La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 123



Siang itu, Luna tiba di Amerika. Ia dijemput oleh Leo dan putri kecilnya Elea.


Selama Elea tinggal dengan sang bibi Christina, gadis kecil itu tidak mengeluh sama sekali. Bahkan yang Luna lihat, Elea terlihat bahagia disana.


"El, betah disini?"


"Hemmm...." Gadis kecil itu mengangguk sambil menikmati gelatonya. Pipinya yang terlihat lebih gembul menggembung sempurna kemerahan.


Elea memang suka gelato, es krim dari Italia yang diperkenalkan oleh Stefan. Entah karena kebiasaan atau lidahnya yang memang pembawa gen Stefan, yang jelas gadis kecil itu serupa ayah biologisnya. Keduanya adalah penggila gelato. Apalagi jika sudah bersama.


Luna membelai lembut surai gadis kecil itu. "Enak?" tanya Luna lagi. Dan Elea kembali hanya mengangguk untuk menjawabnya.


Luna menggeleng pelan. Elea terlihat menikmatinya, sampai-sampai dua kali sang ibu bertanya dan hanya dijawab deheman dan anggukan.


"Baiklah, habiskan dulu gelatonya. Setelah itu Mama ingin bicara dengan El," ucap Luna pelan. Dan Elea, ia kembali menjawabnya dengan kode. Kali ini gadis kecil itu menunjukkan jempolnya.


"Bagaimana kabar bibi, Le?" Luna beralih pada Leo yang serius mengemudikan mobil.


"Syukurlah, Nyonya Christina semakin baik, Nyonya. Kehadiran Nona Elea membawa pengaruh besar untuk beliau. Bahkan Tuan Besar selalu pulang lebih awal sekarang. Tuan bercerita kepada saya, beliau sangat menyayangi Nona Elea. Andai saja...." Leo terdengar menghela napas berat.


"Andai saja apa, Le?"


"Andai saja Tuan Muda masih ada, Tuan Besar pasti memiliki kesempatan untuk memiliki cucu secantik Nona Elea," lanjut Leo yang tetap fokus meski bibirnya banyak bercerita.


Deg!


Rasanya hati Luna seperti dicubit. Karena sejatinya, Elea memang cucu mereka. Seorang Efrain murni.


Luna tentu saja tidak berani mengungkap fakta itu. Karena keluarganya sendiri saja tidak ada yang tahu. Luna benar-benar menyimpannya rapat sendiri. Entah sampai kapan.


Tatapan Luna jatuh pada putri kecilnya itu. Elea selalu membawa bahagia di manapun ia berada. Mungkin itu anugerah, dibalik tragedi hadirnya dia ke dunia.


Leo melirik keponakan majikannya dari kaca yang ada diatas dashboard. Sebenarnya tidak sengaja, tapi terdiamnya Luna mengusik Leo untuk melakukannya.


"Maaf jika ucapan saya menyinggung, Nyonya," ucap Leo merasa bersalah karena mimik wajah Luna sangat kentara. Wanita itu tidak nyaman.


"Tidak apa-apa, Le. Bukan salahmu. Kita langsung ke rumah ya." Luna mengakhiri pembahasan yang sensitif bagi dirinya ini. Meski Leo tidak tahu apa-apa.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mobil sedan hitam mewah memasuki halaman rumah William. Leo menekan klaksonnya, memberi tanda para pelayan di dalam untuk keluar membantunya.


Namun yang keluar malah Christina yang terlihat antusias dengan kedatangan Luna.


"Sayang, Bibi rindu sekali." Senyum hangat Christina seperti milik Mama Hannah. Senyum tulus untuk orang yang dicintai. "Hati-hati, jangan memaksakan diri."


Christina segera berlari menghampiri, ketika dilihatnya Luna hanya menggunakan dua kruk di ketiaknya tanpa kursi roda lagi.


"Aku sedang membiasakan diri menggunakannya, Bibi. Aku harus terus berlatih agar cepat pulih. Bibi tidak usah khawatir," ucap Luna menolak ketika Christina hampir menggandeng lengannya untuk dibimbing.


"Kalian anak muda selalu keras kepala. Pelan-pelan kalau begitu. Biar tasnya Bibi yang bawa."


Luna akhirnya merelakan tasnya karena tidak enak menolak lagi.


"Hai, cantik. Itu wajahnya kenapa?" tunjuk Christina.


Setelah Luna, keluarlah Elea dengan wajah penuh sisa gelato coklat yang dimakannya.


Gadis kecil itu tersenyum sambil menampakkan gigi-giginya yang rapi.


"Ini gelato Oma. Rasanya enak ... Sekali." Wlea langsung menyerbu pipi Christina yang membungkuk mengambil tas Luna.


Gadis kecil itu mencium Christina. Hingga saat ini, Christina pun belepotan seperti Elea.


"El! kasihan Oma," pekik Luna yang kaget dengan apa yang dilakukan Elea. Cucu dan omanya itu terlihat sangat akrab.


"Tidak apa-apa, Sayang. El memang begitu. Tapi Bibi sangat bahagia dia ada disini." Christina malah membela Elea yang keluar melewati Christina dan lari kedalam rumah.


"Sejak ada El, hidup Bibi berwarna. Entahlah, rasanya ... Bahagia sekali," ungkap sang bibi dengan senyumnya yang selalu hangat. "Ayo masuk Sayang, kau pasti lelah."


Bibi....


Trauma kehilangan Stefan pasti sangat dalam, dan yang mampu menyembuhkan adalah Elea, cucunya sendiri.


Sungguh ironi.


Bahkan hari ini, ia tidak pulang ke rumahnya, tapi malah ke rumah Stefan. Lelaki yang meninggalkan luka, namun juga telah mengorbankan diri untuknya.


"Silahkan, Nyonya." Leo mengejutkan Luna karena tiba-tiba sudah ada di depan wanita itu. "Hanya beberapa minggu Anda tidak ada, Nyonya Christina dan Nona Elea semakin dekat. Anda akan semakin heran nanti jika mengetahuinya."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"And, maukah kau melakukan sesuatu untukku?"


Setelah sampai di kamar, Luna bergegas menghubungi Andrew. Ada sesuatu yang terlupa. Sesuatu yang belum ia lakukan di Kanada.


"Apa, katakan saja. Aku akan membantumu sebisaku," jawab Andrew di seberang.


Kemudian Luna mengutarakan maksudnya. Panjang lebar ia bercerita hingga ada perdebatan kecil antara keduanya. Pada akhirnya, Andrew mengiyakan permintaan wanita itu.


"Kau benar-benar yakin?"


"Ya. Anggap saja itu rasa tanggung jawab ku karena status istri masih melekat padaku sampai saat ini," ucap Luna lirih.


Rupanya, Luna meminta bantuan Andrew untuk mengurus segala keperluan sehari-hari Adam selama menjalani masa hukumannya. Makanan, obat dan semua kebutuhan kebersihan diri.


Andrew sempat menolak. Lelaki itu berpendapat mengapa Luna harus melakukan hal yang menurutnya tidak perlu itu.


Sementara Adam telah berbuat jahat padanya. Itu hanya akan memberi harapan pada Adam untuk mendekati Luna kembali.


Namun Luna dengan tegas dan yakin menjawabnya tidak. Ia tidak memberi harapan. Itu hanya sebuah rasa tanggung jawab saja.


"Apa kau juga akan mengunjunginya sesekali?" Pertanyaan Andrew terdengar ketus. Lelaki itu sepertinya sangat benci dengan Adam.


"Saat ini aku tidak bisa menjawabnya. Aku bahkan berdoa untuk tidak bertemu dengannya lagi meski dalam keadaan apapun. Biarlah dia dengan hidupnya, dan aku dengan hidupku," jawab luna tegas.


"Apa Tuan Ellard tahu?"


"Tentu saja tidak, And. Jangan memberitahunya. Ini hanya antara kau dan aku. Papa pasti akan sangat marah jika mengetahuinya," mohon Luna.


"Baiklah. Aku akan membantumu. Pekerjaan ini selama Adam menjalani hukumannya?"


"Iya, hanya itu yang bisa kubantu untuknya," ucap Luna lirih sambil mengakhiri panggilannya.


Tidak berapa lama, terdengar suara pintu diketuk dari luar. Luna segera berdiri mengambil tongkat kruk untuk membantunya berjalan.


"Sayang, apa Bibi mengganggumu?"


Rupanya sang bibi yang datang.


"Tidak, Bi. Ada apa?"


"Ada yang ingin bertemu denganmu. Ia mengatakan jika ia adalah temanmu. Laki-laki."


Christina memberitahu sebelum Luna mempertanyakannya.


"Siapa ya, Bi?"


"Bibi tidak mwngenal semua temanmu, Sayang. Tapi dia nampaknya baik." Bahkan dengan clue yang diberikan sang bibi, Luna masih belum juga bisa menebaknya.


Aku tidak memiliki teman lelaki kecuali ... Bhara.


"Aduh ... Bibi lupa, tadi ia menyebutkan namanya." Christina terlihat kebingungan sendiri.


"Bhara?"


"Ya. Itu namanya. Bagaimana kau tahu sayang? Apa kalian janjian? "


"Tidak, Bi. Teman dekatku terbatas dulu, baik laki-laki ataupun perempuan," ungkap Luna.


"Ya. Turunlah temui dia. Kasihan ia sudah menunggu lama dibawah," ucap Christina sambil berlalu pergi.


Selangkah demi selangkah Luna berjalan. Untung saja rumah sang paman memiliki akses lift sehingga dia bisa turun dari lantai dua sendiri.


Apa kau tahu ada yang diam-diam melangitkan doa, dan meletakkan dirimu di sudut hatinya yang paling dalam. Dia seseorang dari masa lalumu.


"Bhara? Apa itu dia?" gumam luna.


💕