La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 36



"Sayang, Mama harus bekerja sampai malam. El boleh tidur lebih dulu nanti Mama jemput," ucap Luna pada putri kecilnya.


"Horeeee!!!"


Suara teriakan Elea memenuhi setiap sudut mobil luna. Tanpa gadis kecil itu tahu jika apa yang baru saja Luna sampaikan adalah hal yang berat.


Karena hari ini adalah hari terakhir Luna harus benar-benar berjuang untuk esok hari.


"El menurut kata Kakek ya. Jangan buat Kakek marah, Ok!" ucap Luna meminta janji pada sang anak.


"Siap! Mama."


Gadis kecil itu segera keluar setelah mencium tangan Luna, kemudian mengecup beberapa kali pipi sang mama.


Tatapan Luna nanar. Wanita itu mengucap dalam hati, semoga nanti perjuangannya membuahkan hasil. Dan dia tetap bisa bersama Elea dan sang ayah.


Rasanya sangat pedih membayangkan jika besok apa yang ia takutkan terjadi. Polisi datang, memeriksa semuanya dan yang terburuk adalah membawanya sebagai pemilik dari perusahaan ini.


Luna melempar tatapannya ke jalanan. Memandang sendu ke luar jendela, dia sudah sejauh ini berjuang. Dan dia tidak akan mengalah hanya untuk hal yang sebenarnya sepele, namun seperti dibuat rumit oleh seseorang.


Dengan kecepatan sedang, wanita itu mengemudikan mobilnya menuju perusahaan. Satu-satunya yang membuatnya semangat hanyalah Elea dan Ellard, dua orang paling ia sayangi dalam hidupnya. Lalu Adam? Bahkan ia tidak tahu suaminya itu dimana kini.


Baru Luna sadari, banyak hal yang ia abaikan tentang Adam. Termasuk terlalu memberikannya kepercayaan tanpa memeriksanya lagi.


"Pagi, Bu." Suara Emma nyaring sekali, begitu melihat sosok Luna lewat.


Wanita itu hanya mengangguk sambil mengulas senyum tipis menanggapi.


Emma berdiri kemudian mengekor di belakang Luna. Dan hari ini masih seperti kemarin, kembali lagi dengan berkas-berkas penting yang sama.


"Kau boleh keluar, Em. Kerjakan saja hal lainnya. Aku tidak ingin masalah ini mengganggu yang lain," titah Luna.


"Iya, Bu." Emma nampak sedikit kecewa, namun tentu ia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena ia hanya menjalankan perintah.


Berikutnya, Emma hanya meletakkan begitu saja tumpukan kertas itu di depan Luna, sesuai dengan perintah Bos nya itu. Dan gadis itu melenggang keluar.


"Semangat!" pekik Luna untuk dirinya sendiri. Dan ia memulainya sendiri hari ini.


\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=


"Kenapa kakakmu susah dihubungi Kei?" Lilyana berulang kali menekan tombol-tombol di layar ponselnya. "Bahkan beberapa hari ini seperti menghilang. Apa dia sengaja?"


Lilyana terus saja berbicara sendiri karena rupanya sang anak gadis yang diajaknya berbicara tengah asyik dengan ponselnya.


Tidak mungkin Kylie menjawab, mendengar saja sudah pasti tidak.


"Kylieeee...." teriak Lilyana yang geram dengan anak gadisnya. Tanganya jatuh pada salah satu telinga Kylie untuk menariknya.


"Auw ... Mam! Apa yang kau lakukan?" Kylie menepis tangan sang ibu kemudian berlari menghindar.


"Kalau diajak bicara orang tua itu didengarkan. Bukan malah asyik mainan ponsel! Kau pikir ponselmu itu bisa memberimu pekerjaan?" Lilyana berucap keras terhadap anak gadisnya yang manja karena didikannya itu.


"Ayolah, Ma. Ada Kak Adam yang selalu bisa mengatasi masalah Mama. Tenang saja," ucap Kylie cengengesan. Gadis itu malah kembali bersandar di sofa dan memainkan ponselnya.


Sungguh ucapan gadis itu membuat darah Lilyana naik hingga ke ubun-ubun.


"Masalah Mama!? Itu masalahmu Kylie! Masuk universitas, lulus hingga mencari pekerjaan semuanya kakakmu yang membantu. Kapan kau akan mandiri?" bentak Lilyana yang menarik lengan Kylie agar gadis itu tetap duduk, tidak menyandarkan kepalanya di sembarang tempat.


"Mama menyakitiku." Mata Kylie melotot pada sang ibu. "Hanya papa yang baik padaku," ucap gadis itu merajuk.


"Baik, ikut saja papamu! Kau tahu, lelaki itu tidak mau membuat surat pengalaman kerja atas namamu. Dan itu berarti kau harus berusaha sendiri, karena Luna tidak akan pernah menerimamu tanpa itu."


Lama-lama Lilyana geram juga dengan tingkah anak bungsunya itu.


"Apa! Kenapa Mama tidak mengatakan dari tadi. Papa jahat sekali, apa aku ini bukan anak Papa, Ma?" Kylie mengiba dengan membuat drama.


"Kau ini bicara apa! Jika papamu mendengar bisa habis kamu olehnya. Sekarang pikirkan bagaimana cara mendapatkan surat itu! Jangan bermain ponsel saja,"


Lilyana merebut ponsel anak gadisnya itu kemudian ia duduki.


"Kita bayar saja karyawan Papa untuk membuatnya, Ma. Soal tandatangan itu mudah. Kei bisa menirunya," bisik Kylie pelan.


"Boleh juga idemu, Kei." Lilyana berbinar mendengarnya. "Besok kau harus berpura-pura mengunjungi Papamu. Lalu jalankan rencanamu," titahnya pada Kylie.


"Jika Mama yang kesana tentu saja Papamu curiga anak bodoh!" Lilyana menoyor kepala anak gadisnya itu. "Kau harus mengerjakannya sendiri atau....?"


"Atau apa, Ma?"


"Kau akan bekerja menjadi karyawan biasa di perusahaan kecil. Itupun jika kau diterima," ucap Lilyana dengan tekanan.


"Ahhh ... Mama...."


Kylie menghentakkan kakinya sebal.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Dia... "


"Kau mengenalnya?" tanya seseorang yang usianya berkisar 40-an.


"Apa kau mengenalnya?" Tidak ingin menjawab lelaki berkuncir itu malah balik bertanya.


"Tentu saja. Kami bahkan sudah kenal lama. Dia membeli barang dariku dua tahun ini. Entahlah, dia lempar kemana aku tidak perduli yang penting bagiku...." Lelaki berumur 40-an itu memberi kode 'uang' dengan jarinya.


Aglen ternganga. Entah kenyataan apa yang akan ia ketahui nanti. Yang jelas, panggilan video yang terjadi baru saja antara temannya dan seseorang di seberang sana cukup menarik perhatiannya.


"Membeli? Kau tak menawarkannya padaku selama ini?"


"Oh ... Ayolah, Ag. Perusahaan sebesar Efrain dengan kredibilitas yang sudah diakui mana mungkin membeli barang padaku. Bisa-bisa bangkrut," canda lelaki yang ternyata kenal dengan putra sulung Ellard itu.


"Boleh aku melihat apa yang menarik baginya?"


"Tentu saja. Kalau bukan kau, aku tidak akan menunjukkannya Ag," ucap lelaki itu.


Aglen mengikuti lelaki yang dikenalnya itu menuju gudang. Disana ada banyak tumpukan barang yang mirip dengan barang yang diproduksi oleh perusahaan adiknya. Siapa lagi jika bukan Luna.


"Ini...?"


"Aku membuatnya, Ag. Dengan bahan ini aku bisa menekan biaya produksi yang besar. Dan aku mengerjakan sesuai pesanan saja," jelas lelaki itu membuat Aglen sejenak berpikir.


"Dua tahun kalian bekerjasama?" Lelaki itu mengangguk. "Dan dua tahun ini kau mengerjakan seperti ini?" tunjuk Aglen pada barang-barang di depannya.


"Yang itu baru enam bulan terakhir ini. Sebelumnya produk yang berbeda. Dan semakin kesini pesanan dia semakin banyak. Sepertinya usahanya lancar." tambah lelaki itu. Senyumnya menguatkan jika tidak sedikit untung yang dapat ia raup dari kerjasama ini.


Aglen mengepalkan tangannya. Di tinjunya meja panjang yang terbentang disampingnya. Hingga meja dari kayu itu patah menjadi dua.


"Hei! Kau kenapa, Ag?"


"Tidak apa-apa! Ingatkan aku untuk mengganti meja milikmu!" Aglen langsung pergi begitu saja dengan rasa marah yang memenuhi dadanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hingga malam menjelang, Luna masih ada di kantornya. Dia bahkan mengusir pulang Emma sejak jarum jam menunjuk di angka 4. Masih selisih satu jam dari waktu pulang kantor yang sebenarnya. Namun Emma yang sudah menuntaskan semua pekerjaannya hari ini, bolak -balik masuk ke ruangannya karena khawatir. Dan itu membuat Luna tidak nyaman.


Luna mendengkus pelan. Dilihatnya kembali mejanya yang penuh dengan kertas berserakan. Belum lagi macbook yang sedari pagi bahkan belum istirahat.


Mendadak terdengar suara macbook mati. Kabel charger yang sudah menyambung ke colokan sedari awal dia datang pun, lupa ia tancapkan di lubangnya.


"Ya Tuhan...." pekik Luna lirih. Semangatnya bahkan sudah tinggal 60 persen kini, terjun bebas dari puncaknya.


Luna lemas. Bahkan semua seakan lupa ia kerjakan hari ini. Karena terfokus pada solusi yang bahkan hingga detik ini masih semu.


Samar dalam keadaan antara sadar dan tidak, Luna yang saat ini tengah berbaring di sofa melihat ada seseorang memasuki ruangannya.


Lelaki itu sangat cepat berpindah dari satu titik ke titik lainnya. Ia mengambil semua kertas yang berserakan.


Luna ingin sekali melihat wajahnya. Namun gagal karena orang itu mengenakan pakaian serba hitam dengan penutup wajah yang senada.


Sungguh dia seperti makhluk tak kasat mata saja disana. Gerakan orang itu sangat cepat, sementara gerakan Luna lamban. Bahkan memegangnya saja Luna tidak bisa. Ia hanya memutar tubuhnya kesana kemari mengikuti gerakan orang berpakaian hitam itu.


Oh, ada apa ini? Berkali-kali Luna teriak namun tidak keluar suara dari mulutnya. Dia seperti orang bisu yang meski sekuat tenaga ga berteriak tidak ada hasil apapun.


"Auw...."


❤selamat pagi readers tercinta, semoga saya selalu bisa update pagi hari... semangattt💪