
"Papa bicara apa?"
Rupanya Aglen sudah bangun dan mendengar obrolan ayah dan adiknya itu. Obrolan tentang dirinya yang berubah kini.
"Tidak ada!" jawab Ellard tegas. Ia kembali pada mode keras seperti sebelumnya.
"Padahal tadi bicaranya lembut sekali," gumam Aglen.
"Adikmu minta di antar menemui penjahat itu," ucap elEllard sambil terus menyuapkan sendok kedalam mulutnya.
"Papa?" pekik Luna memanggil sang ayah. Namun sepersekian detik kemudian "Tidak, Kak! Bukan!" Luna menggeleng, ia ingin protes namun mendadak malah bingung merangkai kata.
Dan yang terjadi selanjutnya, Luna melanjutkan sarapannya tanpa mengucap apapun lagi.
"Kalian aneh sekali. Siapa yang ingin ditemani?" tanya Aglen. Lelaki itu mengunyah sepotong sandwich yang berada di dalam mulutnya.
"Adikmu. Temani ia menemui Nona Peterson di penjara."
"Kenapa harus aku?" Aglen menghentikan aktifitas dalam mulutnya. Ia menatap sang ayah dan adiknya bergantian.
"Baiklah, kalau kau tidak bisa melakukannya. Kembali saja ke amerika!" gertak Ellard mengancam.
"Papa! Ini hanya masalah kecil," kesal Aglen.
"Apa tujuanmu kesini? Membantu Papa bukan?" Aglen mengangguk mengiyakam. "Tugas Papa tidak hanya di kantor, tapi juga memastikan keamanan adikmu. Jadi kalau kau tidak mau membantu bukankah sebaiknya kau kembali ke Amerika saja."
Ellard menghapus jejak makanan yang tertinggal di sudut bibirnya. Tatapannya tajam, dan perintahnya tidak bisa ditawar.
"Ini gara-gara Stefan!" gumam Aglen lirih.
"Stefan lebih banyak membantuku daripada kamu," ketus Ellard yang langsung berdiri meninggalkan meja makan.
"Iya, aku antar," putus Aglen kemudian.
Ellard yang masih bisa mendengarnya, diam-diam tersenyum. Ia bahagia meski aglen melakukannya karena dipaksa. Dan tentunya dengan ancaman darinya.
"Jangan bahagia dulu! Aku mau mengantarmu karena Papa," bisik Aglen yang tiba-tiba mendekati Luna. Lelaki itu kemudian menuju kamarnya meninggalkan sang adik.
Luna hanya menatapnya kesal. Bahkan sekian tahun mereka sudah berstatus sebagai saudara, dan laki-laki yang ia panggil kakak itu masih saja menjadi orang yang aneh di matanya. Sebentar baik, sebentar tega, dan sebentar kemudian perhatian.
Dialah Aglen.
Lelaki yang belum juga memiliki kekasih, diusianya yang menginjak 30-an akhir.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Aku menunggu disini saja."
Mereka berdua baru saja sampai di lembaga pemasyarakatan tempat Angeline tinggal sekarang.
Tidak ada yang bisa dihubungi untuk mengkonfirmasi kedatangan Luna, karena faktanya Angeline juga ditinggalkan pengacaranya setelah hakim menyatakan gadis itu bersalah dan dijatuhi hukuman.
Mungkin juga karena sang ayah yang mencabut segala fasilitas mewahnya termasuk juga uang. Gadis itu tidak memiliki apa-apa kini, hanya menerima harta keuntungan dari perusahaan yang telah diberikan sang ayah padanya. Dimana perusahaan itu juga diambang kehancuran.
Luna hampir saja menawarkan pada sang kakak untuk menemaninya masuk. Namun urung setelah mendengar ucapan Aglen yang sudah mendahuluinya.
"Baiklah."
Wanita itu tidak banyak berucap. Berbeda ketika dengan Stefan yang selalu bertanya ini itu, meskipun terkadang tidak penting. Dan selalu berakhir dengan perdebatan.
"Jangan lama-lama," ucap Aglen. Lelaki berkuncir itu tidak mau menatap sang adik saat mengatakannya.
Luna hanya berdehem untuk menjawab. Wanita itu bergegas masuk dan menemui petugas untuk meminta izin mengunjungi Angeline.
Di sebuah ruangan yang tidak begitu besar, Luna menunggu kedatangan gadis itu.
Dia hanya sendirian disana. Tempat menjenguk narapidana terbagi menjadi beberapa ruang. Dimana setiap ruang hanya terdiri dari 5 tempat duduk yang berjajar horizontal.
Jadi penjenguk dan yang dijenguk hanya terhubung dengan sebuah kabel telepon. Mereka terhalang dinding kaca transparan, bisa menatap namun tidak bisa saling menjabat tangan. Hanya ada tiga lubang kecil seukuran jari yang berada tepat di depan mereka.
Beberapa menit kemudian muncullah sosok gadis itu. Baru beberapa minggu berada didalam sana, penampilan gadis cantik yang selalu mewah itu berbanding terbalik sekarang.
Rambut yang dulu tergerai rapih dan terawat, kini nampak biasa saja dengan satu tali rambut dari karet gelang.
Dan make up yang selalu membalut wajah cantiknya, tidak terlihat sama sekali. Yang nampak sekarang hanyalah wajah polos dengan kantung mata menggembung dan sedikit gelap. Sepertinya gadis itu kehilangan banyak waktu istirahatnya.
Menariknya Angeline mencoba tersenyum, sebelum akhirnya ia duduk segaris lurus di depan Luna. Senyum yang sama sekali tidak tersirat keangkuhan disana.
Berbeda dengan sebelumnya. Dimana sindiran keras, merendahkan dan penuh kekuasaan yang keluar dari bibir gadis itu selalu tidak pernah ketinggalan.
Beberapa lama mereka berada dalam keheningan. Angeline meski dia tidak menunduk tapi pandangannya nampak kosong. Berbeda dengan Luna yang mengangkat dagu dan menatapnya tanpa ragu. Namun bibir yang terlihat beberapa kali bergetar itu masih setia terkunci.
Padahal waktu terus berlalu dan tentu saja setiap narapidana hanya mendapatkan waktu kunjungan yang terbatas.
Tidak lama kemudian, Angeline mengangguk dan mengangkat gagang telepon didepannya. Luna pun melakukan hal yang sama.
"Terima kasih, mau datang." Ucapan itulah yang pertama keluar dari bibir pucat tanpa gincu itu. Meski masih terlihat bersih dan tidak menghitam.
"Ya."
Luna memilih jawaban itu. Terdengar singkat dan tegas. Seperti saat ini, dia tidak ingin banyak bicara hal yang tidak perlu.
Angeline seperti masih bingung mengatur suasana hatinya.
"Aku ... Aku...."
"Waktumu tinggal lima menit lagi!"
Luna hanya mengingatkan. Namun ucapannya yang tanpa basa-basi membuatnya terdengar ketus dan kejam.
Helaan napas berat terdengar di telinga Luna. Angeline mengesah beberapa kali.
"Luna... Adam_." Angeline nampak menelan salivanya dengan susah payah. "Ia tahu segalanya. Ma-afkan aku." Gadis itu menunduk.
Setelah itu, Angeline langsung meletakkan gagang teleponnya dan ia memnaggil sipir yang mengantarnya kembali.
Sepeninggal Angeline, Luna mematung. Apa yang ia dengar dari bibir gadis itu memutar terus di otaknya.
Wanita itu meremas bajunya, dengan mata yang berkaca.
"Adam, tahu segalanya," gumam Luna lirih dan beberapa kali terdengar mengulanginya. "Itu berarti....?"
Napas Luna memburu, ia takut berpikir lebih buruk atau lebih tepatnya ingin mengingkari. Namun pengakuan Angeline bukanlah hal yang main-main. Karena gadis itu bahkan membutuhkan keberanian untuk mengungkap semua ini pada Luna.
Sebenarnya. Tanpa apa yang disampaikan Angeline sekalipun, dimata Luna, Adam bukan sosok seperti yang ia kenal dulu. Dan semuanya semakin diperparah oleh kejadian demi kejadian yang membuat semuanya terbuka karena ternyata saling berkaitan.
"Jam besuk sudah terlewat, kenapa kau tidak segera keluar?" Suara berat sang kakak membangunkan lamunannya.
Lelaki berkuncir itu menunggu di depan pintu masuk dengan seorang sipir disana.
Luna yang merasa tidak enak segera bangkit setelah di liriknya jam besuk memang sudah usai sepuluh menit yang lalu.
Ia berjalan dengan gontai melewati sang kakak dan seorang sipir disebelah lelaki itu. Samar terdengar, Aglen berbincang sejenak dan mengucap terima kasih setelahnya.
Luna mempercepat langkahnya menuju mobil, meski ia harus berdiri menunggu sang kakak yang berada di belakangnya.
Aglen membuka pintu mobilnya, ia masuk dan diikuti Luna yang duduk disebelahnya.
"Apa yang gadis itu katakan?" tanya Aglen setelah mobil mereka meluncur meninggalkan penjara khusus wanita itu.
"Apa kakak memiliki bukti kuat tentang apa yang dilakukan Adam di perusahaan?"
Aglen menoleh, meyakinkan dirinya akan ucapan sang adik. "Bukankah aku sudah mengatakannya. Tapi kau harus cukup kuat melihatnya " ucap Aglen yang kembali fokus dengan kemudinya.
"Aku kuat. Tetap kuat. Sangat kuat!" ucap Luna lantang.
Namun yang terdengar kemudian sangat bertolak belakang.
🧡🧡🧡🧡Terima kasih