La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 132



"Hemm ... Enak ya, Ma," ucap Elea yang menikmati makanannya. Padahal gadis kecil itu hanya makan salad buah. Mungkin karena sinar matahari begitu terik hari ini.


"Mau pesan yang lebih berat, sayang? Nanti kamu lapar lagi," tawar Luna yang hanya memesan smoothies karena dirinya belum begitu lapar.


"Pizza boleh, Ma. Tapi dibungkus saja," jawab Elea.


Luna segera berdiri dan mengambil tongkat kruknya.


"Hai, ketemu lagi," sapa seseorang tiba-tiba.


"Paman," jawab Elea yang mengenali.


Sedangkan Luna, ia hanya terbelalak kemudian berusaha tidak memperlihatkannya. Sepertinya aksi kaburnya percuma karena kenyataannya mereka malah bertemu kembali.


"Boleh ikut duduk?" pinta Alfonso yang melirik Luna kemudian berakhir menatap Elea.


"Tentu saja boleh, Paman," jawab Elea, padahal Luna hendak mengatakan mereka akan pergi karena sudah selesai.


"Mama, katanya mau bungkus pizza," ucap Elea mengingatkan.


"Em ... I-iya sebentar," jawab Luna ragu. Ia sudah terlanjur berdiri. Tapi ia tidak mungkin meninggalkan Elea bersama orang asing yang baru saja dikenalnya.


"Wah ... Mengapa serba kebetulan, sepertinya kita memang ditakdirkan bertemu. Paman baru saja membungkus dua pizza. Berarti satu untuk Elea." Alfonso menyodorkan satu kotak pizza ke depan Elea.


"Wahhh ... Besar, Ma. Asyik. Terima kasih, Paman," ucap Elea yang berbinar.


"El, kita beli sendiri ya. Mungkin paman sengaja membeli banyak untuk keluarganya Sayang," tolak. Luna halus.


"Aku hanya tinggal sendiri. Jadi tidak akan habis jika dua kotak," jawab Alfonso sambil tersenyum menatap Luna. Namun senyumya terlihat menyeringai.


Kalau memang hanya sendiri, mengapa harus beli dua? Bukankah hal itu sesuatu yang disengaja.


"Tidak usah, kami akan membelinya sendiri." Luna mencoba menolaknya kembali dengan tegas.


"El, sudah selesai kan? Kita pulang sekarang, ya?" ajak Luna setengah memaksa. Dan tanpa sadar, Luna segera meraih tangan Elea tanpa memperdulikan tatapan Alfonso yang tidak nyaman.


"Kau takut denganku!?" tanya Alfonso sambil melipat tangannya. Rupanya lelaki bertato ini gerah juga dengan penolakan Luna.


"Tidak, Tuan. Maaf," ucap Luna yang segera menarik tangan Elea untuk pergi. Tapi rupanya sebelah tangan Elea dipegang oleh Alfonso.


"Duduk!" titah Alfonso, meski lirih namun terdengar tegas dan memerintah.


"Maaf, Tuan. Saya ada keperluan lain," ucap Luna beralasan. Padahal ia sudah ketakutan, namun ia berusaha tenang agar tidak terlihat seperti itu.


"Aku bilang duduk!" ulang Alfonso yang mulai memperlihatkan sisi yang lain dari dirinya. Sepertinya lelaki ini tidak menyukai perintahnya diabaikan.


Luna masih bertahan berdiri. Wanita itu berpikir dia berada di keramaian saat ini. Tidak mungkin Alfonso berani berbuat lebih padanya.


"Lepaskan tangan Elea!" pinta Luna keras meskipun ia menekan suaranya. Luna tidak nyaman dengan pemandangan itu, karena mereka berdua tidak sedang memperebutkan putri kecilnya itu.


"Mama...."


Elea sepertinya mulai menyadari yang tengah terjadi.


"Tenang, Sayang. Mama bersamamu," ucap Luna menenangkan. Sebelah tangannya masuk ke dalam tas dan meraih ponselnya. Ia ingin menghubungi siapa saja di kontaknya yang bisa menolongnya.


Tiba-tiba datanglah Leo setengah berlari dari pintu masuk.


"Selamat siang, Nyonya. Anda ditunggu Tuan William," ucap Leo dengan membungkuk. Lelaki itu sepertinya membaca situasi dan langsung masuk ke dalam kekacauan kecil yang dibuat Alfonso.


"Kau siapa?"


"Saya pengawal Nyonya Luna, Tuan. Jika ada sesuatu yang belum selesai, silahkan selesaikan dengan saya. Karena Tuan Besar kami sudah menunggu dari tadi," ucap Leo santun.


Semua pengawal keluarga Efrain memang dilatih untuk tidak gegabah dan terpancing dalam kondisi panas sekalipun.


Jangan masuk kedalam api yang telah membara, karena kau akan terbakar didalamnya, itulah yang selalu dipesan oleh Thomas Efrain pada anak-anaknya.


"Luna! Ada apa kau menghubungiku?"


Bhara datang tergesa setelah ia menerima panggilan dari Luna. Dimana ketika panggilan itu dijawab oleh Bhara, lelaki itu sama sekali tidak mendengar suara Luna. Bhara malah mendengar perdebatan kecil Leo dan Alfonso.


Dan kebetulan, Bhara mengenali lagu iklan tempat makan itu hingga ia sampai disana dengan cepat.


Tangan Leo yang berada dibelakang memberi kode pada Luna dan Bhara untuk segera pergi.


"Ayo Luna!"


Bhara mengajak Luna dan Elea pergi dari tempat itu. Dan kedua ibu dan anak itu hanya mengekor Bhara.


"Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Leo yang sudah lima menit menunggu Alfonso bersuara, namun lelaki bertato itu hanya diam mematung.


"Tidak ada. Aku hanya ingin berbagi pizza dengan majikanmu. Tapi ia melarang anaknya menerima pemberianku," jawab Alfonso mengungkap kemarahannya.


"Mungkin karena anda dan majikan saya baru saja saling mengenal, Tuan. Mohon maaf untuk itu. Jika tidak ada hal lain, saya mohon pamit, Tuan," ucap Leo memutus obrolan.


"Berikan pizza ini pada gadis kecil itu." Alfonso menyodorkan satu kotak pizza miliknya pada Leo.


"Baik Tuan, terima kasih."


Leo segera pergi setelah pamit. Membawa kotak pizza yang harus ia berikan pada Elea. Namun begitu Leo sudah tidak terlihat oleh Alfonso, lelaki itu memasukkan sekotak pizza yang ia bawa kedalam tempat sampah.


"Beres! Tidak akan ada orang yang percaya dengan kebaikan yang dipaksakan. Apalagi itu orang asing," gumam Leo mengomentari Alfonso yang memiliki cara kuno mendekati majikannya.


"Awasi terus gerak-gerik Luna! Kita tidak boleh kehilangan dia!" Alfonso menggebrak meja setelah menutup ponselnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kita kemana Bhar? Bukannya kata Leo, paman William menunggu di mobil?" tanya Luna yang sudah berada di dalam mobil Bhara.


"Itu mobil Leo. Lihatlah dia sendirian. Itu hanya alasannya untuk membuatmu pergi dari Alfonso. Percayalah tidak ada yang ingin berlama-lama berada di dekat lelaki itu. Ayo kuantar kalian pulang."


Bhara segera menyalakan mesin mobilnya. "Kalian sebenarnya bertemu dimana?"


"Baru saja di supermarket, Bhar. Elea hampir jatuh tadi dan ia yang menangkapnya," jelas Luna.


"Mengapa kau tidak memghubungiku, Luna. Aku bisa mengantarmu kemana saja. Tidak akan terjadi seperti ini jika aku mengantarmu," ucap Bhara tanpa sadar. Lelaki itu lupa jika belum ada hubungan apapun diantara mereka berdua.


"Kau kerja, Bhar. Mana mungkin aku mengajakmu. Aku dan Elea hanya ingin sesekali jalan-jalan tanpa pengawal. Tapi kenyataannya, malah merepotkan kalian semua," sesal Luna.


"Apa kau tidak tahu siapa dia, Luna?"


"Siapa? Lelaki tadi?" Bhara mengangguk."Namanya Alfonso, dia memperkenalkan diri tadi."


"Dan kau tidak kenal siapa Alfonso?" tanya Bhara sedikit kaget.


"Baru saja kenal beberapa jam yang lalu, Bhara," jawab Luna santai.


"Luna! Dia mafia terkenal di Kanada. Narkoba dan perdagangan manusia, kabarnya itu bisnis terbesarnya disana, meski tidak pernah terbukti hingga ia masih hidup nyaman sampai saat ini. Dia pemain yang cerdik," jelas Bhara membuat Luna ketar-ketir.


"Mafia? Lalu ... Apa ia sengaja mendekatiku?" Otak Luna mulai lagi memikirkan hal buruk. Karena tidak mungkin seorang mafia sekelas Alfonso sampai turun tangan mendekatinya, jika tidak ada sesuatu hal penting yang diinginkan oleh lelaki itu.


"Sepertinya begitu. Apa ia bertanya hal-hal yang aneh tadi?" telisik Bhara yang membuat Luna berpikir sejenak mengingat perkenalannya tadi.


"Tidak ada. Ia hanya terus mendekati Elea. Dan yang membuatku tidak nyaman, sepertinya ia mengikuti kami karena setelah dari supermarket kami bertemu kembali. Bahkan ia menawarkan pizza untuk kami bawa pulang. Itu terkesan memaksa hingga aku ketakutan dan ingin segera pergi."


Luna mengungkap alasan ia menghubungi seseorang yang ia tekan nomornya dengan asal dalam kontak ponselnya dan ternyata tersambung dengan Bhara.


"Untung saja Leo juga cepat."


"Menurutmu apa yang mungkin dicari Alfonso dari diriku, Bhar?"


💜💜💜🥵