La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 135



Rupanya Luna dan sopirnya harus disandra selama satu jam disana. Tujuannya hanya satu, menghambat jalannya sidang hari ini, hingga Luna tidak bisa hadir. Ponsel Luna juga di lempar ke dalam mobil oleh wanita yang seperti laki-laki itu.


"Kita pergi sekarang! Ini sudah terlalu lama," ajak wanita penyandera itu kepada rekannya.


"Sebentar lagi. Bos akan membunuh kita, jika kita bekerja sesuka hati," jawab lelaki yang sedari tadi mengacungkan pistolnya ke arah Luna.


"Apa kau bodoh!? Ini sudah terlalu lama dan kita hanya membuang waktu tanpa melakukan apapun disini selain menjaga mereka. Pekerjaan yang tidak menarik sama sekali! Karena aku yakin keluarganya pasti akan mencarinya!" bentak wanita itu sembari melotot pada rekannya.


"Lalu ini bagaimana?" Lelaki itu kebingungan ketika rekan wanitanya mengajak meninggalkan Luna dan sang sopir begitu saja.


Wanita itu mendekati rekan lelakinya, kemudian mengarahkan pistol yang ada di tangan rekan lelakinya itu ke bawah.


Dor!


"Ahhhhhh," pekik sopir William.


"Jangan lupakan ancaman kami! Kami bisa berbuat lebih jika kamu macam-macam!" teriak si penjahat wanita. Dengan cepat ia menarik jaket rekan lelakinya untuk kabur. lelaki itu hanya melotot melihat apa yang baru saja terjadi.


"Pak!"


Luna segera keluar dari mobil kemudian berpindah ke depan melihat kondisi sopir sang paman.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Untung pelurunya hanya menyerempet kaki." Dengan napas terengah, sopir dari sang paman terlihat menahan sakit.


"Tidak apa-apa bagaimana? Bapak terluka, kita ke rumah sakit sekarang! Bapak geser, biar saya yang menggantikan," titah Luna yang membantu sang sopir mengangkat kakinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sementara itu, sampai sidang selesai Luna juga belum hadir. Membuat semua keluarga yang hadir disana khawatir.


Ellard langsung keluar setelahnya, untuk menghubungi putrinya. Namun nihil, bahkan ponsel Luna tidak aktif hingga membuat Ellard berpikiran buruk.


"Lex, cek posisi terakhir Luna dimana? Ag, terus hubungi Luna!" titah Ellard pada keduanya.


"Bagaimana, Paman? Apa saya susul saja," Bhara terlihat berlari keluar. Bahkan lelaki itu melepas jubahnya sambil berlari.


"Alex sedang mencari posisinya anak muda. Jangan gegabah!" ucap Ellard yang terlihat tenang meski hatinya tidak demikian.


"Saya mendapatkannya, Tuan. Sinyal ponsel Nyonya hilang di tempat ini," tunjuk Alex pada Ellard.


Tanpa mereka ketahui, Bhara ikut mendekat. "Aku tahu jalan itu, aku akan kesana paman!"


"Bhara!" panggil Ellard.


Terlambat.


Lelaki itu sudah berlari jauh menuju mobilnya. Bahkan sosoknya sudah tidak kelihatan oleh mereka.


Aglen menggeleng pelan dengan menipiskan bibirnya. Lelaki berkuncir itu tidak membenci Bhara. Namun ia membaca spontanitas keperdulian dan perhatian Bhara pada adiknya.


Dan Aglen tidak menyukai lelaki yang menjadi budak cinta. Padahal belum tentu Luna menyukainya.


Mendadak otak Aglen mengingat Evelyn. Bukankah ia sama seperti Bhara? Sedang menjadi budak cinta.


Ia terus iseng pada gadis itu, bahkan ia membelikan gadis itu sepatu.


Tidak! Aku tidak seperti itu. Aku tidak seperti Bhara. Aku tidak sedang jatuh ... cinta.


Deg!


Gluk!


Itu terlihat bohong. Aglen seperti sedang menceritakan perasaannya sendiri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Tidak apa-apa, Nyonya. Tidak perlu rawat inap, setelah kami obati bisa langsung pulang," ucap seorang dokter yang menangani sopir sang paman.


"Syukurlah."


Luna bernapas lega mendengarnya. Wanita itu terburu membuka ponselnya yang tadi hanya diambil dari bawah dan ia masukkan kedalam tas begitu saja tanpa memeriksanya.


"Mati?"


Luna mencoba menyalakannya kembali. Dan syukurlah ternyata ponselnya hanya mati setelah adegan pelemparan yang dilakukan oleh penjahat tadi.


Mendadak, banyak sekali pemberitahuan panggilan sang ayah dan sang kakak masuk secara beruntun.


Luna segera menghubungi kembali nomor sang kakak.


"Kamu dimana?" Tiba-tiba terdengar suara Aglen yang membentak.


"Di rumah sakit, Kak. Sop_"


Lelaki berkuncir itu selalu bersikap seperti itu saat berhadapan dengan Luna.


"Aku baik-baik saja, Kak. Kalian ke sini saja, ada yang menembak sopir paman Will."


"Apa! Baiklah kami segera kesana."


Aglen memutuskan panggilan sepihak, tanpa bertanya lagi nama rumah sakit sang adik berada.


"Dasar kebiasaan!" kesal Luna lirih. Ia mengirimkan alamat rumah sakit dimana ia berada pada sang ayah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kita ke rumah sakit, Pa. Sudah kubilang Bhara terlalu gegabah," ucap Aglen yang berjalan mendekati sang ayah.


Hanya selisih sepuluh menit dari waktu keberangkatan Bhara. Aglen mendapatkan kabar dari adiknya karena lelaki itu tidak berhenti menghubungi nomor Luna.


"Apa yang terjadi? Mengapa kita ke rumah sakit?" hardik sang ayah yang kaget mendengarnya.


"Sopir paman Will ditembak orang asing," jawab Aglen sambil berjalan menuju mobilnya.


"Apa? Itu pasti hanya untuk mencegah Luna datang kesini. Kemana pamanmu?" tanya Ellard yang mengekor di belakang Aglen.


"Pulang, Pa. Mereka khawatir dengan Elea. Lawan bisa melakukan apa saja untuk mewujudkan keinginan mereka."


Keduanya sudah sampai di depan mobil. Dan Aglen masuk lebih dulu, sedangkan Ellard nampak berhenti dan membuka ponselnya.


"Kita ke rumah sakit apa?" tanya Ellard selepas menatap layar ponselnya.


"Aku tidak tahu, Pa. Luna tidak mengatakannya," sahut Aglen tanpa rasa bersalah.


Ellard melangkah lebih dekat, kemudian duduk di samping kemudi di sebelah Aglen.


"Kau yang harus bertanya Ag, bukannya main memutus panggilan begitu saja," kesal Ellard yang memberi kode anak lelakinya itu untuk segera menyalakan mobil.


"Aku lagi yang salah," sungut Aglen.


"Biar Alex yang menyetir, kamu duduk dibelakang saja. Hubungi Bhara dan beritahu sekalian nama rumah sakitnya," titah Ellard yang akhirnya mengusir Aglen untuk duduk di belakang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Luna ... Apa yang terjadi?"


Christina memeluk keponakannya begitu turun dari mobil. Ia hanya mendengar cerita dari sang suami tentang kejadian yang menimpa Luna dan sopir keluarganya itu.


Pasangan suami istri itu memutuskan pulang lebih dulu karena mereka meninggalkan Elea sendirian.


"Tidak apa-apa, Bi. Sopir paman yang terluka."


Setelah itu, Alex terlihat membantu memapah sopir William keluar dari mobil.


"Ini pasti perbuatan mereka. Hanya mereka yang menggunakan cara kotor seperti ini," geram William begitu melihat Luna dan yang lain datang.


"Iya, aku rasa kita harus memperketat pengamanan kita dimanapun. Cara amatir seperti ini masih digunakan Edward untuk mengancam. Apa dia pikir kita akan takut? Jika dia pintar seharusnya dia menculik Luna, tapi tidak dilakukan olehnya," ucap Ellard menambahi.


"Atau mungkin mereka mengira kita tidak akan segarang dulu Ell?" William menoleh pada sang adik yang tersenyum meremehkan.


"Sepertinya begitu. Mereka pikir kita takut menggunakan kembali hukum rimba yang pernah kita anut dulu. Padahal aku akan tetap menggunakannya jika hukum di negara ini tidak berpihak pada yang benar." Ellard terlihat bersemangat mengomentari setiap pernyataan sang kakak.


"Papa mau apa!? Jangan macam-macam!" ancam Luna pada sang ayah. Luna sudah cukup mengerti apa yang dibicarakan kedua lelaki generasi kedua keluarga Efrain itu.


"Seorang induk akan selalu melindungi anaknya dengan cara apapun, sayang."


Tatapan Ellard dalam. Ia memang begitu menyayangi anak perempuannya itu, terlepas ia lahir dari rahim Hannah, cinta pertamanya.


"Ini tidak serumit itu, Pa. Kita hanya perlu bertahan dan menjalani sidang dengan benar," ucap Luna mengingatkan. Wanita itu melingkarkan lengannya pada lengan sang ayah.


"Rupanya ini yang menjadi rahasia papa bertahun-tahun. Mengapa ia sangat ingin anak perempuan," ucap Ellard seraya mencium puncak kepala Luna kemudian lelaki paruh baya itu mengeratkan dekapannya.


William menghembuskan napas beratnya. "Ya. Karena jika anak kita laki-laki, mereka pasti hanya akan mendukung atau menolak apa yang kita lakukan. Sedangkan anak perempuan, mereka lebih menggunakan perasaan dan menunjukkan cintanya pada sang ayah."


"Aku mencintaimu, Pa. Kau tidak boleh pilih kasih. Dan aku juga mencintaiku, Paman. Sama seperti Stefan," ucap Aglen tiba-tiba.


"Sepertinya kau habis terbentur sesuatu, Ag," sindir sang ayah yang disambut senyum masam Aglen.


"Aku setuju denganmu Ell."


"Paman!"


💜💜💜💜💜