
Beberapa mobil meninggalkan kediaman Ellard dengan tenang. Nampak sepi, karena yang tertinggal disana hanya Luna dan bibi Jen. Bahkan bibi Ofelia pun dibawa oleh sang ayah untuk menemani Elea.
Luna masih terpaku di ambang pintu. Beberapa hari kedepan, entah untuk berapa lama ia akan disini sendiri menghadapi hari-harinya bersama Mr. Andrew untuk membuat jera Angeline. Nona kaya yang mengusik hidupnya itu.
Sementara itu, masih belum ada kabar sama sekali dari Adam. Entah kenapa, lelaki itu bagai hilang ditelan bumi. Luna hanya mendapat kabar dari sang ayah mertua, jika Adam pergi bersama sang ibu, Lilyana.
Malam ini, mata Luna enggan memejam. Ada saja yang melintas di pikirannya tentang segala hal yang menimpanya.
Semua seperti mimpi saja. Dimana ketika tiba-tiba Stefan datang ke Kanada tanpa ia tahu. Membuat Luna mengingat rasa sakit dan benci di masa lalu.
Padahal ia sudah mencoba berdamai dengan dirinya sendiri. Tidak mengingatnya, dan melanjutkan hidup tanpa ingin tahu tentang lelaki itu. Namun rupanya garis takdir tak semudah itu melepaskannya dari lelaki bergelar sepupunya itu.
Rumah sekaligus markas sang ayah begitu sunyi dan hening. Hanya ada beberapa anak buah Aglen ditinggal untuk menjaganya.
Entah mengapa, setelah melepas keluarganya untuk berangkat ke Amerika, hatinya terasa hampa. Seperti ada tempat kosong yang menganga, rasanya sangat hambar dan tidak nyaman.
Luna ingin sekali menghubungi Christina, mama dari Stefan, tapi sang ayah melarang. Ellard mengatakan bahwa ia sendiri yang akan menyampaikan salam Luna, dan belasungkawa yang dalam untuk rasa kehilangan wanita itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Nyonya Lilyana koma, Tuan. Sepertinya sakit komplikasi yang ia derita sama sekali tidak mendapat pengobatan yang cukup baik. Apa selama ini, beliau rutin kontrol atau_"
Dokter menggantung pertanyaannya. Melihat respon lelaki di depannya ini yang sepertinya tidak tahu apa-apa.
Di ruang tunggu pasien ICU, Adam hampir saja melorot ke lantai jika sang dokter tidak sigap membantunya. Ucapan Dokter yang baru saja didengarnya membuat dunianya gelap seketika.
"Apa Dokter?" Adam bukan tidak mendengarnya. Ia hanya berusaha menyakinkan apa yang ditangkap telinganya. Yang sangat jas diingkari oleh hatinya.
Selama ini, Adam memang tidak begitu perduli dengan sang ibu. Tapi itu bukan berarti Adam tidak menyayanginya. Dan Lilyana juga sama sekali tidak pernah mengeluh tentang sakitnya. Apa mungkin sang ibu sengaja?
"Saya ... Saya tidak pernah tahu jika ibu saya sakit parah, Dokter. Setahu saya beliau hanya memiliki riwayat hipertensi," ucap Adam gugup.
Sungguh Adam merasa begitu bodoh disana. Karena sang dokter sedari awal menatapnya bingung mendengar pernyataannya itu. Ya, terlalu tidak perduli untuk seseorang bergelar anak.
Helaan napas dokter paruh baya bernama Elias itu terdengar oleh Adam. Tertera jelas di jas putih bersih yang Dokter itu kenakan jika ia adalah seorang spesialis jantung.
"Saya bingung menjelaskannya, Tuan. Tapi akan saya coba memberi gambaran singkatnya." Kembali dokter Elias menghela napas dalam.
"Gula darah Nyonya Liliana jauh di atas angka maximal, dan tekanan darahnya cukup tinggi. Saya menduga ibu Anda tidak pernah mengobati sakitnya. Karena diabetes yang beliau derita sudah mengganggu kerja dari organ-organ yang lain. Dan hipertensinya pun sepertinya juga tidak terkontrol, hingga menyebabkan jantungnya membengkak. Intinya, saat ini kondisi Nyonya Lilyana berada di persentase fifty-fifty," ucap dokter Elias pelan.
"Apa maksudnya, Dok?"
"Komplikasinya sudah sangat parah. Beliau jatuh sebelum masuk ke rumah sakit ini bukan?"
Adam mengangguk. "Kaki pasien bengkak, Tuan. Kemungkinan, jatuhnya pasien juga karena itu," terang dokter yang membuat adam semakin menelan kegetiran.
"Terima kasih, Dokter," ucap Adam yang memutus pembahasan tentang sang ibu sepihak. Dia tidak kuat menerima penjelasan yang lebih pelik lagi saat ini.
Sebelum pergi, dokter Elias menepuk bahu Adam sebagai bentuk simpatinya pada lelaki itu.
Yang Adam tangkap dari ucapan sang dokter, jika kondisi ibunya tidak bisa pulih seperti sedia kala.
Lilyana akan koma entah sampai kapan. Dan seandainya ada keajaiban hingga sang ibu bangun, mungkin hanya akan berada pada kondisi jauh dibawah dari sebelumnya.
Adam tidak tahu harus memberitahu pada siapa. Ia tengah di negeri orang. Dan beberapa menit lagi, waktunya menemani sang ibu akan habis.
Lelaki itu harus meninggalkan sang ibu sendiri. Karena ia wajib kembali berada di kantor polisi menjalani proses dari kesalahan yang ia buat.
"Papa ... Ya, hanya Papa," gumam Adam. Lelaki itu sontak meraba semua saku bajunya, namun ia tidak menemukan ponselnya.
Beberapa detik kemudian, Adam menunduk pilu. Bahkan lelaki
itu lupa jika semua miliknya harus ditinggalkan di kantor polisi sebagai jaminan jika dirinya tidak akan kabur.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Langit yang cerah. Awan putih berarak menghiasi langit biru yang sendu. Ya, meski pagi seterang senyum Elea, namun tentu tidak untuk keluarga Efrain yang lain.
Di rumah keluarga William tak nampak ramai. Bahkan cenderung sepi jika diperhatikan sekilas dari luar. Hanya orang-orang yang memiliki akses terbatas yang bisa masuk rumah mewah itu. Dan tentunya dari kalangan keluarga serta beberapa sahabat terpercaya.
Sedangkan Aglen, lelaki yang hari ini menggerai rambut sebahunya itu tengah mengajak Elea ke taman. Karena khawatir gadis kecil itu bertanya lebih jauh dan tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan.
Gadis kecil itu masih nampak bingung dengan apa yang terjadi.
Karena setiap kali bertanya tentang Stefan, sang kakek hanya terus menjawab bahwa paman kesayangannya itu telah pergi ke surga. Dan anehnya lagi, ketika Elea mengatakan mau ikut, Ellard pun selalu menjawab belum waktunya.
William dan Christina nampak tabah. Meski beberapa kali Christina hampir limbung karena emosinya yang naik turun.
Stefan adalah putra mereka satu-satunya. Kebanggaan setiap keluarga yang memilikinya. Karena lelaki itu berprestasi pada bidang bisnis yang digeluti oleh keluarganya.
Pewaris William satu-satunya itu sebenarnya tidak pernah dicoret dari keluarganya. Sang ayah hanya mengancam, namun rupanya Stefan lebih keras dan memiliki prinsipnya sendiri dalam memilih pasangan. Berbeda dengan orang tuanya yang rela dijodohkan.
Christina menangis pilu. Karena perselisihan sang suami dengan anak kesayangannya itu ia jadi kehilangan waktu kebersamaan mereka. Stefan menjauh dengan alasan tidak ingin menambah rasa kecewa pada kedua orang tuanya.
Sudah lama Christina tidak bertemu dengan sang anak. Dan sekarang, ia malah harus menerima kedatangan putra kesayangannya itu dalam keadaan yang menyedihkan. Hanya tinggal raga, tanpa nyawa.
Tidak ada hal yang bisa menggambarkan kesedihannya dengan apapun. Christina mematung dengan tatapan yang tidak lepas dari peti berwarna putih bersih itu.
Setiap pelayat yang datang mengucap belasungkawa dengan mendekatinya, hanya dijawab anggukan oleh wanita paruh baya yang masih cantik diusianya itu.
Sesekali, Christina nampak menempelkan saputangan di sudut matanya. Disela lalu lalang orang-orang, ia mencoba tersenyum meski terpaksa. Wanita paruh baya itu tidak mampu berkata-kata.
Berbeda dengan William yang sesekali masih mengucapkan sepatah dua patah kata sebagai ucapan terima kasih atas kedatangan mereka.
Proses pemakaman Stefan berjalan tertutup. Tamu yang datang hampir sembilan puluh persen adalah keluarga.
Cerita sebenarnya dan berita kematiannya di tutupi sedemikian rupa hingga tidak terendus media.
Lelaki tampan itu dimakamkan di belakang rumahnya sendiri. Itu permintaan sang ibu, yang masih berharap keajaiban diantara hasil yang sudah ditangan. Bahwa jenazah itu memang sang putra kesayangan, Stefan.
Tidak main-main. Jenazah yang teridentifikasi sebagai Stefan Efrain itu telah melewati tes DNA dan kecocokan struktur gigi oleh tim forensik di sebuah rumah sakit di Kanada.
Tentunya semua ada dibawah kendali Aglen. Dimana pihak rumah sakit sudah dibungkam untuk menghilangkan satu jenazah ini tidak diungkap di media karena permintaan keluarga.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seperti biasa, Luna berangkat ke kantornya dengan dikawal oleh anak buah Aglen yang menyamar menjadi sopir dan juga asisten barunya.
Ia pergi ke kantornya sendiri. Karena perusahaan yang berada dibawah kendali Adam dan sang ayah sudah ada yang menangani.
Baru saja ia turun dari mobil dan memasuki lobi, banyak sekali mata karyawan yang memperhatikannya. Namun begitu, Luna tetap tenang.
Beberapa hari tidak hadir di tempat itu, membuatnya sedikit asing. Terutama dengan Emma. Namun gadis yang dipilih Luna menjadi sekretaris itu sepertinya tidak bertindak demikian pada bosnya itu.
"Selamat pagi, Bu," sapa Emma seperti biasa. Luna hanya mengangguk, tak seramah biasanya. Bahkan senyum Luna entah pergi kemana.
Tjdak ada yang berubah dari Emma, kecuali senyum sinis yang terbit setelah sang bos masuk ke dalam ruangannya. Entah apa maksudnya.
Emma segera berlari kecil mengikuti Luna ke ruangannya. Dan setelahmya, mengambil beberapa map dan ia dekap dengan tangannya.
"Apa kabar perusahaan, Em?"
"Ba-baik, Bu. Bu Luna baik-baik saja? Ah maksud saya, bu Luna sudah sehat?" Emma membekap mulutnya. Gadis itu terlihat panik menyadari kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Aku baik-baik saja, Em. Terima kasih." Luna menatap penuh arti pada sekretarisnya itu saat mengucap kata terima kasih.
"Syukurlah. Ini ada beberapa berkas yang harus segera ibu tanda tangani. Beberapa hari ini Mr. Stefan juga tidak hadir. Jadi saya juga bingung harus memintanya pada siapa," ucap Emma dengan lancar.
Luna terdiam sejenak. Kemudian ia membubuhkan tanda tangan pada berkas-berkas yang diberikan Emma.
"jika ada seseorang yang datang mencariku, suruh masuk saja,"
titah Luna dan Emma pun mengangguk.
"Bu, maaf. Mr. Stefan_"
😍amici terimakasih masih setia