La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 78



"Apa aku mengganggu?"


Luna membuka sebagian pintu di ruang kerja sang ayah dari luar. Wanita itu mengintip hanya dengan menyembuhkan kepalanya saja.


"Masuklah! Sesibuk apapun, kau boleh mengganggu Papa." Senyum Ellard mengulas melihat anak perempuannya yang tengah mengintip.


"Apa kabar, perusahaan kita?" tanya Ellard begitu Luna meletakkan pantatnya ke kursi yang berada di depan meja Ellard.


"Kenapa harus itu yang Papa tanyakan." Luna berdecakk kesal, tapi lirikan Luna menjawab jika wanita itu hanya bercanda. "Tanya hal lain saja, Pa. Ya?" pintanya manja.


Luna mengangkat pantatnya dari kursi dan mendekatkan wajahnya ke wajah sang ayah. Persis yang dilakukan Elea jika gadis kecil itu memohon sesuatu pada sang kakek.


Tidak!


Jika itu Elea, sudah pasti ia akan naik diatas meja dan merengek. Dan gadis kecil itu tidak akan mau beranjak dari sana hingga permintaannya dikabulkan.


Ellard tersenyum kecil. "Kau mirip El." Lelaki paruh baya itu meletakkan telunjuknya di dahi Luna, kemudian mendorongnya mundur. "Aku ini Papamu. Aku harus tahu apa yang menjadi bebanmu."


"Pekerjaan bukanlah beban, Pa. Itu adalah sebuah tanggung jawab. Satu-satunya bebanku adalah Papa yang masih terus memaksa diri bekerja. Karena seharusnya, Papa sudah menikmati saat-saat pensiun," celoteh wanita itu seperti anak kecil didepan sang ayah.


Ya, biasanya seorang ayah akan mendengarkan anak perempuannya. Tapi Ellard yang terlalu khawatir dengan anak perempuannya ini tidak pernah bisa melepas begitu saja tanggung jawabnya.


Mengingat dimasa lalu ia tidak bisa menemani masa-masa emas pertumbuhan putrinya itu. Ellard hanya ingin memastikan Luna hidup bahagia.


"Aku belum terlalu tua untuk pensiun. Sembarangan sekali kau!" Mata lelaki paruh baya itu melotot mendengar ucapan sang anak.


"Seluruh hidup Papa sudah Papa dedikasikam untuk keluarga. Apa salahnya sekarang ganti kami yang mengambil tanggung jawab itu. Aku yakin kakak akan setuju," bujuk Luna.


Ellard memang masih sehat di usianya yang menginjak 60 an. Namun bukan itu maksud Luna. Wanita itu meski baru sebentar mengenal sang ayah daripada waktu yang ia habiskan tanpa sosok lelaki itu merasa sungguh bahagia.


Sosok yang awalnya tidak ia kenal namun ternyata adalah seseorang yang darahnya mengalir dalam tubuhnya. Ellard adalah lelaki yang bertanggung jawab pada keluarganya, meski lelaki itu selalu merasa terlambat melakukannya pada Luna.


Dan Luna, ia ingin membalas kebahagiaan yang ia dapatkan dari sang ayah dengan menggantikan tanggung jawab lelaki itu.


"Kakakmu? Dia masih jauh dari itu," ungkap Ellard. "Apalagi suamimu ... Maksud Papa ... Bukan, maksud Papa bukan begitu." Ellard keceplosan, dan ia malah bingung menjelaskannya. Lelaki itu membuang tatapannya ke lain arah.


Luna menunduk, namun sejenak kemudian ia menatap sang ayah dengan rasa bersalah.


"Bukan begitu maksud Papa, Sayang." Ellard mengulurkan tangannya menggenggam jemari Luna. "Jika ada yang harus disalahkan disini, itu adalah Papa."


"Papa tidak salah. Kita tidak bisa menebak sifat seseorang apalagi mengetahui dalamnya hati orang itu." Tatapan Luna sayu. Ia mencoba baik-baik saja di depan sang ayah.


"Sudah ada kabar tentang dia?"


Luna mengangguk, namun genggaman tangannya pada sang ayah semakin erat. "Dia di Rusia, mengejar adiknya. Dan Mama sakit. Baru kemarin Luna menyuruh orang menjemputnya pulang."


"Apa? Lilyana?" Luna kembali mengangguk. "Sakit apa, Sayang?"


"Komplikasi. Mama koma, Pa. Banya Papa mertua yang menemaninya di rumah sakit." Luna sedih mengingatnya. Disaat mertua membutuhkan dukungan lahir batin tidak ada satupun anak-anaknya disana. Hanya sang suami yang setia mengurusinya.


Helaan napas berat Ellard terdengar di telinga Luna.


"Apa kau....?


"Ya. Semuanya, Pa. Kenapa Papa menyembunyikannya dari Luna?" Sekarang ganti napas Luna yang terdengar memburu. Wanita itu hampir menangis, namun ia menahannya.


"Papa merasa sangat bersalah, Sayang. Bagaimanapun, Papa yang mendorongmu menikah dengannya. Dan Papa tahu, kau hanya menuruti kata Papa." Ellard menatap sendu sang anak.


Luna bangkit dari duduknya. Ia memutari meja untuk mencapai sang ayah. Wanita itu mengalungkan tangan ke leher Ellard, kemudian memeluk tubuh tua yang masih tegap itu dari belakang.


"Itu bukan salah Papa." Luna menyusup di punggung tegak yang bergetar itu.


"Kita akan menghadapinya bersama, Sayang." Ellard kembali meremas jemari Luna.


Ayah dan anak itu saling memberi kekuatan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dan memang ada seseorang dibalik layar yang selalu membantunya. Namun baik Adam maupun Pauline tidak bisa menemukan siapa dalangnya.


Kali ini, Adam bergerak dalam diam. Ia lebih tenang, setelah sebelumnya ia terlalu emosi malah membuat semua rencananya berantakan.


Bahkan kedatangannya bersama Pauline ke Spanyol dengan identitas yang berbeda. Itu ide dari wanita yang membantunya itu setelah membaca rekam jejak Kylie.


Begitu sampai di sebuah penginapan yang diduga ada Kylie disana, mereka berdua segera check in. Sayangnya mereka tidak bisa mendapatkan kamar yang berdekatan dengan kamar gadis itu. Sehingga mereka berdua hanya mengawasinya dari jauh.


Dalam penyamaran ini mereka berdua tidak bisa membawa anak buah mereka. Salah langkah sedikit saja, mereka akan kembali kehilangan jejak Kylie.


Adam berada di sekitar lift saat tanpa sengaja ia melihat Kylie melewatinya begitu saja. Namun ia tidak bisa terburu-buru dengan mengikuti adiknya itu.


Dengan sedikit mengendap-endap, Adam akhirnya mengikuti arah yang dituju oleh Kylie. Lelaki yang sedang dalam penyamarannya itu bertingkah seaneh mungkin agar tidak dicurigai.


Begitu melihat sosok yang diikutinya tengah bersendau gurau dengan seorang lelaki di pinggir kolam renang, Adam berencana menangkap basah adiknya itu.


Adam mengawasi Kylie, ia melepas semua atribut yang dipakainya untuk menyamar. Kemudian perlahan mendekati kedua orang yang asyik bercengkerama tanpa perduli dengan sekitarnya itu.


"Kylie!" panggil Adam ketika jarak antara dirinya dengan kedua orang yang salah satunya adalah Kylie itu hanya beberapa meter saja.


Sembari terus berjalan mendekat, Adam tetap memanggil nama sang adik. Namun gadis itu sama sekali tidak menoleh bahkan seperti tidak terusik ketika Adam berulang kali memanggil namanya.


"Kylie!" Kali ini Adam bukan hanya berteriak namun ia menggeram kesal.


Dengan dada bergemuruh Adam mempercepat langkahnya. Ia ingin segera menarik sang adik yang malah dengan tidak sopan bercumbu di hadapannya.


Adam yang sudah sampai dibelakang dua insan manusia yang tanpa tahu malu memadu kasih itu langsung menarik tangan sang adik. Namun, lelaki itu mendapat perlawanan.


"Ikut aku!" teriak Adam keras. Lelaki itu mencengkeram dengan erat pergelangan tangan adiknya.


"Aku tidak mau! Aku tidak kenal denganmu! sembarangan main tarik saja!" kylie menghentakkan tangannya yang ada digenggaman Adam.


"Kylie! Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu!"


"Aku tidak merasa mengenalmu. Jadi jangan mengatakan yang tidak-tidak!" bela Kylie pada dirinya sendiri.


Lelaki yang tadi bercumbu dengan gadis itu pun bingung. Ia hanya menatap keduanya bergantian.


Keduanya sama-sama keras. Laki-laki asing yang tiba-tiba datang itu mengaku mengenal gadis yang bersamanya. dan si gadis tidak merasa kenal.


"Dia siapa?" tanya laki-laki berperawakan tinggi besar itu pada Kylie.


"Aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak mengenalnya."


"Aku kakakmu Kylie! apa kau gila dengan mengatakan tidak mengenalku!" Adam yang tak mau kalah langsung menyahut ucapan Kylie.


"Namamu Kylie? Bukankah tadi kau mengatakan Clara?" Laki-laki yang bersama Kylie semakin bingung.


"Namaku memang Clara. Siapa bilang aku Kyl_" Gadis itu nampak mengingat sesuatu. "Ah ... Mati aku!" pekik Kylie tiba-tiba.


Sontak ia menarik lengan lelaki berperawakan tinggi besar itu untuk pergi.


"Kamu mau kemana Kei!?" teriak Adam yang melihat Kylie hendak pergi dengan lelaki yang bersamanya itu.


Bug!


Adam jatuh karena dilempar handuk oleh Kylie yang hendak kabur. Lelaki itu menabrak kursi malas yang ada dipinggir kolam renang dengan sangat keras hingga terjengkang.


"Kita kabur sekarang! Bahaya jika aku tertangkap," ucap Kylie pada teman lelakinya itu. Ia menarik paksa lelaki yang tidak tahu menahu dengan masalah mereka berdua.


"Ayo cepat!


😍😍 mohon maaf.. saya lama istirahatnya🙏