
Bukankah semuanya sudah menjadi garis takdir?
Wanita paruh baya itu kembali mengusap matanya yang mengembun.
"Pergilah. Nanti jika pamanmu datang kau akan kupanggil. Jangan sungkan disini. Ini juga rumahmu, Sayang," ucap Christina pelan.
Akhirnya, Christina meninggalkan Luna sendirian disana. Karena keponakannya itu beralasan ingin menikmati udara Amerika yang masih dingin di siang ini.
Luna menoleh. Menatap lama rumah-rumaham kecil yang menjadi pelindung dari sebuah gundukan tanah yang terlihat samar di matanya.
Wanita itu masih tidak percaya Stefan telah pergi.
Lelaki yang melukis luka dihatinya. Sosok teman yang datang saat masa-masa sulitnya. Namun juga pemberi solusi pada setiap masalahnya. Dan terakhir, lelaki itu malah mengatakan cinta padanya.
Dunia ini memang aneh.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Dimakamkan dimana, Ag?" tanya Ellard yang mengganti stelan blazernya menjadi warna hitam karena akan melayat besannya.
"Belum ada kabar, Pa. Semua biaya rumah sakit rupanya ditanggung oleh Luna."
Ellard menyatukan kedua alisnya. Dan ia melirik anak lelakinya yang juga menatapnya.
Kedua lelaki itu sepertinya memiliki pemikiran yang sama.
"Jonas yang diberi tanggung jawab untuk mengurusnya. Sudah ku hubungi pemuda itu untuk melunasinya tanpa menghubungi Luna," sahut Aglen cepat.
"Good." Ellard mengacungkan jempolnya. "Kita ke perusahaan lebih dulu."
\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Untung saja ada kamu. Kalau tidak, entahlah apa yang terjadi denganku."
Adam dibebaskan dari kantor polisi karena dijamin oleh Pauline.
Lagi, wanita yang merupakan teman sekongkolnya itu yang menyelamatkannya dari jerat hukum akibat kecerobohannya.
"Gadis itu harus menerima akibatnya. Aku ingin menuntutnya," geram Adam disela-sela Pauline menunggu pengacara yang ia bayar untuk mengurus pembebasan Adam.
"Jangan pikirkan masalah itu! Biarkan itu menjadi urusan Kylie. Kau harus pulang sekarang, Mamamu kritis."
"Apa? Bagaimana kau tahu? Apa Luna menghubungiku?"
Pauline menggeleng kesal. Setelah sekian lama menyakiti istrinya, dan ia masih berharap wanita yang dinikahinya itu masih perhatian padanya lagi.
Adam merebut tasnya yang dibawa oleh Pauline. Rupanya tas itu tertinggal di kamar hotel saat Adam mengejar Clara yang disangkanya Kylie.
"Ponselmu terus berbunyi dari tadi. Aku terpaksa mengangkatnya, dan ternyata memang penting," jawab Pauline sekenanya.
"Aku harus kembali ke Amerika, sekarang!" Adam panik ketika berulang kali mencoba menghubungi sang ayah dan tidak diangkat sama sekali.
"Sudah kusiapkan, pergilah."
Sungguh, Pauline seperti seorang malaikat untuk Adam. Wanita itu selalu datang disaat yang tepat, yaitu disaat lelaki itu membutuhkan pertolongan.
"Pau, kau sungguh mengagumkan! Aku tidak tahu apa jadinya aku jika tidak ada dirimu," puji Adam pada temannya itu.
Namun Pauline tidak bereaksi. Karena wanita itu sudah mengetahui kabar sebenarnya. Lilyana bukan sekedar kritis, namun telah pergi meninggalkan dunia ini.
"Kau mau kemana?"
"Ke kamar hotel, mengemasi barang-barangku," jawab Adam yang berjalan lebih dulu di depan Pauline.
"Tidak perlu. Semua sudah kukemas. Sopir ku akan mengantarmu ke bandara."
"Terima kasih, Pau."
Pauline mengangguk. Hatinya miris membayangkan reaksi Adam jika lelaki itu tahu bahwa sang ibu sudah meninggal.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=
Ellard datang di sebuah rumah duka bersama Aglen. Jonas yang memberitahu mereka alamatnya, karena lelaki itulah yang menyewa nya untuk keluarga Adam.
Di dalam sana nampak seorang lelaki tua terpekur di dekat sebuah peti dengan warna putih bersih.
Tangannya bersandar pada tepian peti. Meski sesekali bergerak, namun tangan yang sudah nampak keriput itu lebih banyak diam dan hanya menatap kosong jenazah yang sudah rapi di depannya.
Dia adalah Sebastian. Semenjak tiba, lelaki itu segera mengambil duduk disana. Dan tidak beringsut sedikitpun dari tempat itu.
Mereka memang tidak akur semasa hidup. Bahkan Lilyana tidak pernah bersikap baik dan menghormati lelaki yang menikahinya hampir empat puluh tahun itu. Namun cinta Sebastian untuk istrinya tidak pernah luntur. Meski lelaki tua itu berkali-kali dibuat kecewa oleh ulah sang istri.
Pada akhirnya, perpisahan karena kematian selalu menjadi yang terpedih daripada sebab lainnya. Karena kita tidak akan dapat lagi melihatnya, apalagi memeluknya.
Ellard melangkah mendekat. Seperti apapun mereka, faktanya hanya Sebastian saja yang paling tidak pernah membuat masalah dengannya. Dan Ellard mengakui lelaki tua yang menjadi besannya itu adalah lelaki yang baik secara pribadi.
"Sabarlah, semua kehidupan di dunia ini sudah diatur oleh Nya. Sekeras apapun kita berjuang, pada akhirnya hanya Dia penentu segalanya." Tangan Ellard jatuh di bahu lelaki yang tengah berduka itu.
Tepukan ringan namun menguatkan. Napas berat Sebastian terdengar rapuh. Tanpa menoleh sedikitpun, bahu Sebastian terlihat bergetar. Lelaki tua itu menangis.
Kemudian perlahan, tangan kanan Sebastian meraih tangan Ellard yang masih berada di bahunya. Mencengkeramnya erat.
"Terima kasih, Tuan. Keluarga anda memang sangat baik sejak dulu. Maafkan anak-anak kami. dan juga mendiang Lilyana," ucap Sebastian dengan suara parau. Sebagai kepala keluarga, ia merasa bertanggung jawab atas perbuatan anak dan istrinya.
Dan yang menyedihkan. Di akhir-akhir ia menemani sang istri, Sebastian mendengar kenyataan pahit akan semua kejahatan yang dilakukan oleh Adam dan juga Kylie pada Luna.
Poor Luna.
Ellard mundur, Aglen yang dibelakangnya maju. Kemudian lelaki tampan berkuncir yang juga mengenakan stelan serupa dengan sang ayah itu menjabat tangan mertua adiknya itu.
"Semoga Nyonya Lilyana tenang disana. Anda harus sabar, Sir," ucap Aglen sebagai belasungkawa.
"Terima kasih, Nak."
Aglen mundur. Mereka berdua mengambil duduk di deretan paling belakang agar tidak mencolok. Semua itu karena Luna tidak hadir, akan menjadi banyak pertanyaan jika mereka duduk di deretan paling depan.
Meski begitu Ellard lega, karena tidak harus bingung mencari alasan akan ketidakhadiran anak perempuannya. Mungkin Sebastian sudah mengerti dan lelaki tua itu tidak ingin mempertanyakan alasannya.
Ellard dan Aglen mengikuti seluruh rangkaian acara di rumah duka hingga jenazah Lilyana dibawa ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Sungguh miris, sejauh ini tidak terlihat satupun anak pasangan itu yang tiba disana. Baik Adam maupun Kylie. Bahkan hingga akhirnya jenazah Lilyana dimasukkan ke liang lahat.
Sebastian kembali menggugu. Mungkin ia meratapi nasib sang istri yang harus dimakamkan tanpa kehadiran anak-anak mereka.
Bagaimana jika ia yang meninggal nanti? Mungkin hanya ada saudara dan tetangga yang mengantarnya dan tidak seorangpun menangisi kepergiannya.
Ellard dan Aglen ikut menabur bunga. Meski ada beberapa saudara dari keluarga mereka yang menatap aneh keduanya.
Mungkin mereka mencari Luna, dimana sosoknya tidak kelihatan dan juga sang suami.
Samar Ellard mendengar bisik-bisik mereka di dekat Sebastian. Mempertanyakan keberadaan anak-anak dan menantu pasangan itu.
Dan Sebastian hanya menggeleng tanpa ingin menjawabnya lebih lanjut.
"Mama....!"
💕💕💕💕💕