
"Selamat sore, Bu." Seorang petugas keamanan gerbang depan menyambut, saat mereka mengetahui pemilik dari perusahaan tempat mereka bekerja datang kesana.
Luna hanya mengangguk, kemudian wanita itu mengambil sebuah kartu dari saku jasnya yang ia masukkan sebagai tanda pengenal.
Pintu besi tebal di depan Luna bergeser ke kiri setelah sistem mengenali kartu itu. Sebuah ruangan yang tidak begitu besar dengan suhu lumayan dingin. Di dalam sana kembali ia mendapati 2 orang yang berjaga.
"Sore, Bu," ucap mereka bersamaan. Kedua orang ini sama sekali tidak tahu jika Luna adalah pemilik perusahaan ini. Mereka hanya mengenal Luna sebagai salah satu dari atasan mereka.
"Tinggalkan saja. Aku bisa sendiri," titah Luna.
Setelah mengangguk hormat, sesuai dengan perintah mereka meninggalkan Luna sendiri untuk menuju ruangan lain.
Luna mulai memeriksa ruangan itu. Jika terjadi pencurian, ruangan ini adalah ruangan yang paling susah dirusak sistemnya. Jadi apapun yang terjadi disini pasti meninggalkan jejak.
"Tidak ada yang rusak, dan CCTV bekerja dengan baik. Ini sungguh aneh," gumam Luna yang mengitari ruangan itu.
Wanita itu mengeluarkan sepasang sarung tangan tipis. Kemudian setelah mengenakannya, ia menyentuh beberapa dinding dan memperhatikan detail apa saja yang ada disana. Semuanya sempurna, nampak terawat dengan baik dan tidak ada kerusakan.
Luna mendengkus pelan. Ini memang bukan keahliannya. Namun tentu reputasi perusahaan harus ia jaga. Dan ia masih belum menyerah untuk menyelesaikan masalah ini sendiri.
"Aku sudah selesai," ucap Luna setelah dengan cepat ia melepas kembali sarung tangan yang ia masukkan kedalam kantong kecil dan ia selipkan di bawah sepatu.
Dan tidak lama kemudian, kedua orang penjaga segera mendatanginya.
"Apa kalian mengantarkan customer hingga kedalam jika mereka hendak mengambil barang yang mereka titipkan?"
"Tidak, Bu. Kami hanya mengantarkannya sampai ke pintu yang dituju. Aturan perusahaan mengharuskan kami hanya sampai disana," jawab salah satu dari mereka.
"Berarti selama ini, customer kita selalu sendirian berada di dalam?"
"Sepertinya untuk kasus tertentu boleh, Bu," celetuk salah satu dari mereka.
"Maksudnya?" Luna mulai tertarik mengulik. "Kasus seperti apa contohnya?" Wanita itu bertanya dengan tenang dan gaya ingin tahu.
Kedua orang itu saling senggol, dan memberi kode lewat mata mereka.
"Ceritakan saja, tidak apa-apa. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun," bisik Luna meyakinkan.
Wanita itu merutuk dalam hatinya. Dia sudah seperti eonni- eonni di drama Korea saja.
Sepertinya, memang butuh keahlian khusus untuk berganti kepribadian dalam memyelidikinya, apalagi berhubungan dengan orang-orang seperti mereka ini.
"Jika customer menginginkan," lanjut salah satu dari mereka.
"Tapi aturan kita tidak memperbolehkannya bukan?" Luna memancing.
"Tapi kita tidak melanggar aturan, Bu. Kami diajak, bukan berniat ikut atau memaksa. Kalau ingin disalahkan ya harusnya si customer."
"Hemm ... Benar juga. Seharusnya memang tidak salah, karena kita hanya diajak." Luna tersenyum kecut.
Pelanggaran yang dihalalkan. Baginya pelanggaran tetaplah pelanggaran.
"Kalian berdua ada yang pernah diajak masuk ke dalam oleh customer atau atasan kalian?"
"Tidak, Bu. Siapalah kami ini," jawab keduanya serempak.
"Kalau diajak kedalam mau?"
Mereka saling berpandangan, dan tidak lama kemudian keduanya mengangguk.
"Seharusnya kalian menolak. Kalian bekerja disini untuk perusahaan ini, bukan untuk customer kalian, se eksklusif apapun mereka. Hal yang dianggap melanggar oleh perusahaan tentu tidak boleh dilakukan kecuali dalam keadaan bahaya." Luna menjelaskan aturan yang dibuatnya.
"Nyawa! Kalian boleh menginjakkan kaki disana jika ada nyawa yang terancam!"
"Ba-baik, Bu," jawab keduanya terbata.
"Temui Bagian Kepegawaian besok. Katakan bu Luna mau semua yang di lapangan di briefing ulang tentang peraturan perusahaan. Selamat bertugas."
Luna pergi setelah mengatakannya. Meninggalkan dua orang yang terkejut tidak percaya, setelah menyadari jika Luna adalah pemilik dari perusahaan tempat mereka bekerja.
Luna segera kembali ke kantornya. Suasana begitu lengang karena jam pulang telah terlewat setengah jam yang lalu.
Rasa lelah mulai menjalari tubuhnya. Belum lagi ia mulai menguap beberapa kali, dan harus menyetir sendiri.
Luna segera berkemas, mengingat ia masih ada janji harus menjemput Elea di rumah sang ayah hari ini.
\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=
"Sepi begini?" gumam Luna. Tadi ia hanya berpikir mencari jalan alternatif karena macet akibat terjadi kecelakaan di depan. Ia takut Elea terlalu lama menunggu dan rewel di rumah sang ayah.
Padahal jika siang hari ia sangat mengenal jalan ini. Memang tenang dan lengang karena tidak banyak orang lewat, tapi rupanya menyeramkan seperti ini jika malam. Bukan karena gelap, karena jalan-jalan disini semuanya sudah memiliki fasilitas penerangan yang bagus, namun karena sepi.
Belum lagi kantuk semakin menyerang, karena terlewat sunyi. Tahu begitu ia memilih macet saja tadi agar matanya tetap terjaga. Bahkan saat ini Luna harus berkali-kali memicingkan matanya yang mulai sayu agar terbuka lebar.
Wanita itu nampak menguap, mengerjap pelan mencoba fokus pada jalanan di depannya.
Samar terlihat ada mobil di belakang yang mengikutinya. Luna bersyukur paling tidak ada teman di jalanan ini.
Hanya pikirannya atau memang mobil itu terus mengikutinya. Ketika ia memacu mobilnya pelan, mobil dibelakangnya itu ikut pelan. Dan ketika ia memacu nya lebih cepat, mobil itu ikut cepat namun tetap tidak pernah menyalipnya.
Karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Luna memutuskan sedikit mempercepat laju mobilnya. Berjuang untuk paling tidak keluar dari jalur ini ke jalanan yang ramai.
Kantuknya mulai menghilang,namun rasa was-was dan takut mulai menyerang. Saat konsentrasinya terpecah karena memperhatikan belakang dan jalanan di depannya fokusnya mulai mengendur.
Brakkkk!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi ini meja makan di mansion Stefan sunyi. Bukan karena tidak ada orang disana. Namun ketiga penghuninya yang sedang sarapan pagi bersama nampak saling diam tidak berinteraksi.
Tentu saja yang paling tidak nyaman adalah Stefan. Karena ini pasti akibat dari aksi penyelamatan sang ibu dari kemurkaan sang ayah kemarin.
"Kapan Papa dan Mama datang?" Stefan membuka obrolan dengan menanyakan hal yang harusnya sudah ia ketahui dari kemarin.
Namun sang ibu yang menguncinya di kamar tamu membuatnya mau tidak mau akhirnya tidur disana tanpa keluar lagi hingga pagi datang.
"Kemarin lusa. Mama rindu sekali denganmu. Kau tidak pulang setahun ini." Christina memasang wajah kesal pada sang anak.
Namun ia yang paling antusias menjawab.
Sedangkan William, ia hanya fokus dengan sarapannya. Menoleh pun tidak.
"Aku belum sempat, Ma. Perusahaan disini benar-benar sedang berada di puncaknya, terpeleset sedikit saja hancur semua yang sudah kubangun bertahun- tahun. Persaingan sangat ketat."
Selama ini Stefan tidak pernah mengatakan apapun mengenai perusahaan mereka yang berada di Italia. Ia hanya bekerja dan bekerja, sekalipun timbul kesulitan disana sini kenyataannya semua masih dibawah kendalinya dengan aman.
"Kau mengeluh?" Respon sang ayah mengejutkan.
"Tidak, Pa. Seorang Efrain pantang mengeluh," jawab Stefan tegas. Membuat hati sang ayah berbangga.
Generasi ketiga Efrain tetap merajai sebagian dunia bisnis Amerika hingga sebagian Eropa, meski Stefan masih terbilang pengusaha muda disana.
"Tapi kau sempat ke Kanada mengunjungi pamanmu," singgung William pada putranya itu.
"Baru kemarin, Pa. Itupun karena Paman memintaku untuk membantu perusahaan barunya."
Stefan jujur tentang ini, namun semangatnya dia ke Kanada tentu bukan karena hal itu. Luna dan Elea lah alasan utamanya.
"Ellard mendirikan perusahaan lagi? Bukankah ia sudah memilikinya bersama Luna?"
"Hemm...." Stefan mengangguk. "Ini akan lebih besar dari sebelumnya, Pa."
Hening.
"Temui Papa di ruang kerjamu setelah sarapan. Papa tunggu." Mendadak William pamit pada anak dan istrinya. Lelaki itu telah lebih dulu menyelesaikan sarapannya. Bahkan kedua orang ibu dan anak itu tidak menyadarinya.
"Sayang, jawab dengan jujur! Apa kau memiliki wanita lain?" Suara Christina dibuat sepelan mungkin, meski tidak ada seorangpun disana selain mereka berdua.
"Maksud Mama?"
Tak!
Christina menjitak anak kesayangannya itu. "Wanita Stef ... kekasih. Kau sudah memilikinya?"
Wanita paruh baya dengan hidung mancung itu geram dengan anak lelakinya. Akhir-akhir ini Stefan selalu menghindar jika kedua orang tuanya membicarakan masalah kekasih, calon istri dan semacamnya.
"Oh. Aku belum berpikir kesana, Ma."
"Belum berpikir bagaimana? Umurmu sudah berapa Stef, Mama sudah iri dengan Ellard yang bahkan lebih dulu memiliki cucu daripada kami." Christina mendelik tajam pada Stefan.
Elea cucumu, Ma. Aku tidak bisa membayangkan jika kalian mengetahuinya nanti.
"Aku belum ingin menikah, Ma."
"Katakan itu pada Papamu. Dan kau harus bertanggung jawab pada Angel." Christina bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
Padahal sedianya jika Stefan mengaku memiliki wanita lain yang dicintai anaknya itu, ia ingin menggunakannya sebagai alasan untuk membelanya. Namun ternyata tidak ada.
"Aku tak berbuat apapaun padanya, Ma," ucap Stefan sedikit kencang, karena sang ibu sudah berada lumayan jauh dengannya.
"Hadapi Papamu sendiri. Mama tidak mau ikut campur," sahut Christina.
"Ayah dan anak sama saja," gumam Christina kesal.
💓💓love u readers...
Terima kasih komen, like dan vote nya ya! 👍