
"Em, jangan katakan apapun pada Papa tentang masalah perusahaan," titah Luna ketika mengabari Emma pagi ini, karena ia harus istirahat selama dua hari.
"Siap, Bu. Jadi yang akan menggantikan Anda Tuan Ellard?"
"Ya. Papaku yang menggantikan. Kita bertemu dua hari lagi."
"Siap, Bu. Lalu bagaimana jika Nona Angeline atau suruhannya datang kemari?"
"Sebisa mungkin kamu membuat alasan pada mereka agar mereka kembali lusa saat aku sudah masuk."
"Baik, Bu."
Luna mengakhiri panggilan teleponnya. Pikiranya masih berkecamuk, mengkhawatirkan jika sampai sang ayah tahu masalah perusahaannya.
\=\=\=\=≠\=≠\=\=\=\=\=\=\=
Duduk ditempat dimana Luna menghabiskan waktu setiap harinya, membuat hati Stefan berbunga-bunga.
Bahkan belum ada satu jam, lelaki itu telah berputar beberapa kali memperhatikan setiap detail ruangan milik wanita yang dicintainya itu.
Warnanya, pemilihan interior serta hiasan dinding hingga apa saja yang ada di mejanya. Semua tidak luput dari mata Stefan. Apalagi sebuah pigura yang ada disana. Tepat berada di depannya saat Stefan duduk di kursi milik wanita cantik bermata coklat itu. Ada foto mereka bertiga. Luna, Adam dan Elea.
Hati Stefan mendadak iri. Ia ingin dirinyalah yang terbingkai dalam pigura berbentuk hati di meja Luna. Bersama wanita yang dia cintai, juga gadis kecil buah hati mereka.
"Begini lebih baik," gumam Stefan yang menutup foto Adam dengan secarik kertas yang ia sematkan pada pigura itu. Senyum tampannya memgembang.
Lelaki itu duduk tegak, merasakan aura Luna yang tertinggal disana. Kemudian memulai pekerjaan dengan memeriksa beberapa berkas yang ada di depannya sesuai perintah sang paman.
Setelah beberapa lama berada disana.
"Apa ini? Komplain kehilangan? Angeline?" gumam Stefan lirih.
Tanpa berpikir panjang, lelaki itu menekan tombol interkom-nya.
"Em. Masuklah!"
"Baik, Sir."
Tidak berapa lama, masuklah sekretaris Luna kedalam ruangan dimana Stefan berada.
"Ada yang bisa saya bantu, Sir?" tanya Emma sopan.
"Bisakah kau menjelaskan tentang ini?" Stefan mengangkat sebuah berkas yang kemudian ia sodorkan ke depan sekretaris Luna itu.
Emma memutarnya, kemudian wajahnya mendadak pucat. Gadis itu merutuk dirinya sendiri atas kecerobohannya. Padahal seingatnya, berkas itu sudah ia simpan, namun ternyata malah bercampur dengan berkas yang harus diperiksa hari ini.
Apes!
Entah apa yang terjadi nanti.
"Emm ... Ini ... Sir, itu...." Emma mendengkus resah, melarikan pandangannya ke arah lain pun percuma karena sepupu bosnya itu melihatnya dengan tatapan menuntut jawaban.
"Apa, Em? Katakan dengan jelas. Mungkin aku bisa membantu kalian." Stefan berucap sangat pelan dan tegas. Niatnya sungguh- sungguh, semoga Emma memahaminya.
"Tidak, Sir. Tidak apa-apa. Saya takut Bu Luna akan marah, Sir." Emma menunduk takut, beberapa kali tangannya meremas berkas yang berada di tangannya.
"Luna tidak akan marah, jika dia tidak tahu. Jadi ini hanya antara kita saja. Ok?" Stefan mencoba membujuk Emma. Agar gadis itu membocorkan rahasia yang disimpannya.
Sebenarnya lelaki itu sudah tahu duduk permasalahannya. Karena dia sempat membaca berkas itu tadi. Namun ia tentu ingin mendengarkan cerita dari orang yang benar-benar mengetahuinya.
"Emm ... Itu, Sir. Kemarin ada komplain dari customer. Barang berharga yang mereka titipkan hilang disini. Dan sampai sekarang kami belum bisa memecahkannya. Padahal semua keamanan tidak ada yang rusak."
"Bagaimana bisa? Mengapa tidak dilaporkan ke polisi. Ini sudah menyangkut kriminal. Tidak mungkin barang itu hilang dengan sendirinya." Stefan bereaksi keras menanggapinya.
"Ya, Sir. Bu Luna tidak mau masalah ini sampai mencuat keluar. Karena itu akan memperburuk citra dan kredibilitas perusahaan kami. Customer yang bersangkutan hanya memberi kami waktu 2 minggu untuk menyelesaikannya. Setelah itu mereka akan menyerahkan semua ke pihak yang berwenang."
"Bagus itu, harusnya dari awal kalian melaporkannya." Stefan malah merasa heran, jika Luna mengambil jalan untuk menyelesaikannya sendiri.
"Sir ... Itu keputusan Bu Luna. Saya mohon Anda jangan membahayakan posisi saya. Dua hari ini saya yang berinteraksi dengan Anda dan Tuan Ellard. Saya pasti akan tertuduh pertama kali yang membocorkannya." Emma memohon pada Stefan. Entah saudara sepupu Luna itu bisa dipercaya atau tidak.
"Izinkan aku membantu. Tentu hal ini hanya antara kita berdua. Asal kamu diam dan pura-pura tidak tahu, semuanya aman." Stefan meletakkan telunjuknya di bibir.
"Tapi Sir, saya takut Bu Luna_"
Emma mengangguk paham dan mohon diri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Aku butuh asisten, buka lowongan pekerjaan di media dengan kriteria seperti yang aku katakan tadi," titah Adam pada kepala HRD di perusahaannya.
"Baik, Pak. Apa ada kriteria khusus yang menambah poin kesempatan untuk diterima?"
"Cukup itu saja. Jangan lupa semua lamaran serahkan padaku. Aku sendiri yang akan memeriksanya," titah Adam.
"Ya, Pak. Secepatnya saya laksanakan."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari terakhir Stefan berada di perusahaan Luna, lelaki itu memutuskan untuk pulang terlambat.
Waktunya hanya tersisa malam ini, bebas berkeliaran di perusahaan Luna. Stefan tentu tidak akan melewatkannya. Akan semakin susah jika ia sudah tidak berada di tempat ini.
Lelaki itu menyelinap masuk kedalam gedung penyimpanan dimana Luna juga kesana beberapa hari yang lalu.
Jika Luna melewati jalan depan, maka Stefan memilih jalan ninja. Lelaki itu menyelinap masuk menggunakan pengenal Luna.
Saat Stefan sedang mengamati dan memeriksa ruangan kecil tempat Angeline menyimpan barang berharganya. Ia menemukan beberapa kecurigaan pada ruangan itu.
Stefan beberapa lama berada disana. Hingga terdengar suara sepatu hak tinggi menapak lantai, pelan namun tetap menimbulkan gesekan yang terdengar lirih. Mereka nampak sangat hati-hati.
Stefan menyembunyikan tubuhnya di sebuah celah kecil yang ada disana.
"Bagaimana? Kau sudah menyembunyikannya di tempat yang aman? Kita harus bergerak cepat dan hati-hati."
Percakapan mereka terdengar oleh telinga Stefan. Lelaki itu memasang telinga dengan benar dan menyimpan apa yang didapatkannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Luna tiba di perusahaannya sendirian. Meski masih sedikit merasakan nyeri di kakinya, ia tidak menghiraukannya. Wanita itu memaksa datang kesana karena ingin menyelesaikan penyelidikannya.
Bahkan bibi Ofelia sudah menahannya tadi, dan Alex ingin mengantarnya. Namun Luna malah memesan kendaraan online untuk sampai ke kantor miliknya itu.
Wanita itu segera masuk ke dalam ruangannya. Mencari berkas Angeline yang sudah ia tanyakan dimana Emma menyimpannya. Hingga ia tidak bingung mencarinya.
Sekilas matanya menangkap ada yang aneh dengan pigura foto yang ia pasang diatas meja.
"Apa- apaan ini?" ucap Luna lirih. Wanita itu mengambil secarik kertas putih yang menutup foto sang suami. "Iseng banget, siapa yang melakukannya?"
Klek!
"Em ... Kamu!? kenapa kamu ada disini? Dimana Emma?" Luna hampir saja melonjak kaget dengan kedatangan Stefan. Ia tidak menyangka lelaki itu ada disini.
"Dia sudah pulang. Aku...."
"Lancang sekali kau berani datang kesini! Keluar! Kau sama sekali tidak berkepentingan disini."
"Luna, dengarkan aku_" Stefan mencoba melangkah maju untuk menghampiri.
"Berhenti disana! Dan Keluar!"
"Paman yang menyuruhku menggantikannya hari ini, Lun. "
"Apa?" Luna membuang napasnya kasar. "Papa? Kau pasti membujuknya untuk dapat menggantikannya disini. Benar bukan?"
"Tidak, Lun. Sungguh aku tidak melakukannya. Ikutlah denganku sebentar aku ingin menunjukkan sesuatu," ajak Stefan.
"Tidak perlu! Pergilah sebelum aku panggil satpam untuk mengusirmu."
Luna sama sekali tidak bisa diajak bicara. Wanita itu marah melihat Stefan yang bahkan memiliki akses dari sang ayah untuk berada di ruangannya.
"Ikutlah sebentar. Mungkin ini akan berguna untukmu," ajak Stefan yang pantang menyerah.
"Tidak! Aaaa.... "
💗Terima kasih masih setia. Love u💜