
"Le, aku ke toilet sebentar."
Leo tanpa diminta menguntit di belakang Luna meski wanita itu sudah menolaknya.
"Kenapa kau mengikutiku. Kau akan jadi bulan-bulanan para gadis di toilet wanita nanti."
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya akan menunggu diluar," ucap Leo bersikeras mengikuti.
"Disini saja. Aku malu kau mengikutiku sampai ke toilet. Aku hanya sebentar."
Luna membentak sambil menggigit bibirnya agar suaranya tidak begitu keluar.
Akhirnya Leo mundur dan membiarkan keponakan majikannya itu pergi sendiri. Padahal ia menghubungi anak buahnya yang lain untuk menjaga Luna di dalam sana tanpa wanita itu sadari.
Sesampainya di dalam, Luna bingung karena ia tidak bisa berjalan sendiri untuk sampai di bilik-bilik itu.
Kebetulan disana ada seorang gadis yang mondar-mandir membersihkan lantai. Dan hanya dengan tatapan mata Luna, gadis itu sepertinya paham jika Luna membutuhkan bantuan.
"Nyonya ingin ke dalam?" Luna mengangguk, kemudian gadis itu membantu Luna hingga selesai.
Setelah berterima kasih, Luna segera keluar untuk bergabung dengan yang lain.
"Beres, Bos!" ucap gadis pelayan kebersihan itu melaporkan pada atasannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Aku menyusul saja, Bi. Siapa tahu aku bisa membantu mereka jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Lagipula mereka hanya berdua," ucap Aglen pada Christina setelah ia dijamu oleh masakan bibinya yang selalu memanjakan lidahnya.
"Ya, siapa tahu disana kamu bertemu dengan jodohmu, Ag. Tidak usah banyak berpikir, segera kan saja, kasihan Papamu."
Christina menepuk singkat bahu Aglen yang lebih tinggi dari bahunya itu.
"Berharaplah pada Tuhan, Bi. Bukan pada reunian." Lelaki berkuncir itu menipiskan bibirnya.
"Terserah kau saja. Berhati-hatilah, kau tahu siapa Pauline bukan?"
Aglen menggeleng, ia memang tidak begitu kenal dengan teman-teman Luna jika tidak disuruh ayahnya untuk menyelidiki.
"Edward Osbert, dia putri satu-satunya petinggi kepolisian itu," ucap Christina membuka informasi.
"Lalu, apa hubungannya dengan Luna?"
"Wanita itu yang berusaha mencelakai Luna di rumah sakit. Dan mungkin juga, kecelakaan yang terjadi pada Luna sebelumnua," ungkap Christina.
"Oh ... Jadi lawan kita bukan orang sembarangan, Bi. Baiklah, aku juga tidak akan sembarangan memperlakukan mereka."
Senyum miring tercetak jelas di bibir Aglen.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Nomor yang sama, mengganggu saja!"
Klik!
Aglen menonaktifkan ponselnya. Lagipula jika penting mengapa tidak meninggalkan pesan, malah terus menghubunginya. Padahal ia tidak menggubrisnya sejak tadi.
Lelaki itu meneruskan perjalanannya menuju sekolah Luna.
Sampai disana, hanya ada mobil-mobil yang terparkir rapi. Sekolah terlihat sepi, sepertinya sedang libur.
Aglen berjalan menyusuri lorong sekolah. Mencari gedung pertemuan yang digunakan oleh teman-teman Luna untuk mengadakan reuni.
Penjaga keamanan disana hanya memberi petunjuk secara lisan saja. Selebihnya Aglen harus berusaha sendiri.
Hingga tiba-tiba ia menghentikan langkahnya saat melewati sebuah kelas. Ia mendengar suara beberapa orang tengah berbicara.
Aglen memutuskan untuk berhenti karena telinganya menangkap sesuatu yang sepertinya penting.
Untung saja dinding kelas itu dibangun tinggi. Meski begitu, tentu tingginya tidak bisa menyamai tinggi Aglen yang menjulang 180 cm.
Ia harus menunduk demi mendekati dan mendengar obrolan itu lebih jelas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Leo gelisah saat menunggu kedatangan Luna. Sebenarnya Luna baru saja pergi. Namun ini memang terasa lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk ke toilet.
Mungkin karena Luna mengenakan kursi rodanya, jadi tentu berbeda dengan orang normal.
Akhirnya Leo lega setelah menerima laporan dari anak buahnya yang menyamar di dalam toilet.
Ya. Tidak mungkin ia membiarkan majikannya kedalam sana sendirian. Banyak di film-film laga, jika toilet menjadi tempat persembunyian dan penyerangan yang aman yang banyak digunakan oleh para penjahat dibanding tempat lainnya. Itulah yang membuat Leo waspada.
Lima menit kemudian, ia mendapat pesan dari nomor asing. Rupanya pesan itu dari Luna yang menyuruh Leo langsung ke gedung pertemuan saja. Mereka akan bertemu disana karena Luna sudah kesana lebih dulu bersama temannya. Begitulah bunyi pesan yang dikirimkan.
Untung saja Luna menyimpan nomor kontak Leo. Hal itu sedikit membuat lega lelaki itu.
Leo berjalan meninggalkan tempat ia duduk tadi menuju gedung pertemuan.
Dari jaraknya yang masih lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki saja, hingar-bingar musik sudah terdengar.
Mungkin ini yang membuat Luna memutuskan kesana lebih dahulu tanpa menemui Leo. Karena rupanya acara reuni itu sudah dimulai.
Leo masuk kesana. Menerobos manusia-manusia yang terus saja menggerakkan tubuhnya menikmati alunan musik yang digawangi oleh seorang presenter. Lampu disko yang kelap kelip membuat Leo memicing beberapa kali. Berusaha mengenali satu persatu wajah orang-orang itu untuk mencari Luna.
Ini bukan seperti perayaan reuni, lebih seperti ke pesta yang tidak jelas. Alunan musiknya saja awalnya terdengar enak dan romantis di telinga namun lama-lama seperti dalam klub malam.
Leo memutari panggung kemudian kembali lagi. Tapi ia tetap tidak menemukan sosok Luna. Bahkan ia menatap satu persatu orang yang duduk dan tidak ikut melantai. Tetap saja, ia tidak menemukan sosok yang ia cari.
"Stop!!"
Tiba-tiba terdengar suara presenter menghentikan musik jedag jedug yang mengganggu telinga itu.
"Apa kabar teman-teman semua!?" sapa presenter wanita dengan teriakan yang lantang.
"Haaaaaaaaaaa!"
Teriakan riuh dan serempak dari yang ada dibawah panggung membuat Leo menutup sebelah telinganya yang tidak mengenakan earphone.
Lelaki itu hampir saja menghubungi nomor Luna sebelumnya. Dan ia mengurungkan niatnya karena suara bising mereka semua.
Kemudian Leo berhenti dan memindai sekelilingnya. Sungguh, matanya masih awas memeriksa. Sepertinya keponakan majikannya itu memang benar-benar tidak ada disana.
Tapi itu sangat tidak mungkin.
Sepanjang perjalanan tadi, ia tidak bertemu siapapun. Dan ia juga mendapat laporan dari anak buahnya, jika semua tamu sudah berada di dalam.
"Acara ini terselenggara berkat teman kita yang sukses, Pauline Osbert! Tepuk tangan untuknya!" Teriakan itu menggema penuh semangat.
Sejenak kemudian, terdengarlah tepuk tangan meriah. Lampu sorot pun mengarah pada sebuah kursi yang di duduki oleh seorang wanita cantik berbalut pakaian navy yang seksi.
Wanita itu seketika berdiri dan melambaikan tangan untuk menyapa semua yang ada disana.
"Hai semua! Selamat menikmati dan bersenang-senang," ucapnya sambil berteriak.
Leo bisa melihatnya. Dia adalah Pauline Osbert yang tadi menyapa Luna. Bersama Selly disampingnya. Namun Leo tidak melihat ada sosok Luna disana.
Lelaki itu mulai panik. Pengawal William itu bergerak sambil berbicara di earphone nya, memerintahkan semua anak buahnya untuk memeriksa di semua tempat di dalam ruangan itu.
Ia sendiri juga ikut kesana kemari, bertabrakan dengan orang-orang di dalam sana mencari Luna.
"Kosong, Sir!"
"Kosong, Sir!
Keempat anak buahnya melaporkan hal yang sama. Mereka sudah berada disana. Memeriksa dari empat arah di dalam ruangan itu, namun tidak menemukan Luna.
Lalu tiba-tiba ada yang memanggil Leo dengan keras.
"Sir! Anda harus cepat kesini! Saya menemukan ____ Nyo-nya."
Informasi itu tidak terdengar sempurna, karena teriakan banyak orang yang menyoraki acara di panggung.
"Posisi!" teriak Leo.
"Jam 6, Sir. Saya menemukan _____ Nyonya."
"Sial!" umpat Leo. "Ulangi lagi!Ulangi terus sampai aku bisa mendengarnya!" titahnya seraya minggir dari kerumunan orang-orang itu.
"Saya menemukan kursi roda Nyonya. Saya menemukan kursi roda Nyonya. Saya me_"
"Apa!?"
💚💚💚💚💚💚