
"Kalau begitu aku ke Italia saja. Aku akan melamar pekerjaan di perusahaan Stefan. Pasti Mirko mau menerimaku, daripada di perusahan Kakak."
"Apa!?"
Gluk!
"Mirko tidak akan menerimamu. Kau jauh dari standar kerja orang Italia!" ketus Aglen sampai menoleh dan mendelik menatap sang adik.
"Bukan Kakak yang memutuskan, tapi Mirko. Tidak mungkin dia pilih kasih saat menerima karyawan. Apalagi itu perusahaan milik Stefan,dia tidak akan berani. Jadi jangan membuat pemikiran sendiri," jawab Luna tidak mau kalah.
"Kalian ini!" Ellard memijat pelipisnya pelan.
Kepalanya mendadak pusing mendengarkan perdebatan kedua anaknya itu.
Rupanya ini cara Tuhan melindunginya dari pertikaian dua kakak beradik yang sudah tidak lagi anak-anak itu.
Bayangkan jika mereka bersama dari kecil. Ellard pasti akan pusing setiap hari melerai mereka berdua.
"Papa baik-baik saja?" tanya Luna yang khawatir karena Ellard terlihat diam beberapa lama.
"Papa cuma ingat dengan ibu kalian." Ellard terlihat menghela napasnya berat.
Kedua wanita hebat itu pasti kewalahan dulu saat membersamai mereka setiap harinya.
Dua wanita hebat yang melahirkan pewarisnya. Dan mendadak baik Aglen maupun Luna juga ikut terdiam.
Aglen yang mengingat mendiang sang ibu yang memanjakannya. Dan Luna yang sama sekali tidak pernah mengenal wanita yang melahirkannya.
"Pa. Setelah semua masalah ini selesai, bolehkah aku menemui Mama Keiko?" pinta Luna pada sang ayah.
"Kau yakin mau menemuinya?" tanya Ellard yang mengetahui jika Keiko tidak mau ditemui kecuali wanita itu sendiri yang meminta.
"Emm ... Aku sangat merindukannya, Pa,"sahut Luna pelan.
Siapa yang akan ia rindukan selain Keiko dan Hannah. Kedua wanita yang berjasa besar pada kehidupannya. Yang satu wanita yang telah melahirkannya dan yang satunya telah membesarkannya.
Luna dan Keiko selalu ke makam Hannah jika mereka rindu. Namun sekian lama Luna tidak pernah lagi menjejakkan kaki ke tempat itu. Semuanya karena Keiko tidak pernah memberi kabar. Wanita paruh baya itu seperti hilang di telan bumi.
"Tentu saja boleh. Tapi tidak sendirian," jawab Ellard dengan syaratnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kak, aku ikut ya?"
"Istirahatlah, Luna. Jangan mengkhawatirkan perusahaan. Ada aku dan Papa."
Aglen menyeruput kopinya, kemudian bersiap berangkat.
"Aku sudah cukup istirahat, Kak. Biarkan aku ikut," rengek Luna memegangi bagian jas belakang Aglen.
Sungguh Luna saat ini seperti Elea yang sering merengek pada pamannya itu.
"Isshhh ... Luna, jangan seperti anak kecil," bentak Aglen mengibaskan jasnya. Lelaki itu kesal dan gemas dengan tingkah adiknya.
"Aku bosan di rumah, Kak. Aku ingin ke perusahaan. Aku berjanji tidak akan mengganggumu," mohon Luna. Ia pantang menyerah dengan keinginannya.
Aglen menatap malas adiknya kali ini. Mereka memang keluarga keras kepala, dan Aglen pun juga begitu jika memiliki keinginan.
"Baiklah ... Lepaskan dulu tanganmu. Kita seperti anak-anak saja," sengit Aglen yang membuat Luna tertawa setelah melepaskan tangannya dari jas sang kakak.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Luna memasuki lobi perusahaan bersama dengan Aglen. Lelaki itu tanpa malu mendorong kursi roda sang adik. Bahkan Aglen menolak saat petugas keamanan datang karena ingin menggantikannya.
Euphoria sangat terasa oleh Luna kali ini. Suasana yang sangat dirindukannya.Rasanya tidak sabar kembali beraktifitas di tempat ini, bersama orang-orang yang sefrekwensi untuk membangun kembali nama baik perusahaannya.
Tiba di lantai atas menuju ruangannya, Luna meminta sang kakak untuk memperlambat dorongannya.
"Bu Luna." Mata evelyn berbinar melihat sang bos muncul hari itu. Evelyn menghambur namun ia memperlambat langkahnya saat menyadari Luna berada di kursi roda dan terlebih ada Aglen di belakang Luna.
Dan yang terjadi kemudian. "Selamat pagi, Bu, " ucap Evelyn sopan dan membungkuk. Gadis itu melirik Aglen yang menatapnya sinis.
"Pagi Eve. kamu cantik sekali," sapa Luna dengan senyum cantiknya yang selalu hangat.
Evelyn tercekat. Coba tidak ada Aglen diantara mereka, ia pasti bebas bercanda dengan bosnya itu. Karena Luna selalu menganggap karyawannya adalah tim, bukan bawahan. Apalagi status Evelyn adalah sekretarisnya.
"Terima kasih, Mam. Saya pasti akan membantu Anda sebisa saya," ucap Evelyn yang berdiri tidak jauh dari Luna.
Sebenarnya ia ingin sekali bertanya pada atasannya itu, apa yang telah terjadi hingga Luna duduk di kursi roda. Tapi gadis itu takut menyinggung perasaan Luna.
"Kak ... Pergilah ke ruanganmu saja. Aku bisa masuk ke ruanganku sendiri, apalagi sudah ada Evelyn yang membantu." Luna menepuk singkat punggung tangan Aglen.
"Ruanganku yang mana? Ruanganmu yang ruang kerjaku," ketus Aglen pada adiknya.
"Bukankah Kakak membuat ruangan sendiri selama menggantikanku? Kata Papa, Kakak tidak suka menggunakan ruang kerja orang lain." Luna yang tidak tahu apa-apa, mengernyit bingung.
"Tidak. Ayo masuk! Kita bareng saja," ajak Aglen yang segera mendorong kursi roda sang adik menjauh dari Evelyn tanpa pamit.
"Ponselmu berbunyi, Kak," elak Luna ketika mendengar suara ponsel dari dalam saku Aglen.
Lelaki berkuncir itu menghentikan langkahnya. Kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan benda canggih persegi miliknya.
Setelah mengucap halo dan ada apa, Aglen nampak terdiam mendengarkan.
Evelyn pun ikut berhenti menunggu Aglen menjawab panggilan diponselnya.
Tiba-tiba Aglen menyalakan speakernya. Terdengar suara seorang wanita memaki aglen tentang kejadian dirumah sakit dan nama Evelyn disebut.
"Kau mengenalnya?" tanya Aglen dengan wajah merah padam. Lelaki itu terlihat menahan amarahnya sambil menunjukkan nomor asing yang rupanya beberapa hari ini telah menghubunginya.
"Mmm ... Maaf Sir, dia teman saya," jawab Evelyn gugup karena rupanya sahabatnya itu yang menghubungi Aglen. Sahabatnya itu membuktikan omongannya.
Dan hal itu sungguh membuat malu Evelyn. Gadis itu mengumpat dalam hati aksi nekat sahabatnya itu.
"Ikut aku!" Aglen menarik tangan Evelyn dengan paksa.
"Kak. .. Jangan marah dulu. Mungkin ada kesalahan," ucap Luna. Sayangnya kedua orang itu sudah berada jauh darinya. Dan Luna terlihat kesulitan memutar kursi rodanya.
Rupanya Aglen membawa Evelyn ke ruang meeting.
"Masuk!"
Evelyn yang ditarik paksa hanya bisa menurut dan menahan ketakutannya.
"Kenapa dia berani menghubungiku?" tanya Aglen yang memepet tubuh Evelyn ke dinding.
Sebelah tangan Aglen menopang ke dinding untuk menahan tubuhnya terlalu dekat dengan tubuh Evelyn.
"Sir, maaf kemarin dia memang sempat mengatakan jika akan membuat perhitungan dengan anda. Tapi sungguh saya sudah melarangnya. Dan saya tidak tahu jika dia masih terus menghubungi anda." Suara Evelyn terdengar bergetar. Gadis itu benar-benar tertekan dan ketakutan. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya.
"Memang kenapa dia ingin membuat perhitungan denganku? Sedangkan kami tidak saling mengenal."
"Ini karena buket bunga yang perusahaan kirim, Sir. Bunga itu ada kecoanya," jujur Evelyn.
"Lalu kau menyalahkanku? Kenapa tidak bertanya pada pemilik toko bunga yang membuatnya?" ucap Aglen membela diri meski dia pelakunya.
"Masalahnya bukan itu, Sir. Saya alergi dengan kecoa, dan jika hari itu sahabat saya tidak cepat memanggil dokter. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya."
"Apa? Alergi? Aneh sekali,"
🥰🥰🥰🥰