
Stefan datang saat mobil Ellard melesat pergi. Lelaki itu sengaja, karena membicarakan masalah perusahaan yang dihadapi Luna pasti tidak akan leluasa jika ada pamannya itu.
Entah apa yang didapat Ellard saat ini. Dari rasa khawatir yang diungkapkannya pada Stefan tadi, lelaki paruh baya itu bahkan langsung meluncur ke kantor anak perempuannya itu. Ikatan batin yang kuat antara mereka membuatnya iri sebagai seorang ayah dari Elea.
Tapi Stefan sangat yakin, Luna tidak selemah itu, dan begitu saja menceritakan masalah ini pada sang ayah.
"Em, katakan pada Luna. Aku ingin bertemu," pinta Stefan begitu melihat Emma hampir saja keluar dari ruangan Luna.
"Sebentar, Sir." Emma mengangguk hormat kemudian gadis itu menutup kembali pintu yang sempat ia buka tadi.
"Maaf Sir, Bu Luna tidak ingin diganggu," ucap Emma dengan senyum yang dipaksakan.
"Katakan padanya ini penting Em."
"Sebentar, Sir." Emma kembali lagi menarik kepalanya kedalam. Dan tidak berapa lama. "Sir, saya sudah mengatakan seperti yang Anda katakan, tapi Bu Luna tetap pada pendiriannya."
"Luna! Tolong biarkan aku masuk," teriak Stefan dari luar. Pintu belum tertutup karena Emma masih bertahan disana.
"Tutup pintunya, Em. Aku semakin pusing mendengar teriakannya," titah Luna. Wanita itu duduk bersandar di sofa setelah melepas jas abu-abunya tadi.
"Bu, Tuan Stefan hanya ingin membantu. Sepertinya Tuan Stefan memiliki jalan keluar untuk kita," bujuk Emma.
"Tidak. Kamu keluar saja Em, biarkan aku menenangkan diri dulu. Aku perlu banyak berpikir sebelum menentukan langkah."
Dengan berat hati Emma melangkah keluar. Saat baru saja ia membuka pintu, Stefan sudah menahan agar ia bisa masuk.
Mereka berebut untuk keinginan masing-masing yang berlawanan.
"Sir, saya takut Bu Luna marah." Emma mencoba menghadang Stefan dengan pintu meski ia tahu ia tidak akan bisa. Tenaganya tentu kalah banyak dari Stefan.
"Saya yang akan bertanggung jawab. Keluarlah dan kerjakan tugasmu. Aku akan membantunya," ucap Stefan yang setelahnya dibiarkan masuk oleh Emma.
Lelaki bermata coklat itu menutup pintunya pelan, kemudian masuk perlahan tanpa menimbulkan suara.
Dilihatnya Luna yang memejamkan mata dan bersilang tangan didada. Napasnya teratur, wajahnya nampak sekali lelah. Wanita yang ia cintai itu pasti memendam segala permasalahannya sendiri.
Stefan melangkah mendekati, ia duduk tepat disamping Luna. Menunggu beberapa lama, tidak ada yang terjadi.
"Luna, Lun...." panggil Stefan pelan. Ia tentu tidak ingin mengagetkan istirahat sang pencuri hati.
Tidak ada pergerakan sedikitpun. Luna masih nampak damai tanpa terganggu.
Akhirnya Stefan memutuskan untuk mengerjakannya sendiri sambil menjaga Luna disana. Ia melepas jas nya dan menyelimutkannya pada wanita pujaannya itu, karena ia tidak menemukan jas Luna di ruangan itu.
Stefan bekerja dalam diam. Dia sangat serius memeriksa satu persatu bukti yang dikumpulkan Luna, meski semuanya masih abu-abu untuk menebak kejadian sebenarnya.
Sesekali matanya tertuju pada pemandangan indah di depannya. Dan mendadak, semua itu mmbuat sirna rasa lelah yang menggerogotinya.
Hanya berdua saja di dalam ruangan, tidak akan terjadi jika Luna dalam keadaan sadar. Karena wanita itu sudah pasti akan mengusirnya dan meneriakinya.
Beruntung bukan, Stefan hari ini? Dan ia menikmatinya meski hanya bisa melihatnya.
Luna menggeliat, kemudian perlahan membuka matanya. Wanita itu panik begitu terlihat sosok tidak asing dari ekor matanya.
Stefan!
Tidak salah lagi!
"Apa yang kau lakukan disana? Lancang sekali kau masuk ruanganku." Luna langsung bangkit menghampiri Stefan yang nampak mengutak atik macbook milik Luna.
Bahkan tadi ia lupa tidak mematikannya. Bodoh sekali! Seru Luna dalam hati.
"Apanya yang sebentar lagi? Pergi keluar atau kupanggil satpam! Kau sudah melebihi batas Stefan!"
"Aku hanya ingin membantumu, Lun. Kita hanya punya waktu dua hari. Aku yakin sebenarnya Angelin sudah membuat laporan dari lama. Dia hanya tinggal memberikan perintah lalu polisi akan datang kesini dengan cepat. Dia seperti sengaja melakukannya," ucap Stefan seperti meracau.
Lelaki itu berbicara cepat sekali dengan mata dan tangan yang masih fokus pada macbook Luna.
"Kau mengenalnya? Atau jangan-jangan kau bersekongkol dengannya untuk menjatuhkanku?" Luna mendekati Stefan, membuat lelaki itu terpojok.
"Benar katamu, aku memang mengenalnya. Tapi aku tidak pernah bersekongkol dengannya." Stefan membela dirinya.
"Aku tidak pernah mencari masalah dengan siapapun disini! Lalu kenapa Nona kaya itu melakukannya padaku? Apa ini ada hubungannya denganmu?" tuduh Luna yang tengah marah.
"Luna." Stefan mengulurkan tangannya memegang lengan Luna dan wanita itu dengan cepat menepisnya.
"Apa tidak cukup yang kau perbuat padaku? Apa kau masih ingin membuatku sengsara lagi Stefan!? Hah! Belum cukup!?" tanpa sadar Luna menjatuhkan airmatanya.
Ia sedih mengingat nasibnya yang harus pergi dari Amerika hanya untuk menghindari Stefan. Tapi akhir-akhir ini, lelaki itu malah berkeliaran di sekitarnya dengan bebas karena hubungan persaudaraan mereka dan juga sang ayah, Ellard.
"Luna, maaf. Sungguh aku hanya ingin membantumu." Stefan bingung, ingin sekali ia memeluk wanita yang dicintainya itu. Tapi pasti Luna akan menolaknya.
"Pergi! Keluar dari ruanganku!" usir Luna yang sudah tidak dapat menahan derai air mata yang terus saja keluar.
"Luna...."
Hati Stefan sakit melihat orang yang ia cintai menangis karena dirinya.
"Keluar, Stefan!!"
"Baik, baiklah aku keluar. Jangan menangis lagi. Aku mohon." Dengan gestur menenangkan, sejenak Stefan masih berada disana. Dia tidak ingin meninggalkan Luna dalam keadaan seperti itu. Namun keberadaannya disana juga tidak diinginkan oleh Luna.
Dengan berat hati Stefan keluar, meninggalkan wanita pujaannya itu sendirian.
Sepeninggal Stefan, Emma yang khawatir memasuki ruangan Luna tanpa izin.
"Bu, maafkan saya. Saya_"
"Sudah, Em. Tidak apa-apa." Luna berdiri membelakangi Emma. "Tinggalkan aku sendiri. Aku benar-benar ingin sendiri, Em."
Emma berbalik sebelum mencapai tempat Luna. Gadis itu menyadari kesalahannya membiarkan Stefan lolos dan masuk begitu saja ke ruangan bosnya itu.
Hari ini, semuanya tidak berjalan dengan baik.
\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kek, El ingin jalan-jalan. Kenapa semua orang dewasa menghindari El? Mama dan Daddy sibuk. Paman Stefan yang biasanya banyak waktu luang juga menjadi sibuk." Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya, saat beberapa hari ini hanya Ellard yang selalu menjemputnya dan Alex yang mengantarnya ke sekolah.
"Kesayangan Kakek, orang dewasa memang banyak sibuknya, hanya Kakek yang tidak sibuk dan selalu ada untuk El." Ellard tersenyum pada cucu kecilnya yang mulai banyak protes itu.
"Tapi Kakek kan sudah tua. Kalau El ajak lari-lari, Kakek pasti lelah," jawab Elea khawatir. Gadis kecil itu begitu sayang dengan kakeknya.
"Kata siapa? Kakek masih kuat. Ayo, El mau lari kemana Kakek ikuti," tantang Ellard pada cucunya.
"Tidak. Kasihan kakek, nanti kalau Kakek lelah tidak ada yang akan menjaga El." Gadis kecil itu merangsek masuk dalam pelukan Ellard.
❤Terima kasih
love u