La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 73



"Itu, sudah lama?"


"Beberapa bulan yang lalu, Nyonya," jawab bibi Jen.


Wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya, menangkup punggung tangan Luna yang dingin. Dan mungkin sedingin hatinya kini. Kemudian bibi Jen meremasnya, memberi kekuatan.


"Lalu apa maksudnya dulu? Berarti sekarang...." Luna tidak sanggup meneruskannya. Lidahnya seakan beku mendengar fakta lain tentang sang suami.


Selama ini rasa cinta antara mereka memang berjalan begitu saja. Luna tidak merasa tergila-gila dengan lelaki itu, tetapi Luna memang mencintai dan menyayanginya karena ketulusannya menerima Luna apa adanya.


Dan untuk Adam, tentu ia tidak bisa menebaknya. Adam selalu baik dan nampak penyayang untuknya ataupun Elea. Lelaki itu bersikap tanpa cacat kecuali waktunya yang hampir tidak ada untuk liburan mereka bertiga, seperti pada awal pernikahan mereka.


Luna berkaca-kaca. Apa yang ia pikirkan dulu ternyata menjadi sebuah kenyataan pahit untuknya.


Tidak akan ada lelaki yang mencintai dengan tulus pada Luna yang sudah tidak utuh. Karena mereka hanya akan mencintai apa yang menjadi nilai tambah padanya. Dan salah satu diantaranya adalah harta dan tahta.


"Lebih baik Nyonya menyelidikinya dahulu. Saya takut salah bicara." Bibi Jen tentu tidak ingin memperkeruh suasana hati Luna. Namun ia tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut. Karena jika ini benar, sang majikan lah yang sangat dirugikan disini.


Fakta lainnya disaat sang majikan tengah menghadapi masalah seberat ini, tidak nampak ada sang suami disampingnya.


"Maaf Nyonya, ada satu hal lagi yang belum saya sampaikan."


Bibi Jen mengeluarkan sebuah kotak beludru dari dalam saku bajunya.


"Siang itu, Tuan Stefan terburu-buru pergi. Beliau menitipkan ini pada saya. Beliau hanya berpesan, jika beliau tidak kembali, berarti saya yang harus menyerahkannya pada Nyonya."


Wanita paruh baya itu menggeser benda yang ada ditangannya ke depan Luna.


"Apa lagi yang dia katakan?" Mata Luna mendadak basah. Rasanya masih sakit mengingat ledakan yang menewaskan Stefan di dalamnya.


"Nyonya harus selalu bahagia." Bibi jen terburu bangkit dari duduknya. Pelayan sang ayah itu meminta izin kembali ke rumah hanya dengan mengangguk. Nampak sekali bibi Jen juga tidak kuasa menahan air matanya.


Sepeninggal wanita seusia bibi Ofelia itu, Luna mematung. Dia hanya menatap kotak beludru berwarna biru tua yang ada didepannya itu.


Berulang kali Luna berusaha mencerna pesan Stefan yang dititipkan pada bibi Jen untuknya. Mungkinkah Stefan sudah merasa jika ia tidak akan selamat?


Tangan Luna terulur meraih kotak beludru itu, kemudian membukanya.


Sebuah kalung cantik dan sederhana. Berhiaskan liontin huruf L dan E yang merupakan inisial namanya.


Jemari ramping itu melepaskan kalung dari kait yang mengikatnya di dalam kotak itu. Dan tanpa sengaja, Luna menjatuhkan sesuatu.


Sebuah kertas kecil digulung memanjang. Jemari Luna gemetar saat membukanya. Mengingat si penulis sudah tidak ada di dunia ini.


"Aku akan menunggumu, sampai kapanpun." Begitulah yang tertulis disana. Dimana dibagian akhir kalimat terdapat emoticon tersenyum.


Luna menggulung kembali kertas itu, kemudian menyimpan kalung milik Srltefan kembali ke tempatnya.


"Apa yang kau lakukan Stefan?" gumam Luna lirih.


Wanita itu menunduk pilu dengan menempelkan dahinya di tepian meja.


\=\=\=โ‰ \=\=\=\=\=\=\=\=


Adam mengikuti wanita yang menyelamatkannya. Berputar mengelilingi kota hingga akhirnya berhenti di sebuah hotel bintang lima di kota itu.


"Untuk apa kita kesini?" tanya Adam yang penasaran.


Sedari tadi tidak ada interaksi wanita itu dengannya. Ia hanya menurut saat disuruh untuk mengikuti.


"Nanti kau juga akan tahu," jawab wanita itu singkat.


Kali ini, Adam merasa mengenal suara itu. Namun sosok yang di depannya ini sangat berbeda. Dan anehnya, suara yang ia dengar sekarang sangat berbeda dengan yang ia dengar di kantor polisi.


Akhirnya Adam memutuskan untuk diam. Karena sepertinya orang yang menyelamatkannya itu tidak suka banyak bicara.


Wanita itu berhenti di depan sebuah kamar hotel. Sang pengawal yang berlari lebih dulu di depan dengan sigap membuka pintunya sehingga wanita yang berjalan di depan Adam ini langsung masuk. Sedangkan Adam, dia masuk setelah dipersilahkan oleh pengawal wanita itu.


Adam memperlambat langkahnya, saat orang yang dia ikuti benar-benar berhenti. Namun wanita misterius itu tetap dalam posisi membelakanginya.


"Kau masih tidak tahu siapa aku?" ucap wanita itu seraya memutar tubuhnya.


Dia membuka penutup wajahnya, dan tetap saja Adam tidak mengenalinya meski suaranya sama sekali tidak asing baginya.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Adam penasaran.


"Ck ... Adam?" dari suaranya, wanita itu terdengar tidak sabar dan kesal.


Dan peristiwa yang terjadi kemudian, membuat lelaki berambut pirang itu terbelalak.


Wanita yang berdiri didepannya itu menggerakkan jemarinya. Menyusuri dagu sampai garis tepi wajahnya. Kemudian jemarinya seperti menarik sesuatu yang menempel di wajahnya. Seperti sebuah topeng. Dan warnanya sangat mirip dengan kulitnya.


Setelah topeng terlepas, wanita itu tersenyum menyeringai menatap Adam yang masih mematung tidak percaya.


"Gila! Pauline, apa benar itu kau?" Lelaki itu masih tidak percaya apa yang terjadi di depannya. Dia pernah mendengar penggunaan topeng seperti ini untuk keperluan film. Dan tidak menyangka itu merupakan ide brillian untuk menyamar.


"Bahkan kau juga tidak mengenaliku. Berarti penyamaran ku berhasil." Pauline tersenyum bangga pada dirinya sendiri dan menyerahkan topeng itu pada pengawalnya.


"Lalu, bagaimana tadi di kantor polisi suaramu bisa berubah?" Adam masih penasaran dengan hal ini. Ia masih berdiri di tempatnya tanpa berniat mendekat sama sekali.


"Ada ini," tunjuknya pada sebuah kalung yang menempel di lehernya.


Rupanya ada alat khusus yang menempel dibalik liontinnya. Alat itulah yang bisa mengubah suara Pauline hingga berbeda dengan suara aslinya. "Teknologi baru. Aku yang pertama mencobanya," ucapnya dengan bangga.


"Untung kau datang disaat yang tepat. Jika tidak, aku tidak tahu siapa yang akan menolongku."


Adam mengesah pelan. Ia memang takjub pada apa yang dimiliki Pauline untuk menyamar, namun ia tidak begitu perduli. Lelaki itu melangkah maju menghampiri Pauline dan duduk disebelahnya.


"Pau, aku butuh uang banyak," keluh Adam.


"Untuk apa? Bukankah uang yang kau kumpulkan sudah banyak?"


"Ceritanya panjang. Ibuku di ICU. Dan adikku membawa lari uang perusahaan, bisnisku juga hancur."


Adam seperti orang kehilangan semangat. Ia lemas memikirkan masalahnya.


"Bukankah ada malaikat penolongmu, Luna," ucap Pauline mengingatkan. Ya, selama ini Adam selalu memuji Luna yang baik dan membantunya.


"Dia memiliki masalah sendiri. Aku sudah memintanya ke perusahaan, tapi karena dananya cukup besar, aku harus menghubungi Luna sendiri."


Adam bangkit dari duduknya. Lelaki itu menatap keluar jendela sambil menyilangkan tangan didada.


"Aku bosan selalu memohon. Aku mencintainya, tapi hubungan kami terasa hambar," Adam mengakui perasaannya yang sudah lama tidak lagi sama pada istrinya.


Dibelakang Adam, Pauline menyeringai. Wanita itu tahu jika memang keluarga Adam kalah jauh jika membicarakan soal harta. Dan apa kata lelaki itu, dia mengatakan bosan memohon. Jika meminta bantuan sudah pasti harus memohon dengan baik-baik.


Padahal dalam hati, Pauline juga mengutuk lelaki yang memiliki sifat seperti Adam.


"Kau banyak alasan, Dam. Katakan saja kau bosan. Penculikan yang kita rencanakan gagal semuanya. Dan aku sangat-sangat rugi. Aku sudah mengeluarkan banyak uang, tapi apa hasilnya?" Pauline murka namun entah ditujukan pada siapa.


"Salahkan saja kaki tanganmu yang bodoh itu. Bukankah semua ini karena dia."


Adam ikut kesal karena rencana awalnya mereka hanya menculik Elea untuk mengancam Luna agar ia mengalah dan masuk penjara pada kasusnya.


Namun semuanya hancur karena kecerobohan Angeline. Hingga mereka akhirnya juga menculik Luna. Dan sama saja, tidak ada hasil yang berarti. malah hampir separuh geng Lu Xi mati.


"Bodoh! Dia itu saudaraku. Dia dibutakan obsesi karena ditolak oleh Stefan. Dia kaya namun gampang dimanfaatkan."


"Jadi kalian sama-sama ditolak Stefan?" Adam tersenyum mengejek.


Ternyata dua wanita yang mengajaknya bekerjasama ini korban penolakan sepupu istrinya itu.


"Cukup! Aku sudah melupakannya. Untuk apa mengharapkan laki-laki seperti dia. Aku membenci istrimu sedari dulu, karena dia selalu mendapatkan perhatian dari orang-orang yang ingin kudekati," terang Pauline lantang. ia menguak rasa sakit hatinya sendiri.


"Ya, Luna memang selalu beruntung. Meski ia tidak beruntung dengan cintanya sendiri," sesal Adam.


Ia yang dulunya kagum dan mencintai Luna. Kini sepertinya rasa itu mulai memudar. Meski ia masih takut mengakuinya di depan istrinya itu.


"Siapa ayah Elea, Dam?"


"Aku tidak pernah tahu dan tidak mau tahu. Aku bersikap baik padanya hanya karena Luna. Aku bahkan tidak bisa mencintainya meski sekian tahun aku selalu berpura-pura."


"Kau gila, Dam! Bahkan kau masih bisa menjalaninya dengan baik selama ini." Pauline tidak kaget dengan pengakuan lelaki itu. Tapi kalau Pauline menjadi Adam, ia pasti sudah pergi dari Luna sejak lama.


"Satu-satunya nasib buruk Luna adalah memiliki Elea yang entah siapa ayahnya."


Dan ternyata itu pula yang membuat hubungan mereka hambar. Karena Luna selalu menghadirkan Elea, bahkan di setiap momen penting mereka.


"Apa rencanamu?"


"Aku tidak tahu. Tidak bisakah kau menolongku sekali ini saja, Pau?" Tatapan Adam penuh harap. Ia tidak bisa lagi mengandalkan Luna. Entahlah, firasatnya mengatakan Luna sudah mengetahui apa yang dilakukannya pada perusahaan.


"Aku tidak punya sebanyak itu. Harusnya kau menghubungi Angeline. Uang bukan hal sulit untuknya," saran Pauline pada lelaki didepannya itu.


Suara ponsel bergetar mengagetkan mereka berdua. Ponsel milik Adam lebih tepatnya. Karena lelaki itu meletakkannya di atas meja saat ia datang tadi.


Gegas lelaki ni tu mengambilnya, dan ia kaget saat melihat nama sang istri yang terpampang disana.


"Ya, Sayang." Lelaki itu masih mesra saat menjawab telepon Luna. Tanpa ia tahu reaksi mengejek Pauline dibelakangnya.


"Apa mama benar-benar sakit?" tanya Luna diseberang.


Luna tidak ingin berbasa-basi. kepergian Adam tanpa alasan yang masuk akal sudah membuatnya marah. Apalagi mendengar kenyataan dari laporan direktur keuangan di perusahaan.


Wanita itu tidak pernah banyak bertanya selama ini. Apalagi untuk kepentingan keluarga sang suami. Dan adam mulai membenarkan firasatnya sendiri.


"Iya, Mama di ICU disalah satu rumah sakit disini," jawab Adam dingin, sama sekali tidak semesra tadi.


"Biar pihak rumah sakit Kanada membawa mama pulang. Dirawat disini saja," ucap Luna memberi keputusan.


"Emm ... Aku tidak bisa, Lun. Masih ada urusan yang belum selesai disini."


Adam menggigit bibir bawahnya. Ia tidak bisa mengatakan jika ia mengejar Kylie disini. Jka ia kembali, itu berarti ia harus siap menghadapi Luna.


"Pulanglah. Kita selesaikan semuanya disini. Kau direktur, Dam. Dimana rasa tanggung jawabmu? Aku harus berkali-kali izin dari perusahaanku sendiri untuk mengurus ini itu dan sidang. Dan kau malah pergi untuk urusan yang tidak jelas," suara Luna serak. Namun ia tidak menangis, wanita itu hanya kecewa.


"Setelah urusanku selesai, aku pasti pulang. Aku titip Mama, Lun. akan aku kirimkan alamat rumah sakit disini. Terima kasih masih perduli."


Adam memutuskan perbincangan mereka di telepon sepihak. Ia tidak tahu harus bicara apalagi dengan Luna, karena dari nada bicaranya semuanya memang sudah terkuak.


"Kau setakut itu dengan Luna?"


Adam terhenyak mendengar suara Pauline.


"Tidak. Aku hanya takut kehilangannya." Adam meraup wajahnya, kemudian menenggak habis minuman yang disediakan Pauline untuknya.


"Kau sakit, Dam. Sebentar kau katakan hubungan kalian hambar, sebentar kemudian kau katakan kau takut kehilangan wanita itu."


Pauline tak habis pikir dengan lelaki di dekatnya ini.


"Angeline bisa dipercaya bukan?Dia tidak akan membongkar keterlibatan kita?"


Adam terlihat sangat berharap jawaban iya dari Pauline.


"Begitu perjanjiannya. Tapi aku tidak tahu bagaimana pikiran gadis itu," bisik Pauline lirih.


"Apa maksudmu?"


๐Ÿ˜Terima aksih amici๐Ÿ’›๐Ÿ’›๐Ÿ’›