
"Emmm ... Apakah perusahaan temanmu itu berdiri cukup lama?" tanya Luna tiba-tiba menghentikan kedua tamunya.
"Maksud Anda, teman saya?" Luna mengangguk. "Dia mendirikannya kira-kira 3-4 tahun yang lalu. Jika saya tidak salah, sepertinya dia juga berasal dari Amerika," jelas salah satu dari tamunya itu.
"Ok, terima kasih."
Sepeninggal kedua tamunya, Luna membuka kembali kartu nama yang ia remas tadi.
Pauline Osbert, seseorang dari masa lalu. Mantan sahabat yang tega menipunya dan menghancurkan hidupnya. Kenapa wanita itu juga ada disini?
Bukankah masih banyak negara lain untuk didatangi. Dan kenapa dia juga memilih Kanada? Seperti dirinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"El belum pulang, Pa? "
"Kau sudah baikan, Sayang?" Ellard yang baru saja turun dari lantai atas langsung mendapat pelukan dari Luna.
"Aku baik-baik saja, Pa. Adam saja yang terlalu khawatir denganku. Lihatlah, aku tidak apa-apa, kan?" Luna memutar tubuhnya demi meyakinkan sang ayah. Ia memang sakit, tapi wanita itu masih bisa menahannya.
"Sudah sewajarnya suami mengkhawatirkan istrinya. Aglen selalu lupa waktu jika sudah dengan gadis kecil itu." Ellard membelai puncak kepala sang anak. Mencoba menenangkan meski ini bukan pertama kalinya anak lelakinya itu lupa waktu jika sudah bersama Elea.
Tapi biasanya, Aglen akan menghubungi jika ia pulang terlambat, sedangkan kali ini tidak sama sekali.
"Kau harus menjaga kesehatanmu, Sayang. Berliburlah, bahkan kau belum pernah berlibur sejak bulan madumu setelah menikah dulu," ungkap Ellard yang mengkhawatirkan Luna.
"Aku baik, Pa. Berhenti mengkhawatirkanku." Wanita itu memasang wajah sengitnya atas perhatian sang ayah yang dinilainya berlebihan.
Namun bukan Ellard namanya jika tidak seperhatian itu. Karena lelaki tua itu sudah berjanji pada dirinya sendiri atas kehidupan Luna.
"Selamanya kau gadis kecil Papa. Dan menolak sekeras apapun, Papa tetap akan seperti ini sepanjang hidup Papa," ucap Ellard berkaca. Tiap kali momen seperti ini, bayangan masa lalu selalu melintas dalam otak Ellard.
"Iya. Maafkan aku, Pa" Luna merangsek masuk kedalam pelukan sang ayah. "Berhenti membuktikan apapun, Papa adalah ayah terbaik dan terhebat yang kumiliki sampai kapanpun."
Luna menyeka butir bening yang keluar dari sudut matanya.
"Mereka datang," bisik Ellard begitu melihat sosok sang cucu kesayangan yang berlari masuk.
"Mama...." pekik gadis kecil yang langsung melompat dalam gendongan Luna, saat wanita itu memutar tubuhnya.
"Sayang, kemana saja? Asyik ya main sama Paman, hemm?" Luna menciumi putri kecilnya yang masih ada dalam gendongannya.
"El senang sekali. Apalagi ada Paman tampan yang juga ikut tadi," celoteh gadis kecil yang bersekolah di kelompok bermain itu.
"Paman tampan? Tentu saja Paman Aglen tampan, El beli apa saja tadi?"
"Banyak sekali, Ma. Paman Tampan membelikan banyak sekali mainan," gurat senyum diwajah Elea tidak juga memudar.. semenjak datang, apalagi menyebut paman tampannya itu.
"Maaf aku terlambat," ucap Aglen yang masuk beberapa saat dibelakang Elea.
"Kau ini selalu lupa waktu. El masih kecil, Ag. Dia pasti belum makan sejak tadi!" Ellard sedikit menekan ucapannya. Karena memang hari ini aglen membawa Elea cukup lama diluar dan tanpa mengabari sama sekali. Lelaki itu takut cucunya itu tidak diperhatikan untuk hal makan oleh anak lelakinya.
"Tenang saja, Pa. Semua terkendali," sahut Aglen santai.
Ternyata dibelakang Aglen, masih ada satu orang lagi yang ikut bersama mereka.
Stefan, begitu lelaki itu terlihat, hati Luna memanas. Wanita itu menggenggam erat jemarinya hingga buku-bukunya memutih.
Stefan datang dengan banyak sekali paper bag ditangannya. Tidak lain dan tidak bukan, semua itu adalah mainan yang ia belikan untuk Elea.
Lelaki itu mematung saat jarak dirinya dan Luna semakin dekat. Apalagi mendapatkan tatapan kebencian dari wanita yang menghiasi mimpinya beberapa tahun terakhir itu, sungguh menyesakkan.
"Iya Paman. Maaf." Stefan berucap pelan, menyadari kekeliruannya. "Hai, Lun." suaranya lirih, dengan ragu di sapanya sang sepupu yang berada disamping Ellard. Bahkan saat itu, tentu saja Stefan tidak berharap jawaban atau tanggapan baik.
Luna terlihat beberapa kali melarikan tatapannya ke tempat lain. Dadanya terus bergemuruh, setiap kali ia melihat Stefan karena hanya kebencian yang ia rasakan. Namun tentu saja ia tidak bisa menampakkannya disini.
"Hai."
Singkat dan lirih. Dan sama sekali tidak melihat seseorang yang menyapanya itu.
"Itu Paman Tampan, Ma. Paman membelikan banyak sekali mainan untuk El." Gadis kecil itu bercerita jujur pada sang mama.
Luna mendengkus kesal. Kenapa harus Stefan yang membelikan, bukannya Aglen. Apalagi dalam jumlahnya banyak.
"Ini tidak banyak, El." Stefan meletakkan paper bag yang ia bawa di dekat Luna berdiri. "Terima kasih sudah mau main dengan Paman," ucap. Stefan menatap sayang pada Elea.
Stefan membungkuk dan Elea malah berlari menghampirinya. Tanpa aba-aba, gadis kecil itu memeluk Stefan hingga membuat Luna maupun lelaki itu kaget.
"Terima kasih Paman Tampan, lain kali kita main-main lagi ya." Gadis kecil itu terlihat berbisik pada Stefan. Apa yang dikatakannya membuat lelaki itu terenyuh.
Semburat bahagia nampak di wajah cantik gadis kecil itu. Tidak salah lagi, Elea sangat bahagia bisa bermain dengan Stefan.
"Em ... El, Mama...."
"Paman Stefan pasti lelah. Dia baru datang dari perjalanan jauh bukan? Biarkan dia istirahat, ya Sayang," ucap Ellard mendahului Luna. "Ajak ke atas, Ag."
Sepertinya Ellard menyadari interaksi kaku Luna dengan Stefan. Mereka memang tidak pernah terlibat pembicaraan serius, itu yang diketahui Ellard sejak dulu.
Namun baik Luna ataupun Stefan keduanya memang terlihat aneh hari ini. Mungkin karena Stefan lelah, dan Luna yang juga sedang sakit.
Aglen segera mengajak sepupunya itu naik ke lantai atas. Sepanjang melangkah, Stefan terus mencuri tatap pada Luna yang bahkan enggan melihatnya.
"Papa tidak mengatakan ada lelaki itu?"
"Stefan maksudmu, Sayang?" Ellard heran mendengarnya. Luna tidak pernah menyebut seseorang dengan sebutan seperti itu terhadap saudaranya.
"Iya maaf, Pa. Begitu maksudku." Luna dengan cepat meralat, khawatir sang ayah menyadari sesuatu.
"Papa juga tidak tahu dia datang hari ini. Memang kenapa, Sayang?"
"Tidak, Pa. Aku hanya kaget saja." Luna menyembunyikan raut wajah kaget dan ketidaksukaannya pada Stefan. "Aku langsung pulang ya, Pa."
Wanita itu berkemas dan menghampiri Elea yang tengah membuka beberapa mainannya.
"Biasanya kau pulang selepas makan malam, dan menunggu hingga Adam pulang?"
"Aku lupa memberitahu Papa, Adam sudah pulang ke rumah lebih dahulu. Dia menunggu kami untuk makan malam bersama di rumah." Luna sampai membohongi sang ayah, padahal Adam masih ada di kantornya.
"Baiklah terserah kau saja, bantu El berkemas dulu," ucap Ellard. Lelaki itu meninggalkan Luna bersama sang cucu.
"Sayang, kita pulang sekarang ya?"
💜Terima kasih dukungannya🙏