
"Kau!!!"
Angeline murka mendengar ucapan Luna yang mengejeknya. Lebih murka lagi jika wanita didepannya ini adalah saingannya di hati Stefan.
"Rasakan ini!" gumam lirih Angeline yang merangsek maju mendekati Luna. Nona kaya raya itu sempat melirik ke kanan dan kekiri, melihat apakah ada orang-orang yang memperhatikannya atau tidak.
Angeline mengacungkan tangannya untuk menarik rambut Luna yang dikuncir ekor kuda. Namun naas, Luna menangkap tangannya dan malah memelintirnya dengan cepat.
"Auw ... Kau! Ini penganiayaan. Cepat rekam bodoh!" teriak Angeline yang kesakitan, namun ia masih bisa berpikir cepat dan memerintah pengacaranya untuk merekam.
Lelaki itu gelagapan mencari ponselnya. Namun, saat ia menyalakan ponsel itu dan belum sempat merekam, tubuhnya tertabrak tubuh Angeline yang sengaja di dorong oleh Luna untuk melepaskan tangannya dari wanita itu.
Brukk!
Angeline masih bertahan sementara sang pengacara tumbang. Lelaki itu mengeluh kesakitan dan menutupi wajahnya karena malu.
"Awas saja kau! Aku akan membalasmu lebih kejam!" ancam Angeline.
Luna menatap sinis. Ia tidak takut dengan ancaman nona kaya itu.
Adam telah kembali dari toilet. Suami Luna itu tentu mengenal Angeline yang merupakan adik tingkatnya. Nona kaya sang trouble maker. Rupanya julukan dari jaman kuliah itu melekat hingga sekarang. Karena Angeline memang selalu membuat masalah dimana-mana. Apalagi dengan orang-orang yang menurutnya mengganggu hidupnya.
"Ada Nona Angel rupanya." Adam mengangguk sopan, kemudian menghampiri istrinya.
"Kita pulang, Sayang," ajak Luna yang berjalan lebih dulu, bahkan ia tidak menunggu Adam.
"Maafkan kami buru-buru Nona." Adam berjalan cepat mengejar istrinya.
"Sialan! Rupanya Adam Walton itu kakak kelasku. Mengapa sepupuku tidak pernah mengatakannya," gumam Angeline kesal.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kapan kau datang, Ag? Lama sekali tidak berkunjung?" Ellard baru saja tiba di rumah dan bersiap menjemput sang cucu.
"Sudah ada Stefan, sama saja kan Pa. Apa yang terjadi pada Luna?" Aglen mendekati sang ayah.
"Apa aku tidak salah dengar? Bertahun-tahun hubungan kalian dingin, meski kau sangat menyayangi El. Dan sekarang kau mengkhawatirkannya?" Aglen tersindir, namun ia tidak menggubris ucapan ayahnya itu.
"Ayolah, Pa. Apa yang terjadi sebenarnya?" Aglen mengulangi pertanyaannya.
Ellard menatap dalam manik mata Aglen. Nampak rasa khawatir disana. Tapi entahlah, Ellard harus bahagia atau biasa saja. Lelaki paruh baya itu tentu tidak percaya begitu saja dengan anak lelakinya yang bahkan bersikap acuh sampai sekarang pada adiknya itu.
"Ada yang ingin menjatuhkan nama baik Luna. Termasuk juga perusahaannya." ucap Ellard, rasa khawatir masih menggelayut. Ia hanya berharap Tuan Peterson tidak ikut campur dalam masalah anak-anak mereka.
Biasanya, tuan kaya raya di Kanada itu selalu bijak dalam menyikapi masalah. Entahlah untuk saat ini. Apalagi Ellard adalah pendatang di negara ini. Meski nama besarnya diakui di Amerika, dan juga di Kanada saat ini. Ia tetap masih di bawah warga asli negara ini.
"Stefan disini bukan? Apa dia tidak membantu Luna?" tanya Aglen yang terkejut dengan apa yang menimpa adiknya.
"Justru Stefan lah yang dari awal mendampinginya. Bahkan disaat Adam sendiri malah tidak diketahui kabarnya," terang Ellard.
"Memang Adam kemana?"
Ellard hanya diam. Dia berpikir belum saatnya bercerita tentang apa yang terjadi disini pada anak lelakinya itu.
"Pa, aku mencurigai sesuatu tentang menantu Papa. Apa Papa_"
"Kau mengetahuinya?" sahut Ellard kaget. Masalah perusahaan, hanya dia dan direktur keuangan yang tahu.
"Maksud Papa?" Mereka berdua jadi bingung dengan apa yang mereka bicarakan.
Kedua orang itu saling menerka apa yang masing-masing ingin disampaikan. Berbeda, ataukah hal yang sama.
"Ikut Papa ke ruang kerja sekarang.
Biar El dijemput Alex," titah Ellard pada anak lelakinya.
Ellard segera menghubungi bodyguard nya itu kemudian pergi menyusul Aglen.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Yah, kenapa Paman Alex yang menjemput?" ucap Elea kecewa.
Gadis kecil itu menghentikan langkahnya saat ia mendapati Alex tengah bersandar di mobil sang kakek menunggunya.
Langkah gontai Elea terbaca oleh alex. Lelaki seumuran Aglen itu langsung menghampiri majikannya yang sengaja melambatkan langkah karena malas.
"Kenapa Paman lagi? Kakek mana?" Wajah cemberut Elea membuat Alex gemas.
"Tuan sedang ada keperluan Nona cantik. Ayo!" ajak Aglen, namun Elea malah mematung di tempatnya.
"Jadi pulang?" lanjut Alex mengulangi.
"Ada Tuan Aglen di rumah." Alex sengaja memberitahu karena ia yakin Elea pasti tertarik.
"Benarkah?" Wajah gadis kecil itu mendadak berbinar. "Ayo pulang!"
Bidikan Alex tepat. Majikan kecilnya itu menjadi bersemangat sekarang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Dia?"
"Dia yang mencari masalah denganku," sahut Luna ketus. Dadanya masih bergemuruh meski ia sudah jauh dari tempat itu. Bahkan ia sekarang sudah ada di dalam mobil dalam perjalanan pulang.
"Jadi dia pemiliknya?"
"Hemm ... Wajah saja yang cantik. Tapi hatinya gelap." Luna sungguh geram dengan ucapan Angel. Jika tidak ada pengacaranya, wanita ini pasti sudah berbuat lebih.
Adam hanya berdehem menanggapinya. Angeline memang gadis kaya raya yang diinginkan semua lelaki di Kanada. Tapi tentu bukan karena sebuah perasaan murni, hanya demi kejayaan dan keberlangsungan sebuah dinasti yang umumnya memang harus dipertahankan dengan berbagai cara.
"Jadi... Bagaimana, Sayang? Tadi kau sempat bercerita tentang beberapa karyawan kantormu yang kemungkinan memihaknya?" tanya Adam ingin tahu. Karena tadi di kantor polisi, Luna sempat bercerita sedikit tentang kecurigaannya pada beberapa karyawannya.
"Emm ... iya, Sayang. Tapi ... semua itu belum pasti." Luna menatap ragu pada suaminya. Ia mengingat ucapan Stefan untuk merahasiakan apapun yang mereka tahu.
Semua orang pantas dicurigai, termasuk orang- orang terdekat mereka. Apalagi, kepergian Adam yang tiba-tiba bertepatan dengan masalah Luna yang meledak hari
"Apa kau mempunyai nama- nama mereka?"
"Lupakan, Sayang. Itu hanya praduga. Lagipula buktinya juga kurang kuat. Biar Mr. Andrew saja yang mengurusnya." Luna menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu. Berharap lelaki itu melupakan pertanyannya.
"Oh ... benar itu. Jika buktinya kurang kuat, kita tidak bisa menuduhnya sembarangan. Bisa-bisa akan berbalik pada diri kita sendiri," sahut Adam membenarkan.
"Ke rumah Papa ya, Pak," titah Luna pada sopir kantor yang mengantarnya itu.
Otak Luna masih berkelana, memikirkan Adam yang aneh akhir-akhir ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ellard mengepalkan tangannya, begitu juga Aglen. Setelah mereka bertukar cerita, rupanya apa yang mereka ketahui adalah hal yang berbeda.
Dan hal itu malah semakin membuat keduanya murka. Apalagi Ellard yang sempat menaruh kepercayaan tinggi pada Adam di awal perkenalan mereka.
Semua fasilitas Ellard berikan pada keluarga Adam. Berharap suatu saat lelaki yang menjadi suami Luna itu benar-benar menjadi seseorang yang bisa diandalkan dalam keluarga Efrain, meski statusnya hanya sebagai seorang menantu.
Ellard selalu berharap Adam adalah lelaki yang cocok mendampingi Luna. Melindunginya dan menjaganya seumur hidup. Karena ia adalah sosok lelaki yang bersedia menerima Luna apa adanya. Adam juga nampak sangat menyukai anak perempuannya itu, meski Adam tahu jika Luna memiliki masa lalu yang kelam.
"Kapan kau memgetahuinya?" tanya Ellard pada anak sulungnya itu.
"Baru-baru ini, Pa. Itupun tidak sengaja saat aku bersama temanku, yang ternyata melakukan kerjasama dengannya," jelas Aglen.
"Aku juga tidak jauh berbeda denganmu. Namun sepertinya ini sudah berlangsung lama." Ellard nampak menghela napas panjang. Gurat kecewa sangat terlihat, dan ia bingung bagaimana memberitahu Luna.
"Hem ... Temanku mengatakan bahwa kerjasama mereka juga berlangsung cukup lama. Dan yang mengejutkan, menantu Papa itu melakukannya ketika sudah berstatus suami Luna. Bukankah itu berarti ia sengaja?" Aglen menguatkan apa yang diketahuinya.
"Berarti kerugian sudah cukup besar, Ag. Apalagi tentang barang-barang yang kau katakan itu. Kau harus mencari bukti dari temanmu. Papa hanya bisa mengandalkanmu. Dan untuk masalah disini, biar Papa yang mengawasinya," titah Ellard yang dijawab anggukan oleh Aglen.
"Apa tidak ada yang berubah dengan laporan keuangan, Pa? Sampai Papa bisa kecolongan."
Ellard menunduk, selama ini memang tidak ada yang aneh. Adam bermain serapi itu dengan laporan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Lakukan apapun yang bisa membuatku bahagia! Mood ku benar-benar hancur gara-gara wanita itu." Angeline menggebrak mejanya, mengingat pertemuannya denga Luna siang tadi.
"Apa yang bisa saya lakukan Nona?" ucap seseorang yang sedari tadi setia berdiri di dekatnya.
"Apapun! Apa kau tak mendengar ucapanku!" teriak Angeline pada orang itu.
"Ba-ik, Nona."
Orang kepercayaan Angeline itu buru-buru keluar sebelum terkena lemparan dari benda-benda disekitar majikannya itu.
Prang!
Suara benturan antara pintu dengan pernak- pernik dari atas meja Angeline yang dilemparkannya telah terdengar.
Untung saja anak buahnya itu langsung keluar dari ruangannya. Jika tidak, pasti akan menjadi bulan-bulanan Nona kaya yang tingkah lakunya tidak semanis wajahnya itu.
Benar-benar trouble maker!
Terima kasih perhatiannya, jangan lupa like, komen dan vote nya ya... grazie mille🙏