
"Pagi, Sir. Pagi, Bu Luna."
Luna hanya melempar senyum pada sekretaris andalannya itu.
Sementara Stefan, dia hanya mengangguk dan masuk ke ruangan Luna lebih dulu.
"Pesankan kopi untuk Mr. Stefan," titah Luna.
Emma yang hari ini nampak cerah ceria, melenggang pergi setelah mengiyakan perintah sang bos.
"Bagaimana?"
"Ini asli. Labelnya masih menggantung," tunjuk Stefan pada label hitam yang selalu dipasangkan pada setiap benda yang dititipkan di perusahaan Luna.
"Berarti sengaja dicuri dan disembunyikan," gumam Luna.
"Ya. Ini akan mengakibatkan alarm berbunyi bukan jika dibawa keluar gedung?" wanita itu mengangguk. "Rapi dan sangat terencana dengan baik."
"Berarti target utamanya ... Aku?" tanya Luna.
"Tebakanku juga begitu. Karena pada akhirnya disimpan di laci milikmu."
Berikutnya, terdengar suara pintu di ketuk. Dan masuklah Emma membawa kopi untuk Stefan.
"Padahal kau bisa menyuruh OB, Em. Itu tugas mereka," ucap Luna.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya senang melakukannya," ucap Emma yang kemudian mempersilahkan Stefan setelah meletakkan kopi itu diatas meja.
"Terima kasih, Em." Stefan tersenyum manis pada Emma. Padahal lelaki itu hanya ingin ramah, tapi malah membuat gadis itu salah tingkah.
Sementara Luna yang memperhatikan gelagat Emma yang tidak seperti biasanya menatap jengah keduanya. Playboy tetap saja playboy, padahal sudah berumur.
"Kau boleh keluar, Em," titah Luna membuyarkan lamunan Emma.
"Oh ... emm ... iya, Bu." Emma mengangguk dan undur diri. Dia sempat melirik Stefan yang sama sekali tidak melihatnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
1... 2... 3...
Luna keluar dengan anggunnya, berjalan tegak dengan dagu terangkat sempurna. Sama sekali tidak menutupi apapun. Karena ia tahu, ia harus berani.
Stefan mengikuti di belakangnya. Hari ini, tepat jam 9 pagi, polisi mendatangi perusahaannya.
Awalnya, mereka hanya berniat memeriksa. Memperjelas laporan kehilangan dari seorang customer premium yang berpengaruh di Kanada, Angelin Peterson.
Namun ditengah-tengah pembicaraan, tiba-tiba ada yang menghubungi para polisi jika kalung berlian itu dicuri oleh sang pemilik perusahaan sendiri yang tidak lain adalah Luna. Karena para polisi itu masih berada disana maka pemeriksaan lanjutan hingga penggeledahan terhadap Luna sekalian dilangsungkan.
Kalung berlian itu ditemukan di salah satu laci milik Luna di kantor. Hingga menguatkan, bahwa benda itu dicuri oleh dirinya sendiri dengan dalih hilang dari tempatnya. Luna dibawa polisi untuk mendapat keterangan lebih lanjut dari wanita itu.
Drama yang nampak sempurna bukan? Entah siapa penulis skenarionya, yang jelas banyak karyawan Luna yang ikut andil didalamnya. Dan Luna sudah mencatat semua nama- nama mereka beserta bukti yang ia dapatkan bersama Stefan.
Sesuai rencana!
Jangan tanya keadaan Luna saat ini. Ia memang berani, namun nyalinya tetap menciut dengan kondisi yang ada didepannya. Ia di gelandang oleh polisi layaknya tersangka. Melewati kerumunan para pencari berita yang tidak pernah berhenti memberikan pertanyaan padanya.
Dalam wajah yang nampak cantik dan terlihat kuat itu bahkan masih melempar senyum pada mereka. Tenang dan tidak berkomentar apapun, sesuai anjuran Stefan. Karena setiap pernyataannya pasti akan menjadi makanan empuk bagi mereka yang ingin menjatuhkannya.
Pertanyaan demi pertanyaan yang dilemparkan terkesan menyudutkan, namun juga ada beberapa yang berupa dukungan.
Sebisa mungkin Luna hanya menganggapnya angin lalu. Meski telinganya menangkap berkali-kali gunjingan dilontarkan oleh mereka, Luna menulikan pendengarannya. Tidak mudah, namun juga tidak terlalu susah.
"Aku mengikutimu dari belakang," ucap Stefan saat Luna hampir masuk kedalam mobil polisi yang akan membawanya. Dan wanita itu hanya mengangguk dengan tenang.
Baru saja Stefan masuk ke dalam mobil, ponselnya berbunyi. Ellard sang paman menghubungi. Lelaki paruh baya itu menanyakan keadaan Luna saat ini.
Rupanya, peliputan berita hari ini tentang penangkapan Luna disiarkan secara live. Entah siapa yang membayar mereka. Padahal masih banyak berita lain yang lebih pantas disiarkan secara live daripada penangkapan seorang Luna.
Dengan terpaksa, Ellard membawa sang cucu kerumahnya. Beserta Alex dan juga bibi Ofelia. Lelaki itu menutup segala akses internet dan televisi di rumahnya.
\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sir!"
"Hem...." sahut Adam yang masih memeriksa beberapa laporan pengeluaran yang harus ditanggung perusahaan untuk mengganti kerusakan-kerusakan barang- barang eksport nya.
"Tolong buka ponsel Anda, Sir," ucap salah satu karyawannya yang datang menghampiri dengan tergesa.
"Aku sedang sibuk. Lagipula sudah kukatakan aku ingin fokus menyelesaikannya secepat mungkin!" bentak Adam yang masih tak bergeming di depan mejanya.
"Sir, ini tentang Bu Luna," Karyawan itu lirih sekali mengatakannya. Ia takut sang Bos marah padanya.
"Apa? Ada apa dengan istriku?" Adam yang kaget langsung menyambar ponselnya. Mengaktifkan benda pipih yang telah ia matikan sejak awal kedatangannya di negara ini. "Katakan!" bentak Adam yang tidak sabar karena ponsel yang ia nyalakan membutuhkan waktu untuk kembali normal.
"Silahkan Anda lihat sendiri, Sir. Saya takut salah bicara." Selesai mengatakannya, orang itu malah kabur keluar dari ruangan Adam.
"Luna!?" matanya terbelalak melihat berita pagi ini yang ditayangkan secara live beberapa menit yang lalu. "Bagaimana bisa!?" teriak Adam.
Lelaki itu segera membuka pesan masuk dan panggilan masuk kedalam ponselnya. Tidak banyak, hanya beberapa panggilan dari istrinya itupun beberapa hari yang lalu. Dan Luna hanya meninggalkan satu pesan untuknya, menanyakan keberadaannya, itu saja. Tanpa menjelaskan apapun yang terjadi saat ini.
"Aku kembali ke Kanada hari ini juga. Carikan penerbangan paling cepat!" titah Adam pada asistennya di Turki.
Lelaki itu bergegas menghubungi ponsel Luna, namun tidak aktif. Berikutnya pada sang mertua, Ellard dan sama sekali tidak diangkat.
Brakkk!
Adam melempar hiasan kayu yang ada di atas mejanya.
Bodoh sekali!
Keputusannya mematikan ponsel malah akan berakibat runyam untuk dirinya sendiri. Padahal ia hanya ingin menyelesaikan masalah ini sendiri. Tapi dengan kejadian yang menimpa Luna, dan ia tidak ada disamping istrinya itu. Semuanya akan menjadi bumerang untuknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Luna harus ditahan. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, dia akan tetap ditempat itu hingga penyelidikan selesai. Namun Stefan meminta penundaan penahanan dengan dia penjaminnya.
Malam ini, Luna diperiksa hingga malam. Meski bukti sudah mengarah padanya, sesuai dengan rencananya dengan Stefan. Namun polisi tetap melakukan penyelidikan lagi.
"Sabarlah, ini hanya sebentar," ucap Stefan yang menemani Luna hingga selesai diperiksa. Bahkan lelaki itu yang bolak balik mencarikan kebutuhan Luna selama disana.
"Aku tidak apa-apa. Berhenti khawatir berlebihan! Aku hanya khawatir dengan El," ketus Luna yang lama-lama bosan dengan perhatian Stefan. lelaki itu sudah seperti suaminya saja cerewetnya. Sementara Adam malah tidak tahu rimbanya.
"Apa kau ingin menghubunginya?" tanya Stefan. Lelaki itu menyodorkan ponselnya.
Luna menerima ponsel itu, namun ia hanya terdiam memandangi benda canggih itu. Wajahnya terlihat bimbang.
Stefan menyembunyikan senyum tipisnya, padahal ia mendapatkan perlakuan kasar dari Luna.
Namun ia bahagia. Sungguh! Bisa sedekat ini merupakan impiannya setiap malam selama ia berada di Italia.
Jika tidak ada masalah ini dan jika Adam ada disini, ia pasti tidak akan memiliki kesempatan ini. Diam-diam dia mensyukuri semua keadaan yang kacau ini.
"Kita sedang di kantor polisi. Bagaimana mungkin kita menghubunginya? El selalu ingin melakukan panggilan video jika denganku." Luna menjadi pesimis karena keadaannya saat ini.
"Sebentar."
Stefan meminta Luna berdiri, kemudian menggeser kedua kursinya ke sisi yang berlainan. Dimana dibelakang mereka hanya ada dinding putih tanpa hiasan apapun.
"Duduklah. Siapkan dirimu," ucap Stefan. Lelaki itu ikut duduk di samping Luna kemudian menghubungi ponsel Ellard.
Wajah yang pertama terpampang di layar ponsel Stefan adalah Elea yang berada di pangkuan Ellard.
"Mama!" pekik El kegirangan. "Mama dimana? Mama dengan paman juga?"
"Iya, Sayang. Mama sedang ada urusan diluar kota dengan paman Stefan. Tidak lama...." ucap Luna lirih dan penuh keraguan, karena ia sendiri tidak tahu berapa lama ia ditahan.
"Besok Mama sudah pulang." Stefan menambahi. "Doakan urusan Mama dan Paman lancar ya disini. Anak cantik Mama pintar kan hari ini?"
"Pasti Paman! Paman, El mau gelato.Belinya di tempat yang sama saat kita jalan-jalan dulu," pinta gadis kecil itu. Seperti anak kecil yang lainnya, Elea yang menyangka ibunya dinas di luar kota malah meminta oleh-oleh.
"Iya, nanti Paman belikan. Ini sudah malam El. slSegera tidur ya, Sayang," ucap Stefan yang benar-benar menjiwai layaknya seorang ayah.
"Bye Paman, Bye Mama." Elea melompat dari pangkuan elEllard, setelah kakeknya membisikkan sesuatu.
Gadis kecil itu menuju kamarnya, sendiri.
"Papa...."
Wajah Ellard yang teduh membuat Luna berkaca.
"Kamu harus menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai, Sayang. Papa yakin semua akan terungkap. Stefan sudah menunjukkan semuanya pada Papa. Meski mereka orang berpengaruh, tapi menurut Papa mereka masih amatiran. Buktikan kamu putri Papa dan tidak besar dari bayang-bayang Papa. Satu- satunya pewaris wanita Efrain, yang juga kuat seperti lainnya. Putriku tersayang, La Luna Efrain," ucap Ellard.
Lelaki itu sampai menyebut nama anak perempuannya dengan lengkap untuk membangkitkan semangat luna.
"Terima kasih, Pa. Luna akan memenangkan kasus ini," ucap Luna mengakhiri panggilannya.
Luna terdiam sejenak, menatap ponsel Stefan. Bayangan putri kecil serta sang ayah seakan masih terpampang disana.
"Apa kau ingin membuka ponselmu? Sebelum aku keluar dari sini. Barangkali Adam sudah bisa dihubungi," tawar Stefan.
"Tidak. Kau mau kemana?"
"Aku tidak mungkin menemanimu semalaman disini," ucap Stefan dengan senyum usilnya.
"Aku tidak minta ditemani!" Suara luna menekan. Ia tentu tidak berani teriak disana. Namun ia sungguh jengkel dengan ucapan Stefan.
"Maksudku, aku akan tidur di mobil. Mr. Andrew baru bisa mengurus kepulanganmu besok, ia masih diluar kota. Masuklah," ucap Stefan. Ia meninggalkan minuman dan beberapa makanan untuk Luna.
Wanita itu mendengkus kesal. Kalau bukan karena masalah ini, ia tidak akan mau berlama-lama dengan lelaki itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Bisa saya bertemu dengan Luna Efrain?" tanya Adam yang baru saja sampai. Bahkan lelaki itu belum berganti pakaian dan langsung menuju kantor polisi.
"Sebentar, Pak. Ditunggu, ya," ucap petugas yang ada disana. Lelaki berseragam itu nampak masuk sebentar, kemudian keluar dengan Luna dibelakangnya.
"Sayang? Apa yang terjadi?"
Adam menghampiri Luna kemudian memeluknya. "Maafkan aku, apa yang terjadi?"
"Kenapa kau susah sekali dihubungi?" ucap Luna sambil menahan tangisnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Adam. Seakan ingin menumpahkan segala masalahnya.
"Maafkan, aku. Ada sedikit masalah disana. Aku ingin mencoba menyelesaikannya sendiri tanpa membuatmu khawatir." Alasan Adam bisa diterima Luna.
"Kenapa kau tidak menceritakannya padaku? Jika bukan aku, Papa bisa membantumu bukan?"
Sebenarnya Luna sudah mengetahui masalah yang menimpa perusahaan yang dipimpin oleh Adam itu, namun ia tidak habis pikir Adam sampai mematikan ponselnya hanya karena masalah itu.
"Aku ingin benar-benar belajar mandiri, Sayang. Tanpa melibatkanmu ataupun Papa."
Ya, selama ini semua masalah yang timbul selalu Ellard atau Luna yang membantu menyelesaikannya. Karena keduanya terkenal bertangan dingin menyelesaikan semua masalah yang timbul dalam perusahaannya.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu, Sayang? Apa kau sudah mendapatkan pengacara?" tanya Adam sambil membelai surai hitam istrinya.
"Stefan sudah membantu mendapatkannya" jawab Luna yang kini duduk bersebelahan dengan Adam.
Mereka berbicara panjang lebar saling bercerita ketika mereka tidak bersama. Sementara Stefan hanya duduk di luar menunggu.
Ia hampir masuk, saat ia juga dipersilahkan oleh petugas untuk masuk. Petugas itu mengatakan jika Luna juga sedang menemui tamunya. Ia kira yang datang Mr. Andrew, tapi ternyata Adam.
Lelaki itu mundur. Apalagi saat ia berada di ujung pintu tadi, dilihatnya Luna menangis dibahu suaminya itu.
Ia yang dua hari ini ada disamping Luna, bahkan harus membuat drama dahulu agar bisa duduk berdampingan dengan wanita itu. Sementara Adam yang baru datang malah mendapat pelukan.
Hati Stefan mendadak nyeri. Rasanya tidak rela melihat wanita itu bersama suaminya.
Namun siapa dia? Orang yang dimasa lalu menghancurkan hidup Luna, dan berharap di masa kini bisa memperbaiki kesalahannya.
Apa jalannya akan semudah kelihatannya. Tidak mungkin! Pasti akan banyak jalan yang lebih terjal didepan.
Stefan hanya berkeyakinan, kebahagiaan Luna dan putrinya Elea adalah prioritasnya. Yang lainnya, apalagi tentang perasaannya hanya akan menjadi nomor yang ke-sekian.
❤❤❤terimakasih like, vote dan komennya ya