
Mirip? Atau benar-benar Stefan. Apakah lelaki itu masih hidup? Tapi mengapa dia harus menghilang jika memang dia selamat?
Berbagai pikiran dan hal-hal yang tidak mungkin berseliweran di otak Luna.
Tidak mungkin itu Stefan!
Bukankah sang kakak sudah mengkonfirmasinya sendiri jika dia sudah melakukan tes DNA untuk benar-benar meyakinkan keluarga akan jenazah Stefan yang tidak bisa dikenali itu.
Pasti hanya orang yang mirip. Dan niatnya membantu itulah yang menjadi misteri sampai saat ini.
"El mau kemana lagi, Sayang? Paman siap mengantar," tawar Bhara yang hari ini sengaja meninggalkan kantor untuk cuti mendadak, hanya karena ingin berjuang kembali mendekati cinta lamanya yang tidak pernah terungkap.
"Kamu harus kerja Bhar, lain kali saja. Kamu sudah terlalu lama bersama kami," tolak Luna yang merasa sungkan.
"Em ... Em... Kalau ke pusat bermain, boleh?" sahut Elea yang menyela ucapan sang ibu. Gadis kecil itu belum mengerti ucapan sang ibu yang sebenarnya menolak ajakan Bhara.
"Sayang...."
"Tidak apa-apa Luna. Kebetulan hari ini aku libur." Bhara tersenyum bahagia karena mendapat kesempatan untuk kembali dekat dengan Luna melalui Elea.
"Libur?" Tanpa sadar Luna bergumam sendiri. Ini bukan akhir pekan apalagi hari Minggu. Bagaimana mungkin Bhara mengatakan jika dirinya libur?
Namun sungguh, Luna tidak bisa menolak ajakan lelaki itu karena Elea. Bahkan kedua orang beda usia itu sudah berjalan bersama lebih dulu menuju mobil. Mereka begitu cepat akrab padahal baru saja hari ini mereka berkenalan.
Bhara sangat pintar mengambil hati Elea. Saat ini, putri kecilnya itu memang sedang terluka karena kehilangan Stefan. Walaupun setiap hari ia tetap ceria dan mengunjungi makam Stefan diam-diam.
Namun detik ini, apa yang tertangkap oleh mata Luna, membuat hati wanita itu berdesir. Keduanya bergandengan tangan seperti ayah dan anak. Sesuatu hal yang tidak pernah dilakukan Adam. Dan Elea dapatkan dari Stefan. Ketika Stefan pergi muncul Bhara yang melakukan hal serupa.
Deg!
Luna mendadak berhenti dan mematung.
"Kenapa Nyonya?" tanya pelayan yang mengikutinya dan membawakan tas Luna.
"Tidak, Bi. Ayo kita susul mereka," ucap Luna yang kemudian melangkahkan kaki kembali untuk mengekor Bhara dan Elea.
Hati Luna mendadak seperti tertusuk. Sakit tapi tidak tahu kenapa.
Rasanya ... Ia tidak rela melihat Elea dekat dengan Bhara. Namun mengapa perasaan itu tidak muncul ketika Elea bersama Stefan.
Ada rasa aman yang tercipta ketika Elea bersama dengan ayah kandungnya sendiri.
Andai Stefan tahu....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Apa kau yakin ingin bekerja dengan Paman?" tanya William di sela obrolan mereka bertiga selepas makan malam.
"Keadaanku seperti ini Paman. Siapa yang mau menerimaku kecuali Paman dan kak Aglen. Tapi kakak sudah menolakku, katanya ia tidak mau mempunyai karyawan yang tidak cekatan. Ia mau aku sembuh dulu Paman," jelas Luna.
"Apa kakakmu tidak menceritakan tentangku?" tanya William seperti tengah menginterogasi keponakannya.
"Soal apa? Ah ... yang itu. Apa paman benar-benar sediktator itu?" Luna mengerjap dan menatap sang paman untuk meyakinkan dirinya.
"Jika dalam pekerjaan. Jawabnya adalah iya. Semua anggota keluarga kita tahu itu, Luna."
Luna menelan salivanya mendengar pengakuan sang paman. Itu berarti hanya Luna yang tidak tahu, karena belum sempat ia mengenal dekat sang paman, ia sudah memutuskan pindah ke Kanada dulu. Dan apa yang diceritakan sang kakak rupanya seratus persen benar. Ia kita kakaknya yang suka mengolok dan iseng itu hanya mengerjainya saja.
"Tapi aku kan keponakanmu Paman. Apa tidak ada dispensasi untukku? Aku tidak bisa pengangguran terlalu lama. Elea juga sudah harus masuk sekolah lagi. Belum lagi aku masih harus terapi. Banyak sekali pengeluaran."
Luna seorang single parent sekarang ini, meski belum bercerai dari Adam. Ditambah ia pindah ke Amerika. Dari menjadi CEO disana, sekarang ia harus memulai dari nol lagi.
Meski sang ayah menawarkan untuk mendirikan perusahaan baru di negara ini, tapi Luna menolaknya. Ia sedikit trauma dengan statusnya yang menjadi CEO. Bahkan Adam yang Ia sangka baik, rupanya malah menggerogoti dengan alasan yang tidak masuk akal.
"Apa kau benar-benar mau pindah kesini?"
"Iya, Paman. Tidak ada hal yang membuatku harus tinggal disana. Aku ingin memulai karirku dari nol sebagai karyawan saja. Semua yang di Kanada biar dikelola Papa dan Kakak," ucap Luna lirih.
"Hubunganmu dengan Adam?" Sang bibi menambahi.
Napas Luna terdengar berat. Ia nampak menggeser posisinya saat ini meski tidak begitu jauh.
"Aku belum tahu, Bi. Belum kuputuskan nasib rumahtangga ku sekarang. Aku ... Sekarang aku hanya ingin menyelesaikan yang disini dan sejenak menenangkan diri."
Mendadak Christina mendekat. Wanita paruh baya itu menggenggam jemari tangan sang keponakan dan membawa tubuh yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya itu ke dalam pelukan.
"Bibi mendukung apapun keputusanmu, Sayang. Memang berat dengan segala apa yang kamu hadapi sekarang. Tapi jujur, Bibi sudah sangat menyayangi Elea seperti cucu Bibi sendiri. Jadi, Bibi akan sangat bahagia jika kamu juga mau tinggal disini," ucap Christina menguatkan.
Tangis Luna pecah. Ia terisak mendengar pengakuan yang meluncur dari bibir Christina. Meski ia sudah mengetahui akan hal itu, tapi mendengarnya secara langsung membuatnya iba pada wanita paruh baya itu.
Sang bibi sudah kehilangan Stefan. Dan ia memang berhak menyayangi Elea.
"Terima kasih, Bi. Luna janji akan tinggal disini. Tapi ... Apa Paman akan menerima Luna sebagai karyawan Paman?" Luna mendongak meminta jawaban sang paman.
Sejak tadi William hanya diam sambil memperhatikan interaksi kedua wanita beda usia itu.
Lelaki paruh baya itu bingung memberikan jawaban. Padahal sebenarnya, ia akan menerima Luna untuk membantunya jika sudah sembuh. Dalam artian ia tidak sekeras yang keponakannya itu bayangkan. Aglen hanya menakut-nakuti adiknya saja. Mana mungkin ia akan membiarkan keponakannya yang masih sakit untuk bekerja.
"Will?"
Christina mengeluarkan taringnya ketika jawaban William tidak juga ia dengar.
"Paman bukan tidak mau menerimamu. Tapi paman dikenal disiplin dan pekerja keras sama seperti papamu. Dan kau tahu, jangankan kamu yang keponakanku, karyawan Paman yang sakit sepertimu juga Paman beri cuti sampai ia benar-benar bisa mandiri saat di kantor. Dan satu hal, Paman bukan tidak mau menerimamu. Tapi ketika kau di kantor, itu berarti kau sudah harus benar-benar bisa mandiri tanpa mengandalkan orang lain," jelas William yang mengambil jalan tengah dan terbaik menurutnya.
"Will...."
Christina terlihat lebih menakutkan kini.
"Sayang, kau tahu aku. Aku sangat menyayangi semua keponakanku. Jika memang kau memaksa, paman hanya bisa memberimu jabatan dengan job desk yang bisa dikerjakan di rumah tanpa harus ke kantor untuk saat ini."
Tatapan Christina masih mengarah pada suaminya. "Final decision?" (keputusan terakhir)
"Ya, Sayang. Itu keputusan terbaikku," jawab William yang segera pergi dari hadapan sang istri. Terlalu lama berada disana akan membuatnya mati kutu.
Karena terkadang wanita yang ia cintai itu memang sering memaksakan kehendak hanya karena permintaan keponakannya.
"Terima kasih, Will. I love you," teriak Christina yang menggoda sang suami.
"Baiklah, Sayang. Bukankah itu sudah cukup baik untuk pamanmu yang sekeras batu itu?" Senyum Christina mengembang menghibur Luna.
"Bibi memang istimewa. Paman pasti sangat mencintaimu," puji Luna pada wanita paruh baya di depannya itu.
"Jangan salah, aku yang lebih dulu jatuh cinta padanya. Ia yang istimewa."
😍😍😍😍