
Dia adalah Emma. Ya, gadis muda sekretaris Luna itu rupanya menjadi kaki tangan Angeline sudah cukup lama.
Padahal Luna sudah menganggap Emma seperti adiknya sendiri. Namun rupanya ada udang di balik batu pada setiap sikap dan perhatiannya pada Luna.
Luna tentu kaget pada awalnya. Namun tidak untuk saat ini. Karena ia sudah mengetahuinya sejak lama bersama Stefan.
Dan pelaku yang meletakkan kalung berlian di laci didalam ruangan Luna malam itu, adalah Emma. Seseorang yang sangat Luna percaya. Dan pastinya banyak karyawan lainnya yang juga tidak percaya jika gadis itu menusuk dari belakang.
Gadis muda itu juga telah dinyatakan sebagai tersangka dan akan ditangkap oleh pihak kepolisian.
Saat ini, ia dibiarkan untuk berkeliaran sebelum status tersangka disematkan padanya. Semua itu atas permintaan Luna.
Namun akses bepergian gadis itu telah dibekukan oleh pihak imigrasi dan wajahnya telah disebar dibeberapa kantor polisi kota. Sehingga ia tidak bisa bergerak kemanapun.
Dan seperti yang dilihat. Hari ini Emma tidak hadir setelah berkali-kali sidang sebelumnya ia selalu hadir. Gadis itu pasti sudah merasa jika apa yang dilakukannya telah diketahui.
Angeline mengakui telah memberikan sejumlah uang pada Emma untuk melakukannya. Gadis itulah yang sedari awal membantunya. Memberi berbagai info yang dibutuhkan Angeline. Emma juga lah yang mengambil kalung berlian itu dari tempat penyimpanannya.
Meski Luna tidak memiliki bukti pengambilan itu, namun karena Angeline sudah mengakuinya maka dianggap peryataannya, sama saja sebagai bukti.
Dan memang benar dugaan Luna, Angeline mengakui bahwa motifnya melakukan hal itu adalah rasa dendamnya pada Stefan karena menolaknya.
Sampai disini, tidak ada yang curiga dengan ucapan Angeline. Bahwa Stefan Efrain mencintai sepupunya sendiri. Para khalayak hanya berspekulasi jika Angeline menjadikan Luna sebagai korban karena wanita itu adalah saudara perempuan satu-satunya keturunan Efrain. Sehingga lebih mudah menyerangnya daripada anggota keluarga yang lain.
Angeline Peterson dinyatakan bersalah karena dengan sengaja membuat cerita palsu untuk memfitnah La Luna Efrain. Juga tuduhan penculikan dan pengancaman atas Luna dan Elea semakin memperberat hukumannya.
Angeline dikenakan hukuman 10 tahun penjara. Juga sejumlah denda yang harus dibayar oleh pada gadis itu pada pengadilan juga pada Luna.
Pengacara Angeline menerima keputusan hakim tanpa mengajukan banding, karena dirinya pun sama sekali tidak memiliki bukti tambahan untuk membela kliennya.
Lagipula, Angeline kehilangan segalanya saat ia ditetapkan sebagai tersangka. Kekayaan yang selama ini dikelolanya. Harta tersimpan miliknya, juga terancamnya status pewaris Peterson satu-satunya.
Di akhir penutupan persidangan, Angeline menangisi nasibnya. Dimana sang ayah sama sekali tidak membantunya. Dan sang ibu tidak sanggup bahkan hanya untuk menyaksikan sidangnya.
Gadis itu membeku di tempatnya, sampai petugas datang dan memapahnya pergi.
Ronald menunggu sang putri di luar. Namun Angeline tidak. bergeming saat melewatinya. Gadis itu bahkan tidak menghentikan langkahnya.
"Semoga ini menjadikanmu lebih baik, Ann. Kau tetap anak Papa," ucap Ronald dengan tatapan kosong saat sang anak melintas.
Angeline sempat berhenti. Namun bibirnya tak mengucap apapun pada sang ayah. Gadis itu melanjutkan langkahnya dengan mata kembali basah.
Para wartawan menyerbu Ronald Peterson. Meski dibuka untuk publik namun rupanya pada persidangan terakhir, Ronald sengaja meminta untuk tidak ada kamera sama sekali di dalam ruang sidang. Sehingga orang-orang yang duduk didalam bersih dari alat rekam apapun.
Ia mengkhawatirkan mental Angeline yang sudah terbiasa disanjung. Meski faktanya, gadis itu tetap diserbu wartawan saat ia hendak masuk mobil tahanan.
Ronald juga tidak memperdulikan berbagai pertanyaan wartawan yang menyerbunya setelah sang anak berlalu. Lelaki itu berjalan gontai menuju mobilnya diikuti para pengawalnya yang membukakan jalan.
Sebelum pengusaha sukses itu masuk ke dalam mobilnya, ia sempat menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya.
"Maafkan anak saya dan keluarga. Terutama untuk keluarga Efrain yang dirugikan, juga untuk kalian semua."
Lelaki paruh baya itu memasuki mobil dan pergi.
Luna masih duduk disebelah Andrew. Matanya basah karena akhirnya semua ini selesai dengan baik. Meski ia harus sendirian.
Sang Kakak datang mendekat, mengulurkan tangannya di depan adik perempuan satu-satunya itu.
"Selamat. Semuanya dimenangkan olehmu," ucap Aglen. Meski tidak terdengar luwes, namun niat baiknya tentu disambut senang oleh Luna.
Kali ini, suara lelaki berkuncir itu terdengar lembut. Membuat Luna teraenyum setelahnya dan lagsung berdiri membalasnya.
"Terima kasih, Kak. Sudah mau datang kemari."
"Aku tunggu kau di mobil," ucap Aglen sebelum pergi.
Luna sempat kaget. Hari ini ia memang berangkat bersama Andrew. Dan sekarang, tiba-tiba Aglen malah menawarkan untuk pulang bersama. Bagaimana sang kakak tahu ia tidak membawa mobilnya?
"Tuan...."
"Panggil Andrew saja. Tidak usah sungkan, Stefan juga memanggil nama padaku." Andrew ikut bahagia karena bisa memenangkan kasus Luna. Meski semuanya tidak lepas dari campur tangan sang sahabat.
Ia memang sama sekali belum melakukan pembayaran pada pengacaranya itu. Karena Andrew menolak menerimanya jika kasus ini belum menang.
"Stefan sudah melakukannya diawal ia memintaku. Semuanya sudah lunas."
Luna terbelalak. Tega sekali Stefan mempermalukannya. Ia yang menggunakan jasanya, tapi lelaki itu yang membayarnya.
"Satu lagi. Hubungi saja aku, jika kau membutuhkan jasaku kembali Nyonya. Stefan sudah mengontrakku seumur hidup untuk menjadi pengacara kalian."
Andrew tersenyum ramah, kemudian lelaki itu pamit pergi lebih dahulu.
"Seumur hidup? Pengacaraku dan Stefan? Mengapa ia aneh sekali," gumam Luna yang segera pergi menuju parkiran.
"Nyonya! Nyonya La Luna!" Seseorang terdengar memanggil Luna dari belakang.
"Iya."
Luna menoleh dan mendapati seorang lelaki tengah berlari memghampirinya.
"Maaf saya mengganggu sebentar."
Masih mencoba mengatur napasnya, lelaki itu membungkuk hormat. Kemudian ia menyerahkan sebuah kartu nama pada Luna.
"Jika tidak keberatan, Tuan kami ingin mengundang Anda. Tapi untuk waktunya, diserahkan pada Anda. Kapanpun anda siap bertemu, mohon menghubungi beliau."
Lelaki itu menunjuk pada kartu nama yang sudah ada di tangan Luna.
Ronald Peterson, owner Royal Diamond.
"Sampaikan ucapan terima kasihku pada Tuanmu. Untuk sekarang mungkin aku belum bisa. Tapi jika aku sudah siap, aku pasti menghubunginya," ucap Luna bijak.
Bagaimanapun seburuk-buruknya seorang anak, seorang ayah tidak akan pernah meninggalkannya. Dan Ronald Peterson memilih menyayangi Angeline dengan caranya.
Luna kagum dengan lelaki seumuran ayahnya itu. Dia menolak ikut campur bukan semata-mata karena nama besar Efrain saja yang tersemat pada nama Luna. Namun juga karena kesalahan Angeline memang layak dipertanggungjawabkan oleh anak gadisnya itu sendiri. Untuk memgajarinya dewasa.
"Terima kasih banyak, Nyonya. Akan saya sampaikan." Lelaki itu pamit pergi setelah menbungkuk hormat.
Luna menuju mobil Aglen yang tidak jauh dari tempatnya berhenti.
Wanita itu langsung masuk kedalam mobil sedan hitam yang terparkir disana.
"Lama sekali!" ucap Aglen ketus begitu Luna menempelkan pantatnya ke jok mobil.
"Maaf, Kak. Tadi masih berbincang sebentar dengan Tuan Andrew dan juga pengawal Tuan Peterson," Luna menelan salivanya.
Ia bahkan lupa lebih dulu mengabari sang kakak yang sudah menunggunya dari sidang berakhir.
"Mau apa lelaki tua itu?" Aglen bereaksi tajam.
"Mungkin saja ingin bertemu untuk meminta maaf atas perbuatan anaknya," jawab Luna asal.
Dari apa yang disampaikan pengawalnya, begitulah yang tertangkap oleh Luna.
"Tidak usah. Jangan lagi berhubungan dengan keluarga itu," larang Aglen.
"Yang bermasalah Angeline, Kak. Bukan Tuan Peterson," ucap Luna membela.
"Sama saja! Mereka itu ayah dan anak, anaknya trouble maker sudah pasti ayahnya lebih dari itu!"
"Tidak, Kak."
"Iya Luna. Kau harus menurut kata_"
Ciiiiittttt.
Brakk!
😍what happen? Aya naon?