
"Menurutmu apa yang mungkin dicari Alfonso dari diriku, Bhar?" tanya Luna penuh selidik.
"Entahlah, kita akan tahu nanti. Paman William pasti bisa membantumu," jawab Bhara yakin.
Luna sampai di rumah bersamaan dengan Leo yang memgemudikan mobil di belakang Bhara.
William sudah berada di rumah sore itu, hingga Luna mengajak Bhara masuk menemui sang paman
"Kok dengan Bhara? Leo mana?" tanya Christina mencari pengawal seniornya yang sudah seperti anaknya sendiri itu.
"Masih di belakang, Bi. Sebentar lagi pasti masuk," jawab Luna yang segera menyuruh Elea untuk masuk ke kamar lebih dahulu. Karena ia ingin membicarakan soal Alfonso pada sang paman.
Luna mempersilahkan Bhara duduk. Dan mereka berempat duduk bersama di ruang tamu keluarga itu.
Setelah semua tenang. Luna mulai bercerita kejadian yang menimpanya di supermarket dan rumah makan.
Mendengar nama Alfonso, mimik wajah sang paman sedikit berbeda.
"Jadi kau bertemu Alfonso?" Luna mengangguk. "Tidak sengaja atau disengaja?"
Pertanyaan William membuat bingung sang keponakan.
"Aku tidak tahu, Paman. Tapi kejadian jatuhnya Elea tentu tidak disengaja," jawab Luna menebak.
"Apa kau yakin? Lelaki itu ada di belakang cucuku atau ia baru berlari saat Elea terlihat hampir jatuh?" tanya William dengan mimik serius.
"Em ... Sepertinya, ia ada di belakang Elea, Paman."
Luna baru menyadarinya. Ia tidak berpikir sejauh itu.
"Sudah kuduga. Tidak mungkin Alfonso datang jauh-jauh dari Kanada dan berkeliaran di keramaian seperti orang biasa tanpa sebab. Dia terkenal temperamen."
Luna mendadak lega. Untung saja baik Leo ataupun Bhara datang tepat waktu. Jika tidak, ia tidak tahu bagaimana nasibnya.
William rupanya sangat tahu tentang Alfonso, sama seperti Bhara. Mungkin karena masa lalunya bersama Ellard sang adik.
Sedangkan Bhara mengetahui tentang Alfonso karena ia pengacara di Kanada.
"Will, kau harus melakukan sesuatu," sela Christina diantara obrolan serius Luna dan William.
"Sayang, aku sedang melakukannya," jawab William halus. "Kau tidak menerima apapun dari lelaki itu bukan?"
"Tidak, paman. Bahkan ia ingin memberiku pizza tapi ku tolak, karena aku merasa takut kami baru saja kenal."
"Bagus. Ingat Luna, sidang akan dimulai beberapa hari lagi. Jangan keluar kemanapun tanpa pengawalan. Bibimu sangat khawatir tadi. Dan kau Bhara, terima kasih telah mengantarkan Luna," ucap William yang kemudian pamit meninggalkan mereka.
"Will...."
"Iya, secepatnya aku akan mencari tahu, sayang." William sampai memutar kembali tubuhnya hanya untuk menghampiri sang istri dan mengecup dahinya sebentar.
Jika Luna terbiasa melihat adegan seperti itu maka tidak dengan Bhara. Lelaki itu mendadak bergetar dengan napas yang cepat. Baginya itu sangat istimewa. Karena ia tidak pernah melihat hal seperti itu dalam keluarganya.
Bhara kehilangan wanita yang melahirkannya saat berumur 10 tahun.
"Maaf, Bi. Aku yang salah," sesal Luna.
"Sayang ... Tapi Elea baik-baik saja kan? Jangan ulangi lagi, ya. Kau tahu, Bibi sangat khawatir. Untung saja Leo datang hanya lima menit setelah kau pergi dan ia mengaku melihat mobilmu di jalan," ungkap Christina.
"Elea tidak apa-apa, Bi."
Luna mendekati Christina dan memeluk wanita paruh baya itu. Luna terlihat rapuh. Ia memang butuh hiburan saat ini, namun keluar sekedar untuk belanja dan beli makanan saja sudah ada yang mengintainya kembali.
Betapa malang wanita itu.
Bhara terlihat beberapa kali menghembuskan napas berat, melihat kedekatan keduanya. Ingin sekali lelaki itu memeluk Luna seperti dahulu. Seperti saat mereka masih berstatus sahabat.
Tapi sekarang hal itu tidak akan mungkin. Status Luna masih istri orang dan tentunya usia mereka yang sudah tidak muda lagi.
"Aku pamit sekarang, ya," ucap Bhara yang sudah berdiri dan bersiap keluar.
"Buru-buru sekali, Nak. Terima kasih sudah mengantarkan Luna pulang," ucap Christina menepuk lembut lengan Bhara.
"Sama-sama, Bi. Salam untuk Elea, ya. Aku pergi dulu."
Bhara melirik Luna kemudian tersenyum lembut pada wanita itu.
"Ehm, sepertinya Bhara lelaki yang baik, sayang."
Christina menaikturunkan alisnya menggoda Luna.
"Dia memang baik. Jika Bibi mempunyai stok gadis jomblo bisa di jodohkan dengannya. Kebetulan Bhara masih single," ucap Luna sambil perlahan menjauh dari Christina menuju kamarnya.
"Maksud Bibi adalah kamu. Mengapa malah melemparnya pada Bibi, Luna."
"Aku masih istri Adam, Bi," teriak Luna mengingatkan.
"Bukannya...." Christina mendadak membungkam bibirnya sendiri.
Bernasib seperti apapun nanti pernikahan Luna, Christina sadar ia tidak bisa mencampurinya. Hanya doa terbaik untuk keponakannya itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bhara tersenyum sendiri saat mengendarai mobilnya, sepulang dari rumah William.
Ia membayangkan bagaimana nanti jika Luna menjadi istrinya. Ia bisa memeluk wanita yang telah lama mencuri hatinya itu kapanpun ia mau.
Lelaki itu berencana setelah semua masalah ini selesai, ia akan mengungkapkan perasaannya pada Luna.
Bhara yakin Luna tidak akan kembali dengan Adam. Meski perpisahan mereka tidak bisa diprediksi waktunya.
Namun Bhara hanya ingin Luna dan menjaganya meski harus menunggu seumur hidupnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Pa, perusahaan ini tidak bisa kita pertahankan. Terlalu banyak kerugian dan komplain dari rekanan, semuanya terlanjur kecewa dengan kita akibat ulah Adam."
Aglen mengadakan rapat terbatas dengan sang ayah dan Dewan Direksi sekaligus investor untuk membicarakan nasib perusahaan yang selama ini berada dibawah kepemimpinan Adam.
"Apa kita sudah benar-benar melakukan segala hal untuk mempertahankannya?" tanya seseorang yang menjabat Direksi.
"Sudah, Tuan. Semuanya sudah kami lakukan. Namun kepercayaan mereka tidak semudah itu kembali. Bahkan ada beberapa pelanggan yang mengatakan tidak ingin bekerja sama dengan kita lagi," ungkap Aglen yang berdiri di depan layar monitor.
Salah satu pewaris Ellard itu memberi gambaran posisi keuangan perusahaan dan tingkat kepercayaan pelanggan yang berada di level mengkhawatirkan.
"Kita membutuhkan Stefan di saat-saat seperti ini," gumam Ellard lirih. Lelaki itu berdiri dengan menopangkan kedua tangannya diatas meja.
Ya, Stefan memang pemikir yang baik. Bahkan idenya selalu cemerlang menurut Ellard.
"Apa idemu, Ag?" Kali ini Ellard melemparnya pada Aglen.
Aglen nampak berpikir sejenak. Lelaki berkuncir itu menempelkan dagu diantara ibu jari dan telunjuknya.
"Kita ikuti alur saja, Tuan-tuan. Kita memang sudah tidak bisa mempertahankannya. Berarti perusahaan ini resmi kita tutup karena pailit," ucap Aglen memutuskan.
"Sayang sekali. Padahal karyawan kita banyak yang loyal terhadap perusahaan. Kasihan mereka yang memggantungkan hidup pada perusahaan ini," ungkap seorang Direksi menyesalkan tragedi ini.
"Saya mempunyai perusahaan baru, Tuan. Saya rintis bersama dengan keponakan saya Stefan. Bagaimana kalau saya ambil karyawan kita disini yang loyal saja, untuk perusahaan saya itu. Tuan-tuan juga boleh jika ingin menjadi investor disana. Kita bangun kembali kepercayaan pelanggan dari nol meski berbeda bidang," ucap Ellard mengajak semua orang yang duduk di ruang rapat itu.
"Baiklah kami ikut Tuan Ellard. Kami percaya kinerja anda dan putra anda," ucap beberapa orang yang hadir.
"Terima kasih kepercayaannya. Saya akan berusaha semaksimal mungkin menjalankan amanah ini," ucap Ellard yang berdiri sembari menjabat tangan orang-orang yang hadir disana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Jadi, bu Luna tidak kembali lagi kesini?" tanya Evelyn pada karyawan lain yang mendengar berita jika Luna meninggalkan Kanada untuk selamanya.
"Yang aku dengar seperti itu. Buktinya, bu Luna malah pergi ke Amerika bersama putrinya setelah sidang selesai," ungkap karyawan yang membawa berita itu.
"Lalu siapa yang menggantikan posisi bu Luna disini?" tanya Evelyn ingi tahu.
"Tentu saja kakaknya, Tuan Aglen. Siapa lagi," jawab yang lainnya.
"Hah! Kenapa harus dia? Apa tidak ada yang lain?" kesal Evelyn yang merasa tidak suka.
"Ehm ... Siapa yang kau maksud?"
🥰🥰🥰🥰