonya yang masih tinggi.


"Sir, saya tidak bermaksud begitu. Anda juga baik, karena sudah begitu perhatian pada saya. Terima kasih untuk sepatunya kemarin." Tiba-tiba ucapan itu keluar begitu saja dari bibir Evelyn.


Gadis itu sempat terbelalak dan membekap mulutnya sendiri.


Aglen salah tingkah mendengarnya.


"Besok berikan datamu, akan kuurus pasport dan visamu. Bersiaplah lusa kita berangkat."


Aglen melenggang setelah mengucapkannya. Lelaki berkuncir itu merasa tidak memiliki alasan lagi untuk kesal pada sekretarisnya itu. Setelah ucapan terimakasih yang diucapkan Evelyn padanya.


Sekuat itukah perasaan suka itu? Bahkan hanya ucapan terima kasih saja mampu membuatmu salah tingkah.


🥰🥰🥰🥰