La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 65



"Ma, Mama!" panggil Adam.


Lelaki itu berpindah tempat dan menghadap sang ibu. Jantungnya berdentam hebat memikirkan segala kemungkinan buruk yang akan menimpa wanita yang telah melahirkannya itu.


Napas Lilyana terdengar teratur. Itu membuatnya sedikit lega. Namun keadaan yang tiba-tiba membuat wanita paruh baya itu memejamkan matanya tentu bukan hal yang biasa.


Sebersit pikiran buruk melintas. Mendadak Adam takut kehilangan sang ibu.


Adam gegas menekan tombol darurat yang tersambung ke ruangan perawat.


Beberapa menit kemudian, nampak seorang perawat datang memeriksa. Namun ia mengatakan akan memanggil dokter untuk memperjelas kondisi Lilyana saat ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Luna hampir sampai di rumah sang ayah saat ini. Tadi di rumah sakit, sempat terjadi perdebatan kecil antara Dokter dan pasiennya itu.


Dokter meminta Luna untuk pulang besok pagi saja. Namun Ellard tidak setuju, begitu juga dengan Luna. Wanita itu tidak sabar untuk bertemu putri kecilnya.


Ellard tidak ingin membuat celah untuk media mengetahu kejadian yang menimpa mereka beberapa hari yang lalu. Lagipula ia juga harus cepat mengantarkan Stefan ke peristirahatannya yang terakhir. Dan William sang kakak, meminta jenazah sang putra dimakamkan di tanah kelahirannya, Amerika.


Perumahan elit dan mewah itu nampak sepi. Ya, hari memang sudah larut malam. Dimana semua aktifitas hampir seluruhnya terhenti.


Sepanjang jalan, Luna hanya diam dan menatap keluar jendela. Entahlah apa yang dipikirkan wanita itu. Ellard yang mengemudikan sendiri mobilnya hanya fokus menyetir sambil sesekali matanya melirik sang anak yang tidak terdengar suaranya.


Begitu mobil memasuki gerbang depan yang tinggi, Luna terlihat menegakkan punggungnya.


Ia menggeliat menarik tubuhnya yang terasa kaku.


"Ini benar rumah Papa?" Wanita itu menoleh pada sang ayah. Dan bibirnya terlihat mengatup takjub setelah mendapat anggukan dari Ellard.


"Curang sekali. Rumah ini berkali-kali lebih bagus dari rumahku maupun rumah Papa sendiri yang disana," cicit Luna yang membuat Ellard tersenyum akhirnya.


Luna seperti anak kecil yang tengah iri karena diperlakukan tidak adil. Dan lucunya, ia tengah iri dengan lelaki yang ia panggil Papa itu.


"Rumah ini pasti super nyaman. Kenapa Papa tidak memberitahuku jika Papa bisa membeli rumah sebagus ini?" hardik Luna lagi. Ia merasa tidak terima.


"Ini semua akan menjadi milikmu dan kakakmu. Papa tidak menyembunyikannya. Ada banyak hal yang belum kamu tahu tentang lelaki tua yang kau panggil Papa ini, Sayang." Ellard tersenyum kembali saat mengucapkannya.


"Benarkah? Aku tidak perduli apapun yang tidak kuketahui itu. Yang aku perdulikan, Papa selalu mencintaiku dan El."


Ucapan Luna membuat Ellard berbangga. Dalam hidup, apa yang dicari setelah memiliki kekayaan dan nama besar sebagai kebanggaan, selain pengakuan cinta dari anak-anak sebagai penerus keluarga kelak.


"Tidak usah kau ragukan kalau soal itu. Kalian bertiga adalah hidup Papa."


Ellard menatap Luna dengan sayang. Seorang anak perempuan yang membuatnya bersemangat kembali setelah kehilangan Rosalie dan juga Hannah.


Mobil Ellard telah berhenti di depan rumah. Akhirnya mereka sampai setelah menempuh perjalanan beberapa lama.


"Ayo turun. Apa kau tidak mau merasakan rumah mewah Papa seperti katamu itu?"


Ellard yang turun lebih dulu, mengulurkan tangannya. Dan Luna dengan sigap meraihnya.


"El ... Pasti sudah tidur kan, Pa?" Luna menghentikan langkahnya, membuat sang ayah yang berjalan di depannya ikut berhenti.


"Sepertinya sudah. Ini sudah sangat larut, Sayang. Tapi beberapa hari ini, ia tidur sangat malam karena merengek pada Papa untuk dibawa bertemu denganmu. Dan ... Papa hanya bisa membujuknya, dan membujuknya."


Ellard menarik kembali gandengan tangannya pada Luna.


"Masuklah. Anginnya sangat kencang dan dingin disini. Kita bicara di dalam."


Luna hanya menurut. Ia begitu merindukan Elea. Tapi begitu sampai disini dan pastinya ia akan bertemu putri kecilnya itu, hatinya malah meragu.


Ellard membawa anak perempuannya itu ke meja makan. Disana sudah menunggu bibi Jen yang menyambut dengan senyum sempurna.


"Selamat malam, Nyonya," ucap bibi Jen membungkuk hormat.


Wanita paruh baya yang dipercaya di markas Ellard ini tidak berbeda jauh dengan bibi Ofelia.


Luna mengangguk, dan memberikan senyum tipisnya. Ia kemudian duduk dan bibi Jen menghidangkan sesuatu untuknya.


"Silahkan makan, Nyonya. Ini masakan spesial saya untuk Anda. Supaya Nyonya lekas pulih dengan cepat." Setelah menghidangkan nasi tim ayam bersama segelas susu Almond, pelayan ellard itu mohon diri.


"Makanlah. Dan setelah itu istirahat. Namun jika kau masih ingin berbincang, Papa ada di ruang kerja."


Ellard mengusap lembut punggung Luna, dan meninggalkan wanita itu sendiri di meja makan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Klek.


Luna membuka pintunya dengan pelan. Didalam kamar itu, ia melihat putri kecilnya eringkuk di dalam selimut.


Selimut warna ungu yang menjadi warna kesukaannya. Belum lagi segala boneka yang berjajar rapi di rak dibelakang ranjang tempat tidur Elea.


Bahkan di kamar ini, Elea bagaikan tinggal dikamarnya sendiri. Sang kakek sangat memanjakan cucunya, sama seperti apa yang dilakukan Ellard padanya.


Luna melangkah, mendekati ranjang tempat Elea berbaring. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mencium gadis kecil itu. Hatinya terasa lega melihatnya baik-baik saja. Bahkan tidak kurang suatu apapun. tepat seperti apa yang dijanjikan Stefan.


Wanita itu menghapus cairan bening yang berkumpul di sudut matanya. Kemudian beranjak pergi menuju ruang kerja sang ayah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Sudah Papa bilang, istirahatlah. Kau bisa tanyakan apapun besok. Dan Papa berjanji menjawabnya."


Ellard yang membuka jendela di ruang kerjanya sepertinya tengah menikmati angin dingin yang menyusup dalam ruangan pribadinya itu saat Luna masuk.


Bahkan ia tidak perlu memutar tubuhnya, karena ia tahu hanya Luna yang akan masuk kesana.


"Itu berarti jika aku bertanya banyak hal malam ini, Papa tidak akan menjawabnya?" tanya Luna.


"Istirahatlah, Sayang, Kau benar-benar membutuhkannya sekarang."


Ellard akhirnya berbalik. Memberi alasan yang tepat untuk anak perempuannya itu. Namun tatapan mata Luna yang berkaca, menyiratkan kekhawatiran yang dalam.


Lelaki paruh baya itu menghampiri. Memangkas jarak antara mereka berdua kemudian membawa Luna dalam pelukannya.


Sekali lagi Luna menangis. Dan Ellard hanya bisa menenangkannya dengan mengusap punggungnya.


Ellard sama sekali tidak bisa mengucap apapun. ia membeku di hadapan putri kesayangannya itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Elea bangun dan menyadari jika ia berada dalam pelukan sang ibu. Senyum tipisnya menguar. Ia begitu rindu hingga memejamkan matanya kembali menikmati aroma tubuh wanita yang melahirkannya itu. Aroma tubuh yang selalu membuatnya tidur cepat jika menciumnya.


"Mama...."


Gadis kecil itu mencicit, kemudian menciumi ceruk leher Luna. Membuat si empunya terbangun karena merasa geli.


"Sayang...." Luna masih terpejam saat mengucapkannya. Wanita itu mengusap lembut kepala Elea.


"Kapan Mama pulang? Kenapa El tidak diberitahu? Pasti ini ulah kakek atau paman Aglen atau kalau tidak paman Stefan? Mama kerjanya lama sekali. El sampai rindu...." Luna diberondong pertanyaan oleh gadis kecilnya.


"Satu-satu, El. Mama bingung mau jawab yang mana dulu." Wanita itu mempererat pelukannya pada Elea.


"Dijawab semua, Ma. El benar-benar rindu menciumi Mama seperti ini." rengek gadis kecil itu dengan manja.


"Tapi El baik-baik saja, kan? Apa ada yang sakit atau menyakiti El kemarin?" Luna bertanya kondisi sang anak karena ia takut Elea trauma.


"Tidak ada. El baik-baik saja," jawab gadis kecil itu ceria. Temgan kecil Elea merengkuh kepala sang ibu hingga mendekat.


"Paman Stefan sangat hebat ya, Ma. El mau belajar beladiri padanya," bisik Elea membuat Luna meremang. Ia teringat kembali.


"Daddy juga hebat. El bisa juga belajar padanya."


Padahal yang sebenarnya, Adam bukan orang yang menyukai beladiri. Ia hanya bisa melawan ala kadarnya. Namun, Luna perlu mengalihkan arah pembicaraan ini agar tidak menuju pada pertanyaan yang sulit untuk dijawab.


"Daddy tidak pernah punya waktu untuk El." Bibir gadis kecil itu mengerucut. Nampak sekali ia memendam kecewa.


"Daddy masih sibuk, El. Mungkin daddy benar-benar sedang sibuk."


Luna menggantung ucapannya. Ia sendiri juga tidak tahu ada apa dengan Adam.


Sungguh, mereka seperti orang asing karena tidak berkirim kabar sama sekali.


Masihkah rasa perduli itu ada?


😍 Terima kasih sahabat setia.