
"Selamat pagi, Sir."
Evelyn mengangguk hormat pada Aglen yang pagi itu sudah sampai di perusahaan pribadi milik Luna.
Ini sudah perusahaan ketiga yang ia datangi pagi ini. Dan tentu saja karena ia berangkat pagi-pagi benar, lelaki itu belum sempat sarapan ataupun sekedar menyeruput kopinya. Ia takut terlambat dan sang ayah akan mengomelinya pula. Ellard dikenal disiplin, apalgi menyangkut pekerjaannya.
Semalam, Ellard belum juga sembuh meski ia sudah beristirahat di rumah. Sehingga anak lelakinya itu memutuskan untuk menggantikan tanggung jawab ayahnya hari ini.
"Hemm...."
"Hemm....?"
Evelyn mengulangnya saat Aglen sudah masuk kedalam ruangan Luna. Gadis itu merasa jika kakak bosnya itu sangat aneh.
Padahal kemarin waktu mengajarinya, lelaki itu biasa saja. Meski tidak terlalu ramah tapi masih sedikit berbicara daripada hari ini. Ya, meskipun memang kemarin banyak orang. Karena karyawan baru di perusahaan ini memang lumayan banyak, menyusul PHK besar-besaran akibat kejadian kemarin.
Evelyn masuk ke ruangan Aglen setelah mendengar panggilan dari kakak bosnya itu.
"Iya, Sir. Ada yang bisa saya bantu?"
Evelyn mengambil tempat di depan meja Aglen. Gadis itu masih berdiri disana.
"Saya mau kopi," pinta Aglen tanpa menatap sama sekali ke arah sekretaris adiknya itu.
"Em...." Evelyn mengernyit bingung.
Apa tugas seorang sekretaris termasuk membuatkan kopi untuk atasannya?
Setahu gadis itu, tidak. Evelyn memang baru dalam dunia perusahan. Ia fresh graduate meski beberapa kali pernah magang di sebuah perusahaan.
"Saya akan meminta office boy untuk membuatkannya, Sir."
"Aku menyuruhmu! Bukan office boy!" Lirikan tajam Aglen menghujam Evelyn.
"Tapi ... Saya tidak pernah membuatnya di rumah," gumam gadis yang memiliki pipi chubby itu lirih.
Meski begitu, Aglen masih bisa mendengarnya.
"Apa kau bilang?"
Evelyn terbelalak. Menyadari jika Aglen mendengar gumamannya.
"Tidak, Sir. Iya, akan saya buatkan." Evelyn segera pergi dari hadapan Aglen tanpa pamit.
Gadis itu pergi begitu saja karena bingung dengan apa yang akan diperbuatnya untuk menyiapkan kopi yang diinginkan bosnya itu.
Sementara Aglen, lelaki berkuncir itu terbahak begitu pintu tertutup dan rapat kembali.
"Menyenangkan sekali."
Aglen tersenyum kecil diam-diam. Sesuatu hal yang tidak pernah dilakukannya.
Sementara di pantry, Evelyn tengah bingung bagaimana caranya membuat kopi. Disana tidak ada seorangpun yang bisa ia mintai tolong. Sepertinya para office boy belum selesai dengan tugas paginya.
Padahal ia sempat tenang saat mengingat jika para office boy itu biasanya menyediakan kopi instan yang tinggal tuang dan diberi air.
Namun lututnya mendadak lemas ketika ia mendapati lemari dalam keadaan kosong. Hanya tinggal toples gula, kopi dan teh disana. Itupun tinggal sedikit.
Mendadak Evelyn memiliki ide. Dia hendak menghubungi asisten rumah tangganya di rumah untuk bertanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Untung anda cepat membawanya kesini, Sir."
Seorang dokter yang merawat Luna mendatangi William yang sedang duduk di ruang tunggu.
8 jam lamanya penanganan dilakukan pada Luna, dan William tidak sedetikpun meninggalkannya. Bahkan untuk makan dan minum pun ia memilih menyuruh anak buahnya yang mengirimkan padanya.
"Syukurlah." Lelaki paruh baya itu meraup wajahnya dan bernapas lega setelah beberapa jam yang lalu sesak terus menghimpit dadanya. Ia takut tidak bisa membawa kabar baik untuk Ellard, dan terutama Christina.
Dokter yang menangani Luna ikut tersenyum lega melihat kebahagiaan yang terpancar di mata William. Lelaki muda itu sampai menepuk beberapa kali tangan William yang masih menjabat erat tangannya.
"Mungkin sekitar setengah jam, dan semoga tidak lebih ia akan segera sadar, Sir," ucap dokter itu memberitahu.
"Terima kasih, Dokter. Bolehkah saya melihatnya?"
"Tentu saja. Kenakan pakaian yang disediakan, ya." Dokter itu menunjukkan ruangan tempat pakaian khusus untuk ruangan khusus seperti yang ditempati Luna.
William masuk perlahan. Ia mendekati keponakannya yang sesungguhnya telah mencuri perhatian setiap anggota keluarga Efrain sejak kedatangannya itu. Namun banyak dari mereka tidak mengakuinya, termasuk William.
Kini, setelah kepergian Stefan. William jadi tahu bahwa setiap anggota keluarga Efrain saling berikatan secara batin. Hingga rela mengorbankan diri untuk saudara lainnya.
William juga menangkap gelagat Luna saat di makam Stefan. Sungguh, Luna seperti seseorang yang benar-benar merasa kehilangan. Meski William tidak melihat setetes pun airmata jatuh dari mata wanita cantik itu. Padahal setahu William mereka tidak pernah sedekat itu.
Lelaki paruh baya itu mengusap lembut puncak kepala Luna. Tidak ada alasan yang kuat untuk membenci Luna, meski ia lahir dari seseorang yang tidak pernah secara sah menjadi anggota keluarga Efrain.
Tapi darah Efrain mengalir padanya. Dan itu tidak bisa dibantah.
"Semoga semuanya lekas membaik. Kau harus mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari ibumu, Nak. Kami berjanji untuk itu. Kau tidak pantas mendapatkan keburukan apapun."
\=\=\=\=\=\=≠\=≠\=\=\=\=\=\=
"Oma, apa El sudah boleh bertemu Mama?"
Deg.
Dada Christina mendadak sesak. Ia yang sama sekali belum menerima kabar apapun dari William menjadi bingung. Bagaimana menjawab pertanyaan gadis kecil itu.
"Nanti, kalau El sudah benar-benar sembuh. Oma berjanji mengajak El dan Mama mengunjungi Grand Canyon yang indah itu, mau?"
"Grand Canyon?" Elea nampak berpikir tempat apa itu. Namun beberapa detik kemudian. "Ya, aku tahu. Apakah itu tempat yang ada di belakang foto Paman Stefan waktu kecil?"
"Iya, Sayang. Bukankah saat pertama ke rumah Oma kau mengatakan ingin kesana?"
Christina mengingatkan pertama kali pertemuannya dengan Elea.
"Iya. Aku ingin sekali kesana Oma. Tapi mengapa Mama lama sekali sembuhnya?" Gadis kecil itu melipat bibirnya. Tangannya mengusap pelan punggung tangan tempat jarum infus menancap.
"Berdoa, ya Sayang. Semoga Mama cepat sembuh, nanti kita kesana bersama-sama."
Christina mendekap sang cucu dengan tangan kanannya. Sementara sebelah tangannya menghapus bulir bening yang mengumpul di kelopak matanya.
Rasanya, ia tidak sanggup melihat gadis kecil itu menangis jika terjadi sesuatu dengan Luna.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Aduh! Mengapa bisa lupa lagi?"
Evelyn menggigit bibirnya sendiri. Baru saja ia menghubungi asisten rumah tangganya untuk kedua kalinya karena lupa. Kopi atau gula yang satu sendok.
"Ah, biarkan saja. Pasti rasanya sama saja," gumam gadis itu lirih.
Ia segera meracik kopi sesuka hatinya untuk bos barunya itu.
Setelah selesai, gadis itu dengan percaya diri membawanya memasuki ruangan Luna.
"Silahkan, Sir," ucap Evelyn meletakkan secangkir kopi di atas meja, dimana Aglen duduk di kursi di belakangnya.
"Apa kau sudah mencobanya?" tanya Aglen yang sangsi. Ia membuka tutup cangkir itu, dan dari penampakannya saja terlihat aneh. Terlalu kental saat ia memasukkan sendok untuk mengaduknya.
"Saya tidak berani, Sir. Jika saya mencobanya, berarti Anda meminum sisa saya."
Benar juga kata Evelyn. Dan Aglen tidak mau meminum bekas orang lain. Siapapun dia.
"Saya sudah boleh keluar, Sir?" izin Evelyn yang ingin segera pergi dari tempat ini. Ia merasa panas dengan tatapan Aglen yang tidak bersahabat.
"Baiklah."
Aglen tersenyum miring. Paling tidak hari ini ia berhasil mengerjai sekretaris adiknya itu.
Aglen mmengambil cangkir itu dengan masih menatap sekretaris adiknya yang hendak keluar dari ruangannya.
Dan...
"Eve!!"
Suara Aglen membuat Evelyn berjingkat kaget dan berbalik. Padahal ia sudah sampai didepan pintu, bahkan sebelah tangannya sudah memegang handle pintu.
"Kopi apa ini!? Kau mau meracuniku!?" teriak Aglen lagi.
Lelaki berkuncir itu merasa tenggorokannya penuh dengan ampas kopi dan entah apalagi rasanya tidak enak dan sangat pahit. Ia sampai terbatuk-batuk dibuatnya.
"Tidak, Sir. Saya-saya membuatnya berdasarkan instruksi. Emmm...." Evelyn malah kabur keluar dan menuju pantrry.
Aglen yaaang mau mengerjai Evelyn tapi justru dia yang kena.
Apes.
💕💕💕💕💕💕