La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 25



Luna terbangun, dan merasakan kepalanya sangat berat. Saat mengerjap mencoba menyadarkan dirinya sendiri, samar terlihat sang suami Adam, dengan raht muka cemas.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Adam segera mendekat ketika melihat sang istri siuman. "Jangan bangun dulu, kamu masih lemah," halau Adam ketika Luna ingin bangun dari berbaringnya.


"Mana Elea....?"


"Dia aman bersama Papa. Harusnya kau mencemaskan dirimu. Apa kau mengingat yang terjadi padamu semalam?" tanya Adam mengusap lembut punggung tangan Luna.


"Sebentar." Mendadak kepalanya sakit. "Semalam, aku melewati jalan alternatif yang sepi itu. Dan ... sepertinya ada yang mengikutiku, Sayang. Apa mobilku ditabrak dari belakang?"


"Tidak. Ini kecelakaan tunggal, Sayang. Mobilmu menabrak pembatas jalan. Tidak ada laporan kerusakan serius pada bagian belakang. Sepertinya kau tidak fokus," jelas Adam yang mendapat keterangan kronologi dari polisi.


Luna meraup wajahnya. Dia ingat jika semalam kantuk dan lelah datang menyerangnya. Bahkan ketika ia masih berada di kantor.


"Hemm ... berarti ini salahku sendiri, aku terlalu lelah."


"Kenapa kau nekat? Harusnya kau menghubungiku untuk dijemput." Adam membelai surai hitam sang istri yang berantakan. Menyisirnya perlahan agar kelihatan rapi.


"Aku tidak ingin merepotkan. Semalam aku hanya berpikir sekalian menjemput El di rumah papa," kilah Luna.


"Kebiasaan!" Adam menarik hidung Luna gemas. "Untung tidak apa-apa. Jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan memaafkan dirimu." Adam membawa Luna dalam pelukannya.


Meski Luna sudah lepas dari bodyguard sang ayah sejak menjadi istrinya, baru kali ini ada kejadian diikuti.


Adam merasa tidak mempunyai musuh di negara tempat ia dilahirkan ini. Apalagi Luna yang hanya pendatang. Itulah mengapa ia tenang keluarganya tanpa pangawalan.


"Kita pulang sekarang, ya?" pinta Luna. Ia merasa tidak betah berada disana. Apalagi hanya berbaring, pasti sangat membosankan.


"Istirahatlah dulu. Kita pulang agak siang saja," tolak Adam. Luna selalu begitu, ia tidak betah berada di rumah sakit.


"Tapi El...."


"Aku sudah menitipkanya pada Papa. Tidak usah khawatir, Sayang. Papa mencemaskan dirimu."


Luna memeluk sang suami. Sungguh malam yang menakutkan, ia kapok pulang sendiri melewati jalan sepi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Mama...." Elea berlari menghampiri Luna yang berjalan tertatih.


Dibelakangnya ada bibi Ofelia yang dengan sigap menyambut dengan mengambil tas dan perlengkapan dari tangan Adam.


Sebenarnya Adam membawa kursi roda untuk istrinya itu, namun ditolak oleh Luna. Wanita itu tidak ingin Elea khawatir berlebihan padanya jika melihatnya.


"Mama sakit?" Mata Elea seketika berkaca melihat sang ibu kesulitan berjalan dan ada plester kecil menempel di dahinya.


"Hanya sedikit, Sayang. Mama masih kuat," ucap Luna yang hanya bisa membungkuk karena merasa badannya masih sakit. "Mama kurang hati-hati."


"Mama, El bantu jalan ya?" Elea mengulurkan tangannya menggandeng Luna, gadis kecil itu juga memeluk sang ibu dari samping untuk memapahnya.


Luna mengusap kepala putri kecilnya kemudian mengangguk. Mereka berdua berjalan menuju sofa ruang tamu.


"Luna! Kamu memang bandel." Antara khawatir dan kesal, Ellard yang baru saja tiba mengomel tidak karuan. "Kenapa tidak suruh sopir kantor mengantar?"


"Maaf, Pa. Mereka sudah aku suruh pulang duluan. Kasihan saja jika harus kembali," jawab Luna beralasan.


"Itu sudah tanggungjawab mereka Luna! Atau Alex sekalian saja menjadi bodyguard mu, bukan hanya cucu Papa," Ellard berucap keras pada putri kesayangannya itu.


"Tidak, Pa. Luna berjanji akan hati-hati dan menurut kata Papa. Paman Alex menjaga El saja. Maafkan Luna, ya Pa." Luna mengiba pada sang ayah. Tangan rapuh itu menggenggam kuat tangan Ellard.


Luna tahu jika Ellard sudah memberi keputusan, maka siapapun tidak bisa menggagalkan ataupun menolaknya.


"Dua hari ini, istirahatlah. Katakan pada Emma, Papa yang akan berkantor disana menggantikanmu," titah Ellard.


"Satu hari saja cukup. Luna tidak apa-apa, nanti pasti juga sudah baikan, Pa," mohon Luna.


"Masih juga bandel! Papa tidak mau didebat. Kamu istirahat!" tegas sang ayah.


"Dam, pastikan istrimu istirahat di rumah dan tidak kemana-mana. Papa akan duluan ke kantor."


Luna mencium punggung tangan sang ayah, sedang si kecil El memeluk sang kakek dengan sayang. Gadis kecil itu sampai tidak mau masuk sekolah karena khawatir mendengar sang ibu kecelakaan.


"Istirahatlah, Sayang. Papa benar. Kamu membutuhkannya kali ini. Urusan kantor biar aku dan Papa saja. Papa sudah berjanji bukan?"


Luna hanya diam dan nampak bingung. Bagaimana ia bisa beristirahat jika di perusahaannya ada masalah. Belum lagi kekhawatirannya jika sampai sang ayah tahu.


"Tapi El harus tetap sekolah. Aku tidak mau dia ikut izin hanya karena aku, Sayang," pinta Luna.


"Tentu. El pasti akan menurut kalau kita beri pengertian pelan-pelan," ucap Adam menenangkan.


Luna mengangguk pasrah. Dua hari? Dia pasti bosan di rumah. Belum lagi memikirkan solusi dari masalahnya di kantor.


Tapi kembali lagi itu sudah keputusan Ellard dan dia tidak bisa menolaknya.


\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=


Stefan memasuki ruang kerjanya setelah sarapan, pagi ini.


Disana sudah duduk sang ayah yang memangku satu kakinya dengan tatapan tajam menghujam.


Stefan duduk tanpa dipersilahkan. Sang ayah bagai kamera pengintai yang menatapnya dari ujung-ke ujung.


William mendengkus, napasnya terdengar berat. Apa. yang akan ia sampaikan seperti sebuah beban berat.


"Kau sudah bertemu dengan anak sahabat Papa?" tanya William.


"Sudah, Pa,"jawab Stefan singkat.


"Bagaimana menurutmu?"


"Maaf, Pa. Aku tidak berniat menikah dalam waktu dekat," jawab Stefan beralasan.


Stefan tercekat, kemurkaan namun tetap berbalut ketenangan ditunjukkan William pada anak lelaki nya itu.


"Angel cantik dan berpendidikan. Namun aku tidak_"


"Lebih spesifik Stefan! Pandanganmu sebagai seorang lelaki pada perempuan. Tidak mungkin bukan kau mencari istri yang hanya cantik dan berpendidikan." William menekan setiap ucapannya. Agar Stefan mengerti maksudnya.


"Aku belum ingin menikah, Pa."


"Apa yang kau cari? Kekayaan? Nama besar? Kesuksesan? Semuanya itu sudah kau dapatkan, Stef. Hanya pendamping yang akan melengkapi semuanya itu."


"Maaf, aku. juga ingin menyampaikan. bahwa aku sudah mememenuhi keinginan papa untuk melakukan ekspansi ke negara ini. Dan Papa sudah melihat hasilnya, jauh diatas target yang Papa inginkan. Izinkan sekali ini, untuk pendamping hidupku, biarkan aku yang memilihnya tanpa campur tangan Papa."


Stefan dengan berani menyampaikan keinginannya. Meski ia masih belum mengatakan jika ia mencintai sepupunya sendiri, namun ini sudah merupakan keberanian yang luar biasa.


"Kau adalah satu-satunya pewaris Papa, Stef. Pewaris William Efrain. Aku tidak ingin kau salah pilih hingga menghancurkan semuanya yang telah kita bangun," tegas William.


Stefan tersenyum masam. Mengapa kebanyakan orang kaya berpikiran seperti itu. Seperti ayahnya ini, yang menghalalkan pernikahan dinasti. Yang kaya dengan yang kaya. Bahkan perasaan sudah tidak ada lagi harganya. Karena pernikahan tidak lebih dari sebuah perjanjian bisnis untuk mempertahankan kekuatan dinasti keluarga.


"Aku tidak akan mungkin melakukannya, Pa. Jika aku sampai hancur, aku akan hancur sendiri tanpa melibatkan nama Efrain yang tersemat padaku," ungkap Stefan meyakinkan.


Hal itu bukanlah sebuah pernyataan namun sebuah keberanian mengambil sikap dari sosok Stefan. Namun bagi sang ayah itu lebih pada sebuah tantangan yang di ucapkan anaknya itu padanya.


"Kau menantang Papa?"


"Apapun yang Papa pikirkan aku pasrah. Namun sekali lagi, aku tidak akan menikah dengan Angel atau siapapun yang tidak kuinginkan. Biarkan aku hidup normal, menikahi orang yang kucintai dan hidup bahagia dengannya."


"Bagaimana jika aku meminta kau melepas semua fasilitas yang selama ini kau nikmati?" ancam William. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi agar Stefan menurut.


William hanya memiliki satu-satunya pewaris. Dalam hal bisnis Stefan tidak pernah mengecewakannya sedari dulu. Namun kali ini untuk urusan pendamping hidup, anak laki-laki nya itu membangkang.


Stefan terkejut. Seumur hidup hingga usianya sekarang yang hampir 40 tahun, ia memang menikmati segala fasilitas yang diberikan oleh sang ayah.


Namun tentu ketika dia mulai bisa memegang kendali perusahaan, semua yang ia dapatkan sepadan dengan apa yang sudah ia lakukan untuk membesarkan nama Efrain yang tersemat padanya itu.


Stefan mendengkus pelan. Menata hati dan jantungnya yang mendadak kaget dengan keputusan sang ayah.


"Jika Papa menginginkan semua kembali, aku akan melepaskannya. Semuanya tanpa terkecuali. Bagaimana setelah itu Papa menganggapku, aku pasrah. Yang terpenting Papa dan Mama tetaplah orang tuaku sampai kapanpun." Dengan tenang Stefan pun mengambil keputusannya.


Lelaki itu tidak mungkin mengikuti keinginan sang ayah. Ia telah menyakiti dan jatuh cinta pada orang yang sama. Dan dalam hidupnya ia hanya bertekad untuk membahagiakan Luna dan Elea, apapun yang terjadi.


"Kau yakin dengan keputusanmu!? Melepaskan semua ini hanya untuk ambisi semu itu? Ayolah Stefan, bahkan Papa dan Mama dulu juga dijodohkan. Dan buktinya kami baik- baik saja hingga kini. Begitu juga pamanmu Ellard dan bibi Rosalie."


"Itu keputusanku Pa, maaf. Jika Papa berkenan hadir, hari ini juga kita serah terima perusahaan kita yang di Milan."


Stefan sangat tenang. Lelaki itu memang sudah memikirkan resiko dari keputusannya.


"Oke. Sekarang juga kita lakukan!" William bangkit dari duduknya, kemudian keluar lebih dulu dari ruang kerja anak lelakinya itu.


Stefan terpekur. Bukan karena ia takut akan kehilangan segalanya dalam sekejap. Namun tentu hal ini akan mempengaruhi hubungannya secara pribadi dengan kedua orang tuanya.


Selama ini, mereka adalah orang terdekat yang Stefan miliki sedari kecil selain sang paman Ellard.


Namun apa mau dikata. Bukankah lelaki itu harus gentle? Berani berbuat harus berani bertanggung jawab.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Tuan, ada seseorang mencari Anda. Beliau mengaku keponakan Anda." Emma sekretaris dari Luna menghubungi Ellard lewat interkom.


"Bawa masuk Em. Aku sudah menunggunya," jawab Ellard singkat.


Stefan masuk setelah Emma mempersilahkan.


"Baru saja dua hari kau menghilang dan sudah kemari lagi," sambut Ellard yang kemudian memeluk keponakannya itu.


"Kanada memang indah, juga orang-orangnya Paman," seloroh Stefan menampakkan senyum tipis yang membuatnya semakin tampan.


"Aaa ... Jangan-jangan kau kembali ke sini karena wanita? benar kan tebakan Paman?"


Tepat sekali. Semua karena Luna dan Elea. Dua wanita terpenting dalam hidup Stefan.


"Apapun kata Paman," jawab Stefan pelan. Dia tidak ingin mengelak tapi juga tidak mungkin mengaku.


"Tapi yang jelas itu sangat menguntungkanku. Kita bisa lebih cepat menyelesaikannya."


Ellard membawa Stefan duduk di sofa. Kemudian mereka membicarakan banyak hal tentang proyek baru perusahaan Ellard.


Stefan juga mengatakan jika dirinya akan lebih banyak di Kanada karena tanggung jawabnya sudah berkurang pada perusahaan sang ayah. Meski yang sebenarnya, semua sudah ia lepas tanpa sisa.


Lelaki itu hanya memiliki satu perusahaan yang ia bangun dengan jerih payahnya sendiri di Bergamo, Italia. Hanya itu satu-satunya harta Stefan.


"Bagaimana keadaan Luna?" tanya Stefan dengan nada khawatir.


"Sedikit luka di dahi dan kakinya. ia tertatih saat berjalan. Darimana kau tahu tentang Luna?"


"Emma yang menceritakannya. Tadi aku bertanya mengapa Paman ada disini," jawab Stefan. "Paman ada rekomendasi apartemen untukku?"


"Di dekat rumah Luna ada. Pemiliknya rekan bisnisku. Biar aku yang bicara padanya,"


"Terima kasih Paman."


"Baiklah, temani Paman hari ini dan besok gantikan Paman disini. Hanya besok! Karena Luna sudah kembali bekerja lusa."


"Siap, Paman!"


Stefan tersenyum senang menyambut permintaan Ellard.


💜💜💜💜💜💜