La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 90



"Dok, bagaimana?"


"Disana sudah siap menerima Nyonya Luna, Tuan. Saya juga sudah menjelaskan kondisinya agar ditangani dengan cepat."


"Saya sudah siapkan heli, Dok. Maaf, saya tidak busa ambil resiko untuk keponakan saya."


William berjalan berdampingan dengan dokter yang merawat Luna.


"Itu justru lebih bagus, Tuan. Lebih cepat sampai di sana lebih baik. Sepertinya saya akan ikut saja. Kebetulan dokter yang akan menerima disana adalah teman saya."


"Terima kasih banyak, Dok!"


Luna segera dibawa ke lantai paling atas dari gedung rumah sakit itu. Dia akan di rujuk ke rumah sakit pusat, dimana terdapat Dokter ahli dan peralatan medis dengan teknologi mutakhir yang bisa membantunya.


William ikut mengantarnya ke atas. Kemudian lelaki paruh baya itu turun ke lantai dimana sang cucu dirawat. Ia pamit dengan Christina untuk mengantar Luna ke rumah sakit yang dituju.


"Hati-hati, Sayang," ucap Christina. Untung saja Elea sudah tidur kembali. Gadis kecil itu tidak begitu rewel menanyakan sang ibu setelah Christina menjanjikannya bertemu jika ia sudah sembuh.


"Hemm...." William mengangguk dan mengecup singkat pipi istrinya. "Jaga El ya."


"Jaga Luna juga. Aku hanya ingin mendengar berita baik, Will," mohon Christina.


"Percayalah Luna wanita yang kuat. Ia sudah bertahan sejauh ini, Sayang."


Mereka berpisah dan melepas tangan mereka dengan harapan membawa berita baik untuk Ellard.


Sesungguhnya, bukan hanya Ellard yang menyayangi putrinya. Luna adalah satu-satunya pewaris wanita di keluarga Efrain. Siapapun menyayanginya termasuk kedua orang tua Stefan itu.


Menjadi kebanggan tersendiri karena dalam keluarga Efrain, perempuan sangat dijaga dan dilindungi oleh mereka. William juga khawatir, hanya saja ia tidak menunjukkannya. Karena ia tidak ingin Christina lemah.


\=\=\=\=≠\=≠\=


"Apa kau serius tidak bisa membantuku, Pau?"


Adam mengusap keringat yang membasahi rambut-rambut tipis yang kini tumbuh didekat telinganya. Lelaki itu bahkan tidak lagi perduli dengan penampilannya.


Ia sibuk memikirkan bagaimana cara mendapatkan dana untuk produksi barang yang baru. Agar semua klien yang dirugikan tidak memutus hubungan, karena itu akan sangat merugikan perusahaan Luna.


Hal paling buruk yang bisa terjadi adalah terancam gulung tikar. Perusahaan milik Luna memiliki pasar paling besar di Eropa. Dan malangnya, hampir semua komplain berasal dari negara-negara disana.


Sedangkan disini, neraca keuangan perusahaan sudah tidak seimbang. Dan ancaman ayah mertuanya membuat ruang gerak Adam semakin sempit.


Lelaki itu mengira ia masih bisa meminta tolong pada Luna. Namun kenyataanya, ia harus bertanggung jawab sendiri. Hal yang tidak pernah disangakanya dari sang istri yang dulu selalu membelanya.


"Halo? Dam ... Adam? Apa kau masih disana?"


Suara Pauline cukup kencang karena ia tidak mendengar suara Adam.


"Maaf, pikiranku sangat kacau. Apa kau benar-benar tidak bisa mengusahakannya? Aku janji menggantinya secepat mungkin, Pau. Tolong aku," mohon Adam pada Pauline. Ia tidak memiliki siapa-siapa lagi yang bisa membantunya. Di otaknya hanya tersisa Pauline.


"Tidak. Aku tidak bisa," jawab Pauline lirih.


"Atau mungkin kau bisa meminjamkannya pada Angel. Ayahnya sangat kaya bukan? Jabatanku disini terancam dan rumah tanggaku ... Dipertaruhkan."


Tiba-tiba saja Adam teringat dengan Angeline. Gadis kaya putri keluarga Peterson itu masih sepupu Pauline. Pasti gadis itu memiliki banyak uang.


"Apa kau lupa Angeline dimana sekarang?" Pauline memancing Adam. Karena berita tentang Angel dimuat di media sosial dan media cetak negeri itu.


Bagaimana mungkin lelaki yang menghubunginya itu tidak tahu. Atau mungkin hanya berpura-pyra saja.


"Hanya dia yang disana. Bukan berarti semua uangnya juga ikut ke sana bukan?" jawab Adam santai. Lelaki berambut pirang itu seperti menganggap remeh hukum yang sewaktu-waktu bisa juga menjeratnya.


"Kau gila, Dam! Angeline sudah jatuh miskin sejak hakim mengetuk palu atas apa yang diperbuatnya. Perusahaannya terancam bangkrut dan ayahnya menghentikan segala fasilitasnya."


Adam terbelalak. Ia tidak menyangka Ronald peterson tega terhadap pewaris tunggal dirinya. Bahkan seorang ayah seharusnya tidak sekejam itu.


"Aku begini karena kalian! Bukankah seharusnya kau membantuku, Pau! "


Adam menggertak. Ia tidak mau sengsara sendirian.


"Jadi kau menyalahkanku? Kau sendiri yang memutuskan ikut. Bukankah kerugian perusahaanmu karena kepentingan pribadimu!? Kau menikmatinya sendiri maka kau juga harus membayarnya sendiri!"


Klik.


Panggilan Adam diputuskan sepihak oleh Pauline.


"Sialan! Wanita menyebalkan! Aku harus bagaimana untuk membayar biaya produksi yang membengkak seperti ini? Uangku bahkan tidak ada seperempatnya!" umpat Adam sambil memukul dinding berkali-kali.


Adam membanting sebuah guci di dalam ruangannya. Selain menjawab semua panggilan dari klien ia juga disibukkan memikirkan darimana ia bisa mendapatkan uang.


Ellard memang mewajibkan dirinya yang menjawab langsung segala keluhan klien, karena lelaki paruh baya itu tidak mau ambil pusing dengan keluhan karyawannya yang angkat tangan atas komplain-komplain itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Papa kenapa?"


Aglen menangkap sang ayah yang mendadak limbung setelah mereka makan siang bersama di sebuah restoran.


"Entahlah. Tiba-tiba Papa pusing. Mungkin hanya kelelahan."


Ellard menutup sejenak kedua matanya. Tadi dirinya memang merasa jika kepalanya mendadak berputar-putar.


"Aku antar ke Dokter, ya?" tawar Aglen. Sang ayah memang rutin medical check up beberapa bulan sekali. Dan kesehatannya selalu terjaga karena Ellard adalah orang yang disiplin dan memperhatikan kesehatannya sendiri.


"Tidak usah. Baru beberapa hari yang lalu Papa dari sana. Ambilkan saja Ibuprofen di dalam mobil. Di kotak obat Papa," titahnya.


Mereka tidak jadi meninggalkan restoran itu. Dan ellard akhirnya mengambil duduk di lobi restoran itu.


"Ini, Pa. Minumlah." Aglen datang menyerahkan obat dan juga membawa air dalam botol kemasan yang sengaja ia beli untuk ayahnya.


"Istirahatlah dulu. Tidak ada meeting kan setelah ini. Semua pekerjaan kantor biar aku yang handle. Papa memang sudah waktunya istirahat." Aglen membantu sang ayah melepas jasnya. Kemudian duduk disampingnya.


"Kau mengejekku!?"


Ellard kembali memejamkan matanya meski ia nampak sengit pada Aglen.


"Ayolah, Pa. Seumur hidup Papa terus bekerja untuk kami. Sekarang biarkan kami yang menggantikan Papa, dan Papa tinggal menikmati."


Ucapan yang sama pernah dilontarkan Luna pada Ellard. Benarkah kedua anaknya kini benar-benar siap untuk menggantikannya?


"Mana bisa begitu. Kau belum menikah dan adikmu sedang tertimpa masalah." Ellard memijat pelipisnya sendiri. Mencoba mengurangi rasa tidak nyaman yang menyerangnya.


"Bukan berarti aku tidak boleh bertanggung jawab atas Papa bukan!? Aku juga akan membantu adikku melewati masa krisisnya. Papa tidak usah khawatir."


Aglen menjawab ketus karena sang ayah mengungkit dirinya yang masih sendiri hingga saat ini.


"Adik?"


Ellard membuka matanya kaget. Sejak kapan anak lelakinya itu memanggil adik pada Luna. "Papa tidak salah dengar, Ag? Kau pasti hanya ingin menghiburku?"


"Sudah kubilang aku akan bertanggung jawab akan hidup kalian berdua. Bertiga dengan Elea. Jadi Papa bisa tenang jika pensiun sekarang."


Ellard menepuk punggung anak lelakinya. Otak dan hatinya mendadak dingin dan segar mendengarnya. Seperti baru saja disiram oleh beribu-ribu es.


Ellard merasa Aglen memang sudah waktunya mengambil alih. Meski masih ada sedikit keraguan karena kemampuan anak lelakinya itu.


Lelaki paruh baya itu menatap bangga pada anak lelakinya. Ia tidak menyangka waktu cepat berlalu hingga tidak menyadari, Aglen sudah jauh lebih dewasa kini.


"Aku akan menjaga Luna dan kalian semua. Aku tahu Papa mengkhawatirkannya." Aglen berucap sangat tenang dan lirih.


"Aku khawatir dengan rumah tangga Luna. Ini sudah tidak bisa dipertahankan. Adam membawa dampak buruk untuk keluarga kita. Aku tidak menyangka ia sekejam itu."


Ellard kembali menyandarkan tubuhnya di kursi. Sangat nampak lelaki paruh baya itu memikul beban paling berat.


Ia sangat terpukul dengan apa yang menimpa keluarganya. Meski mencoba menutupinya dengan setenang mungkin dan mengatakan pada anak-anaknya jika semua akan baik-baik saja, tentu semua tidak semudah itu.


Yang paling ia khawatirkan adalah psikologi Elea. Jika sampai hal buruk terjadi pada runah tangga anak perempuannya, tentu Elea lah yang paling kena dampaknya.


"Luna tidak selemah itu, Pa. Meski ia tetap saja perempuan yang juga sedih dan menangis. Aku yakin ia sudah mengetahuinya. Kita hanya harus selalu mendukungnya. Biarlah ia mengambil keputusan terbaik untuk dirinya sendiri."


Aglen teringat saat ia mengantar adiknya itu menemui Angeline di penjara. Saat perjalanan pulang, Luna menangis dan memeluknya. Mungkin Angeline memberi tahu fakta tentang Adam pada adiknya itu.


"Tetap saja Papa khawatir, Ag."


Napas berat Ellard terdengar. Rasa sayang seorang ayah pada anak perempuannya tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.


"Percayalah ... Keluarga kita bisa melewatinya. Efrain terlahir kuat, Pa." Lelaki berkuncir itu merangkul sang ayah.


Aglen tidak pernah melihat ayahnya segelisah itu selama ini. Bahkan saat lelaki paruh baya itu mengahadapi masalah terberat sekalipun.


💖💖💖💖