
"Apalagi itu? Banyak sekali yang tidak kutahu. Apa Tuan Ellard mengetahuinya?"
"Iya, Bu. Saya pikir Tuan Ellard sudah memberitahu anda," ucap karyawan itu.
Luna menghela napas panjangnya. Ternyata masalah malah bertambah. Perusahaan sang ayah yang diberikan padanya pun juga sedang tidak baik-baik saja. Mana yang harus ia selesaikan lebih dahulu? Keduanya membutuhkan perhatian sama beratnya.
Dan Ellard sama sekali tidak memberitahunya. Mungkin sang ayah kasihan karena ia sendiri harus menghadapi masalah yang tidak mudah.
"Kirim email laporan keuangan perusahaan 6 bulan terakhir ini, beserta detail keperluannya. Aku akan memeriksanya kembali," titah Luna.
Ia yang sedianya akan mandi, akhirnya mengurungkan niatnya. Dan sekarang Luna malah berjalan ke arah jendela. Menyandarkan kedua sikunya pada besi pagar teras kamarnya. Menatap hari gelap yang hanya dihiasi lampu taman. Damai namun sepi.
"Baik, Bu. Lalu bagaimana dengan permintaan Tuan Adam? Saya terlanjur mengatakan iya tadi."
"Tunda dulu. Jika dia terus menghubungimu, katakan saja ... Kau harus mendapat izin dariku langsung."
Luna mengambil keputusan itu bukan tanpa alasan. Pemegang kekuasaan tertinggi masih sang ayah meski perusahaan itu telah diberikan padanya.
Dan dia menunjuk Adam hanya sebagai direktur saja, serta bertanggung jawab pada Luna bukan untuk menggunakan dana perusahaan demi kepentingan pribadi.
"Baik, Bu."
Luna mengesah. Ia butuh bantuan sang ayah saat ini. Tapi tentu di Amerika masih suasana berduka dan ia tidak bisa mengganggu mereka.
Andaikan stefan masih ada.
Stefan lagi. Faktanya hanya lelaki itu yang akhir-akhir ini bisa ia andalkan. Luna merutuki dirinya sendiri yang menjadi ketergantungan pada lelaki itu. Seharusnya tidak begini.
Kesal dengan dirinya sendiri, Luna akhirnya menuju kamar mandi. Bibi Jen pasti sudah menunggunya dari tadi, apalagi Luna sudah berjanji.
Beberapa menit berlalu,
Luna terlihat menuruni anak tangga. Wanita itu mengenakan piyamanya dengan rambut yang disanggul menggunakan jepit.
"Nyonya ... Saya pikir anda ketiduran. Hampir saja saya menyusul keatas," ucap bibi Jen dengan nada khawatir.
Wanita paruh baya itu baru saja dihubungi oleh sang majikan. Ellard hanya ingin mengetahui kabar Luna.
"Ya, aku hampir ketiduran saat berendam tadi, Bi. Maaf jadi menunggu lama." Tentu saja Luna berbohong. Kenyataannya bertambah lagi masalah yang harus ia hadapi.
"Apa kabar Bibi hari ini?" tanya Luna berbasa basi.
"Nyonya? Mengapa bertanya seperti itu? Bukankah setiap hari kita bertemu?" Bibi Jen mengurungkan niatnya untuk pergi. Wanita paruh baya itu merasa aneh dengan tingkah sang majikan.
"Ha ... Ha ... Ha ... Aku bingung harus menanyakan siapa. Beberapa hari ini kita hanya berdua saja, Bi." Luna mencoba encairkan suasana.
"Benar Nyonya." Bibi Jen menunduk, selanjutnya melirik wajah cantik yang terlihat berkaca itu
"Sabar, Nyonya. Apa yang anda hadapi saat ini semoga berbuah manis dimasa depan."
Bibi Jen tulus mengatakannya. Ia ikut sedih mengingat segala hal yang terjadi pada majikannya itu.
"Terima kasih, Bi."
Luna menjawab tanpa melihat pelayan ayahnya itu. Ia takut kaca-kaca yang muncul di matanya akan terjatuh dan ia ketahuan menangis.
Bibi Jen masih berdiri sebentar disana. Kemudian pelayan itu meninggalkan Luna sendirian, menghabiskan makananya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ini coklat panasnya."
Cangkir berisi cairan coklat yang masih mengebul asapnya diletakkan di meja oleh bibi Jen.
Luna sedang duduk melamun di taman, sendirian.
"Hampir saja aku lupa jika memintanya." Senyum tulus namun seperti dipaksakan itu mengulas pada bibir ranum milik Luna.
"Apa Bibi boleh duduk disini?" Izin bibi Jen pada Luna.
"Bibi berkata apa? Tentu saja boleh." Luna menepuk kursi kosong di samping tempat yang ia duduki.
Bibi Jen mendekat, kemudian duduk di tempat yang ditunjuk oleh Luna.
"Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin Bibi sampaikan pada Nyonya." Wanita paruh baya itu terlihat gelisah.
terka Luna.
Sang ayah bercerita jika sejak bibi Jen datang sampai hari ini, wanita paruh baya ini sama sekali belum pernah izin pulang. Dan itu sudah 4 tahun lamanya.
"Tidak, Nyonya."
"Bibi butuh uang?"
Bibi Jen menggeleng. Wanita paruh baya itu malah meremas kedua tangannya erat.
"Bukan itu. Ini bukan tentang saya. Tapi tentang Nyo-nya." Bibi Jen mengangguk, membenarkan ucapannya sendiri yang terdengar gugup.
Luna mencoba mencerna kata-kata bibi Jen. Kemudian wanita itu mengarahkan telunjuknya pada dirinya sendiri.
"I-ya."
"Ada apa? Kuharap bukan berita buruk untukku." Senyum Luna perlahan memudar berganti dengan mimik miris.
"Saya tidak tahu ini berita baik atau buruk Nyonya. Karena saya mengetahuinya sudah cukup lama." Bibi Jen menatap Luna trenyuh. Sang majikan sangat menyayangi anak perempuannya ini.
"Ceritakanlah," titah Luna lirih. Suka atau tidak suka, baik ataupun buruk dia berusaha siap menerimanya.
Bibi Jen menggeser kursinya mendekat pada Luna. Kemudian wanita itu mulai bercerita.
Beberapa bulan yang lalu, tanpa sengaja bibi Jen mendengar percakapan seorang laki-laki dan perempuan yang ada di dalam lift bersamanya.
ia sedang belanja bulanan di sebuah supermarket ternama di kota itu.
Seperti biasa, Bibi Jen membawa banyak barang dan ia turun dengan memilih lift yang sepi atau kosong sama sekali.
Saat itu ia memutuskan masuk karena di dalam lift hanya ada seorang wanita disana.
Bibi Jen masih mengingat postur wanita itu dengan baik. Tinggi dan langsing bak model. Kemudian pakaian serta pernak pernik mahal yang menempel ditubuhnya.
Bahkan melihat barang belanjaan bibi Jen sebanyak itu, wanita itu hanya diam menatap.
Bibi Jen yang sungkan hanya mengangguk, kemudian membawa trolley serta beberapa keranjang masuk kedalam lift.
Tidak lama kemudian, entah sampai di lantai berapa ada seorang lelaki masuk.
Bibi Jen mengira keduanya tidak saling kenal. Namun ternyata mereka berdua saling bicara.
"Bagaimana?" ucap wanita itu tiba-tiba. Bibi Jen yang bingung hanya menoleh pada keduanya.
"Aku ikut saja. Dulu aku hanya mencintai Luna dan tidak yang lainnya," sahut lelaki berambut pirang klimis dengan penampilan eksekutif muda yang masuk belakangan itu.
Begitu mendengar nama sang majikan disebut, bibi Jen sontak menajamkan telinganya. Wanita paruh baya ini memang tidak tahu wajah dari Adam Walton, suami sang nyonya. Tapi rupanya bibi Jen tidak kehabisan akal. Ia membuka ponselnya dan mulai mengetikkan nama sang majikan dalam pencarian. Hingga benar-benar terkejut lah ia karena apa yang dilihatnya sama persis dengan wajah orang di dekatnya itu.
"Ck ... Apa kau sungguh-sungguh? Kalau kau mencintainya kenapa kau ikut?" sahut wanita berpenampilan misterius itu.
"Dulu, iya. Entahlah ... Aku tidak bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Semakin lama rasanya semakin bosan. Dia terlalu baik, dan aku lebih menyukai tantangan," ucap Adam beralasan.
Dada bibi Jen kembang kempis dibuatnya. Karena ucapan Adam Walton tentu ditujukan pada sang istri, Luna.
"Lelaki selalu seperti itu. Menjadikan bosan sebagai alasan," celetuk wanita itu mengejek.
"Daripada bodoh sepertimu. Untuk apa kau memperjuangkan lelaki yang tidak mencintaimu?" sindir Adam.
"Aku memang berjuang. Tapi bukan untuk merebutnya namun membuatnya menderita .Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak juga dengan yang lain."
Wanita itu terlihat geram pada seseorang yang dimaksud oleh mereka itu.
"Kita deal!"
"Deal"
Dan dua orang itu turun di lantai yang sama. Menyisakan tanya mengapa mereka membahas majikannya. Semua pembicaraan mereka telah terekam dalam memori ingatan wanita paruh baya itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Apa maksudnya hanya mencintaiku bukan yang lain?" tanya Luna dalam hati?
đŸ’›amici.... love u