La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 30



"Pagi, Paman." Stefan baru saja turun setelah membersihkan diri. Lelaki itu menggendong Elea yang masih malas untuk berjalan sendiri.


"El, bangun Sayang. Ayo turun." Ellard menggoda cucunya yang sebentar membuka mata, dan sebentar memejam itu.


"Tidak apa-apa, Paman. Biarkan denganku saja," ucap Stefan yang membawa Elea duduk di pangkuannya.


"Lun, sini bantu Stefan mengambil sarapannya." Ellard memanggil Luna yang terpaku melihat Stefan. Lelaki itu tengah duduk dengan Elea yang ada di pelukannya.


Stefan menoleh. Saat mata mereka tanpa sengaja beradu, ada rasa canggung menelusup di dada keduanya. Baik Stefan maupun Luna, keduanya terdiam tanpa saling menyapa. Bahkan hanya untuk sekedar berpura-pura mereka tidak bisa.


"Tidak usah Paman. Aku bisa mengambilnya sendiri, Luna sedang repot," tolak Stefan yang sudah menebak jika Luna tidak akan mau melakukannya.


Luna berjalan mendekati. Berkali-kali wanita itu membuang muka hanya untuk menghindar dari tatatapan Stefan. Karena saat mata mereka beradu tadi, bayangan malam saat mereka berdua terjebak di celah kecil itu berputar-putar di otaknya.


Stefan terpaku. Bahkan Luna yang terlihat belum mandi tetap terlihat cantik dimatanya. Wanita itu mengenakan terusan piyama diatas lutut dengan rambut yang dicepol hingga ke atas. Sulur-sulur rambut yang terlepas dari ikatan menambah pesona Luna di mata Stefan.


Lelaki itu merutuki dirinya, dan juga matanya.


Luna mengambil beberapa potong roti tawar, kemudian mengolesi semuanya dengan selai kacang kesukaan sang ayah.


"Aku alergi kacang." Stefan terdiam cukup lama. "Aku roti saja tidak_"


Satu helaan napas terdengar dari Luna, wanita itu bergegas menuju dapur dan tidak lama kemudian kembali dengan piring berisi telur mata sapi setengah matang di tangannya.


"Hanya ada ini. Jika kau juga alergi telur, makan roti tawar saja," ketus Luna. Ellard sampai mendongak melihat anak perempuannya itu.


"Terima kasih, ini enak sekali." Diluar dugaan, setelah Stefan memasukkan roti tawar berisi telur kedalam mulutnya, lelaki itu malah memuji Luna.


Luna bukan dengan sengaja membuatkan telur setengah matang untuk Stefan. Di rumah besar ini karena penghuninya hanya Ellard, maka makanan yang tersedia pun hanya kesukaan Ellard. Sang ayah sangat menyukai selai kacang hingga kepala pelayan yang bertugas berbelanja pun hanya membeli selai dengan rasa itu.


Stefan menghabiskan roti itu dengan lahap. Satu tangannya memegang roti dan tangan lainnya memeluk tubuh kecil Elea yang berada di pangkuannya.


"Stef?" Ellard mengernyit dalam. "Bukankah kau juga alergi telur?" ucap Ellard tiba-tiba, hingga baik Luna ataupun Stefan sendiri kaget.


"Apa? Kenapa kau tidak mengatakannya?" Luna yang kaget justru memarahi Stefan.


"Tidak apa-apa. Itu dulu waktu aku masih anak-anak, " sahut Stefan santai. Namun sebenarnya lelaki ini sudah merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya.


"Stefan! Seharusnya kau tidak memakannya! Kenapa kau tidak menolaknya?" teriak Luna yang panik karena melihat perubahan wajah Stefan yang menjadi semerah udang rebus.


"Aku tidak apa-apa." Sebisa mungkin Stefan tenang. Ia memang merasakan kulitnya menebal dan mata mulai berkunang-kunang. Namun ia merasa masih sanggup menahannya.


"Sini, biar El denganku." Ellard segera berdiri dan mengangkat sang cucu kedalam gendongannya. "Panggil sopir untuk membantu memapah Stefan ke dalam mobil Lun," titah Ellard yang melihat Luna panik bukan main.


"Kita ke rumah sakit Paman," ajak Stefan, suaranya terdengar lirih dan pelan. "Aku tidak apa-apa Lun."


Luna menghalau Stefan yang hampir nekad berdiri sendiri menuju mobil.


"Kamu duduk saja! Ya ampun Stefan kamu ceeoboh sekali! Bagaimana kamu bisa menganggap hal seperti ini enteng!" teriak Luna melampiaskan kekesalannya.


"Luna!"


"Iya, Pa." Luna terkesiap. Dia memang bingung dan panik karena tidak pernah menghadapi kondisi seseorang terkena alergi seperti ini.


Wanita itu segera berlari keluar mencari sopir ayahnya. Meninggalkan Stefan yang hampir kehilangan kesadarannya.


"Ayo cepat!" teriak Ellard yang mengikuti dari belakang kedua sopirnya yang membantu Stefan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Stefan terbaring di rumah sakit. Untung saja Ellard cepat mengambil tindakan untuk membawa keponakannya itu ke unit gawat darurat.


Meski tidak tergolong parah sampai sesak, tapi tanda-tanda hilangnya kesadaran yang dialami Stefan masuk dalam tanda- tanda bahaya.


Hari beranjak siang saat Luna datang menyusul dengan Elea. Wanita itu ikut khawatir karena dialah yang memasak telur untuk Stefan.


"Bagaimana kondisinya, Pa?" tanya Luna pada sang ayah.


"Stefan sudah stabil, untuk cepat tertolong. Besok juga boleh pulang." Ellard menemani Stefan dari awal dia masuk rumah sakit tadi.


"Menyebalkan! Kenapa dia memakannya jika tahu tubuhnya alergi dengan telur." Luna masih saja kesal dengan Stefan.


"Mungkin dia tidak ingin mengecewakanmu. Karena kau sudah repot membuatkan telur itu untuknya," jawab sang ayah yang sangat mengerti perasaan Luna.


"Tetap saja, Pa. Harusnya dia_" Luna gemas sendiri. Ingin rasanya ia memukuli Stefan karena ceroboh.


"Kau tidak mau kedalam?"


"Tidak, Pa."


"Mama, El mau kedalam bertemu Paman Stefan," rengek Elea yang menarik-narik tangan Luna.


"Paman Stefan sudah baik-baik saja, Sayang. Kita pulang saja ya," bujuk Luna yang masih kukuh tidak ingin kedalam.


Gadis kecil itu menggeleng. Matanya berkaca mendengar sang ibu tidak mau diajak kedalam.


"Sayang...."


Elea melepaskan gandengan tangannya dari Luna. Gadis kecil itu berlari masuk kedalam kamar dimana Stefan dirawat. Kebetulan Ellard tidak menutup dengan benar pintu kamar itu tadi.


Luna segera mengejar Elea. Hingga mau tidak mau, wanita itu akhirnya ikut masuk kedalam kamar Stefan.


Disana, ia melihat Elea memeluk Stefan sambil menangis.


"Paman sakit apa? Kapan Paman sembuh? Kemarin Paman baik-baik saja. Apa Paman sakit karena makan terlalu banyak cake dengan El?" Elea memberondong pertanyaan pada Stefan yang terlihat masih lemas.


Sekilas tatapan Stefan jatuh pada Luna yang hanya berdiri mematung tanpa mendekat padanya.


"Paman tidak apa-apa, Sayang. Hanya perlu istirahat sebentar, besok juga sudah boleh pulang. Paman senang sekali makan cake bersama El, jadi mana mungkin Paman sakit karena itu." Stefan berucap sangat lembut pada putri kecilnya itu. Memberikannya penjelasan dengan pelan agar bisa diterima dengan mudah oleh Elea.


"Jangan menangis ya, Sayang. Sekarang El pulang dengan Mama. Paman berjanji, besok Paman sudah sembuh dan kita bisa jalan -jalan lagi," bujuk Stefan.


"Benar Paman? "


Stefan mengangguk melihat binar dimata Elea.


"Horeee...." Gadis kecil itu meloncat bahagia, kemudian memeluk Stefan dan berpamitan.


Luna tidak berucap sepatah katapun. Wanita itu hanya menunggu Elea selesai dengan Stefan.


"Bye ... Paman." Elea melambaikan tangannya dan mengajak sang ibu pulang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=


"Apa yang kau pikirkan Stef? Tidak mungkin kau lupa bukan jika kau alergi pada telur?" Ellard yang masuk setelah Luna dan Elea pergi, melampiaskan kekhawatiran serta kekesalannya pada keponakannya itu.


"Luna sudah memasaknya untukku Paman, bahkan tanpa kuminta."


Baru saja Stefan merasa senang karena Luna bersedia memasak makanan untuknya. Sampai ia sendiri melupakan alerginya pada makanan itu.


"Tapi itu membahayakan nyawamu. Untung saja semua membantu dengan cepat. Kalau tidak...." Ellard tidak mampu meneruskannya. Karena itu berarti Stefan sudah tidak ada disini.


Sedianya, ia hanya tidak ingin menolak makanan yang bahkan dibuat sendiri oleh tangan wanita yang ia cintai itu. Namun ia malah melupakan bahaya yang mengintai.


"Ini hari Sabtu, Stef. Tapi aku tetap harus ke kantor karena ada yang harus kuperiksa," ucap Ellard pamit. "Jika sudah boleh pulang hubungi saja."


"Terima kasih, Paman."


\=\=\=\=\=≠≠\=\=\=\=\=


"Dam, bagaimana?"


"Apanya, Ma?"


"Lowongan kerja untuk adikmu? Kata Kei kemarin ada, tapi kau mempersulitnya." Lilyana mengambil tissu dan membersihkan bibirnya.


"Kei selalu begitu. Aku hanya mengatakan padanya untuk membuat lamaran Ma, bukan mempersulitnya." Adam memperjelas perintahnya pada sang adik.


"Itu sama saja dengan mempersulitnya. Kau ini pemilik perusahaan Sayang, dan Kei adalah adikmu. Apa pantas adik seorang pemilik perusahaan melamar pekerjaan di perusahaan kakaknya dan bersaing dengan ratusan pelamar lain, memalukan bukan?" sindir Lilyana.


"Perusahaan itu milik Luna, Ma. Bukan aku."


"Kamu kan suaminya. Apa yang dia miliki sudah otomatis juga menjadi milikmu. Lagipula kau suami yang baik Dam. Kita menerima dia apa adanya."


"Mama bicara apa? Luna sangat baik pada keluarga kita, Ma. Dan untuk Kei, aku sudah mengatakannya pada Mama agar anak itu bekerja dahulu membantu Papa. Agar dia mempunyai pengalaman kerja. Tapi apa? Mama terlalu memanjakannya dengan membiarkan dia hanya di rumah saja." Adam kesal dengan ibunya.


"Pengalaman apa yang didapat dari perusahaan Papamu yang hampir bangkrut itu? Yang ada malah membuat malu." Lilyana mengomel, karena suaminya tidak bisa diandalkan.


"Sudah dua kali aku menyuntikkan dana pada perusahaan Papa. Tapi nihil, tidak ada hasil yang terlihat. Dan Papa malah semakin parah."


Adam kecewa. Dulu ibunya yang hidup boros, hampir menghabiskan seluruh perusahaan yang dibangun sang ayah dengan susah payah. Namun akhir-akhir ini, ternyata ketahuan jika sang ayah juga terlilit hutang di meja judi.


"Maka dari itu. Terima Kei kerja di perusahaan untuk membantumu. Agar dia bisa sedikit membantu keuangan keluarga kita," bujuk Lilyana pada putranya.


"Aku tidak bisa berjanji, Ma. Apalagi memberi keputusan. Aku perlu berbicara dengan Luna lebih dulu. Dia adalah pemilik sah perusahaan. Dan Luna mengharuskan kualitas yang tinggi dari seseorang yang menjadi asisten ku kelak," putus Adam mengakhiri sarapan paginya.


"Bukankah seharusnya kau yang memutuskan? Kau direkturnya Dam, dan Luna hanya istrimu. Dia harus menurut padamu," ucap Lilyana yang kesal karena belum mendapatkan kepastian untuk Kylie.


"Aku pulang, Ma. Luna pasti sudah menungguku," pamit Adam tanpa mencium sang ibu.


Lelaki itu hanya melambaikan tangannya tanpa berbalik.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Luna tiba di rumahnya saat Adam sudah lebih dulu sampai.


"Sudah pulang? Maaf aku menginap di rumah Papa." Luna mencium pipi Adam yang berdiri menyambutnya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Lagipula aku sedang tidak ada di rumah. Aku baru saja sampai." Adam menggendong Elea yang berdiri disamping Luna.


"El sudah tidur saat aku ke rumah Papa. Aku lembur sampai lupa waktu." Luna mendengkus pelan mengingat kejadian semalam. Elea yang tertidur nyenyak dalam dekapan Stefan bukan Adam.


"Jagalah kesehatanmu, Sayang."


"Daddy libur hari ini?" tanya Elea yang memainkan kancing baju sang ayah.


"Ya, Daddy libur. Tapi ada jadwal tenis dengan rekan kerja Daddy sampai sore." Adam mencubit gemas hidung Elea.


"El main sama Mama saja ya?" bujuk Luna yang melihat perubahan susana hati diwajah putri kecilnya itu.


"Elea mau menggambar saja di kamar, Ma." Gadis kecil itu langsung berlari ke kamarnya.


"Aku pergi ya, Sayang. Mereka sudah menunggu," pamit Adam. seraya menunjuk pada arlojinya. Rupanya lelaki itu sudah bersiap sejak tadi. Dia hanya menunggu Luna pulang untuk pamit.


"Hemm ... Nangan lupa makan siang," pesan Luna.


"Kamu juga."


Ciuman di kening Luna mengakhiri pertemuan hari ini. Hari libur pun tidak ada waktu untuk keluarga.


\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=


"El...." Luna melihat Elea dikamarnya. "Menggambar apa Sayang?" tanya Luna sebelum masuk ke kamar menghampiri gadis kecil itu.


"Paman Stefan yang sedang di rumah sakit." Elea nampak serius menggoreskan crayon warnanya. Tidak lama kemudian, gadis kecil. itu menunjukkan gambarnya. "Mama, El ingin main dengan Paman slStefan, boleh?"


"Paman butuh istirahat, Sayang. Agar cepat sembuh," bujuk Luna untuk menolak keinginan Elea.


"Tapi kata Paman tadi, Paman sudah sembuh, Ma. El mau ke rumah sakit, main dengan Paman,"


rengek Elea.


"Sayang, Mama ada sedikit urusan di luar. El ikut Mama saja ya, nanti kita ke pusat permainan." Luna terus membujuk sang anak agar tidak ke rumah sakit.


"El mau main dengan Paman Stefan. Mama antar saja El ke rumah sakit, tidak perlu ditunggu."


Elea tetap pada pendiriannya. Bahkan Luna sudah menawarkan banyak mainan untuk dibeli nanti jika putri kecilnya itu bersedia ikut dengannya ke pusat permainan.


"Baiklah, Mama antar El."


Akhirnya Luna mengalah. Sedangkan Elea, gadis kecil itu melonjak kegirangan karena akan bertemu kembali dengan Stefan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Paman...."


Teriak El begitu memasuki kamar Stefan. Lelaki itu sedang bermain dengan ponselnya.


Stefan mengembangkan senyumnya. Baru saja ia membuka galeri foto di ponselnya, dimana disana ada foto Elea dan dirinya. Tiba- tiba gadis kecil itu sudah sampai disini lagi.


"Tinggalkan saja Elea disini. Nanti biar aku telpon Alex jika dia sudah ingin pulang." Stefan bukan mengusir Luna. Namun lelaki itu bisa membaca mimik wajah tidak rela dari Luna.


Bagaimana lagi? Elea memaksa untuk berada disini, sedangkan Luna tidak mungkin akan menunggunya.


"Mama pergi dulu ya, El. Nanti telpon Mama saja ya, kalau El sudah ingin pulang." Luna tetap saja tidak tega meninggalkan Elea disana bersama stefan.


"Siap! El hapal nomor Mama, sudah diluar kepala." Gadis kecil itu tersenyum menggemaskan. Kemudian mengantar sang ibu hingga depan pintu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bu, tumben Sabtu lembur. Biasanya... "


"Ini luar biasa, Em," sahut Luna dengan suara menekan. "Sudah, siapkan semuanya dan bantu aku berpikir mencari sesuatu yang bisa membongkar semua kebusukan ini. Aku yakin ini hanya fitnah," ucap Luna.


Wanita itu tidak mungkin mengungkap apa yang diketahuinya dengan Stefan. Ia hanya memeriksa dan memeriksa. Semua orang disini patut Luna curigai.


"Siapp!" bisik Emma sambil mengerling. Gadis itu segera meluncur keluar dari ruangan Luna.


💗Terima kasih masih mengikuti, love u